My Immortal

My Immortal
Dark night



"Kau!!" seru Baron begitu terkejut melihat lelaki di sampingnya bukan Gilbert


Tidak berbeda dengan Baron lelaki itu juga tak kalah terkejut melihatnya.


Ketua Divisi satu Cobra Hitam???


Lelaki itu benar-benar terkejut saat melihat orang nomor dua di Geng Cobra Hitam masih hidup.


Bagaimana dia bisa menyelamatkan diri setelah aku memporak-porandakan rumah Tikus??.


*Buughh!!!


Sebuah pukulan keras mendarat di wajahnya membuat lelaki itu sempoyongan dan hilang kendali.


"Sial, kenapa kalian selalu datang terlambat!" keluh pria itu saat melihat Iwa dan Baron menerobos kaca jendela untuk melarikan diri.


"Maaf Tuan kami terlambat," ucap seorang Polisi menghampirinya


"Cepat kejar mereka dan jangan biarkan keduanya lolos," sahut lelaki itu.


"Baik Tuan," jawab opsir polisi itu kemudian memerintahkan anak buahnya keluar mengejar Iwa dan Baron.


Pria itu segera merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya.


"Tahan mereka selama mungkin, dan jangan biarkan kedua bajing*n itu berhasil lolos lagi," Pria itu segera mengakhiri panggilannya dan segera turun ke lantai satu.


Karena penasaran dia memutuskan untuk ikut menangkap Baron dan Iwa di halaman depan Bar.


"Cih, jurus apa yang dipakai bocah setan itu sampai ia bisa menjatuhkan semua anak buah ku." gumam lelaki itu.


Ia tak berkedip menyaksikan Iwa yang begitu gesit dan tanggung saat menghadapi musuh-musuhnya.


" Melihat jurus yang dipakai Rey, Aku seperti sedang menonton drama kolosal di layar kaca. Gerakan itu seperti tak asing, itu bukan teknik Taekwomdo, jujitsu, ataupun silat. Gerakan itu sangat berbeda, meskipun sekilas mirip dengan silat namun gerakan itu lebih mirip dengan gerakan silat era kerajaan tempo dulu. Darimana ia mempelajari gerakan itu dan sejak kapan???"


Meskipun banyak tanya dalam benak lelaki itu tentang sosok Adrian yang menjelma menjadi sosok yang berbeda. Kedatangan Refan di tempat itu tak luput dari perhatiannya.


"Cih, bahkan ketua Cobra Hitam pun masih hidup, ini benar-benar kejutan!" imbuhnya


"Bisma... kau memang tidak pernah becus dalam menjalankan tugas, bagaimana kau bisa gagal membunuh tikus yang sekarat," imbuhnya


***********


Siang itu semua ketua geng besar yang ada di Jakarta berkumpul di sebuah ballroom hotel.


Mereka tampak menikmati hidangan yang di sajikan oleh tuan rumah sembari menunggunya muncul untuk menyapa mereka.


Tidak lama muncullah seorang lelaki dengan perawakan tinggi besar berjalan memasuki tempat itu.


Lelaki itu sengaja memakai topeng untuk menutupi wajahnya.


Lelaki itu tersenyum dan menyapa semua orang yang hadir di ruangan itu. Ia kemudian membuka pertemuannya dengan meminum wine bersama mereka.


"Hari ini aku punya misi penting untuk kalian," ucapnya membuat semua orang langsung terdiam dan memperhatikannya.


Sosoknya yang begitu kharismatik dan berwibawa seakan membius semua orang yang ada di tempat itu. Bahkan para Ketua Gengster yang terkenal bengis dan menyeramkan tak berani berkutik saat mendengarkan pidatonya. Mereka begitu antusias dan khusus mendengarkan lelaki itu berorasi.


"Aku akan membuat sayembara berhadiah Dua Milyar bagi siapapun yang berhasil membawa kepala Ketua Geng Cobra hitam dan juga ketua divisi satu sekaligus tangan kanannya Baron kepadaku. Aku juga akan memberikan hadiah tambahan yaitu menjadikannya sebagai ketua baru Cobra Hitam dan memberikan markas rahasia Cobra Hitam padanya," ucap lelaki itu membuat para gengster begitu antusias


***********


Siang itu Baron dan Refan terlihat menghabiskan waktu dengan menonton televisi di dalam apartemen. Mereka yang biasanya selalu keluar untuk sekedar pergi ke minimarket atau membeli rokok terpaksa harus menahan diri dengan diri di rumah, karena foto-foto keduanya yang di pasang di setiap sudut kota.


Polisi sengaja menjadikan keduanya sebagai buronan dan memasang sketsa wajah mereka di tempat-tempat umum.


"Sial, aku tak menyangka akan menjadi buronan seperti seorang *******!" keluh Baron


"Aku sudah tidak tahan lagi jika harus hidup seperti katak dalam tempurung, aku bisa gila dengan semua ini!" imbuhnya


"Bertahanlah sebentar, aku yakin badai akan segera berlalu jadi kuatkan dirimu," jawab Refan.


"Wah Om Daniel benar-benar keren, meskipun ia sudah berumur namun kharismanya mengalahkan para artis-artis muda. Selain tampan dia juga sangat dermawan dan penyayang keluarga. Oh... jadi makin ngefans sama Om Daniel," puji Amy


"Apa kau tidak bisa mengganti channel TV nya, aku sudah bosan dari tadi menonton lelaki itu tua itu!" seru Refan segera mengambil remote televisinya dan menggantinya.


" Apa istimewanya lelaki culas seperti itu!" cibirnya.


"Bilang saja kalau kau iri!" sahut Amy kemudian meninggalkannya.


"Ketua...istri Gilbert menghubungi ku," ucap Baron menghampirinya


"Apa yang ia katakan?" tanya Refan penasaran


"Hari ini ia akan segera meninggalkan Jakarta. Ia berencana aku pulang ke kampung dan menetap di sana, karena Gilbert sudah meninggal," jawab Baron


"Gilbert meninggal??" tanya Refan begitu terkejut.


"Benar, kata istrinya dia bunuh diri di rumahnya," jawab Baron


"Tidak mungkin dia bunuh diri, pasti ada yang tidak beres. Kita harus segera kesana dan mengecek mayatnya," sahut Refan


"Tapi kita tidak bisa keluar, apa kau lupa kita sedang menjadi buronan?"


"Benar juga, kenapa Gilbert tiba-tiba meninggal saat kita tengah menjadi buronan. Apa ini sebuah jebakan untuk memancing kita keluar??" ucap Refan


"Sepertinya begitu," jawab Iwa


"Bagaimana kalau kau datang ke rumah Gilbert mewakili kami," Pinta Refan


"Emoh," jawab Iwa enteng


"Kenapa tidak mau, hanya kau satu-satunya orang yang bisa membantu kami. Please Rey bantu aku kali ini saja," ucap Refan setengah memohon


"Entah kenapa hidup ku yang sudah penuh masalah semakin bertambah ruwet setelah bergabung dengan kalian, semakin banyak bahaya datang mengancam jika aku bersama kalian, sebenarnya apa salahku sehingga aku kembali terdampar di dunia yang begitu kejam ini," keluh Iwa membenamkan tubuhnya di sofa


"Memangnya kau berasal dari planet mana Rey?" tanya Amy memancing gelak tawa Regan dan Baron


"Majapahit," jawab Iwa seolah sebuah kelakar yang langsung membuat ketiganya semakin tertawa terpingkal-pingkal mendengarnya.


"Pantas saja kau tidak bisa memegang pistol, kau pasti terbiasa memegang anak panah sehingga memegang pistol dengan posisi terbalik," sahut Baron


"Sudahlah jangan terus meledeknya, kasihan dia hidupnya sudah penuh tekanan jadi jangan menekannya lagi," ucap Amy mengusap kepalanya


"Bagaimana kalau kau datang melayat denganku, lagipula aku jadi senang berpetualang denganmu. Aku suka menantang maut bersamamu, rasanya aku seperti terlibat dalam sebuah film Action, pokoknya keren!" jawab Amy bersemangat


"Dasar aneh, dimana-mana orang takut menghadapi bahaya, nah ini malah ketagihan," sahut Iwa


"Benar kata Amy, kau bisa datang berdua kesana mewakili PE Corporation," tegas Refan


"Memang apa hubungan lelaki itu dengan PE Corporation?" tanya Iwa


"Dia adalah polisi yang selama ini menangani kasus mu," jawab Refan


"Bagaimana kau bisa tahu??" Iwa mengerutkan keningnya saat mendengar jawaban Refan


"Karena aku yang menyelamatkan dirimu dari jebakan Bisma, aku yang sudah mengeluarkan mu dari penjara dan memberikan bukti-bukti kepada polisi dan meminta Gilbert mengurus kasus mu," jawab Refan


"Ck, ck, ck, tidak kusangka kau sama liciknya dengan Bisma,"


"Sudahlah jangan berdebat lagi, Efan melakukan itu ka karena dia menyayangimu, dia juga sengaja menyuruh Gilbert mengambil alih kasus mu karena dia tahu banyak anggota polisi di tempat itu adalah kaki tangan Bisma. Sebenarnya kau dan Refan memiliki kesamaan yaitu membenci Bisma dan ingin menghancurkan lelaki itu. Jadi berhentilah menyalahkannya. Bukankah lebih baik jika kita bersatu, aku yakin dengan kita bersatu dan kompak maka kita bisa membunuh musuh-musuh kita," jawab Baron


Setelah selesai berbincang-bincang, Iwa kemudian segera berganti pakaian dan pergi untuk bertakziah ke rumah Gilbert.


Setibanya di rumah duka ia segera masuk dan menyalami Ester istri Gilbert.


"Saya turut berdukacita atas kematian suami anda," ucap Iwa menyalaminya.


Ester begitu terkejut saat Iwa menyelipkan sebuah kertas kepadanya.


Saat wanita itu begitu bingung, Amy segera memeluknya dan berbisik kepadanya, "Bacalah pesan itu di kamarmu dan jangan sampai ada yang melihatnya,"


Amy segera melepaskan pelukannya, dan wanita itu bergegas masuk ke dalam kamarnya.


"Bukankah itu Om Daniel!" seru Amy kemudian berlari menghampiri lelaki itu.


"Siang Om," sapanya begitu ramah


"Amy??, kenapa kau ada disini?" jawab Daniel balik bertanya


"Aku menemani Rey takziah Om," jawabnya enteng


"Rey???" ucap Daniel menyipitkan matanya


"Apa kalian pacaran?" selidik Daniel


"Bukan Om, Rey itu sudah seperti kakak kandung aku sendiri. Aku menemaninya karena dia introvert dan susah bergaul, gitu aja sih Om," jelas Amy


"Oh, padahal kalian begitu serasi loh, sampai Om mengira kalian ini pasangan kekasih," bisik Daniel


"Ah om bisa aja," jawab Amy


"Btw boleh minta foto berdua gak Om?" tanya Amy malu-malu


"Tentu saja sayang, apa sih yang gak buat kamu," jawab Daniel segera mendekat kearahnya dan berpose di depan kamera


"Peace dong Om!" seru Amy


"Peaace!" seru Daniel menyunggingkan senyumnya.


"Makasih ya Om,"


"Sama-sama," jawab Daniel


"Om memang keren ya, meskipun jadwal Om begitu padat dan sangat sibuk, kau tetap meluangkan waktu untuk bertakziah ke rumah seorang yang tidak kau kenal," puji Amy


"Gilbert adalah seorang opsir polisi yang sangat jujur. Aku sangat menyukai kinerjanya yang profesional, meskipun ia hanya seorang polisi rendahan. Aku datang kesini untuk memberikan bantuan pendidikan untuk dua putri beliau agar bisa melanjutkan impian mereka meskipun tanpa seorang ayah," jawab Daniel


"Ummm, so sweat banget sih om, jadi makin ngefans sama Om," jawab Amy segera bergelayut manja di lengannya membuat Daniel mengusap lembut rambutnya.


Melihat Amy asyik berbincang dengan Daniel membuat Iwa segera masuk kedalam rumah itu dan melihat sosok jenazah Gilbert.


Ia perlahan mendekatkan wajahnya untuk melihat lebih jelas mayat Gilbert.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya seorang wanita mengagetkan Iwa


Ia segera bangun dan menjauh dari peti jenazah.


"Maaf, saya hanya ingin menyampaikan doa untuk almarhum," jawab Iwa


"Jangan pernah menyentuh jenazah itu jika kau tidak mau di tuduh sebagai tersangka pembunuhnya," jawab wanita itu membuat Iwa terbelalak


"Maksudnya??"


"Kakakku tidak mati bunuh diri tapi dia di bunuh!" seketika Ester segera membungkam mulut wanita itu dan menyeretnya masuk kedalam kamar.


"Dibunuh???" Iwa benar-benar terkejut mendengar ucapan wanita itu. Ia kemudian berlari menyusul kedua wanita itu dan menguping pembicaraannya dari balik pintu.


"Jangan pernah mengucapkan kata-kata itu lagi jika kau masih ingin hidup. Kau tahukan jika keluarga kita terancam bahaya jika kita sampai buka suara tentang penyebab kematian Gilbert," ucap Ester terisak


"Biarlah kakakmu pergi dengan tenang, sudah cukup pengorbanannya selama ini, jangan membuatnya menyesali perbuatannya karena gagal melindungi keluarganya," lanjutnya


Iwa segera pergi dari tempat itu dan menghampiri Amy yang masih bercengkrama dengan Daniel.


"Ayo kita pulang," ajak Iwa menghampirinya


Amy langsung mengangguk dan berpamitan dengan Daniel.


"Senang bertemu dengan anda di tempat ini Tuan Adrian," ucap Daniel kemudian menyalaminya.


Iwa segera menjabat tangan Daniel, "saya juga senang bertemu denganmu Tuan," jawab Iwa tersenyum tipis


Saat hendak melepaskan tangannya tiba-tiba, ia terhenyak melihat tato di tangan Daniel.


Seketika ia terdiam menatap tato di punggung tangan lelaki itu.


*Bersambung


Terima kasih kepada semua pecinta My Immortal, yang selalu setia menunggu up novel ini. Saya mohon dukungan like komen dari kalian semua agar saya lebih bersemangat lagi dalam meng update cerita ini. Sekali lagi saya tegaskan cerita ini hanya fiktif semua adegan, nama tokoh hanya karangan author semata.


salam Sayang dari Zahra 😘😘.


#Epilog!!!


Iwa mengikuti seorang lelaki yang memisahkan diri dari rombongan polisi. Ia terus membuntutinya karena merasa curiga dengan gerak-geriknya yang mencurigakan.


Merasa ada yang mengikutinya lelaki itu menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang, beruntung Iwa segera bersembunyi hingga pria itu tak menemukannya.


Pria itu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang, "Aku sudah menemukan tempatnya, cepat bawa pasukan mu kemari dan tangkap dia," ucap lelaki itu kemudian mematikan ponselnya.


Sekilas Iwa melihat tato huruf R di tangan lelaki itu.


Pria itu kemudian masuk kedalam ruangan VIP dan tidak lama Baron memasuki ruangan itu.


"Baron!!" pekiknya


Iwa kemudian bergegas memasuki ruangan itu. Namun langkahnya terhenti saat melihat beberapa orang polisi tiba di ruangan itu.


Dengan rasa cemas bercampur tegang Iwa terus memperhatikan para polisi itu berusaha mendobrak masuk kedalam ruangan itu.


*Brakkkk!!!


Terdengar suara pintu terbuka saat polisi berhasil merobohkannya.


Semua anggota polisi bersenjata merangsek masuk kedalam ruangan membuat Iwa hanya menelan salivanya.


Ia kemudian mengambil ponselnya dan segera menghubungi Refan, " Cepat datang ke halaman Bar dan jemput kami. Jangan sampai terlambat jika kau masih ingin melihat kami hidup," ucap Iwa mengakhiri panggilannya.


Ia kemudian menarik nafas panjang dan berjalan memasuki ruang itu. Seketika darahnya mendidih manakala melihat Seorang polisi menodongkan senjata api kerah Baron.


Melihat polisi itu begitu ragu menarik pelatuk pistolnya membuat Iwa segera melepaskan tendangan keras kearah polisi itu.


*Dor!!


Terdengar suara ledakan pistol di ruangan itu membuat polisi kembali berdatangan dan memasuki ruangan itu.


Tentu saja situasi itu semakin membuat panik Iwa dan Baron. Iwa sengaja menyuruh Baron untuk meninggalkannya karena ia tahu jika para polisi itu sedang memburunya. Namun Baron menolaknya dan justru bersikeras untuk bersama-sama menghadapi para polisi itu.


Dalam keadaan genting, Iwa menarik Baron dan melompat dari jendela kaca untuk menyelamatkan diri.