My Immortal

My Immortal
Memancing di air keruh



Iwa terlihat begitu lelah setelah seharian menatap layar monitor komputernya. Lelaki itu segera beranjak dari duduknya dan menghampiri Leona sekretarisnya.


"Sebaiknya kau pulang saja, besok saja kita lanjutkan lagi,"


"Baik Tuan," sahut wanita itu segera mengemasi barang-barangnya.


Ia kemudian berpamitan dan pergi meninggalkan Iwa seorang diri di ruangannya.


Lelaki itu berjalan menuju lemari es dan mengambil sebotol minuman dingin dan menuangkannya kedalam gelas. Setelah menghabiskan tiga gelas air ia kemudian merebahkan tubuhnya ke kursi kerjanya.


Ia kemudian mengambil kunci mobilnya dan segera bergegas meninggalkan ruang kerjanya.


Malam itu sengaja Iwa ingin menghabiskan malam di Wastu Ares. Pemuda itu merindukan kamar nyamannya yang sudah lama ia tinggalkan.


Setelah tiba di rumahnya, ia segera naik keatas menuju ke lantai dua. Ia menghentikan langkahnya saat melintas kamar almarhum orang tua Adrian.


Karena penasaran Iwa pun membuka pintu kamar itu dan masuk ke dalam. Ia menyalakan lampu kamar agar bisa melihat isi kamar tersebut, entah kenapa langkahnya membimbingnya menuju meja kerja Prawiro Edy.


Ia menatap lekat photo Prawiro Edy yang terpajang di meja kerjanya. Ia mengambil bingkai foto itu dan menatapnya lekat-lekat.


Inikah alasannya kenapa aku bisa terjebak dalam tubuh bocah ini. Apa ini karena dia??. Apa aku ingin aku merasakan kehidupannya setelah kutukan enam ratus tahun silam.


*Flashback back on


Majapahit abad ke 14.


"Kenapa seorang patih dari kerajaan yang besar berlaku licik sekali dan tidak pantas dilakukan oleh seorang yang mengaku sebagai seorang negarawan?" ucap Kebo Iwa setelah bangkit dari Sumur tempatnya di Kubur.


Lalu Patih Gajah Mada menjawab " Kewajiban seorang Kesatria untuk memperluas wilayah kerajaannya serta mempersatukan nusantara dibawah panji-panji Majapahit. Karena Patih Kebo Iwa merupakan batu sandungan jadi wajib untuk disingkirkan".


"Kewajibanmu mempersatukan nusantara dibawah Majapahit tidak akan saya halangi dan saya akan memberikan rahasia kematian saya. Kematian saya terjadi jika saya dikubur dengan bubuk kapur, tetapi karena anda secara licik telah menipu saya maka kelak negeri nusantara bentukkan anda akan diperintah dan dijajah oleh orang orang yang berkulit putih , berhidung mancung, berambut pirang dan roh saya akan menyatu dengan orang-orang kulit putih tersebut hingga saya merasa puas." ucap Kebo Iwa menyerahkan dirinya kepada Gajah Mada


*Flashback off


"Apakah semua ini terjadi karena kutukan ku padamu???" tanyanya menatap Foto Prawiro Edy yang begitu mirip dengan Patih Gajah Mada.


"Apakah kau ingin memperlihatkan kepadaku bagaimana rasanya hidup menanggung kutukan selama 600 tahun. Apa kau ingin aku tahu bagaimana menderitanya hidup bergelimang harta namun dikelilingi musuh yang siap menyingkirkannya. Wahai Dewata Agung maafkanlah kekhilafan ku di masa lalu. Maafkan aku Rey, karena diriku kau juga harus menanggung kutukan ini,"


"Apa ini alasannya kenapa sukma ku terus berkelana selama 600 tahun. Haruskah aku mengakhiri kutukan ini agar Sukma ku bisa beristirahat dengan tenang." Iwa kemudian meletakkan foto Prawiro Edy dan menatap foto keluarga Prawiro.


Ia berkaca-kaca saat melihat senyum bahagia Adrian bersama kedua orang tuanya.


"Maafkan aku, karena keegoisan ku kau harus mengalami hidup yang berat di usiamu yang masih belia. Mulai sekarang aku Kebo Iwa mencabut kutukan ku terhadap Patih Gajah Mada dan keturunannya. Aku sudah mengikhlaskan diriku demi Bumi Nusantara, dan tidak ada dendam lagi antara aku dengannya. Mulai hari ini juga aku akan mengembalikan kebahagiaan Adrian dengan menyingkirkan para penjahat yang merebut PE Corporation darinya,"


Pagi harinya,


"Bagaimana Rey, apa kau menemukannya?" tanya Refan mengunjunginya di Wastu Ares.


"Melani Suwito, nama itu lagi yang dipakai oleh bajing*an itu untuk membeli semua saham PE Corporation,"


"Aku sudah tahu siapa orang dibalik Melani Suwito," jawab Refan membuat Iwa tercengang


"Daniel Mahendra, Melani Suwito adalah orang tua kandung Daniel. Ia tinggal di Pati Jompo sekarang, Daniel selalu rutin mengunjunginya setiap tahun. Hanya saja ia menyembunyikan kunjungannya dengan menggelar amal untuk mengalihkan perhatian publik." jawab Refan


"Lalu bagaimana dengan negosiasi Baron dengan Daniel?" tanya Iwa menatap Baron


"Semuanya berjalan sesuai rencana," jawab Baron enteng


"Baiklah kalau begitu, aku ingin semuanya berkahir dengan cepat. Lalu apa rencana mu untuk mengatasi harga saham yang anjlok, dan juga Daniel yang memiliki hampir lima puluh persen saham PE Corporation?"


"Jangan khawatir, sebentar lagi ia pasti akan menjual semua sahamnya. Kau ingat dengan kata-kata mu. Membeli saham saat harga jatuh sama saja seperti menangkap pisau yang berjatuhan. Jadi jika tidak ingin terluka maka jangan menangkap pisau itu," sahut Refan


"Bagus, aku suka kerja kalian. Sementara kalian bekerja di balik layar, biarkan aku yang akan mengambil hati dan kepercayaan para investor dan juga Dewan Direksi," ucap Iwa


Setelah selesai berdiskusi Iwa segera bergegas menuju kantor pusat PE Corporation.


Setibanya di ruang kerjanya, Leona sudah menunggunya dengan setumpuk dokumen di tangannya.


"Ada banyak dokumen yang harus anda tandatangani Tuan," ucapnya kemudian meletakkan dokumen-dokumen itu diatas mejanya


"Terimakasih Le, kau bisa mengambilnya satu jam lagi. Aku harus menyiapkan presentasi untuk meeting pagi ini," jawab Iwa


"Tapi hari ini tidak ada jadwal meeting Tuan," sela Leona


"Ini rapat mendadak, tolong beritahukan semua direksi untuk berkumpul di ruang rapat setengah jam lagi," tukas Iwa


"Baik Tuan," Leona segera bergegas meninggalkan ruangan Iwa.


Setelah selesai mempersiapkan materi rapat, Iwa segera berjalan menuju ruang Rapat.


Pemuda itu begitu terkejut saat melihat Daniel duduk di samping Bisma.


"Oh ternyata aku kedatangan seorang anggota direksi baru," sindir Iwa menatapnya sinis


"Dia bukan dewan direksi Rey, tapi Daniel adalah perwakilan dari Investor," jawab Bisma


"Tapi hari ini tidak ada rapat dengan para investor. Aku hanya ingin berbicara dengan para Direksi untuk memberitahukan kepada mereka program-program ku untuk menaikan kembali harga saham perusahaan," sahut Iwa


"Tapi sebagai pemegang saham mayoritas dia juga wajib tahu apa saja program CEO perusahaan untuk menaikan kembali harga saham. Itulah kenapa aku sengaja mengundangnya dalam rapat pagi ini," tutur Bisma


Sudah ku duga, jika paman Bisma yang sudah mengundangnya. Kenapa kau selalu saja bersikap seperti padaku paman. Apa kau tidak tahu jika ia juga berusaha menusuk mu dari belakang. Saat ini kau mungkin belum menyadarinya tapi sebentar lagi kau baru tahu siapa lawan siapa kawan.


"Baiklah, terserah kau saja paman. Lagipula aku tidak keberatan jika ia ada di sini. Kalau begitu mari kita mulai saja rapatnya," ucap Iwa memberikan kesempatan kepada host untuk memulai rapatnya.


Setelah selesai membuka rapatnya sang moderator kemudian mempersilakan Iwa untuk menyampaikan materi rapat hari itu.


Dengan penuh semangat Iwa menyampaikan program-program terbarunya kepada Ara direksi. Semua yang hadir dalam rapat begitu antusias dan memuji program Adrian kecuali Daniel dan Bisma. Keduanya secara terang-terangan menolak program terbaru Iwa dan menyuruhnya untuk mundur dari jabatannya.


"Anak kemarin sore saja tahu kalau program mu itu tidak akan bisa menaikan harga saham secara signifikan. Kalau kau ingin harga saham kita naik lagi maka mundurlah dari posisimu dan biarkan kami para Investor yang akan memilih siapa yang pantas untuk menjabat sebagai CEO PE Corporation," sahut Daniel.