
"Boleh aku minta tolong padamu?" tanya Iwa
"Tentu saja, katakan saja apa yang bisa saya bantu Rey," jawab Amy
"Bantu aku memindahkan Refan dari rumah sakit," bisik Iwa
"Refan di rumah sakit??. Memangnya dia kenapa Rey?" jawab Amy balik bertanya
"Aku juga tidak tahu tapi sepertinya ada orang yang sedang mengincar nyawanya, jadi kita harus membantu menyelamatkannya," jawab Iwa
"Ok,"
Iwa kemudian melesatkan mobilnya menuju rumah sakit tempat Refan di rawat.
Setibanya disana Iwa segera menuju bangsal perawatan Refan, sedangkan Amy mengalihkan perhatian suster jaga dengan mengajaknya bercengkrama.
Setelah berhasil memindahkan Refan ke kursi roda, Iwa segera membawanya pergi. Ia kemudian mengirimi pesan singkat kepada Amy untuk segera menemuinya.
*Dreet!!
Amy segera membukakan ponselnya saat menerima notifikasi pesan masuk.
"Cepat temui aku di lift sekarang," pesan Iwa
Amy segera menutup ponselnya dan tersenyum menatap sang perawat di hadapannya.
"Jadi gimana Sus, boleh gak nih aku masuk bentar ke paviliun Anggrek?" tanya Amy
"Maaf kak, jam besuk sudah lewat, saya tidak berani mengijinkan anda masuk karena itu melanggar aturan,"
"Wah sayang sekali, padahal aku berharap bisa mengunjunginya malam ini. Ya sudah kalau begitu besok saja saya datang lagi," ucap Amy kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
Ia segera berlari menuju lift.
"Bawa dia ke apartemenku, dan pastikan tidak ada seorangpun yang tahu termasuk ayahmu," ujar Bisma
"Siap Rey,"
Iwa segera memakai maskernya dan kembali masuk ke ruang perawatan Refan. Lelaki itu kemudian menerima beberapa pesan dari sekretarisnya.
Wanita itu mengirimkan riwayat kesehatan Refan dan penyebab pemuda itu di rawat di rumah sakit.
"Aku benar-benar tidak menyangka jika gara-gara rumor perselingkuhan Kartika dengan Paman Bisma membuat kamu sampai sekarat Fan. Aku yakin ada seseorang yang sengaja ingin menghilangkan nyawa mu karena kau dianggap sebagai kuda hitam yang bisa menghalangi jalannya."
Iwa kemudian membuka lagi file kiriman dari sekretarisnya.
"Yang benar saja, apa kali ini aku benar-benar tertipu dengan penampilannya. Refan yang terlihat lugu dan pendiam ternyata seorang ketua geng Cobra Hitam. Pantas saja dia begitu berani mengusik paman Bisma,"
*Tap, tap, tap!!
Iwa segera mematikan ponselnya ketika mendengar derap langkah mendekat kearahnya. Ia segera berbaring dan memiringkan posisi tubuhnya.
*Krieet!!
Bisma berjalan pelan memasuki ruangan itu, agar tidak membangunkan Refan.
"Aku yakin, dia belum sadarkan diri," Bisma menyeringai dan menghampiri brankar Refan
"Andai saja kau tidak terlalu ikut campur dan mengusikku, mungkin aku akan membiarkan mu hidup. Namun sayangnya kau terlalu tamak seperti ibumu, sehingga aku tidak bisa membiarkan mu hidup," Bisma kemudian mengeluarkan sebuah jarum suntik dan mengisinya dengan cairan racun yang mematikan.
"Sekarang pergilah ke alam baka, aku yakin ibumu pasti bahagia jika kau menyusulnya ke Neraka," tukas Bisma kemudian mengeluarkan sedikit cairan dari jarum suntik yang ada di tangannya.
Saat lelaki itu hendak menyuntikkan cairan racun kedalam tubuh Refan, tiba-tiba saja Iwa segera terbangun dan menahan Bisma yang akan menyuntikkan racun ke tubuhnya.
"Kau!!!" seru Bisma begitu terkejut saat melihat Iwa di hadapannya.
Ia berusaha melepaskan pukulan kearahnya, namun Kebo Iwa berhasil menangkisnya. Iwa kemudian melepaskan tendangannya kearah Bisma hingga lelaki itu terhempas menghantam dinding rumah sakit.
Ia segera menginjak lengan Bisma saat lelaki itu hendak mengambil jarum suntik yang terjatuh di lantai.
"Dasar bocah setan, beraninya kau melawan paman mu sendiri," ucap Bisma mengeluarkan pistol dan mengarahkannya kepada Iwa.
Pemuda itu segera melompat kesamping saat Bisma menarik pelatuk pistolnya.
*Dor!!
"Sial!" Iwa segera kabur meninggalkan ruangan itu, namun beberapa anak buah Bisma langsung mengejarnya.
Ia terus berlari menghindari keributan di dalam rumah sakit. Saat Iwa mulai terpojok, ia memilih melompat dari atas jendela rumah Sakit.
*Bugghhh!!
"Kejar dia!" seru Bisma memberikan perintah kepada anak buahnya.
Iwa segera masuk kedalam mobilnya dan meluncur meninggalkan halaman rumah sakit.
Terjadi kebut-kebutan antara Iwa dan anak buah Bisma di jalan raya, mereka sengaja menabrak mobil Iwa agar pemuda itu menghentikan mobilnya.
Iwa segera membanting stir mobilnya saat sebuah mobil melaju dengan kencang kearahnya.
*Ciiittt!!
Ia kembali memutar stir mobilnya dan menginjak gas, menghindari anak buah Bisma yang mulai menembaki mobilnya.
*Dor, dor, dor!!!
Kebo Iwa sengaja melakukan pelan mobilnya, dan ia melompat keluar dari mobil saat melihat mobil musuh mulai mendekat.
"Jangan tembak!!" seru salah Bisma saat melihat Iwa melompat keluar dari mobilnya.
*Braakk!!!
Sebuah tabrakan beruntun terjadi saat mobil dari arah berlawanan menghantam mobil Iwa.
Mobil yang ditumpangi Bisma pun terhempas menabrak bahu jalan setelah tertabrak oleh mobil Iwa.
*Brakkkk!!!
Bisma segera keluar dari dalam mobil ketika melihat asap mulai keluar dari mobil Iwa.
*Duaaarr!!!
Tak lama terdengar suara ledakan mobil Iwa.
********
*Ting Tong!!!
Amy segera bergegas membuka pintu apartemennya ketika mendengar bel berbunyi.
"Kamu terluka?" tanya Amy segera memapah Iwa, dan membawanya masuk kedalam rumah.
"Aku tidak apa-apa, bagaimana dengan Efan, Apa dia sudah siuman?" tanya Iwa
Amy hanya menggeleng dan membantu lelaki itu duduk di sofa.
"Siapa yang menyerang mu?" tanya Amy
"Seseorang yang tidak menginginkan aku ada di PE Corporation," jawab Iwa lirih
"Apa dia ayahku?" tanya Amy berkaca-kaca
"Kenapa kau berkata seperti itu?"
"Aku sudah tahu, jika kau dan ayahku saling berseteru karena memperebutkan posisi CEO PE Corporation. Kalau memang ayahku orang yang serakah maka aku tidak akan membelanya, aku pasti akan selalu mendukungmu Rey," jawab Amy meyakinkan pemuda itu.
"Terimakasih Dinda, tapi sebaiknya kau tidak perlu ikut campur. Aku tidak mau menyeret mu dalam bahaya. Sebaiknya kau pura-pura saja tidak tahu, itu lebih baik untuk mu," ucap Iwa mengusap lembut rambutnya.
************
Siang itu, semua anggota Cobra Hitam dikejutkan dengan kedatangan polisi di markasnya. Mereka semua lari tunggang langgang menyelamatkan diri saat polisi menggerebek markas mereka dan menangkap anggota geng itu.
*Dor!!!
Terdengar suara tembakan senjata api dari petugas kepolisian saat melihat beberapa anggota Cobra Hitam melarikan diri.
"Jangan bergerak dan serahkan diri kalian, atau kami akan memakai kekerasan!" seru seorang anggota polisi memberikan peringatan.
Sempat terjadi perlawanan anggota Cobra Hitam saat polisi mulai menggunakan senjata api untuk menjatuhkan mereka.
Baku tembak pun tak bisa dihindarkan antara kedua belah pihak hingga banyak korban berjatuhan dari pihak Cobra Hitam maupun kepolisian.
Baron yang baru saja tiba di markas, segera melarikan diri dari tempat itu.
Lelaki yang merupakan tangan kanan Refan itu segera melesatkan mobilnya meninggalkan markas Cobra Hitam.
Ia mengambil ponselnya, dan menghubungi ketua divisi dua Cobra Hitam, "Cepat pergi dari California hotel, bereskan semuanya jangan sampai ada jejak. Sampai ketemu di rumah Tikus," ucap Baron kemudian mematikan ponselnya.
Benar saja, belum lama setelah Baron menelpon polisi segera tiba di California Hotel. Polisi segera menuju VIP room hotel itu untuk menangkap anggota Cobra Hitam yang ada di tempat itu. Beruntung Nathan dan anak buahnya sudah mengosongkan tempat itu dan meninggalkan parkiran hotel saat polisi tiba di tempat itu.
*Rumah Tikus, Markas VIP Cobra Hitam.
"Bagaimana anak buah mu?" tanya Baron saat Nathan memasuki ruangannya.
"Semuanya selamat, andai kau telat memberikan informasi mungkin kami semua pasti akan tertangkap," jawab Nathan merebahkan tubuhnya ke sofa
"Apa semua barang-barang kita aman?" tanya Baron lagi
"Tentu saja. Btw bagaimana keadaan Ketua, apa dia baik-baik saja?" jawab Nathan balik bertanya
"Dia belum siuman, sepertinya sulit untuk dia sembuh seperti semula. Racun yang ia makan adalah racun mematikan yang biasa dipakai oleh para mafia untuk menyingkirkan lawan bisnisnya. Aku yakin pelakunya pasti seorang Mafia," terang Baron
"Tapi bukankah musuh ketua adalah Bisma, konglomerat sekaligus adik kandung pemilik PE Corporation?" sambung Nathan
"Aku curiga, jika lelaki itu punya bekingan gengster terkuat di Jakarta," sahut Baron
"Hanya ada dua gengster terkuat di ibukota, Cobra Hitam dan Kalajengking. Jadi menurutmu Kalajengking yang membantunya selama ini?" ucap Nathan mengerutkan keningnya.
"Bisa saja, apa kau tidak curiga dengan kejadian hari ini. Bagaimana bisa polisi menggerebek markas kita, padahal kita tidak melakukan kesalahan. Dan anehnya bagaimana mereka tahu markas besar kita, padahal semua orang hanya tahu markas kita di CALIFORNIA Hotel?"
"Kau benar, hanya para gengster yang tahu markas besar kita?" sahut Nathan
"Ketua???, aku yakin dia dalam bahaya sekarang," Baron segera memakai jaketnya dan menyambar kunci mobilnya.
"Kau tidak boleh sendirian, aku akan mendampingi mu," ucap Nathan menyusulnya.
"Tidak bisa, kau harus tetap menjaga markas kita. Meskipun tidak seorangpun tahu markas ini, aku tetap takut mereka akan menyerang kita ke tempat ini," jawab Baron
"Tidak mungkin polisi akan datang ke tempat ini, jadi kau tidak perlu khawatir."
"Bukan polisi yang aku khawatirkan, tapi gengster lain. Jadi aku mohon padamu, lindungi anggota Cobra Hitam karena mereka semua adalah aset terpenting bagi kita," ucap Baron kemudian meninggalkan markas itu.
Setibanya di rumah sakit, Baron langsung terduduk lemas saat melihat Refan tidak ada di ruangannya.
"Maafkan aku Ketua, aku terlambat menyelamatkan dirimu," sesalnya
*Dreet, dreett!!
Baron segera mengangkat ponselnya, yang terus berdering.
"Halo,"
"Jangan pernah kembali ke Rumah Tikus, kau benar... mereka datang menyerang kita...."
*Dor...dor... dor!!!
"Halo Nathan...halo," Baron terus berteriak memanggil Nathan, namun sayangnya teleponnya segera terputus setelah terdengar suara tembakan.
Wajahnya seketika memerah menandakan amarah yang mulai membakar jiwa lelaki itu. Ia segera bangkit dan mengepalkan tangannya.
"Siapapun dirimu, aku pastikan kau akan membayar semua perbuatanmu pada Cobra Hitam," Baron segera berlari keluar dan meluncur menuju rumah Tikus.
*Ciiittt!!!
Baron segera berlari memasuki gudang kecil yang terlihat begitu berantakan.
Mayat-mayat anggota Cobra Hitam berserakan di teman itu membuat hati Baron begitu teriris melihat kematian tragis anak buahnya.
Ia kemudian menghampiri Nathan yang bersimbah darah dengan luka tembak di dadanya.
"Nathan Bangun!!!, bangun Nathan ... cepat bangun dan katakan siapa pelakunya!" seru Baron mengguncang tubuh Nathan
Nathan perlahan membuka matanya, lelaki itu kemudian memberikan sebuah cincin kepadanya sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.
"Arggghhh!!!"