My Immortal

My Immortal
Kabur dari Pulau



Beberapa pria bertubuh kekar dan bersenjatakan pistol segera mengepung dan menodongkan senjata api mereka kepada para penduduk pulau.


Sang Kepala desa tak bisa berkutik apalagi melawan, ia hanya bisa mematuhi perintah lawan dengan menjatuhkan senjatanya.


Tidak lama seorang lelaki tampan dengan penampilan khas seorang CEO mendekati sang kepala Desa.


Pria Flamboyan berwajah campuran Indonesia Prancis itu tersenyum simpul dan menghampiri mereka.


"Oo...ternyata ada pencuri yang berusaha mengambil ikan ku," ucapnya menyeringai


Adrian segera menutupi wajahnya saat melihat lelaki itu. Pemuda itu benar-benar terkejut melihat lelaki blasteran di depannya itu.


"Pulau ini adalah tanah kelahiran kami, jadi kami bebas mengambil ikan dan kekayaan laut yang ada di sini. Kalian bukan pemilik pantai ini camkan itu," tandas kepala desa


Tentu saja ucapan sang kepala desa membuat lelaki itu berang. Ia segera menghampiri lelaki itu dan berbisik padanya, "Kau terlalu lancang apak tua," ucapnya kemudian menyayat leher kepala desa dengan belati hingga lelaki itu tumbang.


Ia sengaja menutupi luka sayatan di lehernya dengan tangannya agar darahnya berhenti mengalir. Lelaki itu beringsut mundur dan sengaja mengusapkan darahnya ke wajah Rey.


Seakan ia tahu jika Rey mengenal lelaki penguasa pulau, kepala desa pun membisikkan sesuatu kepadanya.


"Kau harus tetap hidup dan selamatkan para penduduk pulau," bisiknya


Saat melihat sang kepala desa masih bernafas Robbin Edward segera menembaknya hingga ia tewas seketika.


Adrian hanya bisa memejamkan matanya sembari mengepalkan tangannya saat sang kepala Desa menghembuskan nafas terakhirnya diatas tubuhnya.


Kau akan membayar semuanya Rob, aku bersumpah akan membunuhmu dan juga anak buah mu.


Saat Robby dan anak buahnya telah pergi meninggalkan tempat itu, Adrian segera menyingkirkan tubuh kepala desa dan segera bangun dan berdiri.


Lelaki itu menatap lekat para penduduk pulau yang tewas di tangan Robby.


"Ternyata kau sama saja dengan Daniel, kalian begitu bengis," ujarnya pilu


Setelah selesai menguburkan mereka, Adrian segera kembali ke pemukiman.


Kembali Adrian di buar tercengang saat melihat Robby menggiring para penduduk untuk menaiki sebuah kapal Ferry.


"Ternyata kau berhasil mengusir mereka Rob, baiklah kalau kau bisa mengusir para penduduk pulau dari tanah kelahirannya, maka aku pun bisa mengusir mu dari pulau ini," Adrian segera bergegas menuju ke sebuah gudang milik Robbin.


Lelaki itu dengan mudah menerobos masuk karena tak ada satupun anak buah Robby yang berjaga di sana. Semuanya sibuk mengurus pemindahan penduduk pulau ke Jakarta.


Rey tersenyum sumringah saat melihat tumpukan heroin di tempat itu.


"Ternyata dia yang menyembunyikan obat-obatan terlarang milik Hellen."


Kau boleh saja menguasai pulau ini, tapi kau juga akan kehilangan harta karun mu yang tersimpan di pulau ini.


Adrian kemudian menyiram satu jerigen solar dan membakar gudang itu.


Mendengar ada suara anak buah Robbin memasuki gudang, Rey segera keluar dari tempat itu melalui pintu belakang.


"Kebakaran!!" seru anak buah Robby kalang kabut.


Bukannya memadamkan api dengan air mereka malah menyiramkan solar yang sengaja di taruh Adrian didepan pintu masuk.


Api yang semakin membesar membuat mereka berlari keluar untuk menyelamatkan diri.


"Gawat Bos," tukas anak buah Robby dengan wajah panik.


"Katakan ada apa, kenapa kalian seperti dikejar setan!" sahut Robby


"Gudang kita terbakar Bos," jawab lelaki itu menunduk


"Brengsek, kenapa kalian malah kemari bukannya memadamkan apinya!" hardik Robby mengguncang tubuh lelaki itu


"Cepat semuanya padamkan apinya!" seru Robby


"Lalu bagaimana dengan para penduduk pulau Bos?" tanya anak buahnya


"Biarkan saja, aku tidak peduli!" sahut Robby acuh


Lelaki itu kemudian menyuruh semua anak buahnya untuk segera memadamkan api yang melahap gudang obat-obatan terlarang itu.


Dasar bodoh, meskipun kau mengerahkan pemadam kebakaran sekalipun, heroin itu sudah tak bisa diselamatkan lagi karena aku sudah lebih dulu membakarnya,


Rey tersenyum simpul menatap kekalutan di wajah Robby. Saat Robby dan anak buahnya sibuk memadamkan api, pemuda itu menghampiri para penduduk pulau dan meminta mereka segera naik kapal Ferry yang sudah berlabuh di pantai.


Ia kemudian duduk di belakang kemudi dan segera melesat meninggalkan pulau.


Robby begitu geram saat mendapati semua obat-obatan terlarang miliknya telah hangus menjadi abu.


"Aarrgghh, sialan!!" teriaknya geram


Robby kemudian berlari menuju ke pantai, kemarahannya semakin memuncak ketika mendapati kapal Ferry miliknya sudah berlayar meninggalkan pula.


"Anj*ng, siapa yang mencoba bermain-main denganku!" ucapnya mengeratkan genggaman tangannya.


**************


Setelah hampir empat jam lamanya diatas kapal Ferry, Adrian akhirnya tiba juga di pelabuhan Tanjung Priok. Ia kemudian memerintahkan para wanita itu untuk segera turun dari kapal.


Ia kemudian menyewa sebuah angkot untuk mengangkut penduduk pulau menuju ke apartemennya.


"Apa bapak punya handphone?" tanya Rey


"Tentu dong Mas, emangnya kenapa?" sahut sang sopir


"Boleh pinjam sebentar?" pinta Adrian


"Tentu saja Mas, boleh. Mau nelpon mau Wa semuanya bisa," sahut lelaki itu memberikan ponselnya kepada Adrian


"Terimakasih pak," sahut Rey kemudian mengambil ponsel itu


Pemuda itu segera mengetik nomor Baron dan menghubunginya.


"Halo Bar, ini aku Rey."


Seperti mendapat telepon dari malaikat maut, Baron segera membuang ponselnya.


"Hal Bar, Baron!" seru Rey saat tiba-tiba panggilannya terputus.


"Ah sial!" pekiknya


Ia kemudian kembali menghubungi sahabatnya itu.


"Halo, tolong jangan dimatikan sebelum gue selesai ngomong," tukas Rey geram saat Baron kembali mematikan ponselnya


"Brengsek, dia pasti mengira aku sudah mati makanya selalu mematikan ponselnya." gerutunya


Adrian kemudian segera melakukan swafoto dan mengirimkannya kepada Baron.


Baron kembali membuka ponselnya saat melihat notifikasi pesan masuk.


"Apa benar dia Rey, dan dia masih hidup??"


Tanpa ragu Barry segera menghubungi nomor ponsel itu. Setelah cukup lama berbincang dengan Adrian keduanya sepakat bertemu di apartemen pribadi Rey di kawasan Kelapa gading.


Baron segera menyambut kedatangan sahabatnya itu didepan gerbang apartemen.


"Welcome back bro!" seru Baron memeluknya erat


"Thanks sob, sekarang tolong urus semuanya, aku lelah," ujar Adrian menunjuk kearah sopir angkot dan para penduduk pulau.


"Ok," Baron segera membayar ongkos angkot dan mengajak para penduduk pulau masuk kedalam apartemen.


"Untuk sementara waktu kalian bisa tinggal disini sampai aku bisa merebut kembali pulau itu dari Robby si gay brengsek itu," ujar Adrian


"Kalau mereka tinggal disini, terus kita tinggal dimana?" tanya Baron


"Ada satu tempat yang akan menjadi tempat yang aman untuk kita sekaligus menjadi markas kita," sahut Rey sembari mengemasi pakaiannya


"Aku tidak tahu kenapa kau membawa banyak wanita kemari, bisa kau ceritakan padaku ada apa sebenarnya?" tanya Baron mendesaknya.


"Siap,"


Baron kemudian segera membuka ponselnya dan memesan makanan melalui aplikasi online.


Hanya berselang lima belas menit makanan pun sudah tiba di tempat itu.


Baron hanya bisa menelan salivanya saat melihat Adrian begitu lahap menyantap makanannya. Begitu lahapnya hingga pemuda itu sampai menghabiskan tiga porsi bakmi.


"Kau pasti sangat kelaparan di sana," tukas Baron menepuk-nepuk pundaknya


"Benar Bar, susah sekali mendapatkan makanan disana," sahut Rey


"Memangnya kau tersesat dimana selama ini,"


"Aku di buang ke sebuah pulau terpencil di kepulauan seribu," jawab Adrian membuat Baron tercengang


"Apa kau menemukan sesuatu disana?" telisik Baron


"Of course, dan kau tahu siapa yang aku jumpai di pulau itu?" jawab Adrian balik bertanya


"Siapa??"


"Robby, Robbin Edward," jawab Adrian membuat Baron mbelalakkan matanya


"Robby??"


"Lo pasti lebih kaget jika melihat dia yang sekarang. Dia berbeda dengan Robby yang kita kenal, dia bukan lagi gay yang gemulai tapi dia adalah Robbin yang kejam dan bengis." imbuh Rey


"Apa semua ini ada hubungannya dengan Daniel?" tanya Baron


"Tentu saja, sudah kukatakan jika Daniel lah yang membunuh Amy, aku yakin dia membunuhnya untuk mendapatkan semua kekayaannya sama seperti yang paman Bisma lakukan sebelumnya padaku," jawab Adrian


"Tapi semua itu belum terbukti. Polisi bahkan menduga pelaku peledakan pesawat adalah teror*s yang sama yang juga melakukan pemboman di Wastu Ares,"


"Untuk itu kita harus mencari buktinya, aku sudah tidak percaya lagi dengan polisi." tandas Rey kemudian membawa kopernya.


*********


*Plaakkk!!


Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Robbin saat pemuda itu menemui seorang lelaki di sebuah club malam.


"Dasar tak bisa diandalkan, kau tahu berapa harga semua obat-obatan itu hah!" teriak lelaki itu kemudian melepas tendangannya kearah Robby hingga ia terjungkal ke lantai


"Kau tahu ... berapa banyak yang sudah aku habiskan untuk mendapatkan barang itu," imbuhnya kemudian menginjakkan kakinya tepat di dada Robby


"Sekarang aku tidak mau tahu... cari para penduduk pulau itu, aku yakin mereka tahu siapa pelakunya," ujar lelaki itu kemudian mengangkat kakinya


Robbin segera bangun dan merapikan pakaiannya.


"Baik Bos," ucapnya sembari memegangi perutnya


***************


Pukul 21.00 di Night Club milik Bridav.


Leona berjalan memasuki bar, wanita itu tersenyum sinis saat para penari striptis mulai beraksi diatas panggung.


Wanita itu segera naik ke lantai atas. Betapa terkejutnya ia saat melihat seorang pemuda duduk duduk di kursi milik Bridav.


Karena emosi, Leona segera menghampiri lelaki itu dan menyeretnya.


"Siapa kau, berani-beraninya duduk di kursi ini!" serunya kemudian menarik kemeja lelaki itu.


"Ups, santai saja Lea." sahutnya dengan santai


Pemuda itu kemudian melepaskan tangan Leona yang mencengkeram kemejanya.


"Bagaimana kabarmu?" tanya seorang lelaki lain menghampiri keduanya


"Bagaimana kau bisa mengabaikan aku padahal kau tahu aku adalah putri dari bosmu Bridav," ucap Leona menatap lelaki itu sinis


"Sorry Lea, aku hanya menjalankan amanah dari bang Bri untuk menjalankan bar ini," jawabnya enteng


"Menjalankan Bar, amanah??, hahahaha. Yang benar saja, jangan mengada-ada Steve, kau tahu persis siapa pewaris tahta kerajaan Bridav, jadi jangan alibi yang akan menyulitkan dirimu sendiri," sahut Leona mengguncang tubuh lelaki paruh baya itu


"Aku tahu kau pasti kecewa karena Bri lebih memilih aku untuk mengelola bisnisnya. Tapi kau juga harus sadar diri Lea, tak ada satupun mafia yang menerima seorang wanita seperti dirimu. Bri menerima mu karena ia hanya membutuhkan keahlian mu sebagai seorang hacker terbaik tidak ada yang lebih," terangnya


Lelaki itu kemudian membuka laci meja kerja Bridav dan memberikan sebuah dokumen kepada Leona.


"Bacalah, jika kau tidak percaya!" serunya


Leona segera membuka map itu dan membacanya. Leona merasa sesak saat membaca dokumen itu, dengan mata berkaca-kaca gadis itu segera merobek surat wasiat itu.


"Seberapa pun usahamu untuk merebut Bar ini dariku, kau tak akan pernah berhasil Steve. Karena aku memiliki surat wasiat Ayah Bridav yang asli. Jadi enyahlah dari sini sebelum aku menyingkirkan kalian dengan paksa!" ucap gadis itu dengan mata berkilat-kilat


"Hahahaha!!" Steve tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan gadis itu.


"Kau terlalu percaya diri Lea," ucapnya melirik kearah Robby


Seakan tahu keinginan Steve, Robby segera menyerang Leona, beruntungnya gadis itu langsung menghindari serangannya.


Melihat Leona masih bisa menghindari serangan Robby membuat Steve naik darah.


Lelaki itu segera melepaskan jap beruntun kearahnya membuat Leona segera melindungi wajahnya dari serangan bertubi-tubi Steve.


Menghadapi dua orang sekaligus membuat gadis itu harus mau tidak mau harus melawan mereka


Dia tak bisa lagi terus bertahan, apalagi Steve begitu membabi-buta menyerangnya. Seolah ingin membunuh gadis itu Steve tak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk menyerangnya setiap ada kesempatan.


Saat Leona terhuyung-huyung setelah terkena tendangan Robby, Steve langsung melepaskan tendangan mautnya hingga membuat Leona terhempas menghantam jendela kaca dan jatuh ke lantai bawah.


*Pranggg!!


"Aaaaaa!!" terdengar suara teriakan para pengunjung Bar saat melihat tubuh Leona jatuh bersimbah darah dari lantai dua.


Dengan susah payah Leona mencoba untuk bangkit, namun Robby dengan cepat menyeretnya dan membawa gadis itu menemui Steve.


"Sayang sekali, satu-satunya ahli waris Bridav harus mati sia-sia. Kau tahu alasannya kenapa?" tanya lelaki itu menyeringai


Leona menatap sinis lelaki itu kemudian menyemburkan ludahnya tepat di wajah Steve.


"Sudah ku duga orang licik seperti mu akan melakukan apapun demi mendapatkan kerajaan bisnis ayahku," ucap gadis itu sini.


Steve hanya mengangkat bahu dan kemudian membersihkan wajahnya dengan saputangannya.


Ia berjalan menghampiri gadis itu kemudian menjambaknya.


"Karena itulah aku harus membunuh mu," bisik Steve kemudian menyumbat mulut Leona dengan saputangannya.


Lelaki itu kemudian mengambil pistol dan segera memeriksa pelurunya.


"Aku bukan psikopat yang suka menyiksa seseorang. Aku akan segera mengakhiri hidupmu dan membuat kematian mu begitu cepat tanpa kau harus merasakan kesakitan yang begitu lama," ucap lelaki itu kemudian menodongkan pistolnya kepada Leona.


"Berdoalah semoga kau bisa bertemu ayahmu di Neraka,"


Leona hanya memejamkan matanya saat lelaki itu menarik pelatuk pistolnya.


*Buuggghhh!!!


Sebuah tendangan keras melesat menghantam tubuh Steve hingga lelaki itu terjerembab ke lantai.


Mengetahui ada yang menyelamatkannya, Leona segera melepaskan sikutannya kearah Robby hingga pemuda itu terhuyung-huyung dan melepaskannya.


Baron segera menarik lengan gadis itu dan membawanya kabur dari night club.


"Baron!!!" seru Steve begitu berang


"Kejar mereka dan jangan biarkan mereka lolos!" serunya membuat semua anak buahnya segera mengejar Baron dan Leona.