
"Bagaimana Ketua, apa kita serang sekarang!"
"Kita sedang menghadapi lawan yang tangguh kali ini jadi jangan terburu-buru. Tunggu beberapa jam lagi,"
"Mari kita mulai pemotretannya?"
Lelaki itu segera mengakhiri panggilannya dan mengikuti Sang photographer.
Selesai pemotretan lelaki itu melirik jam tangannya, "Bagaimana keadaan di sana, apa mereka sudah mulai meninggalkan wastu Ares??"
"Sepertinya belum ketua, belum ada tanda-tanda mereka meninggalkan rumah itu??"
"Tunggu mereka keluar dan serang saat mereka membuka pintu gerbang rumahnya," jawabnya enteng
"Baik Ketua,"
Melihat pintu gerbang mulai terbuka pria itu segera memerintahkan anak buahnya untuk segera bersiap menyerang rumah itu.
Mereka hanya bertiga, sehebat apapun pertahanannya kalian akan tetap mati kali ini, kecuali jika kau seorang iblis.
"Aaarrrggghhh!!" pekik Iwa melampiaskan amarahnya.
Pemuda itu begitu geram saat melihat semakin banyak musuh-musuhnya berdatangan.
Ia segera mengambil baton yang terjatuh dan menyarang musuh-musuhnya dengan balok kayu di tangannya.
Iwa menyerang mereka dengan membabi buta dan berhasil menjatuhkan musuhnya satu persatu.
"Dasar bodoh, kau bisa mati jika melawan mereka langsung. Kau pikir tubuhmu terbuat dari besi yang tak akan tembus oleh peluru!!" gerutu Refan.
Melihat Iwa yang menggila membuat Refan segera bergabung dengannya. Dengan menggenggam dua pistol di tangannya, Refan menembaki setiap penjahat yang berusaha membidikkan pistolnya kearah Iwa.
Pria itu berjalan berjalan menghampiri Iwa dan bersama-sama menghadapi lawan-lawannya.
"Aku tidak terima, jika seorang anak ingusan berhasil mengalahkan ku," Lelaki itu kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Sekarang saatnya kalian berburu!" ucapnya memberikan komando.
Tidak lama kemudian beberapa mobil Fan berdatangan dan berhenti tak jauh dari Wastu Ares. Beberapa orang lelaki dengan pakaian serba hitam dan baton di tangannya segera turun dari mobil-mobil tersebut dan merangsek masuk kedalam Wastu Ares.
"Sial, mereka semakin banyak!" seru Refan membuang pistolnya dan mengganti yang baru
"Sebaiknya kita mundur Rey, kita tidak mungkin mengalahkan musuh sebanyak itu," imbuhnya
"Pergilah dari sini dan selamatkan Baron, biar aku yang akan menghadapi mereka," sahut Iwa
"Jangan gila, apa kau sudah bosan hidup?" tanya Refan
"Aku memang ingin mati, aku sudah lelah berkelana selama 600 tahun." jawab Iwa kemudian melangkah maju menyerang musuh-musuhnya.
"Argghh!!" pekik Refan begitu frustasi
"Sebaiknya kita bantu Rey melawan mereka, karena percuma saja kita lari. Mereka akan tetap mengejar kita, bukankah lebih baik mati dengan terhormat di Medan pertempuran daripada mati sebagai pecundang," ucap Baron segera mengambil baton dan menyusul Iwa
"Ah sial, kenapa jadi begini. Terserah kalian saja, tapi aku tidak mau mati konyol!" ujarnya kemudian berjalan meninggalkan tempat itu.
*Dor!!!
Refan segera berbalik saat mendengar suara letusan pistol. Matanya terbelalak melihat Baron yang terkena tembak di kakinya.
"Arrgghhh!!!" Regan segera berlari dan menembaki semua orang yang hendak menyerang Baron
"Takan kubiarkan seorangpun menyentuhnya, atau aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri!" ucapnya kemudian membantu Baron berdiri.
Refan menyerang setiap orang yang mendekat kearahnya, ia bahkan selalu mengakhiri Pertarungannya dengan menembak mati musuh-musuhnya.
*Bugghhh!!
Iwa menghajar habis-habisan musuhnya, hingga satu demi satu berjatuhan.
"Dia benar-benar seperti seorang monster, bahkan ia membunuh lawan-lawannya tanpa ekspresi. Siapa dia sebenarnya??" Lelaki itu begitu tercengang melihat Iwa terus merangsek maju menghajar anak buahnya.
Tak satupun dari mereka yang berhasil menyentuhnya, tentu saja hal itu membuat lelaki itu begitu penasaran dengan Iwa.
Ia kemudian segera keluar dari mobilnya dan berjalan perlahan mendekati Iwa.
"Akan menyenangkan jika aku bisa menghabisinya hanya dengan satu tembakan saja," ucapnya menyeringai
Pria itu kemudian mengeluarkan pistolnya dan membidik Iwa yang masih menghajar lawan-lawannya.
*Wuuushhh!!!
Sebuah peluru melesat kearah Iwa dan tepat bersarang di dadanya.
*Bruugghh!!!
Iwa jatuh tersungkur membuat lelaki itu tersenyum penuh kemenangan.
Lelaki itu hanya tersenyum pahit ketika pistol ditangannya terjatuh.
"Suatu kehormatan bisa bertemu denganmu ketua Cobra Hitam," ucap lelaki itu menyapanya
"Siapa yang memerintahkan mu untuk menyerang kami?" tanya Refan
"Apa kau begitu penasaran?" tanya lelaki itu
"Jawab saja jangan banyak bac*t!" hardiknya
"Siapapun dia, yang jelas dia adalah orang yang selalu kau rugikan. Kalian adalah gengster yang meresahkan masyarakat jadi wajar saja kalau banyak yang ingin membunuh mu!" sautnya dengan nada mengejeknya
Karena geram dengan lelaki itu Refan segera melepaskan pukulan keras kearahnya, namun lelaki itu dengan sigap segera menepisnya. Ia bahkan menangkap lengan Refan dan memelintirnya.
"Kau bukan siapa-siapa tanpa anak buah mu, kau hanyalah seorang pengecut yang berlindung di balik ketiak anak buah mu,"
"Aaarrrggghhhh!!" Refan menjerit kesakitan saat lelaki itu benar-benar mematahkan lengannya.
"Ternyata kau tidak sehebat yang aku dengar, kau terlalu lemah dan sangat mudah ditaklukkan!" ucapnya sembari menginjak kepala Refan yang terkapar di lantai.
"Begitu banyak orang yang sudah mati di tangan mu, jadi sekarang saatnya kau membayar dosa-dosa mu Rex!" lelaki itu segera membidikkan pistol kearah Refan yang sudah tak berdaya lagi.
Sementara itu Iwa perlahan membuka matanya, samar-samar ia melihat sosok Baron terkapar tak jauh darinya, sedangkan Refan sedang meregang nyawa.
Tangannya mencoba meraih baton yang ada di sampingnya, dan ia perlahan bangun. Ia menarik pedang dari baton itu dan menghunuskan kepada siapapun yang menghadang langkahnya.
Lelaki itu.
Lelaki itu menyunggingkan senyumnya menatap Iwa yang kembali bertarung melawan anak buahnya dengan membabi-buta.
"Sepertinya aku menemukan lawan yang sepadan kali ini. Baru ia satu-satunya orang yang memiliki kemampuan menggunakan pedang seperti seorang pendekar di era kerajaan." Lelaki itu memasukkan pistolnya dan kemudian mengambil baton yang tergeletak di lantai.
Ia menarik pedang dari dalamnya dan berjalan mendekati Iwa.
"Mari kita bertarung secara fair," ujarnya menyingkirkan setiap anak buahnya.
Seketika semua orang langsung menyingkir dan memberikan jalan untuknya.
Ia menatap nyalang kearah Iwa dan segera mengayunkan pedangnya.
Pertarungan sengitpun berlangsung Antara Iwa dan lelaki itu. Ayunan pedang Iwa berhasil menebas lengan lelaki itu hingga merobek kemejanya.
"Menyingkirlah dan bawa anak buah mu pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran," ucap Iwa mengarahkan pedangnya ke wajah lelaki itu.
"Bagaimana kalau aku tidak mau?" jawabnya enteng
"Maka bersiaplah menghadapi ajal mu," sahut Iwa disambut gelak tawa lelaki itu.
"Hahahaha, ternyata kau begitu sombong anak muda, apa kau tidak tahu siapa aku?" tanya lelaki itu menyingkirkan pedang Iwa
"Siapapun dirimu, aku tidak peduli," sahut Iwa kembali mengarahkan pedangnya.
Lelaki itu kemudian menjatuhkan pedangnya, dan mengangkat tangannya seolah menyerah membuat Iwa menurunkan pedangnya.
Ia kemudian berjalan menghampiri Refan meninggalkan lelaki itu.
Dengan seringai di wajahnya lelaki itu segera mengambil pistolnya dan mengarahkannya kepada Iwa.
Melihat Iwa dalam bahaya Baron mencoba bangun dan berlari kearahnya untuk menyelamatkan dia.
*Dooor!!!
*Bugghhh!!!
Seketika Ia membalikkan badannya dan melihat Baron terkapar dengan luka tembak di dadanya.
Saat lelaki itu kembali menarik pelatuk pistolnya, ia segera berlari dan melapaskan tendangan keras kearahnya. Lelaki itu segera membalas serangan Iwa dengan tinjunya, Iwa meliuk-liukkan tubuhnya saat lelaki itu dengan cepat melancarkan serangannya.
*Buughh!!!
Pukulan kerasnya berhasil mendarat di wajah Iwa membuat pemuda itu terhempas beberapa langkah darinya .
Iwa segera mengambil pedang di sampingnya, dan mengayunkannya kearah lelaki itu saat ia melepaskan tembakan ke arahnya.
Ia segera menghindar peluru itu dan melompat sembari menebaskan pedangnya ke leher lelaki itu.
Melihat sang ketua mereka terkapar para anggota geng merangsek maju menyerang Iwa.
*Ciitt!!
Refan segera menghentikan mobilnya di samping Iwa, "Cepat naik!" serunya membukakan pintu untuk Iwa
Tanpa berpikir panjang Iwa segera memapah Baron dan masuk kedalam mobil.