
Suasana Lapas wanita mendadak riuh ketika mendapati salah satu narapidana tewas di dalam sel tahanan.
Team media segera datang dan membawa korban untuk menjalani otopsi di rumah Sakit Polri.
"Penyebab kematiannya adalah karena keracunan makanan, dan makanan yang terakhir ia makan adalah pemberian suaminya yaitu Tuan Daniel Mahendra. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang komandan,"
"Persiapkan surat penangkapan sekarang,"
"Tapi...."
"Ini kasus serius dan terjadi di lapas yang di jaga ketat, jadi kita tidak bisa lagi melindunginya,"
"Baik Komandan,"
***********
#Rumah Tikus Markas Cobra Hitam
"Api!!!" seru anak buah Daniel berlarian mencoba menyelamatkan diri.
Daniel segera bangun dan berusaha mendobrak pintu rumah itu.
"Sial, Kalian pikir bisa membakar ku hidup-hidup di sini, jangan mimpi," tukas Daniel
Lelaki itu segera memerintahkan anak buahnya untuk mendobrak pintu masuk Rumah Tikus.
"Cepat dobrak pintunya!!" serunya lantang
Saat mereka berhasil membuka pintunya, ia tercengang saat melihat polisi sudah mengarahkan pistol kearahnya.
"Jatuhkan senjata mu dan menyerahlah!" seru seorang polisi
Anak buah Daniel segera mengarahkan senjata api kearah polisi itu.
Namun Daniel memberikan kode kepada anak buahnya untuk menjatuhkan senjata apinya.
Lelaki itu segera mengangkat tangannya dan diikuti oleh anak buahnya.
"Akhirnya mereka tertangkap juga," tukas Refan menatapnya dari kejauhan.
********
Lapas Cipinang Jakarta Timur
"Bagaimana mungkin aku membunuh istriku sendiri, yang benar saja. Bahkan saat ia memintaku untuk menceraikan dirinya aku menolaknya. Kau tahu kenapa???, karena sampai kapanpun aku tidak akan menceraikannya, bagaimanapun juga kami saling melengkapi so mustahil bagiku membunuhnya," ucap Daniel membela diri saat polisi menginterogasinya.
"Tapi ia meninggal setelah makanan yang kau berikan,"
"Makanan itu aku beli dari restoran cepat saji, jadi kau bisa menyelidiki restoran itu juga bukan?" sahut Daniel balik bertanya
"Bagaimana dengan minumannya??" tanya polisi itu lagi
"Minuman itu...." Daniel terdiam sejenak dan mengingat kembali bagaimana ia mendapatkan minumannya.
"Sial, pasti ada yang menukarnya. Apa aku boleh melihat rekaman CCTV lapas?" tanya Daniel mengerutkan keningnya
"Biar kami yang akan mengeceknya,"
"Lelaki itu, ahh sial!!" pekik Daniel begitu kecewa
Lelaki itu kembali di giring menuju sel tahanan setelah interogasi selesai.
Tidak lama pengacara Daniel datang mengunjunginya.
"Aku yakin ada yang menjebak ku, entah itu apa motifnya yang jelas dia bukan orang biasa. Dia bahkan bisa memanipulasi CCTV lapas," celoteh Daniel menyampaikan keluhannya
"Aku percaya denganmu Tuan, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencari tahu siapa yang sudah membunuh istrimu dan menjebak mu di sini,"
"Cari tahu darimana polisi tahu aku ada di rumah Tikus, ada yang janggal dengan penangkapan ini. Bagaimana mereka tahu aku sedang melakukan transaksi dengan Rex di markas Cobra Hitam," tukas Daniel
*************
Wastu Ares
"Apa kau sudah lihat tranding topik hari ini?" tanya Baron merebahkan tubuhnya diatas sofa
"Kematian Helen," jawab Iwa segera bergabung dengannya
"Dan pelakunya adalah Daniel," sahut Baron
"Aku ragu Jika Daniel yang melakukannya mengingat Helen adalah pemegang saham terbesar di DM Company. Lagipula ada yang janggal dalam penyergapan polisi di Rumah Tikus, apa kalian tidak merasa???. Bagaimana polisi tahu Daniel ada di markas kita??, benar-benar mencurigakan," tutur Refan
"Apapun tuduhannya tidak masalah bagiku. Asal Daniel sudah tertangkap itu sudah cukup," sahut Iwa masa bodoh
"Tapi kita bisa kena imbasnya, bisa jadi para gengster anak buah Daniel akan mengejar kita karena mengira kitalah yang menjebak dia dan melaporkan ke polisi," sahut Refan
"Ucapan Rex ada benarnya, sebaiknya kita waspada. Karena Daniel adalah pengendali para gengster di Jakarta," jawab Baron memperingatkan
"Bagaimana keadaan Amy?" tanya Refan
"Masih sama, dia masih menghindari aku dan susah diajak bicara," jawab Iwa
"Kenapa kalian tidak berlibur saja. Ajak dia menikmati keindahan alam, mungkin saja dengan begitu dia bisa melupakan traumanya," sahut Refan
"Ide bagus bro, terimakasih atas idenya," jawab Iwa
Pemuda itu segera bergegas memasuki kamar Amy dan menyapanya.
"Semoga kau cepat kembali lagi seperti semula Dinda, aku rindu...rindu dinda yang ceria dan penuh tawa. Entah kenapa rasanya dadaku sesak saat melihatmu selalu ketakutan," ucap Iwa menatapnya sendu
Ia kemudian merapikan selimut Amy dan kemudian beranjak dari duduknya.
Saat ia berdiri tiba-tiba Amy menarik lengannya membuat pemuda itu langsung menghentikan langkahnya. Ia menoleh dan kembali duduk di sampingnya.
Iwa tersenyum dan mengusap rambut wanita itu.
"Apa yang kamu rasakan Dinda?" sapanya begitu lembut
"Aku takut Kanda, aku takut mereka akan membunuhku. Jangan tinggalkan aku Rey, aku takut," jawab Amy dengan wajah piasnya
Iwa segera memeluknya erat dan mengusapnya lembut.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi Dinda. Mulai sekarang aku akan menjagamu, aku tidak mau peristiwa enam ratus tahun lalu terulang lagi. Sudah cukup penyesalan ku selama enam ratus tahun tahun lamanya, aku tidak mau kehilangan dirimu lagi Dinda," sahut Iwa
"Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan, akan lebih baik menghirup udara segar daripada terus berbaring di kamar," ucap Iwa melepaskan pelukannya
"Tapi aku takut Kanda, aku takut mereka akan menangkap ku lagi," jawab Amy kembali memeluknya
"Tentu saja tidak Dinda, aku akan selalu melindungi mu, bahkan aku bersedia mempertahankan nyawaku untuk menyelamatkan dirimu. Jadi jangan takut lagi Dinda. Percayalah padaku, semuanya akan baik-baik saja," ucap Iwa meyakinkan gadis itu
"Kamu percaya aku kan??" tanya Iwa lagi
Amy mengangguk pelan membuat Iwa tersenyum dan mengecup keningnya.
"Sekarang bersiap-siaplah, aku tunggu kamu di mobil," ucap Iwa kemudian meninggalkanya
Amy segera beranjak dari ranjangnya dan mengganti pakaiannya.
Tidak lama ia segera turun ke bawah menyusul Iwa.
"Astaga, cantiknya Adek Abang satu ini!" ucap Refan menyambutnya di bawah tanggal
"Diem lo!" sahut Amy ketus
"Jangan galak gitu dong Dinda, awas kamu kangen kalau Abang udah gak ada," sahut Refan menggodanya
"Ngomong apaan sih, inget kata-kata adalah doa jadi ngomong yang baik-baik saja," tandas Amy
"Iya adekku sayang, moga kamu hari ini bisa bahagia sama Rey dan melupakan kejadian itu. Abang juga selalu berdoa semoga kita bisa benar-benar menjadi saudara yang akur meskipun kita hanya Saudara tiri." jawab Refan mencoba memeluknya
Namun Amy dengan langsung menolaknya.
"Pelit amat dek, Abang cuma mau memeluk kamu aja untuk memastikan kamu sudah sehat," ucap Refan kecewa
"Aku udah sehat kok Fan, so don't worry. I'm not a child so please don't make me feel uncomfortable." jawab Amy merasa sedikit bersalah melihat kekecewaan Refan
"Ok dear, sorry,"
"Never mind, next time pasti aku akan menerima pelukan hangat darimu tapi tidak sekarang. Aku belum siap," jawab Amy
"It's doesn't matter dear, so enjoy the day n have fun," ucap Refan mengantarkannya hingga ke depan
"Aku titip adikku Rey, tolong jaga dia," tukas Refan
"Tentu, aku pergi dulu guys. Jaga rumah baik-baik," ucap Iwa kemudian meluncur meninggalkan Wastu Ares.
Setibanya di Pantai, Iwa segera menarik Amy untuk berenang di laut.
"Kenapa, kok udahan?" tanya Iwa saat Amy berjalan menuju tepian pantai
"Entahlah Rey, perasaan ku tidak enak. Kenapa aku terus memikirkan Efan," ucap gadis itu begitu khawatir
"Apa kau mulai mengkhawatirkan Kakak tirimu itu!" tanya Iwa menyusulnya
"Mungkin, tiba-tiba saja aku merasakan khawatir sesuatu terjadi padanya," jawab Amy
"Apa kau ingin pulang?"
"Jika kau tidak keberatan," jawab Amy
"Kadang firasat itu ada benarnya, jadi lebih baik kita pulang saja daripada kau tidak bisa menikmati keindahan pantai ini,"
"Thank you Rey, kamu memang benar-benar pengertian. Jadi makin lope-lope deh sama kamu," ucap Amy segera memeluknya
"Love you too Dinda," jawab Iwa mengecup bibirnya.
*********
Setibanya di Wastu Ares keduanya merasa tercengang ketika melihat Refan tewas bersimbah darah.
"Abang!!!" seru Amy segera memeluknya erat
"Maafkan aku Abang!!!" seru gadis itu menangisi mayat Refan
Sementara itu Iwa segera bergegas mengecek seluruh sudut ruangan Wastu Ares.
"Dia tidak ada, dimana Baron kenapa hanya Refan yang di bunuh????" Ribuan pertanyaan memenuhi otak Iwa. Lelaki itu berusaha memecahkan teka-teki kematian Refan, namun getar gawai di saku celananya membuyarkan imajinasinya.
"Tuan, anda harus segera ke kantor, semuanya kacau di sini,"
"Arrrrrghhh!!!" teriak Iwa saat mendapat SMS dari Leona.