My Immortal

My Immortal
Bertemu Sang Raja



Banker Wastu Ares.


Adrian dan Baron sengaja merawat Leona di banker itu keduanya mempersiapkan semuanya lengkap mulai dari infus hingga obat-obatan


"Steve, siapa dia?" tanya Rey penasaran


"Dia adalah tangan kanan Bridav, dia sangat mahir dalam melobi dan merekrut anggota baru. Kemampuannya dalam berdiplomasi tak bisa diragukan lagi. Selain pandai berdiplomasi, Steve juga lihai dalam bertransaksi narkoba, memiliki jaringan yang banyak dan sangat membumi membuatnya mudah diterima di manapun," jawab Leona


"Lalu apa hubungannya dengan Daniel, kenapa dia ingin menyingkirkannya?" tanya Baron


"Karena dia tahu Daniel adalah satu-satunya batu sandungan dalam bisnisnya. Seperti Bridav dia ingin menguasai semua gengster yang mayoritas takluk kepada Daniel, ia bahkan tak canggung untuk menyingkirkan siapapun yang menghalangi jalannya," pungkas Leona


"Lalu Robby??" tanya Rey lagi


"Robby masih sepupu Steve, dia adalah mata-mata untuk mencari kelemahan Daniel,"


*******


DM Company.


"Steve Parangin-angin, beraninya dia mengusikku!" Daniel begitu geram setelah tahu siapa yang membunuh Amy putrinya


"Aku tidak mau tahu, malam ini juga aku harus menghabisinya. Aku tidak bisa membiarkan benalu terus tumbuh dan mencuri makanan dariku,"


Malam itu juga Daniel mengerahkan semua anak buahnya menyerang Bridav Night Club.


"Aaaaaa!!" suara teriakan pengunjung Bar menggema memecah keheningan malam. Semuanya segera lari dan berhamburan meninggalkan tempat itu saat terdengar suara tembakan dari anak buah Daniel yang menembaki para bodyguard dan anak buah Steve.


Setelah melumpuhkan semua anak buah Steve, Bram segera mencari keberadaan Steve di Night Club tersebut. Namun tangan kanan Daniel itu tak berhasil menemukan Steve ataupun Robbin.


"Mereka tidak ada di sini Bos," ujar anak buah Bram


"Kalau begitu kita bakar saja Bar ini agar ia segera keluar dari persembunyiannya," jawab lelaki itu.


Ia kemudian mengambil dua jerigen minyak dan menyiramkannya di tempat yang ia lewati.


Setelah melihat kobaran Api mulai membakar gedung itu, Bram dan anak buahnya segera pergi meninggalkan Bridav Night Club.


Sementara itu, mendengar kabar kebakaran yang melanda Bar miliknya tak membuat Steve geram, lelaki itu justru tertawa terbahak-bahak saat anak buahnya memberikan kabar tersebut padanya.


"Hahahaha, akhirnya kau mencari ku juga Daniel. Aku sudah tak sabar ingin bertemu denganmu," ucap lelaki itu sinis.


"Dia pasti akan segera menemukan mu Bos," ucap Robbin khawatir


"Tidak akan ada yang bisa menemukan tempat ini, bahkan Iblis sekalipun." ucapnya begitu sombong.


"Karena dia sudah menghancurkan Night Club milik ku, maka aku juga harus melakukan hal yang sama padanya. Nyawa harus dibayar dengan nyawa," imbuhnya sinis


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Robby begitu penasaran melihat raut wajah Steve yang seketika berubah menyeramkan


"Kau lihat saja nanti Rob," jawabnya kemudian ia bergegas pergi


**********


Siang itu Steve sengaja mendatangi kantor DM Company. Lelaki itu begitu percaya diri melangkahkan kakinya di sarang musuh besarnya seorang diri tanpa dikawal anak buahnya.


Setibanya di sana ia segera menemui Daniel Mahendra tanpa harus mengikuti aturan yang ribet seperti yang lain saat menemui orang nomor satu di DM Company itu.


"Pagi Daniel," sapanya dengan senyum khasnya


"Pagi Steve, wah suatu kehormatan kedatangan tamu VIP pagi-pagi," sahut Daniel menyambutnya


"Bagaimana kejutan ku?" tanya Steve menyunggingkan senyumnya


"Amazing, aku sangat terkejut bahkan tak menyangka sama sekali kalau itu dirimu," jawan Daniel


"Kau begitu cepat beraksi Daniel, tidak bisakah kau menahan sebentar saja emosimu. Apa kau tahu akibatnya jika bertindak tanpa mempertimbangkan resikonya," bisik lelaki itu kemudian menatapnya nyalang


"Semuanya mengalir saja seperti air Steve, karena itulah yang terbaik."


"Kau salah Daniel, air yang mengalirpun harus diarahkan. Karena kita tak tahu jika air mengalir tanpa arah maka bisa menimbulkan bencana. So think before do something!" jawabnya kemudian meninggalkan Danie


"Cih, siapa kau beraninya mengancam ku," Daniel segera menghubungi anak buahnya untuk mengejar Steve


Mengetahui dirinya diincar oleh musuh, Steve dengan cepat menghilang dari kejaran anak buah Daniel.


Lelaki itu menyunggingkan senyumnya saat anak buah Daniel begitu frustasi karena kehilangan jejaknya.


Lelaki itu segera menggunakan lift barang menuju lantai tertinggi gedung itu.


Ia kemudian dengan sengaja memasang bom di lantai 13 dan kemudian keluar dari gedung itu dengan menerobos jendela kaca.


*Duarrrr!!!


Saat terjadi ledakan hebat Steve sudah melesatkan mobilnya meninggalkan gedung itu.


*********


Kehebohan mu terjadi setelah pemboman salah satu perusahaan terbesar di Indonesia itu. Media elektronik segera menyebar luaskan berita pemboman itu ke seluruh negeri.


"Sepertinya dua Kubu sudah mulai menunjukkan taringnya, mereka sudah menyatakan perang secara terbuka," ucap Baton kemudian mematikan televisinya


"Lalu apa rencana kalian selanjutnya?" Tanya Leona


"Biarkan saja mereka bertarung, dan kita akan mengeksekusi siapapun pemenang pertarungan itu," jawab Adrian


"Aku setuju dengan Rey, bagaimanapun juga kita bisa memanfaatkan situasi ini untuk mencari bukti-bukti kejahatan mereka dan menyerahkannya kepada pihak kepolisian," sahut Baron


*************


Kediaman Steve Parangin Angin.


"Bagaimana Rob apa kau sudah menemukan siapa pelaku pembakaran gudang kita?" tanya Steve sembari menikmati camilannya


"Belum, aku masih belum menemukan jejak para penduduk pulau di Jakarta." jawab pemuda itu terbata-bata


Steve segera meletakkan garpunya dan beranjak dari duduknya. Lelaki itu menghela nafas panjang sebelum melangkahkan kakinya menghampiri Robby.


Ia kemudian merangkul pemuda itu, " Apa kau tahu hukuman bagi seorang pengkhianat?" tanyanya sembari menatapnya lekat


"Singkirkan sebelum menjadi virus yang akan menggerogoti imun tubuh kita," jawab pemuda itu terbata-bata.


"Good, kalau kau sudah tahu kenapa kau masih saja ada disini?" tanya Steve membuat Robby kebingungan


"Maksudnya??" tanya pemuda itu dengan wajah ketakutan


"Aku harus menyingkirkan pengkhianat itu, karena itu sudah peraturannya," jawab Steve enteng


"Tapi aku bukan pengkhianat, aku tidak membakar gudang kita Om," jawab Robby segera berlutut dihadapan Steve


"Aku tidak menuduh mu sebagai pengkhianat sayang, jadi bangunlah." ucap Steve kemudian membantu pemuda itu berdiri


"Terimakasih Om, kalau begitu aku pamit pulang dulu Om,"


"Tentu, pulanglah dan istirahat." sahut Steve kemudian membiarkannya pergi


Namun baru beberapa langkah Steve langsung menebakkan pelurunya tepat mengenai keplanya.


"Fiuh, aku tidak akan pernah melihara seorang pengkhianat yang tak berguna seperti mu Rob," ucap lelaki itu meniup asap pistolnya.


************


*Ting nong!!


Seorang wanita segera bergegas membukakan pintu apartemennya begitu mendengar suara bel berbunyi.


"Akhirnya dia datang juga," ucapnya begitu bahagia


Wanita itu begitu terkejut saat melihat sosok lelaki yang berdiri di depan pintu apartemennya.


Lelaki itu tersenyum dan segera memasuki ruangan itu setelah anak buahnya terlebih dahulu mengalungkan belati kepada wanita itu.


"Wow, nyaman sekali tempat ini. Pantas saja kalian betah tinggal di sini," ucapnya menyeringai


Semua wanita yang ada di tempat itu begitu ketakutan melihat sosok lelaki yang ada di depannya.


"Aku akan membiarkan kalian hidup dengan satu syarat," ucap lelaki itu memainkan belati di tangannya


"Katakan padaku siapa yang membawa kalian kemari!" serunya membuat mereka semakin ketakutan


Kesal karena tak ada satupun yang menjawab pertanyaannya, ia pun kemudian menarik seorang anak kecil dan menyanderanya.


"Sekarang katakan padaku siapa orang itu atau aku akan membunuh bocah malang ini," ancamnya


Seseorang segera mengangkat tangannya dan menghampirinya.


"Aku tahu siapa orangnya," ucapnya dengan lantang


Steve menyeringai dan segera mendorong tubuh anak kecil itu hingga tersungkur ke lantai.


"Good,"


"Sekarang telepon dia dan suruh datang kemari," titah Steve


Tidak lama Baron dan Adrian segera menuju ke Apartemennya setelah mendapatkan telepon dari penduduk Pulau.


Keduanya begitu terkejut saat melihat semua penduduk pulau sudah tewas terkapar di lantai.


"Siapa yang melakukan tega melakukan perbuatan sekeji ini," ucap Adrian sembari mengecek nadi setiap orang yang ada di sana.


"Pergi dari sini," ucap seorang wanita membuat Adrian segera menghampirinya.


"Jangan banyak bicara, biarkan aku akan membawamu ke rumah sakit lebih dulu," ucap lelaki itu berusaha memapahnya


Wanita itu menggelengkan kepalanya, "Cepat pergi sebelum terlambat," ucap wanita itu mendorong tubuh Rey


*Wuuuusshhh!!


Sebuah belati tiba-tiba melesat dan tepat mengenai wanita itu.


"Arrgghhh," seketika wanita itu tewas setelah terkena belati beracun itu


Rey segera menoleh kearah lelaki yang tertawa memasuki ruangan itu.


"Akhirnya aku bertemu juga denganmu Adrian," ucap menyeringai


Steve segera mengeluarkan senjata apinya, begitupun dengan anak buahnya yang sudah mengokang senjata api mereka.


Mengetahui mereka dalam bahaya, Baron segera menarik Adrian dan menerobos dinding kaca apartemen untuk menyelamatkan diri dari Steve dan anal buahnya.


*Pranggg!!!!