
*Braakkk!!
Iwa begitu kaget ketika mendengar suara pintu kamarnya di bating oleh seseorang.
Ia segera beranjak dari ranjangnya dan melihat siapa yang datang.
"Kau... bukankah kau seharusnya sudah kembali ke luar negeri," ucapnya terkejut mendengar kedatangan Amy
*Plakkk!!
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah lelaki itu.
"Kau...kau benar-benar berubah Rey, inikah balasan mu setelah apa yang sudah ayahku lakukan padamu!" seru Amy dengan nada tinggi
"Apa maksudmu aku tidak mengerti?" tanya Iwa penasaran
"Cih, jangan pura-pura tidak tahu. Ayahku sudah ikhlas mengembalikan posisi CEO perusahaan kepadamu bahkan dia berjanji akan mengajarimu untuk menjadi CEO yang kompeten. Tapi teganya kau melaporkan ia ke polisi," jawab Amy dengan penuh emosi
"Apa..Melaporkan ke polisi...aku tidak pernah melaporkannya,"
"Jangan bohong, kalau bukan kamu lalu siapa lagi,"
"Meskipun aku tahu ayahmu memang yang mencoba membunuhku, tetap saja aku tidak bisa melaporkannya ke polisi karena kurang cukup bukti. Begitupun untuk kecelakaan yang dialami Paman Utsman dan aku, aku tak bisa melaporkannya Karena lagi-lagi aku tak punya bukti untuk menjeratnya,"
"Tidak ku sangka kau pandai bersandiwara Rey," Amy kemudian meninggalkan Adrian.
"Dinda tunggu...Dinda!" seru Iwa mengejarnya
"Sial, siapa yang sudah melaporkan paman Bisma. Meskipun aku sangat membencinya dan sangat ingin menghukumnya tapi bukan seperti ini caranya,"
Iwa segera kembali ke kamarnya dan berganti pakaian. Pemuda itu kemudian meminta Refan mengantarkannya ke kantor polisi.
Setibanya di sana ia segara menanyakan siapa yang melaporkannya.
"Yang melaporkan kasus ini saya sendiri, dan bukti-buktinya begitu kuat," ucap Iwa begitu takjub ketika melihat bukti-bukti di kepolisian.
Siapa yang memiliki bukti-bukti itu, tidak mungkin Bisma, pasti ada orang lain yang mengetahui kejadian itu.
Iwa segera meninggalkan kantor polisi ketika sudah mendapatkan semua informasi yang ia butuhkan.
Lelaki itu segera menuju ke kantor pusat untuk melihat keadaan di sana.
"Tuan gawat!" seru seorang lelaki menghampirinya.
"Harga saham kita jatuh di pasaran setelah ada berita penangkapan tuan Bisma," imbuh Lelaki itu memperlihatkan grafik saham PE corporation.
"Aku sudah menduganya," jawab Iwa kemudian segera menuju ke ruangannya.
"Cepat kumpulkan dewan direksi di ruang rapat sekarang!" seru Iwa
"Baik Tuan," lelaki itu segera berlari meninggalkan ruangan kerja Iwa
Tenyata begini perang di dunia modern, bukan memakai senjata tapi menggunakan otak, baiklah kalau begitu. Aku harus menemukan dulu siapa dalang di balik penangkapan Bisma dan apa tujuannya?.
Iwa segera menuju ruang rapat dengan membawa beberapa dokumen di tangannya.
"Tujuan saya mengadakan rapat hari ini adalah untuk membahas tentang harga saham kita yang anjlok di pasaran, aku berharap kepada kalian semua untuk membantu saya menangani krisis ini dengan tetap menjaga kinerja dan juga jangan panik meskipun harga saham nanti akan semakin anjlok. Tetap fokus bekerja dan biarkan aku yang akan menahan floating saham kita. Dan aku harap kalian segera mempersiapkan pelantikan ku sebagai CEO resmi PE corporation menggantikan Paman Bisma, demikian pemberitahuan saya terimakasih." ucap Iwa
"Mengadakan upacara pelantikan dalam situasi seperti ini yang benar saja Tuan Muda,"
"Lakukan saja perintah ku dan kalian akan tahu nanti,"
"Wah ternyata dia ingin buru-buru menjadi CEO perusahaan makanya dia memenjarakan pamannya sendiri, benar-benar kejam,"
*Braakkk!
Semua orang terkejut ketika Iwa membanting pintu ruang rapat.
"Ah, dasar anak muda kenapa mudah sekali marah,"
********
"Apa kau tahu siapa saja musuh-musuh paman Bisma?" tanya Iwa
"Tentu saja aku tidak tahu Rey, aku baru bekerja disini jadi tidak tahu apa-apa. Kenapa kau tidak mencari tahu sendiri dari Tuan Bisma," jawab Refan
"Benar, kalau begitu ayo kita temui dia," ujar Iwa segera mengambil jaketnya
"Sekarang?"
"Hmm,"
Regan segera menyusul Iwa menuju parkiran. Refan segera meluncur menuju Rumah tahanan tempat Bisma di tahan.
Setibanya di Iwa segera menemui Bisma.
"Untuk apa kau menemui ku, setelah kau mengurung ku di neraka ini," ucap Bisma sinis
"Apa kau juga berpikir aku yang melaporkan dirimu?" jawab Iwa balik bertanya
"Kalau bukan kau lalu siapa lagi, hanya kau satu-satunya orang yang sangat membenciku dan ingin membalas dendam atas apa yang aku lakukan padamu bukan?"
"Walaupun aku sangat ingin membalas dendam kepada mu tapi kau tahu aku tidak punya bukti-bukti untuk menjebloskan mu ke penjara. Kau tahu aku harus merangkak dari Mojokerto menuju ke Jakarta agar bisa kembali lagi. Lalu darimana aku dapat bukti-bukti kau mendorong ku dari Roof top Rumah sakit, apa aku ini Jin yang bisa menghilang, coba pikirkan itu," sahut Iwa
"Kau benar, lalu siapa yang ingin menjatuhkan aku?" tanya Bisma
"Dia bukan ingin menyingkirkan dirimu, tapi ia hanya ingin menghancurkan PE corporation," Iwa kemudian membuka ponselnya
"Lihatlah, harga saham kita langsung anjlok di pasaran saat ada berita penahanan dirimu. Aku yakin ada konspirasi lain yang mempengaruhi harga saham kita yang terus jatuh di pasaran." tukas Iwa
"Hanya kau yang tahu siapa pelakunya, jadi bantu aku menemukan siapa dalang semua ini," imbuhnya
Tidak mungkin Daniel pelakunya, dia sangat ingin membantuku. Tapi....
Bisma teringat ucapan Daniel.
"Untuk membunuh parasit di tubuh kita, tentu saja kita harus mengorbankan sesuatu yang berharga dalam diri kita juga. Kau harus merelakan rambut indah mu rontok demi membasmi kutu di kepalamu."
Tidak mungkin, aku yakin bukan Daniel. Pasti ada orang lain,
"Coba beritahu aku siapa kompetitor perusahaan kita yang paling besar?" tanya Iwa membuyarkan lamunan Bisma
"Median Group," jawab Bisma
"Terimakasih paman," jawab Iwa
"Aku yakin hanya kau yang tahu siapa pelakunya, jadi kalau kau mencurigai seseorang beritahu padaku karena aku akan membantumu paman,"
"Apa kau bisa mengeluarkan aku dari penjara meskipun bukti-buktinya sudah kuat??"
"Tentu saja, aku bisa mengeluarkan mu,"
"Jangan terlalu yakin, kau tidak tahu siapa yang kau hadapi sekarang," sahut Bisma
"Dulu aku mungkin orang bodoh yang tidak tahu apa-apa sehingga banyak yang merendahkan aku dan menganggap ku manusia sampah. Tapi semuanya sudah berbeda paman. Seperti ucapan mu setumpul-tumpulnya pisau pasti akan tajam jika setiap hari diasah bukan?. Jadi jangan remehkan aku lagi, karena aku bisa membalikkan semuanya sekarang," jawab Iwa beranjak dari duduknya.
"Jika kau berubah pikiran segera hubungi aku," Iwa kemudian bergegas meninggalkan Bisma
Melihat Adrian sudah meninggalkannya, Bisma segera mengambil ponselnya dan menghubungi Daniel.
"Halo,"
"Ada apa kau menelpon ku?"
"Apa kau yang melaporkan aku ke polisi?" tanya Bisma
"Tentu saja tidak, lagipula aku di pihak mu dan aku yang memintamu untuk mundur dari jabatan mu, jadi untuk apa aku menyeret mu ke Penjara. Lagipula aku yang akan rugi jika kau pergi dari PE corporation bukan?" jawab Daniel
Lalu kalau bukan dia siapa, aku yakin tidak ada seorangpun yang tahu aku berusaha menyingkirkan Adrian selain Daniel? .