My Immortal

My Immortal
Bermain Pisau



Malam itu Baron dan Amy berusaha mencari tahu siapa pemilik akun anonim. Meskipun Baron seorang hacker terbaik di Indonesia, tetap saja ia sulit menemukan pemilik akun itu.


"Bagaimana???" tanya Refan menghampirinya


"Seperti kata Hans, pemilik akun ini memang bukan bukan orang biasa. Tapi aku berhasil membuka sedikit identitasnya melalui sandi-sandi rahasia yang ia buat di akun tersebut," sahut Baron


"Kalau dilihat dari penggunaan sandi email jelas sekali pemilik akun ini adalah seorang gengster, namun begitu banyak teka-teki dalam akun ini. Dia memang seolah sengaja menyembunyikan identitasnya, terlihat jelas ia begitu rapi memilih kode-kode sandinya." tambahnya.


Amy kemudian menghampiri kedua lelaki itu sembari membawa segelas penuh jus stroberi di tangannya.


"Wah sepertinya ada kesamaan kode password email anonim dengan pemilik cincin itu," ucap Amy memberikan Flashdisk kepada Baron.


"Aku sudah tahu siapa nama pemilik cincin itu berdasarkan file pelanggan Glamour Galery, tapi sepertinya nama dan identitasnya itu fiktif. Mereka sengaja memakai identitas seseorang untuk mengecoh kita," tegasnya lagi


"Bagaimana kau tahu?" tanya Refan


"Aku sudah mendatangi rumah dan kantornya," sahut Amy kemudian duduk di samping Iwa


"Apa kau bertemu dengan orang itu?" tanya Baron lagi


"Of course, dia cuma seorang manula yang di rawat di panti jompo, benar-benar menyebalkan bukan?" sahut Amy


"Sabar Dinda," ucap Iwa mengusap punggungnya


"Selalu Kanda, thanks sudah jadi moodbooster untuk aku lebih sabar," sahut Amy menyandarkan kepalanya di bahu Iwa


"Uhuukkk, mendadak bengek aku!" seru Refan


"Minum Baygon kalau bengek kak," sahut Amy membuat Iwa langsung terpingkal-pingkal.


"Mati dong Dinda, punya adik kok Jahara banget!" balas Refan menyungutkan wajahnya


"Dih datar banget muka Lo Bar, gak ada ekspresi seneng atau sedih gitu denger kelakar gue!" seru Amy begitu terkejut dengan Baron yang sama sekali tak berekspresi mendengar ucapannya ataupun jawaban Refan.


"Memang sudah dari sananya begitu Dinda, jangan harap kamu bisa melihat senyum manis Baron, karena senyumnya begitu mahal melebihi harga tas Hermes kawe punyamu," jawab Refan


Mendengar ucapan Refan membuat gadis itu S


seketika langsung menyemburkan jus yang baru saja di minumnya.


*Byuuurrr!!!


Baron Seketika langsung melotot begitu jus itu tersembur ke wajahnya.


Lelaki itu hanya diam dengan ekspresi wajah kesal namun menggemaskan membuat Amy langsung menghampirinya.


"Unncchh cute banget kalau lagi marah, jadi tersepona aku," ucap Amy menggodanya


"Sorry ya Bar, sini aku bersihin wajah cute kamu," imbuhnya segera mengambil tisu dan menghampirinya.


Namun buru-buru Baron menepisnya saat gadis itu akan menyentuh wajahnya.


"Tidak usah, biar aku saja yang membersihkannya," ucap Baron mengambil tisu dari tangannya.


*Deg!!!


Baron segera pergi meninggalkan tempat itu, membuat Amy hanya melongo melihatnya.


"Cowok aneh," celetuk Amy kemudian kembali duduk di samping Iwa


"Kamu kenapa Kanda, jangan bilang kamu jelous karena melihat aku sama Baron," tanya Amy menyapanya sendu


"Tentu saja tidak Dinda, aku percaya sama kamu," jawab Iwa


"Terimakasih Kanda, kamu memang yang terbaik," sahut Amy tersipu-sipu


************


Sementara itu suasana PE Corporation mendadak ramai, semua direksi dan para pemegang saham tengah berkumpul di ruang rapat. Mereka terlihat begitu resah ketika melihat pemberitaan di media, tak ayal ruang rapat pun menjadi tempat untuk mereka bergosip membicarakan nasib PE Corporation dan pemimpinnya.


Melihat ruang rapat yang mulai memanas membuat Bisma tersenyum bahagia. Lelaki itu begitu senang karena usahanya untuk mengambil kembali posisi CEO PE Corporation sepertinya akan berjalan lancar.


Apalagi melihat Iwa yang tak kunjung datang ke kantor membuat Bisma serasa berada di atas angin.


"Tuan, semuanya sudah menunggu anda di ruang rapat," ucap sekretaris Bisma


"Baiklah, aku akan segera menuju ke sana," Bisma segera merapikan penampilannya.


Lelaki itu tersenyum simpul dan menyapa semua yang hadir di tempat itu.


"Selamat pagi semuanya," sapa Bisma begitu ramah.


Lelaki itu segera duduk di kursinya dan menoleh kursi sebelahnya yang masih kosong.


"Bagaimana rapat bisa dimulai jika sang CEO belum hadir di ruangan rapat," celetuk seorang direksi


"Sebaiknya kita mulai saja rapatnya, lagipula semua sudah hadir, jadi tidak perlu lagi menunggu Tuan Adrian," sahut yang lainnya


"Benar, kita sudah mundur satu jam lebih, sedangkan waktu kita sangat berharga. Jadi ayo kita mulai saja rapatnya!"


"Benar lagipula ada Tuan Bisma yang mewakili keluarga Prawiro Edy dan juga CEO kita, jadi tunggu apalagi!"


Suasana semakin gaduh karena semua orang sudah merasa bosan karena terlalu lama menunggu Adrian yang belum kunjung hadir ke ruang rapat.


"Bagaimana kalau kita tunggu lima menit lagi. Jika dalam lima menit Adrian tidak datang juga kita akan mulai rapatnya tanpa dia." ucap Bisma mencoba bersikap bijak untuk menarik simpati para direksi dan pemegang saham.


"Bagaimana PE Corporation bisa maju jika di pimpin oleh CEO seperti dia."


"Benar-benar tidak bertanggung jawab, sebaiknya kita memang tidak memilih dia sebagai CEO, meskipun ia pewaris tunggal PE corporation, namun kepemilikan saham tetaplah berpengaruh. Bagaimana jika kita gabungkan saham kita untuk menggulingkan Tuan Adrian dan memilih Tuan Bisma sebagai CEO PE Corporation selanjutnya," usul Salah seorang pemegang saham melirik kearah Bisma


"Setuju, aku rasa perusahaan ini akan Maja di bawah kepemimpinan tuan Bisma," sahut yang lainnya.


Lagi-lagi Bisma tersenyum mendengar obrolan para direksi yang terus memujinya dan menjelekkan Adrian. Ia begitu bahagia karena misinya untuk menyingkirkan Adrian dari kuris CEO berjalan mulus. Ia kemudian menatap jam tangannya dan bersiap memulia rapat.


"Baiklah, karena waktu lima menit sudah berlalu dan Adrian tak kunjung iba juga jadi...mari kita mulai saja rapat kita hari ini," tutur lelaki itu kemudian mempersilakan sang moderator untuk mulai membuka rapat hari itu.


Sang Moderator kemudian membuka rapat hari itu dan kemudian mempersilakan Bisma Haryono selaku pembicara untuk memulai pidatonya.


"Dewan direksi dan para pemegang saham yang saya hormati, hari ini saya sengaja mengumpulkan kalian di ruangan ini untuk membicarakan tentang penurunan harga saham PE Corporation yang semakin hari semakin anjlok di pasaran. Saya selaku Direktur eksekutif merasa ikut bertanggung jawab atas tragedi ini. Untuk itulah hari ini saya meminta pendapat Saudara untuk memberikan pendapat atau solusi untuk mengatasi masalah ini," tutur Bisma memulai orasinya.


"Ada beberapa opsi yang ingin saya ajukan untuk mendongkrak kembali harga saham kita di pasaran, namun semua itu tergantung keputusan kalian. Jika kalian setuju maka saya akan melanjutkan rencana tersebut jika tidak ya kita pakai opsi yang lain," tambah Bisma


Bisma kemudian segera mulai melakukan presentasi rencana kerjanya. Semua yang hadir di tempat itu begitu terkejut saat melihat wacana pergantian CEO PE Corporation.


"Apa dengan kita mengganti CEO perusahaan maka harga saham bisa kembali naik?" tanya seorang direksi


"Terimakasih atas pertanyaan-pertanyaan, baiklah aku akan mencoba menjawabnya," sahut Bisma


"Sekarang saya kasih pertanyaan dan mohon anda sekalian menjawab pertanyaan dariku," sambung Bisma


"Apa reputasi perusahaan kita baik di masyarakat?"


"Tentu saja, bahkan sangat baik. Buktinya semua produk PE Corporation begitu laris manis di pasaran dan hampir semua orang memakaikan," jawab seorang Direksi


"That's right, perusahaan kita adalah perusahaan terbesar yang memasok tiga kebutuhan primer, Yaitu meliputi sandang, pangan dan papan. PE FOOD adalah salah satu perusahaan pemasok makanan instan terbesar di Indonesia, PE Textile sebagai pemasok kain dengan kualitas terbaik di Indonesia, selain itu PE Properti juga merupakan perusahaan Properti yang membantu rakyat ekonomi menengah ke bawah mendapatkan rumah yang nyaman dengan harga terjangkau. Pertanyaannya adalah, Kenapa harga saham kita anjlok di pasaran padahal produk kita dipakai hampir seluruh Penduduk Indonesia?" tanya Bisma


"Mungkin karena kita bagus di luar tapi bobrok di dalam, atau dengan kata lain menajemen perusahaan kita kacau karena pemimpin yang kurang berpengetahuan," jawab seorang anggota Rapat


"Bisa jadi karena pemimpin kita kurang cakap sehingga membuat kepercayaan publik menurun!!"


"Menurutku semuanya tergantung dari penilaian masyarakat. Penilaian masyarakat sangat berpengaruh terhadap harga saham, jadi sekecil apapun rumor yang beredar tentang perusahaan ataupun para petinggi dan juga ambassador perusahaan kita sangat menentukan, jadi mari kita bangun penilaian positif dari masyarakat,"


"Tepat sekali, rumor dan penilaian masyarakat. Itulah kenapa kita perlu membentuk penilaian positif dari masyarakat untuk membangun kepercayaan mereka untuk bisa menaikan kembali harga saham perusahaan. Jadi dengan kata lain kita harus memiliki figur pemimpin yang di percaya dan memiliki nilai plus di kalangan masyarakat. Kita tahu penyebab anjloknya harga saham kita adalah dengan beredarnya rumor tak sedap tentang diri saya dan disusul dengan beredarnya riwayat pendidikan Adrian. Bersama ini saya pastikan bahwa berita itu adalah bohong, kalian bisa melihat hasil tes hasil DNA di layar untuk memastikan alibi ku. Jadi sekarang kalian percaya bukan jika Refan bukan putraku tapi putra almarhum kakakku Prawiro Edy," tegas Bisma


Bisma kemudian melanjutkan pidatonya dengan menunjukkan kepada para direksi usahanya dalam menaikkan harga saham setelah rumor tentang kehidupan pribadinya beredar. Alih-alih mengklarifikasi rumor perselingkuhannya dengan Kartika, Bisma justru membahas tentang riwayat pendidikan Adrian untuk menjatuhkan harga dirinya di depan para Direksi dan pemegang saham.


Ia juga berusaha mengambil simpati para pemegang saham dengan menunjukkan konsistensinya untuk membeli saham dari para pemegang saham yang berbondong-bondong menjual sahamnya saat harga saham terperosok.


"Jadi bagaimana menutut kalian, haruskah kita atasi Krisis di perusahaan kita ini dengan memilih pemimpin baru yang akan membawa perubahan bagi PE CORPORATION, atau dengan membangun image perusahaan untuk mengubah sentimen pasar, " tanya Bisma


Lelaki itu kemudian mengadakan Vote untuk memilih programnya.


Semua peserta rapat kemudian memberikan suara mereka dan Moderator pun membacakan hasil voting.


Bisma tercengang ketika mengetahui hasil voting menunjukkan bahwa para direksi menginginkan untuk membangun image perusahaan bukan memilih CEO baru seperti yang ia inginkan.


"Kenapa kalian memilih opsi yang jelas masih dipertanyakan keberhasilannya, kenapa kalian tidak memilih pemimpin baru yang bisa membawa perubahan untuk perusahaan kita!" seru Bisma begitu berang.


"Untuk apa memilih CEO baru jika sentimen pasar tetap negatif, apa CEO baru bisa mengembalikan harga saham hanya dengan membeli saham saat harga anjlok??. Ingat paman...Saham yang sedang turun itu ibarat pisau yang berjatuhan, jadi jangan menangkap pisau yang berjatuhan jika kau tidak ingin terluka?" sahut Iwa berjalan memasuki ruangan rapat.


"Kau!!!!!" seru Bisma meradang