My Immortal

My Immortal
Memantau Bara di markas lawan



Amy Benar-benar terkejut melihat photo usang yang terjatuh dari buku pengunjung.


Seketika ia merasa tubuhnya lemas dan dadanya begitu sesak saat melihat sosok lelaki yang bersama nenek Melani dalam foto itu.


"Kamu kenapa Amy?" tanya Daniel saat gadis itu menyambanginya di aula.


"Aku tidak apa-apa Om," sahut Amy dengan wajah pucat pasi


"Sepertinya kau sakit sayang, bagaimana kalau aku mengantarmu pulang?" tanya Daniel menawarkan diri


"Tidak usah Om, aku akan menelpon Rey untuk menjemput ku," tolak Amy halus


Daniel segera menangkap tubuh Amy saat wanita itu hendak pingsan.


"Are you Ok?" tanya Daniel lagi


Amy mengangguk pelan dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Daniel.


"Sepertinya kamu gak baik-baik saja Dear, om akan mengantarmu pulang sekarang," ujar Daniel.


Ia kemudian memapah Amy menuju ke mobilnya.


Amy tak bisa menolak saat lelaki itu membawanya masuk kedalam mobilnya. Raut wajah ketakutan terlihat begitu jelas. Wajah piasnya seolah tak bisa menyembunyikan ketakutannya meskipun ia berusaha menyembunyikannya dari Daniel.


"Don't worry my dear, everything will be ok," Daniel mengusap kening Amy dan kemudian bersiap menyalakan mobilnya.


Kenapa harus ayah, kenapa harus dia, bagaimana jika Refan dan Baron tahu kalau ayahku yang sudah melaporkan Cobra Hitam ke polisi dan menyerang markas mereka. Rey tolong aku. Bagaimana jika aku kehilangan ayahku dan hidup sebatang kara,


*Tok, tok, tok!!


Daniel segera membuka kaca mobilnya saat seseorang mengetuknya. Seketika wajah Amy berbinar ketika melihat Rey datang menghampirinya.


"Rey, ada perlu apa kamu datang kemari?" tanya Daniel mengerutkan dahinya


"Saya datang untuk menjemput Amy Tuan," sahutnya melirik kearah Amy


"Of course," jawab Daniel enteng, ia kemudian membuka kunci mobilnya dan membiarkan Amy segera turun.


Lelaki itu menyeringai ketika melihat keduanya pergi meninggalkannya.


Daniel kemudian menyalakan mobilnya dan segera mengikuti kemana Adrian pergi.


Merasa ada yang mengikutinya, membuat Iwa sengaja menghentikan mobilnya di Wastu Ares.


Alih-alih memapah Amy, lelaki itu menoleh kebelakang memperhatikan mobil Daniel yang terparkir tak jauh dari pintu gerbang rumahnya.


Kau memang cerdik Daniel, tapi aku lebih cerdik. Kau tidak tahu bukan jika aku adalah seorang Panglima perang yang mahir mengatur strategi perang. Jadi mari kita lihat, siapa yang akan memenangkan Pertarungan ini.


"Apa kau baik-baik saja Dinda?" tanya Iwa begitu khawatir melihat Amy yang tampak tak sehat.


"Aku tidak apa-apa Kanda," jawabnya lirih


"Apa Daniel mengancam mu, katakan saja aku pasti akan melindungi mu," imbuhnya


Tentu saja Amy merasa tenang sekaligus bahwa dengan ucapan Iwa. Bagaimanapun juga lelaki itu selalu ada untuknya disaat suka dan duka. Bukan hanya itu saja, Adrian juga selalu melindunginya saat ia dalam bahaya. Kepedulian serta perhatiannya membuat benih-benih cinta mulai tumbuh dalam lubuk hatinya.


Tak bisa dipungkiri, Amy yang dulu hanya menganggap Adrian sebagai kakaknya kini mulai memendam rasa terhadap sepupunya itu.


"Kenapa diam Dinda, apa kau sakit?" tanya Iwa kemudian menempelkan tangannya ke kening Amy.


"Panas, kamu demam Dinda?" tanyanya lagi


Amy segera menepis lengannya dan menarik pemuda itu hingga Iwa terjatuh dalam pelukannya.


Keduanya begitu dekat, hingga Iwa dapat merasakan denyut jantung Amy. Gadis itu tak dapat menyembunyikan perasaannya saat menatap wajah tampan Iwa.


Amy hanya pasrah dan memejamkan matanya saat Iwa mengecup mesra bibir tipisnya.


*********


"Kita akan bergerak malam ini, persiapkan semuanya dan jangan sampai kita gagal lagi," ucap seorang lelaki sembari mengisi peluru pistolnya.


"Baik Ketua,"


"Beritahukan semua ketua geng untuk ikut bergabung bersama kita. Jangan lupa hubungi Kombes Aris Pramudya, sampaikan padanya untuk membekingi aksi kita dan menutup seluruh akses keluar dari wastu Ares."


"Siap Ketua," jawab lelaki itu kemudian bergegas meninggalkannya


Malam ini bukan hanya ketua geng Cobra Hitam yang akan aku habisi tapi juga pewaris tunggal PE corporation Adrian Prawiro. Aku yakin dengan menyingkirkan kalian berdua aku bisa merajai bisnis di Ibukota.


*Wastu Ares pukul 23.00 WIB.


"Tentu saja, tatto di tangannya sudah cukup untuk menjadi bukti. Kalian bisa membuktikannya malam ini," sahut Iwa


"Bagaimana kalau dia tidak datang?" ucap Refan


"Aku yakin dugaan ku tidak meleset kali ini," jawab Iwa


"Baiklah aku percaya padamu," jawab Refan


Sementara itu Baron terus mengamati lingkungan sekitar dari ruang CCTV.


"Sudah pukul setengah tiga pagi, tapi tak ada tanda-tanda Daniel akan datang apalagi menyerang kita. Apa kau masih yakin jika dia pelaku penyerangan Markas Cobra Hitam?" tanya Refan sedikit kecewa


"Aku tetap yakin dia pelakunya. Aku yakin saat ini ia sedang mempersiapkan timing yang tepat untuk menyerang kita. Dia begitu hati-hati dan penuh perhitungan dalam melakukan aksinya, jadi bersabarlah sebentar. Berikan aku sedikit waktu untuk memecahkan teka-teki ini," sahut Iwa


"Dasar pembual, kau pikir siapa dirimu menyuruhku untuk bersabar dan mendengarkan omong kosong mu. Kau hanyalah seorang anak manja bodoh yang tidak tahu apapun jadi berhentilah merasa sok pintar di hadapan ku!" seru Refan kemudian mengguncang tubuhnya.


Iwa hanya tersenyum mendengar cacian Refan.


Refan yang merasa kecewa karena karena menganggap bahwa Iwa membohonginya segera bergegas pergi meninggalkan Wastu Ares.


"Strategi ke 9 teknik perang Sun Zhu "Pantau api yang terbakar sepanjang sungai, Tunda untuk memasuki wilayah pertempuran sampai seluruh pihak yang bertikai mengalami kelelahan akibat pertempuran yang terjadi antar mereka. Kemudian serang dengan kekuatan penuh dan habiskan. Benar aku yakin Daniel menggunakan strategi ini," Iwa segera beranjak dari duduknya saat mulai sadar jika Daniel hanya mengulur waktu penyerangannya hanya untuk membuatnya berseteru dengan Refan dan juga Baron.


Iwa segera berlari menyusul keduanya, "Sial!" pekik Iwa saat melihat beberapa mobil berhenti di depan rumahnya.


"Jangan buka pintunya!" serunya dari lantai dua.


Baron sempat menghentikan langkahnya, saat mendengar seruan Iwa. Namun Refan langsung memberikan isyarat dari dalam mobilnya untuk tetap membuka pintu gerbang.


*Dor!!


Seketika Iwa segera melepaskan tembakannya saat melihat beberapa orang merangsek masuk dan menyerang Baron.


Tentu saja Baron segera berlari menyelamatkan diri. Ia bersembunyi dari balik pos satpam sembari mengawasi gerak-gerik musuhnya.


Sementara itu, Refan masih berada didalam mobil segera bersembunyi dibalik kemudi mobil saat sebuah peluru melesat kearahnya.


Lelaki itu segera berusaha keluar dari dalam mobil agar lebih leluasa menghadapi musuh-musuhnya.


*Buuggghhh!!


Sebuah tendangan keras berhasil merobohkan Baron, lelaki itu jatuh tersungkur ke tanah.


Ia mengerang kesakitan saat seseorang menjambak rambutnya dan menyeret keluar dari persembunyiannya.


Melihat seorang lelaki hendak mengeksekusi Baron dengan senjata apinya, membuat


Iwa segera melepaskan tendangan kerasnya melintang hingga membuat lelaki itu kehilangan pistolnya.


*Buuggghhh!!!


Lelaki itu menyeringai dan kembali berjalan menghampiri Iwa. Ia segera melepaskan jap keras kearahnya hingga membuat Iwa langsung sempoyongan dan hilang keseimbangan.


Sebuah tendangan keras kembali menghantam tubuhnya membuat lelaki itu seketika roboh ke tanah.


Baron berusaha melawan lelaki itu, namun karena tubuhnya terlalu besar membuat tendangan Baron tak menggoyahkannya. Ia bahkan sengaja menyerahkan dirinya agar Baron terus melepaskan pukulan kearahnya.


Lelaki itu terus terkekeh menertawakannya, saat melihat Baron begitu Frustasi karena tak bisa menjatuhkannya.


"Apa hanya segitu kekuatan mu Baron!" ejek lelaki itu kemudian berjalan mendekatinya.


Ia kemudian menarik kerah baju Baron dan membenturkan kepalanya.


Melihat Baron sempoyongan, lelaki itu segera melepaskan pukulannya hingga membuat Baron jatuh tersungkur ke tanah.


"Arrrrrghhh!!" Pekik lelaki itu setelah Iwa berhasil melepaskan tendangan keras kearah ***********.


Iwa kembali melepaskan tinjunya saat seorang penjahat berusaha menyerangnya dari belakang.


*Buuggghhh!!


Ia segera mengambil baton yang terjatuh dan menyarang musuh-musuhnya dengan balik kayu di tangannya.


Lelaki itu begitu membabi buta dan berhasil menjatuhkan musuhnya satu persatu. Melihat Iwa yang menggila membuat Refan segera bergabung dengannya. Dengan menggenggam dua pistol di tangannya, Refan berjalan menghampiri Iwa dan bersama-sama menghadapi lawan-lawannya.


"Aku tidak terima, jika seorang anak ingusan berhasil mengalahkan aku," Lelaki itu kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Sekarang saatnya kalian berburu!" ucapnya memberikan komando.