My Immortal

My Immortal
Bangkitnya sang Dewa



*Flashback!!


Melanie segera bangun dari ranjangnya ketika mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Wanita itu segera menyalakan lampu kamarnya untuk melihat siapa yang datang mengunjunginya.


"Apakah itu kau," tanyanya lirih


Daniel berjalan menghampiri wanita itu dan duduk di sisi ranjangnya.


Ia merebahkan tubuhnya dipangkunya dan wanita itu segera mengusap lembut kepalanya.


"Kau pasti sedang banyak masalah, katakan pada ibu apa yang membuat mu gusar?" tanya wanita itu


"Sampai kapan aku akan terus hidup menderita karena dirimu Ibu. Aku sudah mencoba menjadi anak yang berbakti padamu dan tak pernah meninggalkan dirimu meskipun kau dulu membuang ku. Jika kau ingin melihatku bahagia setidaknya pergilah dari hidupku dan biarkan aku hidup bahagia tanpa bayang-bayang mu Ibu," jawab Daniel segera bangun dan menatapnya tajam


"Maafkan ibu nak jika aku selalu membuatmu menderita, jika meninggalkan dirimu bisa membuat mu bahagia maka aku akan melakukannya untuk mu. Mulai besok Ibu akan menghilang dari kehidupan mu, untuk selamanya. Semoga kau bisa hidup bahagia tanpa ibu disisi mu," jawab Melanie berkaca-kaca


"Aku harap kau menepati kata-kata mu ibu," ucap Daniel meninggalkan sebotol obat di laci mejanya.


Setelah Daniel pergi, Melanie kemudian mengambil obat dari laci mejanya dan meminum semua obat itu dalam sekali teguk.


Daniel sengaja menunggu didepan pintu ruangan itu untuk memastikan ucapan Melanie.


Melani kemudian terjatuh di lantai dengan mulut berbusa setelah meminum obat itu. Sementara itu Daniek hanya melihatnya tanpa menolongnya ataupun membawanya ke rumah sakit.


Terimakasih Ibu, sudah seharusnya kau berbuat seperti itu demi anakmu. Lagipula percuma kau hidup jika hanya menjadi benalu bagi putramu.


Daniel segera pergi meninggalkan panti Jompo setelah memastikan tak ada seorangpun yang melihat kedatangannya.


Tidak lama Bisma yang sedari tadi menguntit Daniel segera masuk kedalam panti. Lelaki itu segera membawa Melanie meninggalkan ruangan itu.


"Halo nyonya Teresa, saya Bisma Wali dari Nyonya Melanie Suwito, tolong bakar semua apapun yang berhubungan dengan beliau, dan umumkan kepada publik jika beliau sudah meninggal. Aku membawa mayatnya sekarang. Jangan pernah beritahukan kepada siapapun siapa keluarganya, meskipun polisi sekalipun yang bertanya," ucap Bisma menghubungi pimpinan panti Jompo.


"Baik Tuan," jawab wanita itu singkat.


Bisma sengaja membawa Melanie ke sebuah klinik di kawasan Jakarta Utara.


Ia menghubungi seseorang koleganya untuk merawat wanita itu.


"Kenapa kau menyerahkan wanita ini padaku?" tanya Sahira saat Bisma memintanya merawat Melanie.


"Karena aku yakin dia aman bersamamu. Dia adalah sumber mata uangku, jadi jaga dia dengan baik. Aku akan memberikan imbalan yang setimpal jika kau berhasil merawatnya hingga hari itu tiba," sahut Bisma


"Baiklah sayang, aku selalu percaya denganmu. Selama ini kau tidak pernah mengecewakan aku, so don't worry I can do the best for you," jawab Sahira menyunggingkan senyumnya.


**************


"Melanie Suwito???"


Wanita itu segera membuka matanya ketika mendengar suara Iwa memanggil namanya.


"Siapa kau, apa kau Daniel??" tanyanya dengan nada gusar


Wanita itu segera meraih lengan Iwa dan memeluknya erat.


"Maafkan ibu sayang, aku belum bisa melakukan apa yang kau inginkan. Aku sudah mencobanya namun Tuhan masih belum mengijinkan ibu untuk menghadapnya. Kau tidak perlu khawatir sayang, aku tidak akan pernah mengusik mu," kata Melanie terbata-bata


Iwa segera melepaskan pelukannya dan mengusap air mata wanita itu.


"Jika kau benar-benar putramu, maka beritahukanlah kepada dunia bahwa dia adalah putra kandung mu," ucap Iwa menatapnya lekat.


Menyadari lelaki dihadapannya bukan Daniel wanita itu segera mendorong Iwa dan menjauhinya.


"Siapa kau, apa kau ingin menyakiti putraku," ucap Melanie


"Aku Adrian sahabat sekaligus rekan bisnis Daniel. Aku sengaja datang ke tempat ini untuk memastikan bahwa Daniel benar-benar putraku," jawab Iwa mencoba membujuknya


Tak lama setelah itu, terdengar suara ledakan di kamar sebelah. Semua pasien seketika berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri. Suara teriakan dan kepanikan membuat Melanie merasakan hal yang sama.


Iwa segera membawa wanita itu pergi meninggalkan rumah sakit.


"Kita harus bergegas sekarang!' serunya kemudian mendorong kursi roda Melanie.


Sebuah timah panas melesat dengan cepat dan mengenai tubuh Melanie.


Seketika wanita itu ambruk tak sadarkan diri.


Iwa segera menggendong Melanie dan membawanya masuk kedalam mobilnya.


"Pergilah dari sini dan bawa Melanie ke tempat aman. Aku yakin hanya kau yang bisa memberinya tempat aman," ucap Iwa


"Tapi...."


"Jangan khawatir, aku akan menahan mereka, aku pastikan kalian aman," tukas Iwa meyakinkan Sahira.


Ketika Iwa menutup pintu mobil itu dan meninggalkannya, sebuah ledakan menghempaskan tubuhnya.


Dalam keadaan setengah sadar Iwa menyaksikan bagaimana mobilnya meledak dan hangus terbakar.


Seorang lelaki itu segera menyambar membekapnya dan membawanya pergi dari tempat itu.


*Markas Geng Kalajengking


Iwa perlahan membuka matanya saat merasakan sekujur tubuhnya kedinginan setelah seseorang menyiramnya dengan seember air.


"Kau sudah sadar jagoan!!" seru seorang lelaki tersenyum menatapnya.


"Apa yang kau dapatkan dari wanita tua itu Rey?" tanyanya mendekatkan wajahnya kearah Adrian


"Sayang sekali usahamu sia-sia dan sebentar lagi kau juga akan menyusulnya ke Neraka," imbuhnya mengalungkan belati ke leher Iwa


"Selama ini tidak pernah ada yang menang melawan kami, Aku dan Daniel. Kau tahu kenapa?" tanya lelaki itu menyayat pisaunya hingga darah segar mengalir dari leher Iwa.


Ia kemudian menjilat darah yang menempel di pisau itu dengan wajah bengisnya.


"Karena kami memang tak terkalahkan, no one can't stop us, include the angel of death."


"Tuan ada telepon dari Bos besar," ujar seorang anak buah lelaki itu memberikan ponsel padanya


Ia segera menerima ponselnya dan meninggalkan Adrian.


Melihat lelaki itu meninggalkannya, Iwa segera berusaha membuka ikatan tangannya.


Lelaki itu terkejut saat kembali dan melihat Iwa tidak ada di ruangan itu.


"Anj*ng!!!, kemana bajing*n itu!!" teriaknya membuat semua anak buahnya segera memasuki ruangan itu.


"Aku yakin dia masih belum jauh dari sini, cari dia dan penggal kepalanya!" serunya dengan suara lantang.


Saat semua anak buahnya pergi meninggalkan ruangan itu, tiba-tiba Iwa muncul dan mengalungkan Kerambit di lehernya.


"Anj*ng, bagaimana bisa kau muncul tiba-tiba seperti setan," umpatnya


"Kau tahu kenapa aku selalu lolos dari maut??" bisik Iwa


"Aku tidak percaya kau memiliki seribu nyawa seperti yang ku dengar," sahut lelaki itu


"Karena aku adalah Dewa Gede Kebo Iwa yang terlahir untuk melindungi tanah airku dari manusia laknat seperti kalian. Dan aku tidak pernah bisa membiarkan orang-orang jahat seperti kalian hidup di muka bumi ini," jawab Iwa kemudian menyayat lelaki itu hingga jatuh terkulai di lantai.