
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Refan membuat Amy langsung terbangun dan melepaskan diri dari pelukannya
"Ah, aku gak papa," jawabnya segera merapikan penampilannya.
"Terimakasih sudah menolong ku," imbuhnya kemudian meninggalkan Refan.
"Pagi ikan hiu ku?" sapa Amy menghampiri Iwa di ruangannya
"Siang Dinda," jawab Iwa datar
"Ah.. ternyata sudah siang ya, aku kira masih pagi," Amy segera mengeluarkan kotak makan yang dibawanya.
"Apa kau sengaja membawa bekal makan siang ini untukku?" tanya Iwa berbinar-binar
"Tentu saja, aku sengaja membawakannya spesial untuk mu," jawab Amy
"Terimakasih Dinda," jawab Iwa segera duduk dan menikmati makanannya.
"Sekarang kamu tinggal dimana?" tanya Amy hati-hati
"Aku tinggal di apartemen,"
"Kenapa keluar dari wastu Ares?" tanya gadis itu lagi
"Aku ingin memberikan kepada mereka apa yang seharusnya menjadi milik Bibi Kartika dan juga Refan," jawab Iwa
"Tapi bukan berarti kau harus menyerahkan wastu Ares kepada mereka. Ingat...wastu Ares adalah milik ibumu jadi, jangan pernah memberikan rumah itu untuk siapapun, karena itu adalah hadiah dari ibumu untuk putra kesayangannya yaitu kamu. Kau tahu kenapa rumah itu dinamakan wastu Ares?" tanya Amy
"Karena ibumu berharap kau menjadi lelaki yang kuat seperti Dewa Ares, dia sangat ingin kau berubah tidak lemah seperti sekarang. Kau harus tetap semangat meski semua orang ingin menghancurkan dirimu, ingat...aku akan selalu mendukungmu," ujar Amy memberinya semangat
"Terimakasih Dinda," jawab Iwa kemudian memeluknya.
Refan yang diam-diam mengamati Amy dan Iwa tersenyum sinis dan meninggalkan tempat itu.
Sementara itu di tempat berbeda Bisma sengaja mengunjungi Kartika di wastu Ares.
*Tok, tok, tok!!
Kartika segera membuka pintu rumahnya dan melihat siapa yang datang. Betapa terkejutnya ia saat melihat Bisma menyambangi kediamannya.
Wajahnya seketika pucat pasi saat melihat seringai si wajah Bisma.
"Lama tidak bertemu Tika, apa kabar sayang?" sapa lelaki itu membuat Kartika ketakutan dan menjauhinya.
Ia mencoba melarikan diri dari Bisma namun dengan cepat lelaki itu segera meraih lengannya dan menarik wanita itu kedalam pelukannya.
"Wanita jal*ng yang sudah aku pungut dari pinggir jalan jangan berharap akan menjadi Ratu dan menguasai harta keluargaku. Kau hanyalah seorang pungguk yang merindukan bulan jadi jangan bermimpi untuk menguasai PE Corporation. Kalau kau masih ingin putramu selamat maka jangan pernah mengusik PE Corporation atau aku akan memberitahukan kepada semua orang siapa ayah biologis putramu itu," bisik Bisma mengancam wanita itu
Seketika wajah Kartika berubah pias mendengar ucapan Bisma, raut wajah ketakutan jelas terpancar dari sorot matanya.
Namun ia berusaha menutupi ketakutannya dengan sikap elegannya.
"Silakan saja aku tidak takut, lagipula aku justru senang jika kau mengungkap siapa ayah biologis putraku. Bukankah dengan begitu semua orang akan tahu jika dia adalah putra sah Prawiro Edy," jawabnya sinis
"Hahahaha!!" Bisma tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Kartika
"Kau boleh saja membohongi semua orang jika kakakku adalah ayah dari anakmu, tapi tidak dengan diriku. Apa kau lupa yang kita lakukan sebelum aku membawa mu kemari?" ucap Bisma balik bertanya
"Kau,_" Kartika segera mendorong tubuh Bisma menjauh darinya.
Wanita itu berusaha bersikap tenang meskipun sekujur tubuhnya sudah mulai bergetar setelah mendengar ucapan Bisma. Ia tahu persis apa yang terjadi antara dia dan Bisma dua pulih dua tahun yang silam.
Melihat ketakutan di wajah Kartika membuat Bisma merasa menang karena telah mampu menjatuhkan lawannya.
"Jangan takut sayang, aku tidak akan pernah mengusik kalian jika kau juga tidak mengusikku, jadi hiduplah dengan damai. Syukuri apa yang sudah diberikan almarhum kakakku padamu dan jangan pernah berharap sesuatu yang bukan milikmu, karena kau hanya akan terluka," ucap Bisma merapikan baju Kartika.
Ia kemudian mencium kening wanita itu, "Aku akan berusaha menjadi ayah yang baik untuk putramu, jadi jangan khawatir." ujar Bisma kemudian meninggalkan wanita itu.
Kartika terduduk di kursi tamu dan menghela nafas panjang.
"Dia datang dan mengancam ku, sebaiknya kau singkirkan dia sebelum ia mengacaukan rencana kita," ucapnya kemudian mematikan ponselnya.
**********
Bisma menyeringai ketika sebuah mobil mengikutinya.
"Dasar jal*ng sialan, rupanya kau ingin membunuh ku, hahahaha!" ucapnya terkekeh
Bisma menginjak gas mobilnya dan melesat meninggalkan mobil yang terus membuntutinya.
*Ciiittt!!
Ia menghentikan mobilnya saat sebuah mobil menghadangnya.
Beberapa orang berbadan gempal segera turun dan menyambangi mobil Bisma. Lelaki paruh baya itu hanya tersenyum tipis ketika mereka menggedor-gedor kaca mobilnya.
"Dasar brengsek, kalian pikir bisa menyingkirkan aku dengan mudah," ucap Bisma menyeringai
Saat para pria itu hendak memecahkan kaca mobil Bisma, tiba-tiba puluhan anak pang menyerang mereka.
Pertarungan antara dua geng pun berlangsung sengit.
***********
Sementara itu sebuah garis polisi terpasang melintang di Wastu Ares. Tak seorangpun boleh boleh memasuki kediaman almarhum Prawiro Edy selama masa penyidikan.
Refan terlihat murung dan begitu gusar di samping mayat ibunya yang masih terbaring di rumah duka.
Ketika Iwa datang untuk melayat, Refan justru mengusirnya. Pemuda itu mengira jika Iwalah yang sudah menghabisi nyawa ibunya.
"Jangan pernah injakan kakimu di tempat ini, aku tidak Sudi menerima kedatangan mu ataupun air mata palsu mu itu!" hardik Refan
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, tapi satu yang pasti ... aku bukan pembunuh ibumu," sahut Iwa
"Semua orang boleh kau bodohi dengan alibi palsu mu tapi tidak dengan diriku," tukas Refan melemparkan sebuah kertas kepadanya
Iwa segera mengambil kertas itu dan membacanya.
Jika sesuatu terjadi padaku, maka satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab adalah Adrian Prawiro. Karena dialah yang sering meneror ku beberapa hari ini. Dia selalu mengancam akan membunuhku jika aku memberitahukan kepada publik bahwa Refan adalah anak kandung Prawiro Edy.
Kebo Iwa menghela nafas panjang setelah membaca surat wasiat tersebut.
"Kenapa kau percaya dengan surat seperti ini, bukankah siapapun bisa membuatnya dan meletakan di samping mayat Ibumu. Kenapa orang pintar seperti dirimu menjadi bodoh ketika berada dalam kesedihan. Jangan terprovokasi oleh apapun, karena aku yakin ada seseorang yang sengaja memanfaatkan situasi ini untuk membuat hubungan kita menjadi renggang. Kau harus percaya bahwa aku bukanlah pembunuh ibumu, aku bisa membuktikannya," terang Iwa kemudian meninggalkan kediaman Refan
Lelaki itu sengaja membawa surat wasiat Kartika. Malam itu juga diam-diam Iwa menyusup di wastu Ares. Meskipun polisi masih menjaga rumah itu, Iwa berhasil masuk kedalamnya tanpa seorangpun yang mengetahuinya.
Pemuda itu kemudian menyisir lokasi TKP untuk mencari sesuatu. Cukup lama ia berada di tempat itu namun tak menemukan apapun.
"Sial, mereka begitu rapi sehingga tidak ada jejak yang tertinggal." Iwa yang putus asa berjalan gontai meninggalkan kamar Kartika.
Saat ia mendongakkan kepalanya, ia terkejut melihat CCTV di depan kamar Amy.
"CCTV, kenapa aku lupa jika rumah ini dilengkapi dengan banyak CCTV. Aku yakin bisa menemukan siapa pelakunya dari rekaman CCTV,"
Iwa kemudian segera bergegas menuju ruang security untuk memeriksa rekaman CCTV di rumahnya.
"Sial, dia sengaja menghapus rekaman CCTV nya." Iwa begitu putus asa saat tidak mendapatkan jejak pembunuh Kartika
"Kalau seperti ini aku bisa saja menjadi tersangka pembunuhan Bibi Kartika,"
Saat lelaki itu bergegas meninggalkan pos security, seorang lelaki tua menghampirinya.
"Tuan muda tunggu!"
Iwa menghentikan langkahnya dan menoleh kearah lelaki tua itu.
"Maaf Tuan, aku hanya ingin memberikan arloji ini padamu. Aku tidak tahu itu milik siapa, tapi aku menemukannya setelah Tuan Bisma berkunjung ke wastu Ares sehari sebelum kematian Nyonya Kartika," ucap lelaki itu membuat Iwa terkejut