
Tim Medis segera berdatangan ke Wastu Ares, sedangkan polisi sibuk memasang police line di TKP untuk mengamankan barang bukti.
Mendengar berita pemboman Wastu Ares Daniel segera bergegas menuju ke rumah sakit untuk menjenguk putrinya Amy.
Lelaki itu segera memasuki mobil Porsche miliknya dan melesat menuju rumah sakit tempat Amy dirawat.
"Bagaimana keadaan putri saya dok?" tanya Daniel setibanya di rumah sakit.
"Putri anda mengalami luka bakar serius, keadaannya masih kritis dan belum sadarkan diri," jawab seorang dokter yang keluar dari ruang UGD
"Tolong selamatkan dia dokter, aku akan membayarnya berapapun itu, pleas selamatkan putriku, lakukan yang terbaik dokter," pinta Daniel
"Tentu saja, aku akan melakukan yang terbaik," jawab sang dokter kemudian meninggalkanya.
*********
Adrian terbangun dan menatap sekelilingnya.
"Syukurlah kau sudah bangun Tuan," ucap seorang wanita tersenyum menatapnya
"Bagaimana keadaan Amy, bi?" tanya Adrian
"Nona Amy masih belum sadarkan diri," jawab wanita itu membantu Adrian menyadarkan tubuhnya
"Ada berapa korban jiwa?" tanyanya lagi
"Sementara hanya ada dua yang meninggal dab satu korban dengan luka terparah dan yang lainnya hanya luka ringan," jawab wanita itu.
"Apa yang terluka parah itu Amy??"
"Benar Tuan, ia mengalami luka bakar terparah dan masih belum sadarkan diri," jawab wanita itu
Seketika Adrian segera beranjak dari ranjangnya dan berjalan meninggalkan ruang perawatannya.
"Tuan mau kemana, kau tidak boleh keluar dulu!" seru elly
Wanita itu berusaha menahannya namun Rey tak menghiraukan panggilan assisten rumah tangganya itu.
Adrian menuju ke meja receptionist dan menanyakan dimana ruang perawatan Amy.
"Terimakasih sus," jawab Rey setelah mendapatkan jawaban dari sang front liner
Iwa melangkah cepat menuju bangsal perawatan tempat Amy dirawat. Setibanya disana ia segera membuka pintu ruangan itu dan masuk kedalam.
Melihat Daniel berada di ruangan itu seketika membuat lelaki itu muak dan segera menarik kerah bajunya.
"Untuk apa kau datang menemuinya bangs*t!" hardiknya dengan tatapan penuh kebencian
"Kau boleh saja membohongi semua orang dengan sikap sok peduli mu itu, tapi kau tidak bisa membohongi ku." imbuhannya
"Aku tahu kau adalah dalang dibalik semua ini, dan aku berjanji akan menjebloskan dirimu ke penjara untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mu,"
Adrian kemudian melepaskan Daniel dan mengguncang tubuh lelaki itu. Ia menghampiri Amy dan menggenggam erat jemarinya.
"Cepatlah sadar sayang, aku sangat merindukanmu," ucapnya kemudian mengecup punggung tangan gadis itu
Ia segera beranjak pergi meninggalkan ruangan itu.
Aku tidak akan membiarkan Daniel hidup jika terjadi sesuatu dengan Amy.
Sebulan kemudian.
Seperti biasa Adrian tetap mengunjungi Amy yang masih harus menjalani pengobatan di rumah sakit.
"Selamat pagi sayang?" sapa Adrian menghampiri Amy yang masih terbaring di brankarnya.
Melihat kedatangan Rey, gadis itu segera menutupi wajahnya dengan selimut.
"Kenapa sih sayang, apa kamu gak suka aku datang?" tanya Rey lagi
"Sebaiknya kau tidak usah datang lagi Rey, dan cari pengganti ku," jawab Amy getir
"Aku tidak bisa berpaling darimu Dinda," sahut Adrian perlahan membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh Amy.
"Tapi apa kau bis hidup bersama monster seperti ku," jawab Amy menunjukkan semua luka bakarnya
"Aku tidak pernah mempermasalahkan wajahmu sayang. Cantik itu relatif, dan aku lebih menyukai wanita yang memiliki hati cantik daripada wanita yang cantik parasnya namun buruk akhlaknya. Kau tidak perlu khawatir dinda, dunia kesehatan sekarang sudah maju, aku yakin kau bisa kembali menjadi Amy yang dulu dengan operasi plastik jika kau mau." terang Iwa mengusap rambutnya
"Kau bisa berkata seperti itu sekarang, tapu apakah kau bisa bertahan setelah pernikahan. Ingat Rey, menikah itu beda dengan pacaran. Semuanya akan berubah seratus persen, kau akan tahu sifat asliku atau sebaliknya. So sebelum semuanya terlambat mari akhiri semuanya," ucap Amy kemudian melepaskan cincinnya dan mengembalikan kepada Adrian
"Sayang...aku tahu saat ini kau sedang terguncang so aku tidak mau berdebat denganmu. I always still love you today, tomorrow and forever, aku tak peduli dengan apapun yang terjadi padamu. Aku hanya ingin menua bersamamu," kata Adrian mengusap air matanya yang tiba-tiba berjatuhan membasahi pipinya.
Lelaki itu kemudian memeluk erat Amy untuk memberikan kekuatan kepada wanita itu.
"Tetaplah menjadi Amy yang kuat dan jangan menyerah. Aku akan selalu ada untukmu sayang," bisiknya kemudian mengecup kening gadis itu
Setelah mengunjungi Amy di rumah sakit Adrian segera mengajak Baron ke kantor polisi.
Lelaki itu sengaja mendatangi kantor polisi untuk menanyakan kelanjutan kasus pemboman Wastu Ares.
"Jadi bagaimana kelanjutan kasus pemboman rumahku?" tanya Adrian penuh harap
"Tidak ada perkembangan yang signifikan, hanya saja kami sudah menetapkan tersangkanya," jawab seorang komisaris polisi
"Apa kau sudah menahannya?" tanya Adrian lagi
"Dia ada di lapas Salemba dan tidak lama lagu akan dipindahkan ke Nusakambangan," jawab sang komisaris polisi
"Karena dia penjahat berbahaya dan ada indikasi jika dia adalah seorang *******." jawab sang komisaris menunjukkan foto-foto tersangka dan beberapa vcd kepada kedua pemuda itu
"Itu semua adalah bukti-bukti yang kami temukan di rumah kontrakannya." imbuhnya
"Tapi tetap saja dia harus harus mengikuti sidang kasusnya sebelum di kirim ke Nusakambangan," ujar Adrian
"Kami akan menjemputnya jika sidang akan di gelar," jawab sang komisaris enteng
Rey dan Baron segera keluar dari kantor polisi setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkan.
"Sial, aku tidak percaya rumahku di bom oleh *******. Memangnya aku ini siapa sampai di musuhi oleh mereka," gerutu Adrian meluapkan emosinya
"Aku yakin ini hanya sabotase untuk menutup kasus mu," sahut Baron segera memasuki mobilnya.
"Aku juga sependapat denganmu Barry, aku berjanji akan mencari tahu siapa pelaku sebenarnya dengan caraku sendiri. Aku tidak akan membiarkan orang-orang yang sudah membuat Amy menderita hidup dengan tenang." sahut Adrian kemudian melesatkan mobil sportnya meninggalkan halaman parkir mabes polri.
Ia segera meluncur menuju rutan Salemba tempat tersangka pemboman di amankan.
Setibanya di rumah tahanan itu keduanya langsung menemui tersangka.
Rey menatap lekat lelaki dihadapannya itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Apakah benar kau seorang *******?" tanya Rey sedikit meragukan pria kurus dengan penampilan religius itu.
"Aku ini seorang suhada, mungkin hanya orang kafir seperti dirimu yang menganggap kami *******," jawab lelaki itu sinis
"Cih, apa kau mengenalku?" tanya Adrian lagi memancing lelaki berkopiah putih itu.
"Tentu saja, Adrian Prawiro putra seorang miliarder Almarhum Prawiro Edy yang selalu membantu kaum zionis," jawab lelaki itu dengan tatapan penuh kebencian
"Ah sial, sepertinya kita benar-benar di jebak," ujar Rey setelah keluar dari rumah tahanan.
"Aku yakin mereka sengaja menggunakan para ******* untuk menghilangkan jejak kejahatan mereka," sahut Baron.
"Bagaimana kalau kita datangi Wastu Ares untuk mencari barang bukti. Aku yakin pasti ada petunjuk disana," imbuh Baron
"Tapi polisi masih memasang police line dan wastu Ares belum boleh dikunjungi sampai penyelidikan selesai," jawab Rey
"Kau lupa jika aku seorang gengster, kita bisa menyelinap kapan saja di rumah itu bukan,"
"That's right baby, kenapa aku tidak berpikir sejauh itu," sahut Rey terkekeh
"Karena lo sekarang lemot Rey," ledek Baron menertawakan sahabatnya
Malam harinya kedua pemuda itu mengendap-endap menyelinap masuk ke Wastu Ares
Keduanya sangat hati-hati saat memasuki rumah itu. Semuanya masih terlihat sama saat terjadi pemboman, barang-barang berserakan setelah terkena ledakan hebat sebulan lalu.
"Apa kau menemukan sesuatu??" tanya Adrian
Baron hanya menggelengkan kepalanya sembari memeriksa setiap serpihan benda yang berserakan di lantai.
"Aku yakin jika ini ulah seorang *******, pasti ada pengantin yang menyelinap masuk ke dalam rumah mu dan mengikuti pesta kita hari itu," tutur Baron
"Karena ******* yang melemparkan bom ke targetnya bukan?. Mereka pasti mengirimkan seorang misionaris untuk menjalankan rencana mereka," imbuhnya
"Kalau begitu dugaan ku benar, ini bukan ulah *******," sabut Iwa
"Sebaiknya kita cek saja CCTV rumah ini, aku ada orang asing yang menyelinap masuk ke wastu Ares hari itu,"
"Baiklah kalau begitu ayo kita ke ruang security," ajak Adrian
Keduanya kemudian segera menuju ruang security, namun mereka segera menghentikan langkahnya saat melihat mobil polisi memasuki halaman wastu Ares.
"Sial," seru Adrian segera menarik Baron menuju kamar tidur Prawiro Edy.
Rey segera menutup rapat pintu kamar itu.
"Bagaimana polisi bisa kesini?" tanya Baron
"Entahlah," jawab Rey mengangkat bahunya
Mereka semakin cemas saat mendengar langkah kaki semakin mendekat kearahnya.
"Bagaimana ini, kita tak mungkin terus bersembunyi di sini, aku yakin mereka pasti akan tahu apalagi mereka membawa anj*ng pelacak," tandas Baron yang mengintip dari balik celah pintu
Sementara itu Adrian mencari-cari celah untuk bisa kabur dari tempat itu.
"Bagaimana ini, anj*ng itu sudah mulai mengendus dan menuju kemari!" seru Baron
Tiba-tiba saja Rey menginjak sesuatu hingga ia terperosok jatuh ke bawah.
*Bruugghhh!!
"Rey, dimana kamu!" seru Baron mencari bekas lantai yang diinjak Rey.
"Aneh, aku yakin dia terjatuh tapi kenapa tidak ada bekas jejaknya??" ucap pemuda itu penasaran
Baron tampak pucat pasi saat terdengar suara polisi hendak mendobrak pintu masuk kamar itu.
Ia segera melompat-lompat untuk mencari dimana tempat Rey terjatuh.
"Ya Tuhan please help me!" serunya memohon
*Brakkkkkk!!