My Immortal

My Immortal
Pelarian



Lapas Cipinang Jakarta Timur


"Apa ini ulah Rex dan Baron?. Karena hanya seorang hacker pro yang bisa menyusup dan meretas data kepolisian," ucap pengacara Daniel


"Tidak mungkin, aku yakin bukan mereka," jawab Daniel Ragu


"Tapi tidak ada yang lebih dendam kepada mu selain mereka. Ingat...kau sudah menghancurkan geng Cobra Hitam dan membakar markas mereka." tambah sang pengacara.


************


Refan menajamkan pendengarannya saat mendengar derap langkah mendekat menuju pintu masuk Wastu Ares.


Lelaki itu berjalan perlahan untuk melihat siapa yang datang.


Matanya membulat ketika ia melihat segerombolan gengster sudah mengepung Wastu Ares.


Ia segera mengambil pistolnya, dan mengisinya dengan peluru.


"Apa yang terjadi?" tanya Baron


"Kita sudah di kepung, cepat ambil senjata mu dan bersiaplah untuk menyambut para gengster sialan itu," jawab Refan


"Sebaiknya kita pergi saja, melawan mereka tidak ada gunanya. Kita tidak akan pernah menang. Daripada mati konyol bukankah lebih baik kita menyelamatkan diri?" tutur Baron


"Kapal sudah di bakar mustahil untuk keluar, percuma lari jika kita sudah ditengah lautan. Lebih baik mati dengan terhormat daripada mati sebagai pecundang," jawab Refan bersikeras


"Terserah kau sajalah Lagipula kau kan pemimpinnya, mana ada pemimpin yang mau mendengarkan bawahannya," sahut Baron kecewa


Lelaki itu segera mengecek isi peluru pistolnya sebelum menggunakannya.


*Pranngg!!!


Terdengar suara para gengster memecahkan kaca rumah itu, membuat kedua pemuda itu segera mengambil posisi untuk menembakkan senjata mereka.


Dalam sekejap semua para gengster itu berhasil menerobos masuk ke Wastu Ares.


Regan dan Baron segera menembaki mereka, hingga satu persatu dari mereka berjatuhan.


Tiba-tiba terdengar rentetan suara tembakan memborbardir seisi ruangan itu. Tentu Saja Refan dan Baron yang sudah kehabisan peluru berusaha menghindari serangan itu.


"Kau!!!" Refan begitu terkejut saat melihat siapa yang menyerangnya.


"UPS kejutan," jawab wanita itu tertawa kecil


"Karena kalian sudah melihat wajahku maka aku harus mengirim kalian ke Neraka," tandas wanita itu segera mengerahkan senapannya kearah kedua pemuda itu.


Saat maut sudah di depan mata maka tak ada pilihan lain selain menghadapinya. Aku tahu tak bisa menghindari maut, tapi setidaknya aku tidak bisa membiarkan orang yang ku sayang mati bersamaku,


Refan segera melemparkan Kerambit kearah wanita itu hingga mengenai lengannya.


"Arrgghhh!!" pekik wanita itu menjatuhkan senjatanya.


Melihat wanita itu lengang Refan segera menyerangnya.


*Grep!!


Wanita itu segera menahan pukulan Refan dan memelintirnya membuat pemuda itu berteriak kesakitan.


"Jangan kau pikir aku ini wanita lemah, aku bisa saja membunuhmu dengan mudah Rex," bisiknya kemudian melepaskan pukulan keras kerahnya.


Baron segera melepaskan tendangan keras kearah wanita itu saat ia akan menghantamkan kursi kepada Refan.


"Lumayan juga tendangan mu, Barry!" ucapnya menyeringai


Wanita itu segera mengambil baton dari anak buahnya dan menebaskannya kearah Baron. Tak puas memukul perutnya ia juga memukul punggung lelaki itu hingga jatuh tersungkur.


Wanita itu segera menginjak kepala Baron, "Jika kau benar-benar hacker terbaik maka selamatkan PE Corporation sebelum aku mengacaukannya," ucap wanita itu menggilasnya


Ia kemudian mengambil senapan anak buahnya kemudian menodongkan ke kepala Baron.


"Aku yakin, semuanya akan berjalan lancar jika aku menyingkirkan mu dari dunia ini," ucapnya menyeringai


Refan mengepalkan tangannya saat melihat Wanita itu menarik pelatuk senapannya.


"Arrgghhh!!" Refan segera melepaskan tendangan kearah wanita itu hingga ia jatuh terhempas.


"Cepat pergi dari sini!" seru Refan mendorong Baron


"Bagaimana denganmu??" tanya Baron khawatir


"Aku akan baik-baik saja, pergilah." sahut Refan segera bersiap menghadapi para gengster yang menyerangnya.


Ia terus menahan mereka agar Baron bisa melarikan diri dari Wastu Ares.


Refan berusaha bertahan meskipun para gangster itu menghajarnya hingga babak belur. Ia berusaha bangkit lagi meski badannya sudah remuk redam. Ia terus menoleh kearah Baron sembari terus menahan para gengster itu yang hendak mengejarnya.


"Selama aku hidup, takan kubiarkan siapapun menyentuh anggota Cobra Hitam," ucapnya mencoba bangun dan berdiri.


Matanya yang sudah tak bisa melihat karena luka lebam tak membuatnya gentar. Ia kembali mengambil batonnya dan menghempaskan kearah para gangster itu.


Semuanya menertawakan Refan yang selalu salah sasaran.


Seketika lelaki itu ambruk bersimbah darah.


"Tangkap Baron dan jangan biarkan dia lolos!" seru wanita itu memberikan komando


"Baik!" sahut anak buahnya segera berlari mengejar Baron.


Saat wanita itu hendak meninggalkan tempat itu Refan yang masih bernafas berusaha menarik kakinya hingga wanita itu terjatuh.


"Brengsek, beraninya kau!" serunya kemudian menghampiri Refan dan menyayat lehernya dengan belatinya.


"Pergilah ke Neraka," ucapnya kemudian bergegas meninggalkan Wastu Ares.


*************


Setibanya di Wastu Ares Iwa dan Amy merasa tercengang ketika melihat keadaan rumah itu yang berantakan. Keduanya lebih terkejut lagi saat mendapati Refan tewas bersimbah darah di ruang utama.


"Abang!!!" seru Amy segera memeluknya erat


"Maafkan aku Abang!!!" seru gadis itu menangisi mayat Refan


Sementara itu Iwa segera bergegas mengecek seluruh sudut ruangan Wastu Ares.


"Dia tidak ada, dimana Baron kenapa hanya Refan yang di bunuh????" Ribuan pertanyaan memenuhi otak Iwa. Lelaki itu berusaha memecahkan teka-teki kematian Refan, namun getar gawai di saku celananya membuyarkan imajinasinya.


"Tuan, anda harus segera ke kantor, semuanya kacau di sini,"


"Arrrrrghhh!!!" teriak Iwa saat mendapat SMS dari Leona.


Lelaki itu segera menggandeng Amy dan mengajaknya pergi menuju kantor pusat PE Corporation.


Setibanya di sana ia segera menemui Leona di ruangannya.


"Apa yang terjadi?" tanyanya singkat


Leona segera menyalakan komputer di ruangan itu, "Lihatlah, komputer kita dihack oleh seseorang. Aku tidak bisa membuka ataupun mengakses web perusahaan," jawab Leona dengan wajah cemas


Iwa berusaha mengotak-atik komputer itu, namun hasilnya nihil. Komputer tetap error' dan tak bisa di buka.


"Aku sudah memanggil para ahli IT namun semuanya tidak ada yang bisa membersihkan virus itu," tutur Leona


Baron, aku yakin dia pelakunya, hanya dia yang bisa melakukan hal seperti ini. Tapi dimana dia dan apa maksudnya???.


"Sebaiknya kau handle saja urusan lainnya, biar aku yang akan mengatasi virus ini. Pastikan para karyawan mengerjakan pekerjaannya di laptop pribadinya dulu untuk sementara waktu." jawab Iwa kemudian meninggalkan ruangan itu.


Iwa berusaha menghubungi Baron, namun tak ada jawaban dari pemuda itu.


Ia kemudian kembali ke Wastu Ares untuk memeriksa kamera CCTV rumah itu, namun Iwa tak menemukan apapun disana.


"Aku yakin pelakunya sudah memperhitungkan tindakannya hingga tidak meninggalkan jejaknya. Bahkan semuanya begitu rapi tak ada cacat sedikitpun," Iwa menghela nafas panjang mencoba untuk berpikir jernih.


Ia kemudian mengambil ponselnya, "Bagaimana hasil otopsinya?" tanya Iwa


"Dia meninggal setelah di tikam lehernya, tapi tidak ditemukan sidik jari ataupun jejak sang Pembunuh," jawab Amy gusar


"Aku tahu, bersabarlah Dinda, sebentar lagi aku pasti akan menemukan siapa pelakunya," jawab Iwa


**********


Sementara itu Baron yang terluka bersembunyi di sebuah kos-kosan kumuh dan padat di kawasan Jakarta Pusat.


Lelaki itu terlihat mengobati luka-lukanya seorang diri.


Suara ketukan pintu membuatnya segera berhenti membalut lukanya, ia mengambil senjata andalannya dan berjalan perlahan menuju pintu masuk kosannya.


Ia kemudian membuka pintu kosannya saat tahu pemilik kos yang mengetuk pintunya.


"Boleh minta KTPnya?" tanya wanita itu


Baron kemudian merogoh saku celananya dan mengambil KTPnya dari dompetnya.


"Aku pinjam untuk fotokopi dulu ya, buat lapor RT,"


"Silakan," jawab Baron kemudian menutup kembali pintu kosannya.


Ia segera mengemasi barang-barangnya dan bergegas pergi meninggalkan kosan itu melalui pintu belakang.


Tidak lama segerombolan gengster mendobrak kosannya.


"Sial, sepertinya dia sudah pergi!"


"Cepat kejar dia, aku yakin dia belum jauh!"


Para gengster itu kemudian berlari mengejar Baron memulai pintu belakang.


"Sial, pasti karena ini!" Baron segera mematikan ponselnya dan melompat ke dalam truk sampah yang kemudian membawanya pergi dari tempat itu.


"Dia tidak ada bos!!"


"Sial, kemana lagi hacker itu!!"