My Immortal

My Immortal
Langkah Awal



Sore itu setelah membebaskan Refan dan Baron dari penjara, Iwa mengajak kedua sahabatnya itu ke wastu Ares.


Ia sengaja menunjukkan pesan yang berisikan Video penyekapan Amy kepada mereka.


Tanpa berpikir panjang Baron segera melacak siapa pengirim pesan itu.


"Helen Smit, dia adalah seorang keturunan Belanda Jawa. Selama ini dialah yang menopang semua keuangan DM Company. Tapi jangan salah, dia bukanlah wanita lemah seperti yang kita bayangkan." ucap Baron kemudian membuka laptopnya.


"Jadi yang menculik Amy adalah istri Daniel?" tanya Iwa mengernyitkan keningnya


"Benar,"


"Kenapa dia, Bukankah dia selama ini membenci suaminya, lalu kenapa dia melakukan semua ini?" tanya Refan penasaran


"Dari data ponsel yang berhasil ku retas, dia tidak jauh berbeda dengan Daniel." jelas Batin memperlihatkan beberapa transaksi penjualan narkoba kepada Iwa dan Refan.


"Jadi Shabu yang di gudang itu milik Helen??" tanya Refan


"That's right," sahut Baron


"Tapi kenapa di menculik Amy??" tanya Iwa penasaran


"Karena kau mengacaukan rencananya, kau melaporkan Daniel kepolisi dan iapun kehilangan harta karunnya," jawab Baron


"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Iwa


"Bukankah kau sudah memasang aplikasi mata-mata di ponselnya, kenapa kita tidak melacaknya saja," tukas Refa


"Kau benar sobat, aku hampir saja lupa." Baron segera melacak keberadaan Helen menggunakan aplikasi GPS.


"Dia ada di sebuah cafe di kawasan Kemang," ucap Baron


"Kalau begitu biar aku kesana," ucap Refan


"Jangan kamu, dia pasti sudah tahu kalau kamu dan Rey berteman," cegah Baron


"Lalu siapa??"


"Biarkan Rey yang akan menyelesaikan semuanya. Kita tetap siaga membantunya," jawab Baron


"Baiklah,"


Ketiganya kemudian segera menuju ke daerah Kemang. Setibanya di sana mereka segera masuk kedalam Kafe yang dipenuhi oleh para kaum hawa.


"Ini adalah kafe khusus wanita," tukas Refan


"Hanya seorang gigol* yang diijinkan masuk di tempat ini," imbuhnya." imbuhnya


"Kalau begitu kita juga harus menjadi gigol* malam ini,"


Setelah berganti pakaian ketiganya segera masuk ke dalam kafe. Beberapa orang wanita langsung menyambut kedatangannya dan bergelayut manja di lengannya.


Iwa sengaja menghindari wanita-wanita itu dan mencari keberadaan Helen.


"Apa kau sudah menemukannya?" tanya Refan menghampiri Iwa


"Belum," jawab Iwa singkat


Refan memberikan ponsel Baron kepadanya, "Ikuti GPS itu kau pasti akan menemukannya,"


Iwa segera mengikuti petunjuk GPS dan berhenti di depan sebuah ruangan VIP.


Ia begitu terkejut saat pintu ruangan itu terbuka, dan seorang wanita keluar menghampirinya.


"Akhirnya kau datang juga Rey," ucap Helen menarik pemuda itu masuk ke dalam.


Ia kemudian mengunci pintu ruangan itu mendorong Iwa ke sofa.


"Kau pasti sangat terkejut karena aku sudah tahu kau pasti akan datang menemui ku bukan?" ucap Helen tersenyum simpul padanya.


Wanita itu sengaja duduk diatas Iwa dan mencoba menggodanya.


"Kalau kau ingin menyelamatkan kekasihmu, maka setubuhi aku sekarang," ucapnya kemudian mencium bibir tipis Iwa


Sial, wanita ini benar-benar brengsek!!.


Tanpa banyak berpikir Iwa segera membalikkan posisinya, "Baiklah kalau itu mau mu," sahut Iwa


Lelaki itu segera melucuti pakaian Helen membuat wanita itu langsung melenguh ketika merasakan sentuhan lembut Iwa yang mengalirkan sengatan listrik di tubuhnya.


Saat melihat wanita itu begitu menikmati setiap sentuhannya ia semakin menggila membuat Helen begitu terengah-engah menikmati setiap hentakan keras pemuda diatasnya.


Wanita itu membalikkan posisinya dan menyeringai saat berada diatas pemuda itu.


"Maaf sayang, aku tidak suka jika harus berada di bawah. Sebagai seorang kesatria aku tidak akan membiarkan wanita menjajah ku," tutur Iwa segera mendorong tubuh Helen.


"Kau benar-benar liar Rey, tapi aku suka. Kau semakin membuat ku bergairah," ucap Helen kemudian mengambil sebuah cambuk.


Wanita itu menyeringai sembari mengibaskan cambuknya.


"Aku sangat ingin mendengar jerit kesakitan mu sayang," ucap Helen mengarahkan cambuknya ke tubuh Iwa.


"Maaf Tante, sepertinya anda harus mencari lawan yang seimbang denganmu. Karena aku tidak suka bercinta dengan wanita yang punya kelainan **** seperti dirimu," jawab Iwa membuat wanita itu geram


"Beraninya kau!!" hardik Helen kemudian mengambil sebuah botol minuman melemparnya ke arah Adrian.


Iwa segera menangkap botol itu dan memecahkannya. Ia kemudian berjalan menghampiri wanita itu, hingga membuat Helen ketakutan.


"Katakan dimana kau sembunyikan Amy?" tanya Iwa mengarahkan pecahan botol ke leher Helen.


"Hahahaha!!!" bukannya takut wanita itu justru tertawa membuat Iwa terkejut.


Melihat Iwa yang mulai terkecoh dengan tawanya, Helen segera memukul tengkuk Iwa dan mendengkul ulu hatinya.


"Ku pikir kau berbeda dengan lelaki lain, tapi tidak ku sangka kau sama saja seperti pecundang!" hardiknya


Tak tahan mendengar ocehan Helen Iwa segera menarik pundak wanita itu dan segera membekapnya.


"Aku tidak suka melukai seorang wanita, jadi katakan dimana Amy sebelum aku berubah pikiran," ucap Iwa


"Sampai kapanpun kau tidak akan pernah menemukannya, karena aku enggan memberitahukannya padamu," jawab Helen menyeringai


Tanpa banyak bicara Iwa segera memelintir lengan wanita itu membuat Helen langsung berteriak kesakitan.


"Aaaaa...dasar brengsek!!!, kau bilang tidak akan menyakiti wanita tapi kau malah menyiksaku!" gerutunya


"Sudah ku bilang katakan dimana Amy sebelum aku berubah pikiran!" sahut Iwa kemudian menusukkan pecahan botol ke leher wanita itu.


Tiba-tiba seseorang datang menodongkan pistolnya membuat Helen langsung tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha, dasar pecundang...kalian pikir bisa membodohi aku," ujar Helen kemudian mengeluarkan ponselnya dan segera mematikannya.


Wanita itu kemudian mengambil ponsel Iwa dan menghancurkannya.


"Sekarang mereka tidak akan bisa melacak mu apalagi membantumu. So bersiaplah untuk mati bersama kekasihmu itu," seru Helen


Tiba-tiba Iwa merasakan seluruh ruangan itu menjadi gelap saat sebuah pukulan keras menghantam pelipisnya.


"Bawa dia!" seru Helen memerintahkan anak buahnya membawa pergi Iwa dari ruangan itu.


Sementara itu Baron dan Refan segera sl mendobrak pintu ruang VIP itu saat kehilangan jejak Iwa.


"Tidak ada siapapun disini," ucap Refan menyisir ruangan itu.


"Tapi terakhir signal GPSnya berhenti di sini," sahut Baron terus mencari petunjuk di ruangan itu.


"Ponsel Rey dan Helen sudah tidak bisa terdeteksi lagi. Sepertinya wanita itu sudah menyadari jika ada aplikasi mata-mata di ponselnya, dengan kata lain bisa saja Rey tertangkap oleh wanita itu," terang Baron


"Sial, wanita itu benar-benar cerdik!" umpat Refan


Baron menghentikan langkahnya saat tak sengaja menginjak sesuatu. Pemuda itu segera mengambil sesuatu di bawah sepatunya.


"Ponsel Adrian, sepertinya dugaan ku benar. Helen membawanya pergi!" ucap Baron


Baron segera bergegas meninggalkan ruangan itu disusul oleh Refan. Suara dering ponsel membuat Refan berhenti sejenak untuk melihat siapa yang menghubunginya.


"Siapa yang menghubungi mu?" tanya Baron


Regan segera menunjukkan pesan singkat yang diterimanya.


"Jika kau ingin menyelamatkan temanmu, maka kalian harus mengembalikan sabu-sabu milikku,"


"Aku yakin itu dari Helen," ucap Baron


"Apa kau bisa melacaknya dimana mereka sekarang?" tanya Refan


Baron segera melacak pengirim pesan singkat itu.


"Mereka masih ada di tempat ini," ucapnya kemudian memperhatikan sekelilingnya


"Tidak mungkin, kita sudah menelusuri semua ruangan Kafe, tapi kita tidak menemukan mereka," sahut Refan kebingungan


"Aku yakin ada ruang rahasia di kafe ini yang hanya di ketahui oleh pemilik kafe," ucap Baron


Pemuda itu segera mencari informasi tentang Kafe itu.


"Pantas saja Helen tahu tempat rahasia di kafe ini, ternyata pemilik kafe ini adalah Daniel." ucap Baron sedikit kecewa


"Apa itu artinya kita tetap harus mengambil sabu itu dari kantor polisi?" tanya Refan


"Tidak ada cara lain, hanya itu satu-satunya cara untuk membebaskan Rey dan Amy," sahut Baron


Tiba-tiba ponsel Refan kembali berdering, membuat kedua pemuda itu segera melihat pesan masuk dari Helen.


"Waktu kalian tidak banyak, aku sudah mengalungkan bom waktu kepada Adrian dan Amy. So cepatlah bergerak jika tidak ingin teman kalian berubah menjadi debu,"


"Anj*ng, dasar wanita gila!!" umpat Refan begitu geram


Baron kemudian membisikkan sesuatu kepada Refan membuat lelaki itu menyeringai.


"Awesome, kau memang benar-benar genius Bar. Baiklah mari kita mulai permainan ini!" seru Refan bergegas meninggalkan Kafe itu.