
Daniel terlihat berbincang-bincang dengan seorang juri lomba. Lelaki itu begitu penasaran kenapa sore itu, Sean sang jagoannya harus kalah disaat ia begitu berharap kepadanya.
Ketika perbincangan makin serius, assisten pribadi Daniel menghampirinya.
"Tuan Daniel, hari ini ada jadwal pemotretan dengan majalah Matahari pukul lima petang," ucap seorang asisten pribadi Daniel
"Terimakasih Harry, aku sudah mengingatnya." sahut Daniel kemudian menetap lekat lelaki di depannya.
*Ciiittt!!!!
Refan sengaja menghentikan motornya tepat di depan Daniel dan membuka helmnya.
Sekarang nikmatilah kekalahan mu Daniel?
"Siapa dia?" tanya Daniel
"Dia pemain baru Tuan," jawab sang Juri
"Pantas saja aku baru melihatnya. Aku ingin kau mengatur pertemuan ku dengannya malam ini," bisik Daniel kemudian bergegas menyusul Harry assistennya.
******
Darwis Studio
Daniel terlihat begitu profesional saat menjalani sesi pemotretan sebuah majalah. Model senior itu terlihat tak canggung berpose bersama pasangannya yang lebih mud darinya.
Kepiawaian Daniel dalam berpose di depan kamera memang sudah tidak diragukan lagi sehingga, meskipun diusianya yang sudah tidak muda lagi para pelaku dunia hiburan masih menggunakan jasanya.
Tak heran jika lelaki tiga puluh delapan tahun masih banyak membintangi iklan dan juga film layar lebar. Selain seorang artis dan juga model Daniel juga terkenal sebagai seorang dermawan dan juga penggiat gerakan sosial, sisi inilah yang membuat Daniel begitu dipuja-puja oleh para fansnya sehingga ia menjadi salah satu influencer dengan jumlah followers terbanyak nomor dua.
"Tuan... ada telpon dari Tuan Arland," ucap Harry menghampirinya.
"Katakan padanya untuk segera menelpon ku,"
"Baik,"
Harry kemudian memberikan ponsel Daniel padanya.
"Seperti yang anda inginkan, malam ini Evan sudah menunggu anda di Cassanova cafe,"
"Terimakasih Arland, aku akan segara meluncur kesana," sahut Daniel mematikan ponselnya.
***********
Cafe Cassanova.
"Apa kau yakin rencana kita akan berhasil?" tanya Baron saat menemani Refan ke cafe Cassanova.
"Tentu saja, balapan liar adalah salah satu sumber uang Daniel. Arena perjudian adalah yang paling mudah untuk di serang. Di sirkuit itu uang mengalir begitu cepat, andai saja kita bisa mengendalikannya, aku yakin kita bisa membuat Daniel kebakaran jenggot dan menangis darah,"
"Lalu, apa kau benar-benar ingin menemui Daniel??, bagaimana jika ia menolak menjadikanmu sebagai pembalapnya?" tanya Baron
"Bukan aku yang akan menemuinya, kita cukup bermain di belakang layar. Biarkan peran pengganti yang akan memainkan sisanya,"
Refan dan Baron segera bersembunyi saat melihat Daniel memasuki Cafe, keduanya terus mengawasi gerak-gerik Daniel saat menemui seorang pemuda.
Cukup lama Daniel berbincang dengan pemuda itu hingga akhirnya keduanya terlihat membuat kesepakatan.
Refan segera menghampiri pemuda itu setelah memastikan Daniel pergi meninggalkannya.
"Bagaimana, apa dia setuju menjadikanmu sebagai pembalapnya?" tanya Refan berbinar-binar
"Benar, kita sudah sepakat dan kami juga telah menandatangani kontrak bisnis," lelaki itu kemudian memberikan surat kontrak bisnis mereka kepada Refan.
"Good job Miller, aku harap kau harus berhati-hati mulai sekarang. Jangan bertindak gegabah dan tetaplah bersembunyi kecuali aku yang menyuruh mu keluar," ucap Refan
Ia segera mengambil surat kontrak itu dan tersenyum membacanya.
***********
Siang itu di Kantor pusat PE Corporation.
Iwa membuka laptopnya dan segera melihat harga saham PE Corporation yang mulai menggeliat naik.
Senyum bahagia terpancar dari wajahnya membuat lelaki itu terlihat semakin mempesona.
"Apa kau ingin bertemu dengan Tuan Adrian?" tanya Leona mengagetkan Amy yang sedari tadi mencuri-curi pandang terhadap Adrian.
"Ah...I..iya," jawabnya gugup
"Masuk saja, bukankah kau tidak perlu mendapat ijin ku untuk menemuinya," jawab Leona mempersilakan wanita itu masuk
Amy segera bergegas masuk dan menghampiri Iwa.
"Pagi Rey," sapa Amy tersenyum kepadanya
"Siang Dinda," jawab Iwa membuat Amy seketika melirik arlojinya.
"Astagfirullah, aku kira masih pagi ternyata sudah siang, maaf ya Kanda. Sepertinya wajahmu mengalihkan duniaku, " sahut Amy tersipu-sipu
Iwa tersenyum mendengar pujian Amy.
"Bisa aja Dinda,"
"Beneran Kanda, aku gak bohong. seperti sebuah pantun Ikan hiu makan buah markisa, kanda emang selalu membuatku jatuh cinta setiap kita jumpa,"
"Kalau sudah ada dirimu entah kenapa aku jadi gak fokus kerja," jawab Iwa menghampirinya
"Kok gitu, berarti aku seperti seorang pengganggu donk," sahut Amy mencebikkan bibirnya
"Kau memang selalu jadi pengganggu Dinda, kau bahkan tak pernah membiarkan hatiku tenang jika tak melihat wajahmu satu hari saja," ucap Iwa memeluknya erat
"Karena kau yang sudah mengajariku Dinda," bisik Iwa membuat Amy tersipu-sipu malu menatapnya.
"Ehemm!!" seru Refan memasuki ruang itu membuat keduanya langsung melepaskan pelukannya.
"Sial, ganggu aja Lo!" cibir Amy
"Elah, maaf sengaja," jawab Refan terkekeh kecil
"Sue," sahut Amy segera merapikan penampilannya
Refan semakin terkekeh mendengar cibiran Amy.
"Dinda jangan marah-marah nanti kamu cepat tua," ucap Refan menggodanya
"Berisik lo!" jawab Amy mendengus kesal
"Makanya Rey, lain kali kalau mau mesra-mesraan jangan lupa di kunci pintunya. Kan kasian gue jadi mupeng juga lihat kalian," ucap Refan membela diri.
"Ok, btw kalian berdua ada apa datang menemui ku?" tanya Iwa
"Aku..." Refan dan Amy saling menoleh saat keduanya secara tidak sadar bersamaan menjawab pertanyaan Iwa.
"Yaudah kamu duluan, biar kakak ngalah aja," ucap Refan mempersilahkannya
"Emang harus gitu," sahut Amy
"Jadi sebenarnya aku datang menemui Rey untuk menyampaikan sesuatu yang selama ini membuat aku bimbang dan hampir frustasi,"
"Jangan bilang kau ingin menyatakan perasaan mu pada Rey," sela Refan
Amy langsung melotot ketika mendengar ucapan Refan.
"Sorry Dinda,"
"Lanjutkan Dinda," sahut Iwa
"Aku menemukan foto itu saat mengunjungi panti Jompo bersama Om Daniel." Amy memberikan sebuah foto usang kepada Iwa
"Wanita yang di foto adalah Melanie Suwito, dan yamg bersama dengannya adalah ayahku," imbuhnya lirih.
"Lalu apa masalahnya?" tanya Refan enteng
"Apa kalian tidak merasa curiga dengan foto itu?" sahut Amy balik bertanya
"Maksudnya??"
"Aku takut jika wanita itu adalah nenek ku, jika benar begitu berarti orang yang selama ini menyerang Cobra Hitam dan berusaha menyingkirkan Rey adalah ayahku. Aku takut Rey, aku takut jika ayahku benar-benar seorang penjahat," tutur Amy
"Kau tidak perlu takut meskipun ayahmu benar seorang penjahat. Lagipula kau tahu bagaimana ayahmu berusaha menyingkirkan Rey untuk mendapatkan posisi CEO PE corporation. Tapi meskipun begitu dia bukan orang yang menyerang Cobra Hitam. Dan wanita itu juga bukan nenekmu. Dia memang selalu pandai dalam memanipulasi sesuatu. Tapi ada untungnya juga kau memperlihatkan foto ini kepada kami. Setidaknya kami jadi tahu Jika Daniel memang akan melakukan apapun demi mencapai tujuannya, Termasuk mengkambing hitamkan sahabatnya sendiri. Andai Bisma tahu jika ia hanya diperalat olehnya, pasti keduanya akan berseteru." ucap Refan menyeringai
"Apa maksudmu Fan?" tanya Amy benar-benar bingung
"Apa kau ingin mengadu domba keduanya?" tanya Iwa seperti bisa membaca pikiran Refan
"Sudah saatnya mereka pecah kongsi, bukankah lebih mudah menghancurkan keduanya jika tidak satu visi lagi. Kita bisa memanfaatkan salah satu dari mereka untuk mendapatkan kelemahan keduanya," jawab Refan
"Aku setuju," jawab Iwa
"Dan malam ini kita akan merayakan melihat kehancuran Daniel kehilangan lumbung uangnya yang kedua," ucap Refan memberikan sebuah tiket VIP kepada Iwa.
**************
Suasana sebuah gudang tua yang di sulap menjadi arena balap liar terlihat begitu ramai. Para Tamu VIP berdatangan untuk memasang taruhan mereka.
Arena balapan liar itu memang di jadikan sebagai area perjudian terbesar oleh para gengster dibawah perlindungan geng Kalajengking.
Hampir semua orang yang datang ke tempat itu memasang taruhan untuk kemenangan Ifan alias Refan sang juara baru balapan liar itu.
Daniel terlihat begitu bangga melihat kedatangan Ifan di sirkuit.
"Aku yakin malam ini akan menjadi malam kemenangan bagiku," ucap Daniel begitu percaya diri.
Iwa yang baru saja tiba segera duduk di kursi sesuai dengan nomor tiketnya.
Ia kemudian melihat kearah Daniel yang sedang menghitung uang taruhan hari itu.
"Sial, ternyata aku disuruh berjudi rupanya. Dasar brengsek," gerutu Iwa saat melihat seorang wanita menyodorkan beberapa pilihan permainan
"Ikuti saja permainannya, dan kita akan melihat pertunjukan spektakuler yang akan diperlihatkan oleh Rex," sahut Baron
Lelaki itu kemudian mengantar Iwa ke meja sang bandar judi dan membuat taruhan di tempat itu.
"Baiklah, aku akan mempertaruhkan semua aset kekayaan PE Corporation untuk kekalahan Ifan," ucap Iwa memberikan semua taruhannya kepada sang bandar judi.
Mendengar PE Corporation membuat Daniel segera menghampiri Iwa.
"Angin apa yang membawa CEO PE Corporation ke meja judi?" tanya lelaki itu sinis
"Kau tahu kan kami sedang mengalami masa paceklik dan butuh suntikan dana untuk membuat perusahaan bangkit kembali. Untuk itulah aku sengaja datang ke tempat ini untuk mengadu peruntungan ku malam ini. Aku berharap Dewi Fortuna berbaik hati dan memberikan kemenangan padaku hingga aku bisa membangkitkan kembali perusahaan milik ayahku itu," jawab Iwa
"Aku suka keberanian mu anak muda. Aku juga begitu salut dengan kebiasaan mu yang selalu melawan arus. Ingat nak, jika kau selalu melawan arus maka bersiaplah terhempas saat banjir tiba-tiba datang menerjang," bisik Daniel menepuk pundaknya
"Justru aku sengaja menunggu Banjir karena aku tahu tidak selamanya banjir itu merugikan. Bahkan sebuah banjir bandang akan mendatangkan material bangunan terbaik yang bisa didapatkan di sungai yang tenang." jawab Iwa membuat Daniel tercengang
Sementara itu suara tembakan senjata api bergema di sirkuit menandakan balapan sudah di mulai.
Semua pembalap segera melesatkan motor mereka menuju lap pertama.