
*Duaaarr!!!
Terdengar ledakan yang begitu besar meluluh lantakkan semua bangunan itu.
"Sepertinya dia sudah mati, sebaiknya kita segera kembali dan melaporkan kejadian ini pada Bos," ucap seorang lelaki yang mengawasi bangunan itu
"Sebaiknya kita tunggu dulu, bagaimana jika dia berhasil lolos. Bukankah sudah jadi rahasia umum jika Adrian memiliki seribu nyawa hingga sulit mati," sahut rekannya
"Tidak ada yang bisa lepas dari maut saat terkurung dalam kobaran api,"
Lelaki itu kemudian meninggalkan tempat itu disusul oleh dua rekannya.
Adrian mulai membuka matanya dan menatap sekelilingnya. Semuanya luluh lantak dan hanya ada asap yang mengepul di sekelilingnya. Pemuda itu segera bangun dan berjalan tertatih meninggalkan tempat itu.
Sudah hampir satu kilometer lebih Rey berjalan namun lelaki itu belum menjumpai seorangpun atau kendaraan yang melintas. Hanya jalanan sepi dan hutan belantara yang ia temui sepanjang jalan.
Jika ada bangunan di tempat terpencil seperti ini, aku yakin pasti ada pemukiman tak jauh dari sini.
Adrian begitu berharap bisa menemukan sebuah perkampungan untuk meminta pertolongan. Namun hingga seharian ia berjalan, tak satupun perkampungan yang ia jumpai.
Karena sudah letih dan lemas setelah satu hari berjalan tanpa makan dan minum lelaki itu kemudian jatuh pingsan di jalanan.
Ya Tuhan, jika aku ditakdirkan untuk mati sekarang maka ijinkanlah aku untuk bertemu dengan ayahku sebentar saja. Aku sangat merindukannya,
Rey memejamkan matanya saat merasakan sekujur tubuhnya mulai terasa dingin, dan pandangannya mulai kabur.
Jakarta 7 Maret 2022,
Berita kematian Rey seakan menjadi tranding topik di semua media elektronik bahkan di kanal berita online.
Pemberitaan tentang anak miliader Prawiro Edy ini seperti sebuah magnet yang membuat semua orang tertarik untuk mengulik ada misteri apa di balik kematian sang crazy rich ini.
Berbanding terbalik dengan para awak media yang mendapatkan durian runtuh dari kematian Adrian Prawiro, PE Corporation perusahaan milik keluarga Prawiro Edy justru mengalami konflik akibat ditinggalkan oleh sang pewaris tunggal yang belum memiliki ahli waris.
Sempat terjadi keributan diantara kalangan Direksi dan pemegang saham mengenai siapa yang akan menggantikan posisi Adrian sebagai CEO mengingat ia belum memiliki ahlu waris.
Namun berkat kepiawaian Baron yang memanipulasi surat warisan palsu berhasil menyelamatkan perusahaan itu. Pemuda itu menggantikan posisi Adrian sebagai seorang CEO untuk sementara waktu untuk menghindari konflik internal di perusahaan dan juga penurunan harga saham di pasar saham.
**********
Seminggu kemudian...
Kantor pusat DM Company.
"Sudah seminggu tapu kalian belum juga menemukan siapa pelaku pemboman putriku, dasar tak berguna!" seru Daniel begitu murka
Lelaki itu begitu geram hingga meluapkan kemarahannya dengan menghajar satu persatu anak buahnya yang gagal menjalankan tugasnya.
"Tapi Tuan... bukankah anda juga menginginkan kematian nona Amy??" tanya seorang anak buah Daniel.
"Hahahaha!" Daniel tertawa mendengar ucapan anak buahnya
Ia menghampiri lelaki itu dan mendongakkan kepalanya.
"Aku memang menginginkan dia mati, tapi tidak sekarang. Aku masih membutuhkannya untuk menikahi Adrian Prawiro. Kau tahu alasannya kenapa??" tanya Daniel menjambak rambutnya
"Supaya anda bisa menguasai PE Corporation," jawab anak buahnya sembari menahan sakit
"Good, sekarang aku tidak mau tahu cepat cari siapa pelakunya sebelum aku turun tangan sendiri," sahut Daniel melepaskan lelaki itu
"Baik Tuan," jawab mereka kemudian segera meninggalkan ruang kerja Daniel.
***********
Sementara itu Baron sengaja mengunjungi lapas wanita Pondok Bambu. Lelaki itu tersenyum simpul saat seorang wanita menghampirinya.
"Ada perlu apa kau mengunjungi ku?" tanya Leona dengan wajah sinis
"Duduklah Lea, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," sahut Baron menarikkan kursi untuknya
"Thanks," jawab gadis itu acuh
"Aku tahu kau pasti masih dendam kepada Rey dan juga aku atas peristiwa tempo hari. Sekarang aku datang bukan sebagai seorang musuh, tapi aku datang sebagai teman kuliahmu," ucap Baron
"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya wanita itu kemudian mengambil sebatang rokok yang disuguhkan oleh Baron
Baron segera menyalakan korek api untuknya.
"Sebagai tangan kanan Bridav kau pasti tahu banyak hal tentang gengster di Jakarta. Aku hanya ingin meminta bantuan mu untuk mencari tahu siapa dalang pemboman Wastu Ares dan juga pelaku peledakan di Bandara yang menewaskan Rey dan Amy. Aku yakin dengan bantuan mu aku bisa menemukan mereka semua,"
"Mana mungkin aku membantu orang yang sudah membunuh bos yang sudah ku anggap sebagai ayahku sendiri," sahut Leona sinis
"Jika saja kalian tidak ikut campur dengan kami, pasti Rey tidak akan membunuh Bridav. Tidak ada api tanpa ada asap Lea. Apa kau tidak ingat kebaikan Rey padamu, ia bahkan masih mengampuni mu meskipun dia tahu kau sudah mengkhianatinya." tukas Baron
"Aku akan datang mengunjungi mu lagi besok. Aku hanya ingin memastikan apa kau berubah pikiran atau tidak," imbuh Baron kemudian bergegas meninggalkanya.
"Adrian...." ucap Leona menyeringai
Wanita itu segera kembali ke sel tahanannya.
Seketika suasana menjadi hening dan sepi membuat Leona sedikit waspada. Gadis itu berjalan perlahan sembari menajamkan pendengarannya. Matanya begitu awas memperhatikan sekelilingnya.
"Arrrrrghhh!!"
Tiba-tiba seseorang mencekiknya dari belakang membuat Leona kehabisan nafas. Ia segera melepaskan sikutannya kearah sang penyerang.
Tak jua menyerah Leona kembali menyikut keras kepalanya hingga wanita itu melepaskannya. Ia segera membalikkan badannya dan mendengkulnya berkali-kali ke ulu hatinya hingga perempuan itu sempoyongan.
Saat wanita itu mencoba kabur Leona segera melepaskan tendangan keras kearahnya hingga ia jatuh tersungkur. Ia segera menarik bajunya dan menatapnya nyalang.
"Siapa yang menyuruhmu??" tanya Leona dengan wajah bengisnya
Wanita itu tersenyum sinis dan kemudian berusaha mengigit bibirnya.
"Dasar mafia, kalian pikir bisa membodohi ku," Leona segera melepaskan sikutan keras ke tengkuk wanita itu hingga ia pingsan.
Leona sempat melihat tato naga di lengannya.
********
Pagi harinya Baron kembali mengunjungi Leona di tahanan untuk memastikan jawaban gadis itu.
Leona langsung menampar Baron ketika berjumpa dengan pria itu.
*Plaakkk!!
"Karena dirimu datang menemui ku, aku jadi terseret masalah kalian. Dasar brengsek!" gerutu Leona kemudian menyalakan rokoknya
"Tanpa aku pun mereka akan tetap memburu mu. Ingat kau memiliki banyak rahasia Bridav jadi sudah pasti para gengster itu akan memburu mu demi mendapatkan yang mereka cari," sahut Baron
"Memangnya apa yang mereka cari?" tanya Leona pura-pura tidak tahu
"Diska berisi informasi tentang semua gengster di Jakarta," jawab Baron
"Lo terlalu sok tahu bro," sahut Leona menyemburkan asap rokoknya kearah Baron
"Terserah apa katamu, tapi aku sudah tahu semuanya saat berhasil meretas data dari komputer Bridav." bisik Baron
"Dasar pencuri!" hardik Leona segera mendorong pemuda itu hingga terjungkal ke lantai.
Baron terkekeh mendengar makian Leona, pemuda itu segera bangun dan menghampirinya.
"Jadi bagaimana, apa kau bersedia bergabung denganku atau tidak?" tanya Baron merangkulnya.
"Lepaskan aku dulu dari sini baru aku akan membantumu," sahut Leona melepaskan lengan Baron dari bahunya
"Baiklah, aku tunggu kau di depan besok," jawab Baron mengerlingkan matanya
*******
Ia masih merasakan pusing hingga belum berani beranjak dari dipan bambunya.
"Argghhh!!" serunya sembari memegangi kepalanya
Seorang lelaki kemudian menghampirinya, "Syukurlah kau sudah siuman nak," ucapnya kemudian memberikan segelas air putih padanya
"Terimakasih," jawab Adrian kemudian meneguk minumannya
"Kalau boleh tahu dimana ini?" tanya Adrian
"Ini adalah pedesaan kecil di pulau terpencil kepulauan seribu," jawab lelaki itu
"Pulau seribu??" tanya Adrian mengernyitkan keningnya
"Benar," jawab lelaki itu kemudian meninggalkannya
Tidak lama lelaki itu kembali membawa sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya.
"Sudah hampir dua Minggu kau tidak sadarkan diri, aku yakin kau pasti kelaparan sekarang," kata lelaki itu kemudian memberikan nasi itu padanya
"Makanlah," imbuhnya menyunggingkan senyumnya
"Terimakasih," jawab Rey kemudian segera menyantap makanannya dengan lahap.
"Kalau masih lapar bilang saja, aku akan memberikannya lagi," jawab lelaki itu mengisi gelas kosong miliknya.
"Apa aku bisa menyebrang ke Jakarta?" tanya Adrian
"Hmm, sepertinya sulit nak mengingat desa Ini sudah di isolasi oleh pengusaha kaya dari Jakarta karena kami tidak mau pindah dari pulau ini," jawab lelaki itu
"Kenapa mereka menyuruh kalian pindah??"
"Mereka ingin membeli tanah kami untuk memperluas pabrik mereka. Tapi kami menolak karena tanah ini adalah tanah kelahiran kami dan samapai matipun kami tidak akan pergi dari sini," jawab lelaki itu
"Apa pengusaha itu sering datang ke tempat ini?" tanya Rey lagi
"Tentu saja, seminggu sekali dia dan anak buahnya datang untuk bernegosiasi dengan kepala desa atau hanya sekedar mengunjungi pabrik mereka di tengah hutan," jawabnya singkat
"Beritahu aku jika mereka datang," ucap Adrian beranjak dari ranjangnya
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya lelaki itu
"Aku ingin membunuh mereka semua," sahut Rey mengepalkan tangannya
"Kau pasti dendam kepada orang-orang itu karena sudah membuang mu ke pulau ini??" tanya lelaki itu
"Bukan hanya itu, mereka juga membunuh calon istri ku," kenang Adrian getir
"Pasti kau sangat dendam, tapi kau harus menahan amarah mu dan menyimpan energi mu untuk sementara waktu. Ingat...kau belum pulih seratus persen jadi mustahil kau bisa membunuh mereka dengan keadaan seperti ini. Mungkin malah sebaliknya kau yang akan mati ditangan mereka," jawab lelaki itu menepuk pundaknya
Ia kemudian meninggalkan Adrian. Tidak lama lelaki itu pergi meninggalkannya dengan membawa ransel di pundaknya.
"Kau mau kemana?" tanya Rey
"Aku harus mencari ikan, kalau tidak semua orang-orang di kampung ini bisa mati kelaparan," jawab lelaki itu enteng
"Kalau begitu aku ikut, aku juga jenuh jika harus berbaring seharian," sahut Rey
"Terserah kau sajalah. Asal kah kau tahu medan yang akan kita lalui terlalu berbahaya. Aku tidak bisa menjagamu karena aky juga harus menyelamatkan diriku sendiri," sahut lelaki itu
"Tidak masalah," jawab Rey kemudian mengikuti lelaki itu
"Terserah kau saja anak muda,"
Rey mengikuti lelaki itu meninggalkan rumahnya. Di halaman rumah mereka, sudah menunggu lima orang lelaki dengan ransel di pundaknya.
"Sedikit sekali penduduk di sini?" tanya Rey
"Hampir 80 persen sudah meninggalkan pulau karena mereka tak bisa bertahan hidup dalam kekurangan," jawab Lelaki itu getir
"Jadi kalian tinggal 6 kepala keluarga saja di sini?"
"Ada sepuluh kepala keluarga yang masih tersisa. Namun yang empat keluarga tidak memiliki kepala keluarga," sahutnya
"Oh begitu," jawab Rey kemudian mempercepat langkahnya
Mereka kemudian melintasi hutan belantara dengan hati-hati, dan sesekali harus memanjat pohon untuk menghindari ranjau yang dipasang oleh orang-orang kota.
Mereka juga harus merayap untuk menghindari kamera CCTV agar tak tertangkap oleh para anak buah penguasa pulau itu.
"Pantas saja banyak warga yang meninggalkan pulau, mereka pasti tidak tahan harus hidup menderita seperti ini di tanah kelahirannya sendiri," gerutu Rey sembari merayap dan menghindari sorotan lampu dari menara.
Setibanya di pantai mereka segera menangkap ikan menggunakan jala.
"Bagaimana kalian akan dapat banyak ikan jika menggunakan peralatan sederhana seperti ini," ucap Rey
"Setidaknya kami bisa bertahan hidup dengan jala ini," jawab lelaki itu menarik jalanya.
"Wah banyak sekali ikannya!" seru Rey saat melihat jalan itu dipenuhi oleh Ikan
"Sekarang kau tahu alasannya kenapa si brengsek itu ingin menguasai pulau ini?" tanya lelaki itu sinis
"Hmm, aku paham paman," jawab Adrian menganggukkan kepalanya.
Adrian yang tidak membawa peralatan menangkap ikan hanya bisa melihat orang-orang itu menjala ikan sembari bermain pasir.
Setelah puas bermain pasir, Rey kemudian menceburkan diri ke pantai.
Lelaki itu sengaja menyelam untuk melihat keindahan bawah laut.
Wah benar-benar bagus,
*Dor!!
Tiba-tiba terdengar suara letusan senjata api membuat Adrian segera keluar dari dalam air.
Salah satu dari mereka terapung di atas air setelah terkena timah panas.
Sang kepala desa yang begitu berang segera melemparkan tombak yang dibawanya kearah penjahat itu tepat mengenai jantungnya.
Mereka segera keluar dari air dan melawan para penjahat yang berusaha menangkap mereka.
Pertarungan sengitpun berlangsung antara penduduk pulau dengan anak buah sang penguasa pulau.
Adrian segera menarik sang kepala Desa saat melihat segerombolan lelaki bersenjata api berjalan kearah mereka.
"Sebaiknya kita pergi, kita tidak akan pernah menang melawan mereka," bisik Rey
Namun lelaki itu melepaskan tangan Rey, dan menolaknya untuk kabur.
"Aku tidak takut, lebih baik aku mati di tanah ini daripada harus hidup sebagai pecundang," sahut lelaki itu
"Jangan bodoh, lalu bagaimana dengan nasib para penduduk lain. Nasib keluarga mu dan juga para wanita yang bergantung hidup padamu. Jangan biarkan mereka menderita hanya karena jiwa patriot konyol mu itu," sahut Rey
"Kalau begitu aku mohon padamu, bawa mereka keluar dari pulau ini. Aku titipkan mereka padamu, tolong jaga mereka,"
"Tidak bisa, bagaimana aku bisa menyelamatkan mereka jika menyelamatkan diri sendiri saja aku belum bisa," tolak Rey
"Aku yakin kau pasti bisa menyelamatkan mereka," jawab lelaki itu kemudian mendorong Adrian
Tidak lama seorang lelaki tampan dengan penampilan khas seorang CEO mendekati sang kepala Desa.
"Oo...ternyata ada pencuri yang berusaha mengambil ikan ku," ucapnya menyeringai
Adrian segera menutupi wajahnya saat melihat lelaki itu. Pemuda itu benar-benar terkejut melihat lelaki blasteran di depannya itu.