
"Kenapa perasaan ku tidak enak," ucap Nathan gusar.
Tiba-tiba seorang anggota Cobra Hitam, tergopoh-gopoh datang menemuinya.
Pria itu terlihat begitu gusar dan wajahnya begitu ketakutan.
"Maafkan aku Nath," ucap lelaki itu segera bersimpuh dihadapannya.
"Apa maksudmu?" tanya Nathan kebingungan
"Aku memang tidak bisa dimaafkan dan pantas mati," sahut lelaki itu lagi
"Apa yang kau katakan aku tidak tahu, cepat bangun dan istirahat lah." jawab Nathan
"Aku terpaksa memberitahukan kepada mereka markas rumah Tikus ini. Aku terpaksa memberitahukan kepada mereka karena mereka menahan anak dan istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti keinginan mereka, demi keselamatan anak dan istriku. Jadi aku mohon bunuhlah aku Ketua!" tutur lelaki itu memberikan pistol kepada Nathan
"Siapa mereka??" tanya Nathan dengan wajah piasnya
"Seorang lelaki dengan wajah bengis dan menyeramkan," jawab lelaki itu.
*Ciiittt!!!
*Brakkkk!!!
"Mereka datang, cepat pergi dari sini dan selamatkan dirimu!!" seru lelaki itu
"Sial!!" Nathan segera masuk kedalam ruang kerja Baron dan membakar semua file-file di ruangan itu.
"Maafkan aku terpaksa membakar semuanya, aku tidak mau file-file ini akan membawa masalah kedepannya bagi kau dan ke tua. Aku tahu mereka pasti mencari semua bukti-bukti ini untuk menjatuhkan Cobra Hitam terutama dirimu ketua!" Nathan segera semua file dan berkas yang ia selamatkan dari California hotel.
*Dor, dor, dor!!!
"Arrgghhh!!"
Terdengar suara tembakan dan teriakan anggota Cobra Hitam yang meregang nyawa membuat Nathan segera mengambil senjata apinya dan keluar dari ruangan itu.
Ia segera menghajar satu persatu musuhnya dan menembaki lawan-lawannya dengan bengis.
*Bugghhh!!!
Sebuah tendangan keras menghantam tubuh Nathan membuat lelaki itu tersungkur ke lantai.
Seorang lelaki dengan tubuh tegap dan kumis tipis menyeringai di hadapannya. Lelaki itu segera mengambil pistol Nathan dan yang terlepas dari tangannya.
Sebuah tendangan menyilang dari samping menghempas tubuh lelaki itu saat ia hendak menembakan timah panas kearah Nathan.
*Brakkkk!!
Lelaki itu mengernyitkan dahinya dan segera mengusap darah segera yang keluar dari sudut bibirnya.
Ia begitu geram saat melihat siapa yang sudah menghajarnya.
"Dasar bedebah, kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa hah!" pekiknya kemudian melepaskan tembakannya bertubi-tubi kearah lelaki itu hingga ia tewas.
"Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun hidup tenang setelah mengusikku," ucapnya kemudian meniup ujung pistolnya.
"Halo,"
"Baron...Jangan pernah kembali ke Rumah Tikus jika kau masih ingin hidup." ucap Nathan dengan suara lirih
"Ternyata ada seekor Cobra pengecut yang bersembunyi, ck, ck, ck!" seru lelaki itu saat melihat Nathan bersembunyi
"Kau benar... mereka datang menyerang kita...."
Nathan tidak tinggal diam saat melihat pria itu hendak menghabisinya. Ia segera menyerangnya dan menjatuhkan pistol dari tangan lelaki itu.
Melihat pistol itu jatuh tak jauh darinya membuat Nathan segera bergegas mengambilnya.
"Dasar bodoh!" ucap Lelaki itu segera berlari mengejar Nathan.
Keduanya kembali terlibat baku hantam dan memperebutkan pistol itu.
Lelaki itu berhasil menjatuhkan Nathan dan mengambil pistol itu, namun seperti tak mau kalah Nathan langsung mencoba merebutnya.
Bukannya pistol yang di dapatkannya Nathan justru menarik cincin lelaki itu.
*Dor...dor... dor!!!
Lelaki itu segera memberondong Nathan dengan semua timah panas yang ada didalam pistol itu.
*Bruugghh!!
Seketika tubuh Nathan ambruk di lantai.
"Halo Nathan...halo," Baron terus berteriak memanggil Nathan, namun sayangnya teleponnya segera terputus setelah terdengar suara tembakan.
Mendengar ponsel Nathan masih menyala lelaki itu kemudian mengambilnya dan menginjak ponsel itu hingga hancur.
*Tut...Tut...Tut!!!
Lelaki itu segera masuk kedalam ruang kerja Baron, dan mencari file-file Cobra Hitam.
"Dimana mereka menyembunyikannya!" Ia terus mengobrak-abrik ruang kerja itu, untuk mendapatkan file yang di carinya.
Ia begitu kecewa saat melihat, beberapa file yang terbakar dari sebuah tong sampah.
"Dasar brengsek, rupanya bedebah itu sudah membakarnya!" ucap lelaki itu geram.
Ia kemudian pergi meninggalkan Rumah Tikus tanpa membawa bukti-bukti kejahatan Cobra Hitam yang di carinya.
***********
Baron segera berlari meninggalkan rumah sakit menuju Rumah Tikus.
Setibanya disana terlihat asap putih mengepul dari markas itu.
Ia memasuki gudang kecil yang terlihat begitu berantakan.
Bau amis darah begitu tercium saat ia mulai masuk kedalamnya. Puluhan anggota Cobra itu tergeletak tak bernyawa dengan kondisi yang mengenaskan.
"Siapapun pelakunya, aku yakin mereka bukan orang biasa atau polisi. Mereka bahkan begitu kejam melebihi seorang gengster," tukas Baron menatap mayat-mayat anggota Cobra Hitam yang berserakan di tempat itu.
Tentu saja hal itu membuat hati lelaki itu begitu teriris melihat kematian tragis anak buahnya.
Ia menyatukan anggota tubuh anak buahnya yang terpisah dan menutupi mayat-mayat itu dengan kertas.
Ia kemudian menghampiri Nathan yang bersimbah darah dengan luka tembak di dadanya.
Seketika hatinya begitu sakit dan air matanya mulai berderai membasahi wajahnya.
"Nathan Bangun!!!, bangun Nathan!!!"
"Nathan bangun, kau tidak boleh mati sebelum memberitahukan aku siapa pelakunya," serunya kemudian memeluk erat Nathan.
Nathan perlahan membuka matanya, lelaki itu kemudian memberikan sebuah cincin kepada Baron sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.
Lelaki itu sempat mengucapkan sebuah kata sebelum menutup matanya, namun karena ia begitu lemah membuat Baron tak bisa mendengar ucapannya.
"Katakan padaku siapa pelakunya?" desak Baron lagi
Nathan kembali membuka mulutnya, membuat Baron segera mendekatkan telinganya agar bisa mendengar ucapannya. Namun tetap saja ia tidak bisa mendengar apapun karena suara Nathan tak keluar. Pemuda itu hanya menggerakkan bibirnya sembari menggerakkan jarinya seolah menulis sesuatu.
"Arggghhh!!!" Baron berteriak histeris saat Nathan tak bergerak du pangkuannya.
***********
Pagi itu matahari mulai meninggi memancarkan panas yang begitu terik. Baron perlahan membuka matanya dan mengambil ponselnya.
"Sudah siang, rupanya," ia segera bangun dan beranjak meninggalkan pusara Nathan.
Saat ia bersiap menyalakan mobilnya, ponselnya menyala membuat ia mengurungkan niatnya.
*Dreet, dreeet!!
"Ketua??" senyumnya mulai mengembang saat melihat Refan menghubunginya.
Ada secercah harapan ketika sang ketua geng Cobra Hitam itu menghubunginya. Baron segera menerima panggilan masuk itu dan menjawabnya.
"Halo ketua, anda dimana?" tanyanya begitu khawatir
"Halo, saya Adrian kakak Refan, saya hanya ingin mengabarkan jika saat ini Refan ada bersamaku dan dia baik-baik saja. Ia meminta bantuan ku untuk menanyakan kabar mu dan anggota Cobra Hitam," jawab Iwa
"Bagaimana keadaan Ketua kami?" tanya Baron
"Dia baru saja siuman dan belum bisa banyak bicara ataupun bergerak," sahut Iwa
"Kalau begitu katakan padanya kami baik-baik saja jadi jangan khawatir." ujar Baron berusaha berbohong agar Refan tidak khawatir.
"Kalau kau ingin menemui Refan kau bisa datang ke apartemenku, aku akan mengirimkan lokasi apartemen ku padamu," sahut Iwa
"Terimakasih banyak, aku mohon padamu jaga dia sementara waktu. Aku janji akan segera menjemputnya setelah urusanku selesai," jawab Baron
"Baiklah kalau begitu, aku akan memberikannya," ucap Iwa kemudian mengakhiri panggilannya.
Refan menatap sendu kearah Iwa.
"Aku yakin terjadi sesuatu dengan Cobra Hitam," ucap Refan lirih.
"Mereka baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir. Yang terpenting sekarang kau segera cepat sembuh agar kita bisa menjebloskan Bisma ke penjara," jawab Iwa
"Aku sudah mengenal Baron sejak kami masih anak-anak, aku tahu dia berbohong. Aku yakin ia sengaja menyembunyikan kesedihannya agar aku tidak khawatir padanya. Kali ini aku benar-benar butuh bantuan mu," ucap Refan menarik lengan Iwa
"Aku memang jahat karena sudah berusaha mengkhianati dirimu yang sudah begitu baik padaku. Aku mohon bantu aku sekali ini saja kak," pinta Refan berkaca-kaca
"Apa yang harus aku lakukan?" jawab Iwa balik bertanya
Refan kemudian menulis beberapa alamat dan memberikannya kepada Kebo Iwa.
"Datanglah ke tempat itu, dan kabari aku setelah kau tiba di tempat-tempat tersebut," sahut Refan
"Ok, kalau begitu aku akan pergi sekarang." jawab Iwa kemudian menyambar jaketnya.
Refan menarik lengan Iwa saat lelaki itu hendak meninggalkannya.
"Terimakasih kak, sekali lagi terimakasih karena sudah mau membantuku," ucap Refan terisak melihat ketulusan hati Adrian.
"Sudah menjadi kewajiban seorang kakak untuk membantu adiknya," jawab Iwa kemudian melepaskan lengan Refan dan meninggalkannya.
Setibanya di tempat pertama, Iwa begitu terkejut ketika melihat police line di markas besar COBRA HITAM.
Ia bahkan tidak bisa masuk kedalam rumah itu karena di jaga ketat oleh beberapa polisi dengan senjata lengkap.
Ia kemudian meninggalkan tempat itu menuju ke HOTEL California, namun tak jauh beda dengan markas Cobra Hitam, tempat itu juga di tutup dan di beri police line Dan dijaga ketat oleh personel polisi.
"Sial!!"
"Sepertinya dugaan Refan benar, terjadi sesuatu dengan Cobra Hitam," saat Iwa akan kembali ke mobilnya ia melihat seorang pemuda berusaha menerobos masuk kedalam Hotel.
Namun polisi segera melarangnya dan mengusir lelaki itu dengan kasar.
Iwa kemudian membuntuti lelaki itu dan mengikutinya kemanapun ia pergi.
"Aku yakin dia adalah anggota Cobra Hitam yang selamat," ucap Iwa melesatkan mobilnya.
*Ciit!!!
Kebo Iwa menghentikan mobilnya saat sebuah mobil menghadang mobil pria yang diikutinya.
Ia sengaja berhenti agak jauh dari mobil lelaki itu, agar pemuda itu tak sadar tengah diawasi olehnya.
Beberapa orang bertubuh kekar keluar dari mobil dan menyeret lelaki itu keluar dari mobilnya.
Mereka kemudian menghajar pemuda itu dengan membabi buta.
Iwa tidak tinggal diam melihat pemuda itu babak belur di keroyok para preman di tengah jalan. Ia segera turun tangan dan membantu pemuda itu.
Sebuah tendangan melintang berhasil menjatuhkan satu persatu musuh-musuh Iwa. Tak puas melihat musuhnya babak belur, Iwa kembali menghadiahkan sebuah pukulan keras ke wajah mereka hingga mereka tersungkur di atas aspal.
Baron segera menarik Iwa saat sebuah tembakan melesat kearahnya.
*Dor!!
*Tap, tap, tap!!
Iwa menghela nafas panjang dan berkonsentrasi membaca arah kaki musuh yang mendekat kearahnya.
Saat ia merasa lelaki itu sudah dekat dengannya, ia segera memutar kakinya dan melepaskan tendangan keras lelaki itu hingga darah segar tersembur dari mulut lelaki itu.
*Bruugghh!!!
Ia segera melompat dan mengambil pistol lelaki itu dan mengarahkan ke kepalanya.
"Jangan bergerak atau kau akan mati!" serunya menyeringai
"Dasar bodoh, bagaimana bisa kau menembaknya jika pistol mu terbalik!" seru Baron menertawakan Iwa.
Begitu sadar Iwa terbalik memegang pistolnya, lelaki itu segera melepaskan tinjunya kearah Iwa.
Saat lelaki itu berhasil menangkap pistol yang terjatuh, Baron segera menghantamnya dengan dengan sikutan mematikan.
"Cepat pergi dari sini!" seru Baron menarik lengan Iwa dan mengajaknya masuk kedalam mobilnya