
"Berandal kecil seperti kalian jangan harap bisa menyentuh ku!" serunya kemudian mengambil kembali pistolnya yang tergeletak, ia kemudian berjalan menghampiri Refan yang berusaha bangun dan meraih baton di hadapannya.
"Matilah kau Rex!!" serunya menarik pelatuk pistolnya.
*Bugghh!!.
Daniel terhempas dan pistolnya terlepas dari tangannya setelah terkena tendangan maut Iwa.
"Seorang Kebo Iwa tidak akan mudah dikalahkan oleh siapapun, kau butuh waktu enam ratus tahun jika ingin mengalahkan aku," serunya kemudian menarik baju Daniel dan melepaskan tinjunya berkali-kali kearah lelaki itu.
"Andai saja kita bertemu enam ratus tahun sebelumnya aku pasti akan membunuhmu saat kita bertemu. Sayang sekali di masa ini manusia dilarang membunuh karena ada hukum, jadi kau perlu bersyukur untuk itu," ucap Iwa melepaskan pukulan terakhirnya.
"Aaarrrggghhhh!!" seru Robby berlari kearah Iwa dan mengayunkan balok kayu ke punggung lelaki itu.
*Brakkk!!!
Iwa menoleh kearah Robby yang memukulkan balok kayu ke punggungnya.
"Aku tidak mau menyakiti mu, jadi pergilah dari sini," ucap Iwa menahan amarahnya
Bukannya berhenti Robby seakan semakin menjadi, pemuda itu kembali mengayunkan balok kayu kearah Iwa.
*Grep!!
Kali ini Iwa segera menangkap balok kayu itu dan memelintirnya hingga Robby berteriak kesakitan.
Ia segera melepaskan pukulannya hingga pemuda itu terhempas menjauh darinya.
Semua anak buah Daniel seketika mundur ketika Iwa menatap nyalang kearah mereka.
Dengan satu tendangan memutar beberapa orang anak buah Daniel langsung berjatuhan ke lantai, membuat yang lainnya langsung melarikan diri dari tempat itu.
Iwa segera mengambil koper berisikan sabu-sabu dari tangan Robby.
Ia kemudian mengambil ponselnya dan segera menghubungi Polisi, tidak menunggu lama polisi kemudian datang ke tempat itu dan membawa Daniel dan anak buahnya.
"Jangan khawatir aku pasti akan membersihkan nama kalian, dan segera mengeluarkan kalian dari penjara," ucap Iwa saat polisi juga menggelandang Refan dan Baron.
**********
Siang harinya, Iwa didampingi oleh kuasa hukumnya bergegas menuju kantor polisi untuk membebaskan Refan dan Baron.
Mereka sengaja membawa bukti-bukti untuk membebaskan Refan dan Baron dari tuduhan Daniel.
"Maaf, meskipun mereka tidak terbukti melakukan apa yang dituduhkan oleh pelapor, tetap saja kami akan menahannya karena geng Cobra Hitam sudah meresahkan warga Jakarta. Mereka juga sering memeras para pengusaha dan masih banyak lagi kejahatan lainnya," jawab tim penyidik.
"Tapi itu kasus berbeda, bagaimana mungkin anda langsung menahannya tanpa ada surat perintah penangkapan," sahut pengacara Iwa
"Maaf tapi kami sudah menerbitkan surat penangkapan untuk mereka, silakan anda datang lagi nanti dan bawa bukti-bukti ke pengadilan," Jawab sang polisi
Pengacara itu kemudian keluar dari ruang penyidik dengan wajah penuh kekecewaan.
"Bagaimana??" tanya Iwa
"Sepertinya ada konspirasi lagi, mereka tidak bisa keluar dalam waktu dekat ini," jawab sang pengacara pesimis
"Mungkin memang lebih baik mereka ada didalam untuk sementara waktu. Untuk saat ini penjara adalah tempat teraman bagi mereka, karena sebentar lagi perang besar akan segera dimulai," jawab Iwa
"Kau ini bukan seorang gangster tapi kemampuan analisa mu begitu tepat. Sebenarnya siapa kau ini, kenapa aku tidak bisa membaca pikiranmu meskipun aku sudah mengenalmu?" tanya sang pengacara
"Aku hanya belajar dari pengalaman. Dari dulu sampai sekarang semua teknik menyerang itu sama saja tak ada bedanya. Yang berbeda hanyalah senjata yang mereka pakai," jawab Iwa dengan enteng
"Sekarang kita perlu lebih berhati-hati lagi, karena singa yang terluka akan lebih beringas dari biasanya."
"Tentu saja, sampai jumpa lagi besok," ucap sang pengacara berpamitan.
Keduanya kemudian berpisah di parkiran. Iwa segera meluncur meninggalkan kantor polisi menuju ke Wastu Ares.
Setibanya di kediamannya, Amy langsung menghambur kearahnya dengan Isak tangis.
"Seperti yang aku khawatirkan Rey, hari ini ayahku di tangkap polisi karena diduga sebagai pembunuh Kompol Gilbert dan kasus lainnya," jawab Amy terisak
"Hmm, kamu yang sabar ya Dinda. Aku yakin semuanya akan segera selesai," jawab Iwa
"Maksudnya gimana Kanda?"
"Semuanya akan segera terungkap jadi kau tidak perlu khawatir, jika memang ayahmu harus ditahan itu bukan karena masalah yang dituduhkan kepadanya, tapi ada kasus lain yang memang harus ia pertanggung jawabkan," jawab Iwa
"Apa kasus itu adalah percobaan pembunuhan terhadap dirimu?" sahut Amy balik bertanya
"Salah satunya, tapi kamu jangan sedih Dinda, aku akan membantunya mengungkap siapa pelaku sebenarnya," jawab Iwa tersenyum simpul padanya.
"Sekarang sebaiknya kau pulang dan istirahat saja. Biar aku yang akan mengantarmu pulang," ucap Iwa
Amy segera masuk kedalam mobil Iwa dan keduanya melesat meninggalkan wastu Ares.
**********
Sementara itu Bisma begitu geram saat tahu Daniel menjebaknya.
"Bangs*t, rupanya dia sudah menunjukkan wajah aslinya sekarang. Dasar pengkhianat, beraninya kau menjebak ku untuk menyelamatkan dirimu. Baiklah kita lihat saja siapa yang akan menghuni jeruji besi ini," ucapnya penuh amarah
*Tak, tak, tak!!
Terdengar derap langkah mendekat kearah sel tahanan Bisma. Seorang opsir polisi datang menghampirinya.
"Keluarlah, ada yang menjenguk mu," ucapnya dingin
Bisma segera keluar dari sel setelah sang opsir membuka pintu jeruji besi itu.
Lelaki itu seketika mengepalkan tangannya ketika melihat siapa yang datang mengunjunginya.
*Bugghhh!!!
Sebuah pukulan keras mendarat di wajah Daniel, membuat opsir polisi segera berlari DNA mengamankan Bisma yang berusaha melampiaskan amarahnya.
"Untuk apa kau datang kemari, apa kau sengaja ingin mengejekku?" tanyanya dengan nafas terengah-engah
"Lepaskan saja dia pak polisi, aku yakin dia tidak akan macam-macam. Dia hanya terlalu emosional, aku yakin amarahnya akan segera reda setelah berbicara denganku," ucap Daniel membuat sang opsir polisi segera melepaskan Bisma
Bisma segera merapikan penampilannya dan duduk di hadapan Daniel yang terlihat begitu santai menatapnya.
"Aku tahu perasaanmu sobat, aku minta maaf jika kau harus terlibat dalam kasus ini karena foto itu,"
Daniel membuka perbincangannya dengan ekspresi wajah polos tanpa perasaan bersalah.
"Kau tidak perlu khawatir bro, karena aku akan segera mengeluarkan dirimu dari sini. Kau hanya perlu bertahan sebentar saja, aku yakin semuanya akan bisa dengan cepat aku kendalikan jika kau bisa bersabar sebentar. Kau bisa kan berkorban untuk kemenangan kita?" tanya Daniel berusaha membujuk Bisma
"Cih, kau pikir aku ini bodoh apa. Aku tahu ini kasus yang begitu pelik, dan kau tidak akan bisa mengatasinya. Bukankah itu alasanmu mengorbankan diriku?. Bukti-bukti begitu kuat dan saksi-saksi juga tidak perlu diragukan lagu. Aku yakin kau begitu ketakutan sehingga kau terpaksa memakai kartu AS mu. Tapi aku senang karena akhirnya kebenaran akan terungkap sebentar lagi. Yang namanya bangkai lama kelamaan pasti akan tercium juga. Kau tidak akan bisa terus bersembunyi dan melemparkan kesalahan mu kepada orang lain lagi. Semuanya sudah cukup Niel, aku sudah muak selalu menjadi batu sandungan mu lagi," jawab Bisma kemudian bergegas meninggalkan Daniel.
"Apa yang harus kita lakukan Tuan, apa aku harus menyingkirkannya," bisik asisten Daniel
"Tidak perlu terburu-buru, kita lihat saja dulu apa yang akan dilakukan oleh Bisma."
"Tapi... melihat cara bicaranya sepertinya dia memiliki sesuatu yang bisa menjatuhkan anda ke penjara Tuan," jawab lelaki itu lagi
"Kau tidak perlu khawatir, aku bisa mengendalikan semuanya. Bisma tidak akan berbuat sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri, jadi lebih baik kita serahkan semuanya kepada pihak kepolisian," ucap Daniel segera bergegas meninggalkan lapas.
Sementara itu didalam Sel, Bisma merasa ada yang memata-matai dirinya, bukan hanya opsir polisi namun juga rekan satu selnya juga.
Lelaki itu hanya tersenyum kecut saat mendapati barang-barangnya berserakan di lantai saat ia kembali ke selnya.
"Ambil saja yang kalian inginkan, jika masih kurang katakan saja padaku, aku pasti akan memberikan apa yang kalian minta," ujar Bisma begitu dingin
Ia segera duduk di lantai sembari mengeratkan tangannya.
Rupanya kau benar-benar memata-matai ku, kita lihat saja kejutannya besok pagi,