My Immortal

My Immortal
Mati Kutu



"Sabu itu milikku, jadi Daniel tidak bersalah. Selama ini apapun yang Suamiku lakukan atas perintah dariku, bahkan penggunaan nama Melanie Suwito juga atas saran dariku untuk menghilangkan jejak kami." ucap Helen membuat semua polisi tercengang.


Tidak lama setelah pernyataan Helen, Daniel segera dibebaskan dan wanita itu menggantikannya mendekam di lapas wanita.


Daniel begitu bahagia ketika pengacaranya menjemput di lapas Cipinang.


"Akhirnya aku bisa menghirup udara segar lagi," ucap Daniel begitu sumringah


"Sepertinya anda harus berterima kasih kepada istri anda yang sudah berbaik hati mengeluarkan anda dari jeruji besi," tukas Pengacara Daniel


"Tentu saja, setidaknya aku harus memberikan salam perpisahan kepada istriku tercinta," jawab Daniel menyeringai.


Lelaki itu kemudian menuju lapas wanita menemui Helen.


Daniel tersenyum dan segera memeluk erat istrinya.


"Terimakasih sayang sudah membebaskan aku," bisik Daniel kemudian mengecup kening wanita itu.


"Jangan terlalu berbahagia, karena aku sama sekali tidak berniat membantu mu," sahut Helen dingin


"Jangan bilang kau melakukannya untuk menyingkirkan aku," sahut Daniel menatapnya nanar


"Hahahahaha," Helen tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Daniel


"Kau tahu aku begitu ingin membunuhmu dari dulu, tapi karena perusahaan kita aku berusaha menahannya. Sekarang aku sudah mendapatkan semuanya, jadi bersiaplah karena sebentar lagi aku akan menceraikan dirimu," tambah wanita itu


"Jangan mimpi sayang, karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikan dirimu. Meskipun aku tidak pernah menyukaimu, tapi kau adalah ladang uangku jadi sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepas mu," jawab Daniel mengusap lembut wajah Helen


"Kau memang benar-benar brengsek, dasar!! bajing*n!!!, aku sungguh membencimu!!" seru Helen meninggalkan ruang besuk.


*********


Daniel kemudian keluar dari sel dan segera melesat menemui Refan.


Keduanya sengaja bertemu di Rumah Tikus untuk melakukan transaksi.


Refan segera beranjak dari kursinya dan menyambut kedatangan Daniel.


"Selamat datang di Rumah Tikus, Tuan Daniel?" sapa pemuda itu.


"Aku tidak suka basa-basi, cepat berikan sabu itu karena aku waktuku sangat berharga," jawab Daniel dengan sombongnya


"Kenapa kau begitu terburu-buru, apa kau takut arwah para Cobra akan bangun dan mencekik mu?" tanya Refan sinis


"Apa maksudmu?" sahut Daniel


Refan segera mengeluarkan sebuah cincin dan menunjukkannya kepada Daniel.


"Aku tahu ini milikmu, meskipun kau memalsukan kepemilikannya," jawab Refan


"Jadi kau mengundang ku ke tempat ini untuk membalas dendam??" tanya Daniel menertawakan Refan


"Kalau memang benar aku pelakunya lalu kau mau apa??, membunuhku, melaporkan aku ke polisi?, silakan saja," imbuh Daniel meremehkan Refan


"Meskipun aku berada di markas mu, aku tidak takut, karena semua Cobra sudah aku kirim ke Neraka. Kau hanya berdua saja dengan hacker sialan itu, jadi apa kalian bisa mengalahkan aku?"


Tiba-tiba puluhan gengster berdatangan ke Rumah Tikus.


"Kau benar-benar pengecut Daniel, apa kau begitu ketakutan sehingga kau membawa pasukan mu ke Rumah kami?" ucap Refan menertawakan lelaki itu


"Terserah apapun ucapan mu, I don't care dear," sahut Daniel mengusap wajah Refan


"Dan satu lagi yang harus kau tahu, kamu dan Helen tidak akan bisa menjebak ku. Tapu setidaknya aku harus berterima kasih karena ide bodoh mu Akhirnya aku bisa bebas hari ini, thanks a lot Rex," tukas Daniel tersenyum padanya


Daniel segera mengambil Koper yang dipegang oleh Refan dan membukanya. Tidak lupa pria itu membuka salah satu bungkus sabu dan mencobanya.


"Hmm, ok ini asli," ucapnya kemudian menutup kopernya


"Sayang sekali aku tidak melihat Rey disini, padahal aku sangat ingin menggorok leher berandal yang sudah berani menikam asisten pribadi ku," ucap lelaki itu penuh kekecewaan.


"Aku ada disini Tuan!" seru Iwa kemudian menutup pintu masuk rumah Tikus.


"Kau benar-benar panjang umur Rey," jawab Daniel berjalan menghampirinya.


"Kalau kau ingin menggorok ku lakukanlah sekarang," tantang Iwa memberikan sebuah Samurai kepadanya


"Ck, ck, ck, entah kenapa aku begitu suka denganmu Rey. Kau begitu pemberani, tampan dan juga kuat. Andai saja kau mau bekerjasama denganku pasti kita akan menjadi partner yang tak terkalahkan dalam bisnis," sahut Daniel


Lelaki itu kemudian menarik samurai dari sarungnya dan mengarahkannya kepada Iwa.


Iwa hanya tersenyum sinis menatap kearah Daniel. Ada yang berbeda dari tatapan Iwa kali ini, tatapan yang sudah hilang selama enam ratus tahun silam kini mendadak muncul saat melihat Daniel.


Ada kilatan kemarahan dalam diri Iwa saat menatap lelaki itu. Amarah yang sama saat ia menghadapi Patih Gajah Mada enam ratus silam, membuat pemuda itu begitu ingin mengakhiri perseteruannya dengan Daniel.


Kali ini kau tidak akan lolos lagi Daniel, aku bersumpah akan menghabisi mu saat ini juga untuk mengakhiri karmaku.


Iwa kemudian mengeluarkan samurainya dan mengarahkannya kepada Daniel.


"Baiklah, kita mulai duel ini sekarang. Tapi aku tidak suka menggunakan pedang karena aku tahu kau lebih lihai menggunakannya daripada aku," jawab Daniel membuang samurainya.


"Lakukanlah semau mu," jawab Iwa mengikuti keinginan Daniel


Daniel segera melepaskan tendangannya kearah Iwa hingga pemuda itu terhempas beberapa langkah darinya.


Iwa segera menyeimbangkan tubuhnya dan segera melindungi kepalanya saat Daniel melancarkan pukulannya bertubi-tubi kearahnya.


Pemuda itu tak buru-buru membalas serangannya, ia memilih bertahan dan menghindari serangannya.


Teknik menyerangnya begitu cepat, pertahanannya juga kokoh, satu kelemahannya yaitu dia tidak bisa mengontrol emosinya. Aku harus terus memancingnya agar ia mengeluarkan semua kekuatannya,


Saat Daniel mulai kelelahan Iwa segera menurunkan lengannya yang menutupi wajahnya dan kemudian melepaskan tendangan keras ke arah Daniel. Saat lelaki itu terhuyung-huyung, Ia melompat dan melepaskan sikutan keras hingga membuat lelaki itu jatuh tersungkur.


Melihat Daniel tumbang anak buahnya segera merangsek maju menyerang Iwa.


Iwa segera mengambil samurainya dan menebaskan kearah anak buah Daniel hingga mereka berjatuhan satu persatu.


Sial, sepertinya bocah ini tidak main-main kali ini, dia benar-benar ingin membunuh ku,


Daniel segera bangun dan mengambil pistolnya.


"Secepat apapun permainan pedangmu, kau tidak akan bisa mengalahkan kecepatan peluru Rey," ucap Daniel segera menarik pelatuk pistolnya kearah Iwa.


Iwa segera menghindar dan melemparkan samurainya kearah Daniel.


"Arrrrrghhh!!" Daniel mengerang kesakitan saat Samurai itu berhasil menyayat lengannya.


Melihat kekacauan itu Refan dan Baron segera membantu Iwa menghabisi gengster yang berdatangan.


"Mari kita lanjutkan rencana kita,"


Baron dan Refan segera memberikan kode kepada Iwa untuk keluar dari tempat itu.


Ketiganya segera pergi meninggalkan rumah Tikus menggunakan pintu rahasia setelah terlebih dulu membakar rumah itu.


Daniel segera bangun dan mendobrak pintu rumah itu.


"Sial, Kalian pikir bisa membakar ku hidup-hidup di sini, jangan mimpi," tukas Daniel


Lelaki itu segera memerintahkan anak buahnya untuk mendobrak pintu masuk Rumah Tikus.


"Cepat dobrak pintunya!!" serunya lantang


Saat mereka berhasil membuka pintunya, ia tercengang saat melihat polisi sudah mengarahkan pistol kearahnya.


"Jatuhkan senjata mu dan menyerahlah!" seru seorang polisi


Anak buah Daniel segera mengarahkan senjata api kearah polisi itu.


Namun Daniel memberikan kode kepada anak buahnya untuk menjatuhkan senjata apinya.


Lelaki itu segera mengangkat tangannya dan diikuti oleh anak buahnya.