
"Berita Pagi ini, kediaman seorang Konglomerat sekaligus pengusaha almarhum Prawiro Edy tiba-tiba diserang oleh puluhan anggota gengster malam kemarin. Penyebab penyerangan tersebut di sinyalir karen putra beliau yaitu Adrian Prawiro yang menjabat sebagai CEO PE corporation di kabarkan adalah pimpinan gengster nomor satu di Jakarta yaitu Cobra Hitam. Sejak berita ini di turunkan belum ada konfirmasi dari pihak PE Corporation ataupun keluarga Prawiro. Sedangkan Adrian sendiri saat ini sedang mendekam di penjara karena menyerang kantor rival bisnisnya yaitu Daniel Mahendra. Kabid Humas Polri Irjen pol Agus Satrio menyatakan jika penyerangan wastu Ares berkaitan dengan dendam pribadi para gengster, dan sampai saat ini pihak kepolisian masih menyelidiki kasus ini, demikian sekilas info. Saya Rachel Hutomo undur diri,"
"Sial, ternyata mereka cepat sekali menggunakan CCTV itu dan menggorengnya menjadi berita yang menyudutkan Rey. Sekarang apa yang harus kita lakukan," ucap Refan membanting tubuhnya ke sofa.
"Kita serang balik mereka,_" jawab Baron menghampirinya
"Tidak mungkin kita menyerang mereka jika hanya berdua, apalagi sekarang kau sedang terluka," sahut Refan
"Mereka menyerang kita melalui media massa, kita balas mereka dengan cara yang sama," jawab Baron
"Apa kau sudah mendapatkan informasi dari Ester?" tanya Refan penasaran
"Aku sudah mengantar mereka pulang, terlalu beresiko jika melibatkan mereka. Aku tidak mau mereka terancam bahaya jika mengungkapkan siapa pembunuh Gilbert. Cukup aku saja yang akan mengungkapkan semuanya," jawab Baron.
"Lalu apa rencana mu?" tanya Refan
"Lihat saja sebentar lagi aku akan mengirimkan kartu ucapan valentine yang berisi virus ke perusahaan Daniel." Baron segera memakai topi dan kacamata hitam kemudian bergegas meninggalkan kosannya.
Lelaki itu kemudian melesatkan sepeda motornya menuju kantor pusat DM company.
Setibanya di DM Company Baron dengan tenang memasuki gedung itu dengan mudahnya.
Seperti biasa Baron melakukan aksinya di dalam toilet, agar tidak terdeteksi oleh kamera CCTV. Ia sengaja menyalakan keran air agar tidak dicurigai oleh pemakai toilet lainnya.
Tidak lupa ia juga mengejang seperti orang yang susah air besar saat seseorang mengetuk pintu toiletnya.
Setelah selesai mengirim kartu ucapan valentine ia kemudian bergegas keluar dari toilet.
"Sebentar lagi kau akan mencari ku untuk mendapatkan anti virusnya Daniel, dan saat itu juga aku akan meretas data komputer mu dan menyebarkan semua kebusukan mu kepada publik," ucap Baron menyeringai.
*********
*Brakkk!!
Sementara itu, Bisma membanting pintu ruangan Baron untuk melampiaskan kemarahannya.
Dengan mata merah membara lelaki itu menghampiri Daniel yang menyambutnya dengan seulas senyum di wajahnya.
"Kau benar-benar gila Niel, apa kau sengaja menyebar berita itu agar saham PE Corporation anjlok di pasaran!!" serunya berapi-api
"Ini adalah kesempatan kita Bisma, setelah saham turun aku akan membelinya dan setelah itu kita bisa mengambil alih PE Corporation dengan saham mayoritas." sahut Daniel enteng
"Buat apa saham banyak jika tidak ada nilainya,"
"Kita bisa memainkannya lagi, ini hanya manipulasi pasar saja untuk mendapatkan saham banyak dengan harga murah," jawab Daniel
"Kau tidak tahu Adrian, dia bisa saja membalikkan keadaan Niel. Kali ini aku tidak sependapat denganmu."
"Akhir-akhir ini aku mulai memahami karakter Adrian yang baru dan aku begitu khawatir saat melihat berita tadi pagi. Sekarang aku sulit memprediksi apa yang akan dilakukan bocah itu. Asal kau tahu Rey yang sekarang seperti belut yang begitu licin saat hendak di tangkap. Tapi ia juga akan berubah menjadi bom waktu di saat tak terduga, itulah kenapa kita harus waspada," tutur Bisma mencoba memberikan pengertian kepada Daniel.
*Tok, tok, tok!!
Keduanya mengehentikan obrolannya saat mendengar suara pintu di ketuk.
Daniel segera membuka pintu ruangannya dan tak seorang sekretarisnya terburu-buru memasuki ruangannya dengan wajah pias.
"Ada apa denganmu, kenapa kau terlihat cemas?" tanya Daniel mengerutkan keningnya
"Tuan, aku sudah menerima kartu ucapan valentine dari anda, tapi setelah saya buka ternyata isinya virus dan komputer mendadak error. Bukan hanya saya yang mendapatkan greeting card itu, tapi semua karyawan. Dan sekarang semua panik karena semua komputer di kantor rusak dan terserang virus," jawabnya membuat Daniel terkesiap.
"Kartu Valentine??. Aku tidak pernah mengirimkan greeting card seperti itu, apalagi kepada semua karyawan??" ucap Daniel tercengang.
Ia kemudian segera mengecek komputernya dan menyalakan monitornya.
"Apa ini??" Daniel segera membuka email masuk dan membukanya.
Ia begitu kesal saat ia membuka pesan itu justru membuat komputernya bermasalah.
"Sial!!!, siapa yang berusaha menyabotase semua komputer di kantor ini!!" serunya begitu geram ketika mendapati komputernya juga terkena virus.
"Ini masalah serius Niel, kamu harus segera mencari seorang ahli IT untuk memperbaiki komputer mu, atau data-data penting di kantor ini akan hilang," ucap Bisma
"Dasar hacker sialan, kau pikir bisa menyerang ku dengan cara seperti ini. Cepat hubungi tim IT dan suruh mereka datang ke ruangan ku!" titah Daniel dengan nada tinggi
"Baik Pak," jawab wanita itu kemudian segera pergi dari ruangan Daniel.
Tidak menunggu lama beberapa tim IT DM company segera memasuki ruangan Daniel dan mengecek komputer milik sang CEO.
Hampir seharian Tim ahli mencoba memperbaiki komputer milik Daniel, namun tetap saja mereka tidak berhasil membersihkan virus itu dari komputernya.
Tentu saja hal itu membuat Daniel begitu stress karena sudah semua ahli IT ia datangkan namun tak seorangpun yang bisa memperbaiki komputernya.
Sementara itu saat Daniel tengah sibuk mengatasi Virus di kantornya. Refan segera bertindak untuk membebaskan Adrian . Ia sengaja membawa pengacara Cobra Hitam untuk membebaskan Adrian.
"Aku percaya padamu, semoga kau bisa mengeluarkannya untuk sementaranya waktu atau setidaknya menjadikan ia sebagai tahanan kota, agar Rey masih bisa bekerja," ucap Refan kepada sang pengacara
"Jika membaca kasusnya dan alasan penangkapannya aku yakin ia bisa bebas saat ini juga," jawab lelaki itu begitu yakin
"Lakukanlah yang terbaik, dan aku hanya bisa mengandalkan dirimu,"
"Baik ketua, semuanya pasti berjalan lancar," lelaki itu segera menemui tim penyidik dan segera memberikan beberapa bukti-bukti kepada polisi yang menunjukkan bahwa dia tidak menyerang kantor DM Company.
Lelaki itu bahkan memberikan rekaman CCTV rumah sakit ABDI NEGARA saat seorang dokter membawanya pergi dari rumah sakit.
"Bukankah mustahil, orang yang dalam keadaan koma bisa menyerang ke Kantor pusat DM Company. Lagipula klien saya tidak pernah punya dendam pribadi dengan CEO perusahaan tersebut, jadi menurutku itu sebuah tuduhan yang tidak masuk akal. Kalau alasan kenapa ia banyak membunuh tenaga keamanan di kantor itu, aku rasa itu hanya sebuah usaha membela diri. Bagaimana mungkin seorang akan diam saja saat bahaya mengancamnya, bahkan semut saja akan menggigit apabila di injak. Jadi tidak salah jika Tuan Adrian melakukan perlawanan saat CEO DM Company akan membahayakan dirinya," terang sang lawyer membuat tim penyidik mati kutu.
To be continued..