My Immortal

My Immortal
Jangan pergi Dinda



Baron tampak pucat pasi saat terdengar suara polisi hendak mendobrak pintu masuk kamar itu.


Lelaki itu beringsut mundur dan mencari jalan keluar.


Ia segera melompat-lompat untuk mencari dimana tempat Rey terjatuh.


"Ya Tuhan please help me!" serunya memohon


*Brakkkkkk!!


"Jangan bergerak!" seru polisi menodongkan pistolnya


Namun mereka tak menemukan siapapun disana.


Mereka kemudian memeriksa tiap sudut ruangan itu bahkan memeriksa lantai kamar itu karena dikhawatirkan ada pintu ruang bawah tanah.


"Tidak ada apa-apa komandan," tukas seorang polisi


"Tapi aku yakin tadi ada orang disini, tidak mungkin aj*ng pelacak bisa salah mengendus bukan?" sahut seorang komandan polisi


"Jadi bagaimana ini komandan, kita lanjutkan pencarian atau kembali ke kantor?"


"Kita kembali ke kantor saja," sahut sang komandan kemudian memerintahkan anak buahnya untuk menghentikan pencarian.


Lelaki itu kemudian menyalakan rokoknya dan memperhatikan kamera CCTV rumah itu. Ia kemudian tersenyum tipis dan menuju ruang security. Lelaki paruh baya itu kemudian mengontak-atik komputer yang merekam semua CCTV untuk mencari siapa yang menyusup ke Wastu Ares.


"Cih, bagaimana dia menghapusnya dengan begitu cepat, sampai aku tidak bisa melacak jejaknya," ucapnya geram


Lelaki itu kemudian mengambil gawai pipih dari saku celananya yang berdering.


"Halo,"


"Bagaimana apa kau berhasil menangkapnya?"


"Sepertinya aku kalah cepat, ia bahkan berhasil kabur dan menghapus rekaman CCTV Wastu Ares," jawab sang Komandan


"Hanya ada satu hacker terbaik di Indonesia dan aku yakin dia pelakunya,"


"Aku tidak bisa memastikannya karena tidak menemukan barang bukti. Apalagi sepertinya pelaku sangat tahu setiap jengkal sudut rumah ini. Itulah kenapa dia bisa lolos dari kami," sanggah sang polisi


"Aku yakin dia adalah Rey dan Baron, segera tangkap mereka berdua dan jebloskan kedua berandalan itu ke penjara. Aku sudah muak dengan keduanya yang selalu mengusik kehidupan ku,"


"Tidak semudah itu Tuan, aku perlu bukti untuk menyeret keduanya ke bui," jawab sang polisi


"Kalau tidak ada bukti maka kita hanya perlu membuat bukti kan, aku akan membayarnya. So lakukan saja sesuai perintah ku,"


"Sial, aku belum selesai bicara dia sudah mematikan ponselnya. Apa kau pikir uang bisa membeli segalanya," cibir lelaki itu kemudian membuang puntung rokoknya dan meninggalkan Wastu Ares.


Sementara itu Adrian tak mengira jika ayahnya memiliki ruangan rahasia di dalam kamarnya. Meskipun sebuah banker ruangan itu dilengkapi alat pengendali CCTV yang mengawasi seluruh sudut ruangan Wastu Ares.


"Wah tidak ku sangka ayah mempunyai banker sekeren ini," ucap Adrian berdecak kagum


"Kita bisa melihat siapa orang asing yang membawa boom malam itu, dari sini." Baron segera membuka rekaman CCTV saat terjadi peledakan di Wastu Ares.


Rey segera bergabung dengan Baron dan melihat dengan seksama siapa pelakunya.


Adrian membelalakkan matanya saat melihat orang asing yang terus mondar-mandir dan terlihat gelisah di antara kerumunan orang-orang yang berpesta.


"Amy???" Adrian segera membuka pintu banker itu dan bergegas keluar.


"Kamu mau kemana Rey, aku belum selesai!" seru Baron


"Aky harus menyelamatkan Amy, dia dalam bahaya!" sahut Adrian


"Sial!" gerutu Baron segera mematikan semua CCTV wastu Ares dan menyusul Adrian


Rey segera melesatkan motor sportnya menuju ke rumah sakit tempat Amy dirawat.


Satu jam kemudian lelaki itu menghentikan motornya di halaman rumah sakit, ia segera berlari menuju ruang perawatan VIP.


*Paviliun Anggrek


Amy langsung beringsut mundur ketika merasakan seseorang menyentuhnya. Gadis itu segera beranjak dari ranjangnya dengan wajah ketakutan.


"Mau apa kau??" tanya wanita itu berjalan menghindar darinya


"Sebaiknya kau jangan buka mulut atau aku akab menghabisi mu," jawab lelaki itu mengarahkan belatinya kearah Amy


Gadis itu segera menghindar, dan berlari meninggalkan ruangan itu, namun dengan cepat lelaki itu berhasil menarik rambutnya.


"Arrrrrghhh!!" teriak Amy dengan wajah pucat pasi


Wanita itu memberontak dan berusaha melepaskan diri dari Kungkungan lelaki itu.


Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Amy membuat gadis itu berhenti melawan.


"Kau memang tak pantas di kasiani, dasar anak Iblis!" maki lelaki itu dengan wajah bengis


Amy menatap lekat lelaki itu sembari memegangi pipinya yang terasa sakit setelah terkena tamparan lelaki itu.


"Kau pasti sangat menyesal karena memiliki dua ayah yang berhati Iblis bukan?. Dan kau harus menanggung dosa-dosa mereka," ucap lelaki itu


Ia kemudian menyerangnya dengan belati di tangannya membuat amy berusaha menghindarinya.


Karena geram Amy selalu saja bisa mengelak serangannya, lelaki itu kemudian menarik rambut gadis itu.


"Kau tahu ... aku sangat muak denganmu," ucapnya kemudian mengarahkan belatinya ke leher gadis itu.


Amy segera mengigit lengannya dan menyikut ulu hati pemuda itu dan kemudian melarikan diri.


"Tolong!!!" seru Amy sembari berlari menyusuri selasar rumah sakit.


Gadis itu terus berlari untuk menyelamatkan diri dan mencari pertolongan.


*Bruugghh!!!


Gadis itu jatuh tersungkur saat menuruni tangga. Lelaki itu menyeringai saat melihat Amy tak berdaya dan memegangi kakinya yang terkilir.


"Sekarang tak ada lagi yang akan menolong mu," ucap lelaki itu


Ia kemudian mengayunkan belatinya kearah Amy.


*Grep!!


Beruntung Rey segera datang dan menahan serangan lelaki itu. Ia kemudian melepaskan pukulan ke arah lelaki itu dan menjatuhkan belatinya.


Seakan tahu jika ia tidak akan bisa mengalahkan lawannya lelaki itu segera melarikan diri.


"Jangan di kejar!" seru Baron saat Rey akan mengejarnya


"Sebaiknya kita selamatkan Amy lebih dulu, kasian dia. Aku yakin dia pasti terguncang dengan kejadian ini," sambung Baron kemudian membantu Amy berdiri.


"Apa kau terluka?" tanya Rey menghampirinya


"Kakiku terkilir, aku tidak bisa berjalan untuk sementara waktu," jawab Amy parau


Adrian segera menggendong wanita itu dan membawanya menuju ruang perawatannya.


"Darimana saja kau sayang, ayah mencari mu kemana-mana," ujar Daniel segera menghampiri mereka dengan wajah panik


"Jangan pura-pura peduli dengannya, aku muak melihat wajah sok baik mu," cibir Rey penuh kebencian


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Daniel lagi


Lelaki itu seakan tak menghiraukan ucapan Adrian.


"Ada yang ingin membunuh ku ayah," jawab Amy lirih


"Siapa yang berani mengusik putri Daniel Mahendra akan mendapatkan balasan setimpal. Kau tidak usah takut sayang, mulai hari ini ayah akan menyuruh bodyguard untuk menjaga ruangan ini," ucap Daniel mengusap lembut kening putrinya itu


"Cih, berlagak seperti malaikat," nyinyir Adrian


"Terserah apa katamu, yang jelas tidak ada satupun orang tua yang tega menyakiti buah hatinya," jawab Daniel mengecup kening Amy


"Semoga saja begitu," sahut Rey kemudian meninggalkan ruangan itu.


"Entahlah Bro, aku benar-benar tak percaya dengan Daniel. Aku masih yakin jika dia dalang semua ini. Dia hanya pura-pura peduli dengan Amy untuk menutupi perbuatan busuknya yang ingin merebut semua warisan Amy," jawab Rey penuh emosi


"Aku juga sependapat denganmu Rey, tapi kita perlu bukti untuk meyakinkan Amy," sahut Baron


"Andai saja Bridav masih hidup, dia pasti tahu siapa pemilik belati ini," tukas Baton menatap belati bercorak naga itu.


************


Pagi itu di Kantor pusat PE Corporation.


Adrian terlihat begitu sibuk mengadakan meeting dengan para karyawan untuk mempersiapkan produk baru perusahaannya, hingga ia lupa untuk mengecek ponselnya.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, membuat Rey menghentikan sejenak pidatonya.


"Sorry ganggu bro, tapi dari tadi ponselmu terus berdering. Sepertinya Amy ingin berbicara penting denganmu," ujar Baron memberikan ponsel Rey


"Thanks Bar," sahut Adrian mengambil ponselnya


Pemuda itu kembali ke ruang rapat.


"Baiklah sepertinya rapat hari ini sudah cukup, kalau kalian ingin bertanya silakan hubungi sekretaris saya. Sekarang kalian boleh kembali ke bekerja, selamat siang." ucap Adrian menutup rapat kerjanya.


Lelaki itu kemudian segera menghubungi Amy.


"Halo sayang,"


"Halo Rey,"


"Maaf aku mengabaikan panggilan masuk darimu karena hari ini aku sibuk banget, jadi apa yang kamu ingin sampaikan sayang, katakanlah?" tanya lelaki itu


"Aku ingin pergi ke luar negeri Rey, aku merasa tidak aman tinggal disini. Aku ingin hidup tenang di sana," jawab Amy


"Kalau kau pergi ke luar negeri, lalu bagaimana dengan aku, apa kau ingin meninggalkan aku?" tanya Rey gusar


"Aku tidak meninggalkan mu sayang, aku hanya ingin berobat. Kebetulan ayah menyarankan aku untuk berobat ke luar negeri agar cepat pulih, karena kata dia pengobatan di luar negeri lebih bagus dan aku juga lebih aman di sana," jawab Amy


"Kenapa harus mendadak sih Sayang, aku belum bisa mengantarmu, schedule ku terlalu padat seminggu ini,"


"Tidak apa-apa sayang aku mengerti kok, yang penting aku sudah memberi tahu mu, besok aku akan berangkat dengan penerbangan pertama dari bandara internasional Soekarno Hatta,"


"Baiklah sayang, aku akan mengantarmu. Btw sekarang kamu dimana?. Apa kay masih dirumah sakit atau sudah pulang?" tanya Rey


"Aku masih di rumah sakit," jawab Amy


Adrian segera mematikan ponselnya dan melesat meninggalkan kantor PE Corporation.


Setibanya di Paviliun Anggrek dua orang bodyguard menahannya dan melarang pemuda itu masuk.


"Aku Rey tunangan Amy, jadi minggir sebelum aku menghajar kalian!" hardik Adrian


"Maaf Tuan, tapi Tuan Daniel melarang anda masuk," jawan Sang Bodyguard menahannya


"Cih, Iblis itu lagi...rupanya dia sengaja memasang bodyguard agar aku tidak bisa menemui Amy," tukas Adrian kesal


"Kita lihat saja Daniel, siapa yang paling berkuasa," imbuhnya kemudian melepaskan pukulan keras kearah bodyguard itu.


Namun dengan cepat bodyguard itu langsung menahan pukulannya dan menghempaskan tubuh Rey setelah terlebih dahulu menghantamkan tinjunya ke ulu hati pemuda itu.


Daniel menatap mereka dari kejauhan.


"Bagaimana pria kuat seperti mu bisa roboh hanya dengan sekali pukul, kemana kekuatan mu Rey??"


"Cukup Joe, dia calon menantu ku jadi biarkan saja dia masuk," ucap Daniel menghampiri mereka.


Lelaki itu kemudian mengulurkan tangannya mencoba membantu Adrian berdiri, namun Rey menepisnya.


Rey segera berjalan memasuki bangsal perawatan Amy.


"Kamu masih saja sombong Rey,"


Pemuda itu mencoba meyakinkan Amy untuk tetap tinggal dan berobat di Jakarta, namun gadis itu bersikeras untuk pergi ke luar negeri.


"Sayang, sekarang tanya dokter ahli bedah Indonesia yang bisa melakukan operasi plastik tak kalah dengan dokter luar negeri. Kau tahu dokter Tommy, dia adalah dokter terbaik di Indonesia, dan hasil oplasnya sudah tidak diragukan lagi. Bahkan para artis banyak yang melakukan bedah plastik padanya,"


"Tapi tetap saja Korea Selatan lebih unggul dalam operasi plastik," sahut Daniel menghampiri keduanya.


"Maaf sayang, sepertinya kali ini aku tidak bisa menurutimu. Aku akan menuruti apa yang ayahku perintahkan," jawab Amy tersenyum dan memeluk Daniel


***********


Pagi itu Adrian tergesa-gesa menuju ke Bandara, ia sengaja mengabaikan pekerjaannya hanya untuk mengantar Amy ke bandara.


"Ah sial, kenapa pakai macet segala!!" Adrian terus membunyikan klakson berharap mobil didepannya minggir dan memberi jalan.


*Dreet, dreet!!


Adrian segera membuka ponselnya dan melihat pesan singkat yang masuk.


"Sayang, sebaiknya kau langsung saja ke Bandara, aku bisa terlambat jika menunggu mu. Biarkan ayahku saja yang mengantar ku ke Bandara,"


"Sial!!" gerutu Adrian saat mendapat pesan singkat dari Amy


Ia segera memutar balik mobilnya dan memasuki tol menuju Bandara.


Setibanya di sana ia segera berlari dan mencari keberadaan Amy.


"Sayang kamu dimana??" berkali-kali pemuda itu mencoba menghubungi Amy namun gadis itu tak kunjung mengangkat ponselnya.


Pemuda itu kemudian menuju pusat informasi dan meminta bantuan kepada petugas untuk mencari Amy.


"Bagi penumpang atas nama Amy Haryono dengan nomor penerbangan GA 115 diharap menuju ruang Informasi untuk menemui tunangan Anda,"


Namun beberapa menit Adrian menunggu di didepan pusat informasi, Amy tak kunjung datang.


Kenapa perasaanku tidak enak,


Adrian kemudian mengecek jadwal keberangkatan pesawat Amy.


"Sepertinya pesawat akan berangkat sepuluh menit lagi Tuan," jawab seorang petugas membuat Iwa langsung berlari menerobos masuk ke dalam pesawat.


"Sayang!!" seru Rey memeluk erat gadis itu


"Kenapa Rey," jawab Amy melepaskan pelukannya


"Sebaiknya kau urungkan niat mu itu, entah kenapa aku memiliki firasat buruk hari ini," jawab Rey.


"Sejak kapan kau percaya hal-hal seperti itu. Tenang saja sayang aku pasti baik-baik saja," jawab Amy meyakinkannya.


Tidak lama dua orang security segera datang dan membawa Rey pergi dari pesawat.


"Maaf Tuan, selain penumpang dilarang masuk," ucap seorang petugas menangkap Adrian


Lelaki itu hanya pasrah saat dua petugas keamanan itu menyeretnya turun dari pesawat.


Rey menatap lekat pesawat itu saat melakukan lepas landas.


Belum terlalu tinggi pesawat itu terbang tiba-tiba saja pesawat itu meledak membuat Adrian langsung terhempas terkena getaran ledakannya.


*Duaaarrr!!!


Seisi bandara menjadi heboh ketika peristiwa itu terjadi.


Pihak pengelola Bandaranya bahkan membatalkan penerbangan berikutnya demi keselamatan penumpang.


Suara sirine ambulance membuat Rey, perlahan membuka matanya.


Lelaki itu melihat begitu banyak petugas polisi mengamankan tempat itu namun tak ada seorangpun yang menolongnya.


Ia berusaha bangun namun sebuah pukulan keras kembali membuat pemuda itu tak sadarkan diri.


Saat ia terbangun Rey mendapati dirinya ada di sebuah bangunan yang sudah terbakar. Pemuda itu berusaha melepaskan ikatan tangannya agar bisa keluar dari tempat itu.


"Aaarrrggghhhh!" serunya sembari mengeluarkan semua kekuatannya untuk bisa melepaskan ikatan tangannya.