
"Paman ada yang aku ingin tanyakan padamu?" ucap Iwa menyambangi kediaman Bisma
"Katakanlah apa yang bisa aku bantu?" jawab Bisma
"Apa kau kenal dekat dengan kepala Asisten rumah tangga ku Ibu Kartika?" tanya Rico
"Kenapa kau menanyakan dia, apa yang dia lakukan sampai kau begitu ingin tahu tentangnya?" telisik Bisma
"Tidak ada, hanya saja aku begitu penasaran dengannya. Dia begitu baik padaku, terutama setelah paman Utsman meninggal, dia seperti menjadi menggantikan posisinya." jawab Iwa
"Meskipun dia begitu baik, kau jangan terlalu percaya dengannya," jawab Bisma
"Kenapa paman?" tanya Iwa penasaran
"Aku tidak bisa memberitahukan banyak padamu, karena aku tidak mau ikut campur urusan rumah tangga keluarga mu. Lagipula aku juga tidak mau di cap sebagai pengadu, jadi cari tahulah sendiri," sahut Bisma semakin membuat Iwa penasaran
"Dimana aku harus mencari tahu tentang dia, sedangkan aku masih amnesia?" tanya Iwa
"Pergilah ke ruang kerja Utsman cari tahu disana," jawab Bisma
Sore itu juga Iwa segera mendatangi ruang kerja Utsman. Ia membuka semua file-file yang ada di ruangan itu dan membacanya satu persatu.
Ia kemudian melirik kearah laptop yang ada di laci meja kerja Utsman. Iwa membuka laptop itu dan mencari tahu tentang Kartika.
Matanya membulat ketika melihat foto-foto masa muda wanita itu bersama ayahnya.
"Siapa sebenarnya dia, kenapa dia begitu dekat dengan ayahku." beribu pertanyaan dalam benak Iwa membuat lelaki itu terus membuka satu persatu file tentang Kartika.
*Deg!!
Lelaki itu seakan mendapatkan serangan jantung manakala melihat file DNA yang ditemukannya.
"Refan...dia ... dia adikku??"
Tangannya bergetar ketika melihat foto bayi Refan di file itu.
"Jadi ini alasannya kenapa ia ingin membunuh ku," Iwa segera membawa laptop itu keluar dan meninggalkan ruangan itu tanpa menguncinya kembali.
Tidak lama Bisma yang diam-diam membuntutinya, tersenyum sinis dan masuk kedalam ruangan itu.
Lelaki itu kemudian mengacak-acak file Utsman, "Aku yakin dia menyimpannya di sini, aku harus menemukannya," Bisma terus mencari beberapa File bukti-bukti korupsi dan penggelapan dana yang dilakukan olehnya.
"Akhirnya ketemu juga, tidak ku sangka aku akan semudah ini menghilangkan semua bukti-bukti ini,"
Bisma segera membawa file itu keluar dari ruangan itu dan kemudian membakarnya.
"Sampai kapanpun tidak ada seorangpun yang bisa menjatuhkan aku dari singgasana PE corporation, Adrian... bersiaplah untuk segera meninggalkan PE Corporation,"
*Braakkk!!!
Kartika segera berlari keluar ketika mendengar suara pintu di banting.
"Kau sudah pulang Tuan Muda?" sapanya segera mengambil tas Iwa dan membawakannya ke kamarnya.
"Kamu darimana saja sampai pulang larut malam begini," imbuhnya menatap lekat Iwa
"Apa kau sakit?" tanyanya mengusap lembut keningnya
"Singkirkan tanganmu dariku," jawab Iwa menatapnya nanar
Kartika segera menjauh darinya.
"Kau kenapa nak, apa kau sedang banyak masalah di kantor. Apa orang-orang itu kembali membully kamu," ucap wanita itu
"Tidak perlu basa-basi, aku tahu kau berusaha menyingkirkan aku agar putramu menjadi satu-satunya pewaris tahta kekayaan Prawiro Edy bukan. Teganya kau melakukan semua ini padaku, padahal aku sudah menganggap mu seperti ibuku sendiri." kata Iwa berkaca-kaca
"Jadi...kau sudah tahu semuanya??"
"Yang namanya bangkai suatu saat akan tercium juga, meskipun kau menutupinya dengan sikap manis mu kepadaku, tetap saja suatu saat aku pasti tahu," Iwa segera bangkit dari duduknya
"Kalau kau menginginkan hartaku, aku akan memberikannya semua untuk adikku. Datanglah besok ke kantor pusat PE corporation," imbuhnya kemudian meninggalkan wanita itu.
"Tidak seperti itu Rey, kau tidak tahu kenapa aku melakukannya!!" seru Kartika
"Aku tidak perlu penjelasan darimu, semuanya sudah jelas. Saat putramu menerima semuanya kau juga harus bersiap untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu padaku." sahut Kebo Iwa
Kartika yang terkejut dengan reaksi Adrian segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
**********
Pagi itu Wastu Ares terlihat sepi, semua pelayan tak terlihat satupun di rumah itu. Iwa yang baru saja terbangun merasa aneh melihat rumahnya yang terasa begitu sunyi.
"Kemana mereka??, apa mereka melakukan mogok masal, atau mengundurkan diri??"
Pemuda itu bergegas menuju ke meja makan, "Bahkan makanan pun tidak ada, cih ternyata wanita itu benar-benar menunjukkan sifat aslinya sekarang," Iwa segera menuangkan air putih kedalam gelasnya dan meminumnya.
Saat ia kembali ke kamarnya, pemuda itu melihat sebuah pesan di kamarnya.
"Temui aku di Hotel CAMELIA Presiden room 456,"
Iwa hanya tersenyum sinis membaca pesan itu.
"Apa kau ingin menjebak ku lagi??"
Ia kemudian membuang kertas itu dan segera masuk ke kamar mandi. Setelah selesai berganti pakaian Iwa kemudian bersiap pergi ke kantor.
"Bahkan Refan pun tak datang hari ini, apa semuanya sengaja menjauhiku. Apa aku begitu jahat sehingga semua orang meninggalkan aku. Ah sial!" Iwa segera menghentikan taksi dan naik ke atasnya.
"Kantor pusat PE corporation," ucap Iwa
"Baik," jawab sang sopir taksi kemudian melajukan mobilnya.
Sebuah notif pesan singkat muncul membuat Iwa langsung membukanya.
"Ponselku di bajak, sepertinya ada yang sengaja memanfaatkan aku untuk mencelakai mu," pesan Amy
"Buang ponselnya dan ganti yang baru," jawab Iwa
"Tapi sayang, hp ku kan mahal," Balas Amy
"Biar aku yang akan membelikan ponsel baru untukmu," jawab Iwa
"Cie yang khawatir,"
"Tentu saja aku khawatir Dinda, aku tidak mau kehilangan mu untuk kedua kalinya, aku harus melindungi mu sebelum terlambat. Untuk itu pulanglah, kau bisa pindah kuliah di Jakarta saja agar aku bisa menjaga mu. Lagipula kampus disini juga tak kalah bagus dari universitas di luar negeri,"
"Unncchh, senengnya di perhatikan kamu, aku jadi terhura," jawab Amy di sertai emot menggemaskan
"Kau baik-baik saja kan Dinda?" tanya Iwa
"Tentu saja Kanda, I'm Ok." jawab Amy dengan emot tersenyum
"Baiklah kalau gitu, nanti aku telpon setelah tiba di kantor,"
"Ikan hiu naik perahu, sampai jumpa lagi cintaku," jawab Amy dengan emot kiss di sertai love.
Iwa tersenyum-senyum melihat pesan Amy.
"Ikan hiu naik kuda, Terimakasih Dinda tercinta," jawab Iwa
"Ikan hiu makan sekoteng, sama-sama kanda ganteng,"
Iwa sejenak melupakan kesepiannya setelah membaca pesan Amy. Ia begitu bahagia meskipun hanya membaca pesannya saja.
*Ciiittt!!!
Tiba-tiba saja taksi itu berhenti di sebuah hotel.
"Aku bilang kantor pusat PE corporation, bukan di sini pak, jadi tolong putar balik," tukas Iwa
Pemuda itu mulai merasakan sesuatu yang aneh saat sang sopir tak mengindahkan perintahnya.
"Siapa kau, kenapa kamu membawaku ke tempat ini. Apa kau suruhan Bibi Kartika?" tanya Iwa menarik pundak sang sopir taksi.
Tidak berselang lama beberapa orang lelaki bertato naga menghampiri mobil itu dan menggedor-gedor kaca mobilnya.
"Sial, kenapa aku tidak sadar jika aku di jebak," Iwa segera membuka pintu mobilnya, dan sebuah tinju mendarat di wajahnya.
*Buuggghhh!!!
"Kita bertemu lagi bocah!" seru seorang lelaki menghampiri Iwa