
*Prankkk!!!
Seorang lelaki terlihat meremas gelas Wine di tangannya hingga pecah dan melukai tangannya. Ia begitu geram ketika melihat kepala Reymond dihadapannya dengan matanya yang membelalak. Lelaki itu benar-benar tidak percaya jika Ketua geng Kalajengking itu akan mati di tangan seorang bocah idiot seperti Iwa.
Ia bahkan tak habis pikir, bagaimana bisa mereka yang hanya bertiga bisa mengalahkan ratusan orang gengster dari seluruh Jakarta.
"Siapa yang memenggal kepala Reymond?" tanyanya dengan sorot mata merahnya
"Pewaris tunggal PE Corporation, dia juga yang membunuh ratusan anak Gengster dan juga para sniper,"
"Cih, bocah itu...apa dia sudah kerasukan Iblis setelah mati suri sehingga menjadi begitu bengis dan berdarah dingin. Sungguh tidak masuk akal jika pemuda bodoh seperti dia bisa menjadi Iblis pembunuh setelah bangkit dari kematian," serunya berdecih kesal
"Cari dimana pun ia berada dan bawa kepalanya kehadapan ku,"
"Menurut kabar dari informan kami, saat ini Adrian Prawiro sedang koma dan dirawat di rumah sakit ABDI NEGARA,"
"Syukurlah, setidaknya kali ini Dewi Fortuna sedang berpihak kepada ku, bawa dia kemari dan biarkan aku yang akan mengeksekusinya." ucapnya menyeringai
"Baik Ketua," jawab lelaki itu kemudian segera bergegas meninggalkan ruangan itu
"Rey...Rey...ternyata kau benar-benar penghalang terbesar dalam rencana ku, ternyata kali ini kau benar-benar memperlihatkan wajah aslimu. Kau begitu mirip dengan ayahmu yang menghalalkan segala cara untuk mempertahankan perusahaan milik nenek moyang kalian itu,"
Ia kembali mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo komandan, aku ingin kau segera melakukan investigasi ke Wastu Ares, dan mengambil rekaman CCTV di rumah itu. Setelah itu temui aku untuk membahas langkah selanjutnya," ucap lelaki itu
"Baiklah, aku harap ini adalah tugasku yang terakhir. Karena sepertinya atasanku menilai rendah kinerjaku karena tingkat kejahatan yang meningkat, jika tidak di mutasi mungkin aku akan diturunkan dari jabatan ku yang sekarang," jawab sang polisi
"Kau tidak perlu khawatir, justru dengan menangani kasus ini kau akan naik pangkat karena bisa menangkap seorang gengster kelas kakap yang meresahkan warga Jakarta," jawab lelaki itu kemudian mengakhiri panggilannya.
**********
Rumah sakit ABDI NEGARA.
Kebo Iwa begitu terkejut saat mendapati dirinya terpisah dari raga Adrian.
"Akhirnya, sukma ku terlepas juga dari bocah ini, ah leganya." ucapnya bersyukur
Ia terenyuh saat melihat Amy yang tidur di samping Adrian sembari memegang erat jemarinya.
"Terimakasih Dinda untuk selalu mencintaiku, meskipun di kehidupan sebelumnya aku sudah mengecewakan dirimu. Semoga kau bisa bahagia bersama dengan Adrian," ucapnya berkaca-kaca
Saat ia akan pergi meninggalkan ruangan itu tiba-tiba Amy terbangun dan berteriak histeris ketika melihat layar monitor di depannya.
"Dokter!!, suster!!" serunya sembari berlari meninggalkan ruangan itu.
Iwa kemudian menghampiri Adrian yang yang terbaring tak berdaya di brankarnya.
"Kenapa aku tidak bisa meninggalkan dirimu, saat kau sedang sekarat seperti ini. Kenapa hatiku begitu sakit melihatnya bersedih. Meskipun kau seorang yang lemah, bertahanlah demi wanita yang kau cintai," ucapnya lirih
Seperti merespon ucapan Iwa, tiba-tiba Adrian menitikkan air matanya.
Tidak lama dokter dan perawat berdatangan dan segera memeriksa kondisi Adrian.
Iwa hanya bisa melihat tanpa berbuat apa-apa.
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Amy cemas
"Keadaannya sangat kritis, kita hanya bisa berdoa semoga masa kritisnya segera selesai dan ia bisa siuman," jawab dokter
"Ya Tuhan, tolong selamatkan dia, jangan sampai ia meninggalkan aku untuk kedua kalinya,"
*Deg!
Seketika Iwa terhenyak mendengar ucapan Amy, "Dinda!!"
"Bagaimana keadaannya?"
"Buruk, dia semakin kritis dan kemungkinannya kecil untuk hidup," ucap Amy terisak
Regan segera memeluk wanita itu dan menepuk-nepuk punggungnya berusaha menghiburnya.
"Kau tidak boleh menyerah, tetaplah kuat dan jangan pernah putus asa. Teruslah berada di sampingnya, karena aku yakin Rey akan lebih baik jika kau selalu bersamanya."
"Sekarang makanlah, kau juga perlu energi agar tetap sehat untuk merawat Rey, semoga ketulusan mu bisa membantu kesembuhan Rey," ucap Refan memberikan makanan kepadanya.
"Baiklah Fan, btw terimakasih banyak makanannya," sahut Amy kemudian menyantap Roti lapisnya.
Tidak lama kemudian seorang dokter memasuki ruangan itu.
"Ada apa lagi dok?" tanya Amy menghampirinya
"Sekarang saatnya pasien untuk menjalani pemeriksaan rutin ke ruang radiologi untuk mengecek luka tembaknya," jawab sang dokter kemudian memindahkan Adrian.
"Semoga hasilnya membaik ya Allah," ucap Amy begitu berharap
Iwa memperhatikan gerak-gerik kedua lelaki yang mencurigakan itu. Ia kemudian mengikuti keduanya saat membawa Adrian pergi dari ruangan itu.
"Kenapa kedua orang ini begitu mencurigakan, gelagatnya seperti bukan seorang dokter,"
Iwa semakin curiga saat keduanya melewati ruang radiologi dan justru membawa Adrian pergi dari rumah sakit.
"Sudah kuduga, mereka dokter gadungan. Aku yakin mereka adalah para gengster yang ingin membalas dendam," Iwa segera berlari dan masuk kedalam mobil itu.
"Aku tidak bisa tinggal diam, aku harus menyelamatkannya," Ia berusaha mengangkatnya namun tangannya tak berhasil menyentuhnya.
"Sial, bagaimana ini??. Baiklah terpaksa aku harus masuk lagi kedalam tubuhnya," ucap Iwa
Ia kemudian berusaha menyatukan sukmanya kedalam tubuh Adrian, namun usahanya selalu gagal.
"Ah sial!!!" pekiknya kesal
Tiba-tiba mobil itu berhenti dan kedua orang itu segera memindahkan Adrian keatas kursi roda.
Keduanya kemudian membawa lelaki itu masuk kedalam sebuah gedung.
*Tok, tok, tok!!!
"Daniel!!!" pekik Iwa begitu terkejut ketika melihat lelaki itu membukakan pintu dan mempersilakan kedua lelaki itu masuk.
"Jadi benar dugaan ku jika ia dalang dibalik semua ini, aku hampir saja tertipu dengan penampilannya yang begitu santun dan penuh kharisma. Ternyata dibalik semua itu dia adalah seorang Iblis yang begitu bengis dan berdarah dingin,"
"Akhirnya, aku bisa membalaskan dendam atas kematian Reymond hari ini." ucap Daniel menyeringai
"Sekarang lihatlah Rey, pemuda yang membunuh mu sekarang tergolek tak berdaya, bahkan ia tidak tahu jika ajalnya sudah di depan mata. Sayang sekali kau harus mati tanpa tahu siapa yang membunuhmu." Daniel kemudian mengambil sebuah samurai yang terpajang di dinding ruangan itu dan mengeluarkan dari sarungnya.
"Nyawa harus dibayar dengan nyawa Adrian, aku juga harus memenggal kepalamu karena kay telah membunuh kekasihku," ujar Daniel mengarahkan pedangnya ke leher Adrian.
"Tidak, tidak akan ku biarkan kau membunuhnya. Orang-orang seperti dirimu harus aku musnahkan dari muka bumi ini agar manusia bisa hidup damai," tegas Iwa kemudian mendekati Adrian dan berusaha menyatukan sukmanya.
Sementara itu Daniel mulai mengayunkan pedangnya kearah Adrian, di saat Iwa begitu putus asa karena tidak bisa menyatukan tubuhnya.
" Wahai Sang Hyang Widhi Wasa, bantulah aku untuk menegakan keadilan sekali ini saja," ucapnya begitu tulus sembari memegang jemari Adrian
*Wuuushhh!!!!
Daniel segera menebaskan pedangnya kearah Adrian, namun tiba-tiba saja pemuda itu segera menahannya hingga telapak tangannya berdarah karena menahan samurai itu.