
"Namanya Robbin Edward, dia mahasiswa sebuah kampus ternama di ibukota sekaligus model majalah dewasa. Dia sangat menyukai lelaki berotot dan inocent seperti dirimu, jadi jangan kecewakan dia," ucap Refan memberikan foto seorang lelaki kepada Iwa
"Maksudnya???" tanya Iwa begitu penasaran
"Dia adalah kekasih Daniel, jika kau ingin mendapatkan semua informasi tentang Daniel maka kau harus bisa memuaskannya," jawab Refan menggigit bibirnya
"Dih najong!" seru Iwa membuat Baron terkekeh
mendengarnya.
"Sementara kau menggoda kekasih Daniel, aku akan mendekati istrinya," jawab Refan
"Kalau kenapa hanya kita berdua, terus Baron ngapain??" tanya Iwa
"Dia akan meretas handphone milik Robby dan istri Daniel," sahut Refan
"Oklah kalau gitu gas!" sahut Iwa kemudian mengikuti Refan menuju ke sebuah Club malam.
"Sudah ku bilang aku hanya seorang penari dan tidak menerima layanan kencan, lebih baik kau cari saja yang lain," tolak Robby
"Benar kau tidak tertarik dengannya??. Lihat dulu baru kau boleh menolaknya," ucap Refan kemudian memanggil Iwa
Iwa segera berjalan menghampiri keduanya.
Pemuda itu tak berkedip saat menatap wajah Iwa di hadapannya. Ia terus-menerus menatap bibir sexy Iwa dan membayangkan sedang menikmatinya.
Ia terus memperhatikan tiap jengkal tubuh Iwa yang atletis dengan tatapan penuh nafs*.
"Baiklah aku setuju," jawab lelaki itu menelan salivanya.
Refan menyeringai saat pemuda itu menerima tawarannya.
Ia segera menyelipkan sesuatu ke kantong celana Iwa.
Melihat Iwa berhasil keluar dari Bar itu membuat Refan segera mendekati sekumpulan sosialita yang sedang mengadakan divorce party.
Ia sengaja menghampiri seorang wanita yang duduk sendirian sambil menikmati segelas wine di tangannya.
"Boleh aku bergabung," ucapnya lembut
"Silakan," jawab wanita itu ramah
Refan segera duduk disampingnya dan menuangkan wine ke gelasnya.
"Thanks," jawab wanita itu menyunggingkan senyumnya
"Mau berdansa denganku?" tanya Refan hati-hati
"Tentu," jawabnya segera meraih lengan Refan
Lelaki itu segera mengajak wanita itu menikmati alunan musik syahdu setelah pertunjukan tarian Striptis.
"Kenapa kau sendirian?" tanah Refan menatapnya
"Karena aku lebih suka sendiri, bukankah lebih asyik menikmati me time tanpa ada yang mengganggu," jawabnya enteng
"Kalau kau tidak keberatan aku bisa menemani mu," sahut Refan mencium punggung tangan wanita itu
Refan semakin memberanikan diri menyentuh wanita itu.
"Apa kau tahu siapa aku," bisik wanita itu mencoba menyadarkan Refan
"Aku tidak peduli siapapun dirimu, darimana asalmu aku tidak peduli. Yang aku pedulikan saat ini adalah aku begitu menyukai mu. Aku begitu tergila-gila ketika melihat paras mu yang ayu dan begitu kharismatik," ucap Refan kembali mencoba merayunya.
"Bagi wanita tua seperti diriku, gombalan mu itu tidak akan pernah membuat ku klepek-klepek. Aku sudah terlalu tua untuk bermain seperti itu," jawabnya melepaskan diri dari pelukan Refan
"Aku tahu selama ini kau kesepian, bodohnya pria yang sudah menyia-nyiakan wanita lembut seperti dirimu. Kau bisa mendapatkan segalanya jika kau mau. Aku bisa memberikan cinta, dan kebahagiaan yang kau inginkan selama ini. Kau juga berhak bahagia dan menikmati hidupmu," bisik Refan sengaja menyentuh daun telinganya membuat wanita itu sedikit mendesah saat merasakan sentuhan lembut Refan
Lelaki itu tak tinggal diam, melihat wanita itu mulai bereaksi ia segera menariknya kembali ke pelukannya.
"Kau sangat cantik, aku yakin ada banyak lelaki diluar sana yang menginginkan dirimu. Jadi berbahagialah, jangan biarkan kebahagiaan mu sirna hanya demi sesuatu yang hanya bisa membuatmu merasa terpenjara selama ini." ucap Refan mengusap lembut wajah wanita itu.
Ia kemudian memberikan sebuah buku buku padanya.
"Bacalah jika ada waktu, aku yakin kau akan menyukainya," imbuhnya kemudian melepaskan wanita itu.
"Aku Helen, siapa namamu?" tanya wanita itu menghampiri Refan yang kembali duduk di bangkunya
"Evan," jawabnya singkat
"Senang bertemu denganmu Evan," sahut wanita itu menatap lekat kearahnya.
"Apa kau baru pertama berkunjung ke tempat ini?" tanya Helen
"Tidak juga, sudah beberapa kali aku datang ke tempat ini hanya untuk mencari hiburan, dan tidak sengaja aku bertemu denganmu," jawab Refan
"Aku belum pernah melihat mu sebelumnya,"
"Tentu saja, kau tidak akan pernah melihatku selama kau masih belum bisa membuka hatimu untuk yang lain," jawab Refan
"Aku ini sudah menikah, sudah pasti aku tidak akan membuka hati untuk lelaki lain," jawab Helen getir
"Jangan jadikan menikah sebagai alasan untuk membatasi diri. Nikmatilah hidupmu karena hidup hanya sekali. Jika suamimu bisa menikmati hidupnya kenapa kamu tidak,"
Helen hanya berkaca-kaca saat mendengar ucapan Refan.
"Ah...." ucapnya menghela nafas
Refan segera beranjak dari duduknya dan melangkah meninggalkan Helen.
*************
Wastu Ares, pukul tujuh pagi.
Amy berjalan mengendap-endap menuju kamar Adrian yang masih tertutup rapat.
"Pantas saja di telpon gak diangkat, ternyata dia masih molor," keluhnya
Saat ia akan membalikkan badannya tiba-tiba Iwa menariknya hingga gadis itu jatuh disebelahnya.
Iwa segera memeluknya erat membuat Amy langsung mendorongnya.
"Ayo bangun udah siang,"
"Masih nagntuk Dinda," jawabnya malas
"Setengah empat pagi,"
"Buseet, memangnya kamu abis ngapain aja Kanda?"
"Berkencan,"
Mendengar ucapan Adrian Amy langsung melepaskan diri dari pelukan pemuda itu dan mendengus kesal.
"Pantas, kau pasti masih mengantuk dan tidak bisa melupakan kejadian semalam bukan, dasar buaya!" ucapnya kesal
Iwa segera menyingkirlah selimutnya dan mengejar Amy.
"Jangan merajuk Dinda, aku sangat merindukanmu," ucap Iwa memeluknya dari belakang
"Dasar buaya, kau bilang merindukan aku tapi berkencan dengan wanita lain," gerutunya
"Tidak ada wanita lain dalam hidupku selain dirimu Dinda," ucap Iwa membalikkan Amy kearahnya.
"Bohong!!"
"Apa pernah aku berbohong padamu," jawab Iwa menatapnya lekat
Amy segera menundukkan wajahnya saat Iwa terus menatapnya. Lelaki itu kemudian mendongakkan wajah gadis itu dan mendekatkan wajahnya.
Amy segera menahan bibir sexy Iwa yang hendak menciumnya.
"Mandi dulu baru boleh kiss," ucapnya membuat Iwa kecewa dan menghela nafas
"Fiuh, gagal deh. Yaudah aku mandi dulu," jawabnya lirih
Amy tersenyum simpul saat melihat kekecewaan di mata Adrian. Gadis itu segera mencium pipinya dan berlari meninggalkannya.
*Cup!!
"Dasar nakal, awas kau!" seru Iwa tersenyum melihat tingkah nakal Amy
"Cepetan mandi dan jangan main sabun," goda Amy mengintipnya dari balik pintu.
***********
Sementara itu, Helen terlihat begitu gelisah setelah membaca novel pemberian Refan.
Wanita itu segera membenamkan tubuhnya dalam bathtub untuk menghilangkan kegelisahannya.
Ia kemudian mengingat kembali saat Refan menyentuh begitu lembut dan membuatnya sedikit tersengat desahannya.
Wanita itu terus membayangkan kenangan erotisnya sembari menyentuh daerah sensitifnya.
Ia perlahan membuka matanya saat mendapati seorang pemuda masuk kedalam bathubnya dan mencumbunya.
"Evan, ah...." ucapnya melenguh panjang saat pemuda itu menciumi area sensitifnya.
"Sayang, apa kau belum selesai!" seru Daniel membuyarkan lamunan Helen.
"Ah sial!" gerutunya saat ia sadar semuanya hanya halusinasi
Wanita itu segera meraih handuknya dan berjalan keluar menemui suaminya.
"Kau sudah pulang?" tanyanya dingin
"Aku bosan di rumah sakit jadi aku sengaja pulang lebih awal," jawab Daniel memeluknya
"Istirahatlah, aku akan membuatkan sarapan untuk mu. Aku yakin makanan rumah sakit tak membuat mu berselera," jawab wanita itu kemudian bergegas meninggalkannya menuju dapur.
"Tolong buatkan sarapan untuk Tuan," ucap Helen kemudian kembali ke kamarnya.
Ia segera berganti pakaian dan bersiap-siap untuk pergi.
"Kamu mau kemana sayang?" tanya Daniel
"Aku harus mengecek laporan keuangan butik, sebenar aku juga kembali kok," jawab Helen
"Tidak bisakah kau libur hari ini, aku sangat ingin bersamamu," ucap Daniel memeluknya dari belakang.
Helen segera berbalik dan mengusap lembut wajah suaminya.
"Aku hanya sebentar sayang, setelah itu aku langsung pulang lagi," sahut Helen meyakinkan suaminya
"Pergilah," jawab Daniel kemudian merebahkan tubuhnya ke ranjangnya.
"Aku pergi sayang," seru Helen melambaikan tangannya.
Wanita itu segera melesat pergi meninggalkan kediamannya..
*Dret, dreet, dreet!!
Regan segera mengangkat ponselnya yang terus berdering.
"Sepertinya aku berhasil, dia sudah menghubungi ku," ucap Refan menyombongkan diri
"Jangan geer dulu!" celetuk Baron
"Kita harus bertemu Van, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Helen
"Ok, share aja lokasinya," jawab Refan sengaja mengaktifkan loud speaker, agar Iwa dan Baron mendengar percakapannya.
"Denger Sendiri kan, aku yakin wanita itu sedang menungguku untuk mengajakku bercinta,"
"Dih omes!" sahut Baron
"Wkwkwkwk, kalau gitu aku pergi dulu bye!" seru Refan
"Lo juga harus berhasil Rey, dan jangan lupa bawa bukti sebanyak-banyaknya agar Daniel tidak bisa berkutik lagi!" seru Regan kemudian meninggalkan Wastu Ares dengan motor sportnya.
Setengah jam kemudian ia sudah tiba di sebuah tempat karaoke dan segera masuk menemui Helen.
Wanita itu segera memeluknya erat saat Refan memasuki ruangan itu. Melihat reaksi Helen Refan segera mencium bibir wanita itu dan mendorongnya menuju ke sofa.
Helen terengah-engah saat Regan langsung mencumbuinya di sofa.
"Aku ingin menikmati hidupku," ucap Helen
"Tentu saja, aku akan memberikan kebahagiaan padamu," jawab Refan segera membuka kancing baju Helen satu per satu.