My Husband

My Husband
THE AND



#GUS_ZHAFRAN_MY_HUSBAND


#THE_END


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Hay Gaeyss ... utamakan Ibadah sebelum membaca, oke!


___________________


Happy reading.


15 tahun kemudian.


Terlihat seorang wanita umur 32 tahun sedang memeriksa kembali barang-barang putranya yang akan sebentar lagi berangkat ke negri orang untuk melanjutkan pendidikannya.


Air mata wanita itu menetes membasahi pipinya. Dia tidak menyangka hidupnya akan sampai ke titik ini.


Menikah dengan seorang Gus membuat hidupnya lebih baik hari demi hari. Dia tidak tahu jika ayah dan bundanya tidak menjodohkan dengan Abidzar Zhafran Al-Ghifari entah hidupnya sekarang seperti apa.


Mengenai Bundanya, wanita hebat yang telah melahirkannya ke dunia sudah tiada beberapa tahun yang lalu karena sebuah penyakit. Sedangkan kedua mertuanya pun sama, mereka sudah menghadap ilahi beberapa tahun yang lalu.


"Umi ...," panggil Azzam.


Cowok remaja itu terlihat sangat tampan, persis dengan Abi-nya, tapi sifatnya sangat bertolak belakang, jika Zhafran termasuk pria yang pendiam, dingin dan cuek, maka Azzam lebih mengikuti sifat Uminya.


"Maa syaa Allah," puji Aza saat melihat putranya yang sangat tampan dengan jubah berwarna hitam lengang panjang membuat seorang Habibi Azzam Al-ghifahri terlihat sangat tampan dan dewasa.


"Bagaimana umi? Habibi udah ganteng belum?" tanya Azzam dengan menyebut dirinya menggunakan nama depannya.


"Habibi nya Umi ganteng banget," sahut Aza tersenyum sembari berdiri dan berjalan kearah Putranya.


" Milih Abi Zhafran atau Habibi, Umi sayang?" tanya Azzam dengan alis naik turun menggoda Uminya.


"Dua-duanya," sahut Aza sembari membenarkan peci putranya. Wanita itu menjinjit agar bisa menyamai tinggi Putranya.


"Harus pilih sala satunya, Umi."


"Umi milih Habibi," ujar Aza tersenyum dan mencubit pipi putranya dengan gemes.


"Habibi tau, di hati Umi pasti milih Abi kan? Umi gak usah boong ama Habibi, Habibi tau kok, kata Ayah Ali, Umi itu bucin ama Abi,"


Aza tertawa kecil mendengar perkataan putranya. "Umi milih Abi karena Abi-nya Habibi suami Umi. Umi milih Habibi karena Habibi buah cinta Abi sama Umi, jadi jangan buat Umi berada di pilihan itu, oke Boy."


"Kalo gitu jangan buat Habibi milih antara Naya dan Aisyah."


Mata Aza melebarkan mendengar nama anak Ali dan Azka keluar dari mulut Putranya.


" ... Karena mereka memiliki posisi yang berbeda, tapi sama-sama penting dalam hati Habibi."


Aza semakin di buat syok. "Habibi masih mau sekolah atau gak?"


"Mau dong, Umi."


"Kalo gitu, Habibi gak boleh mikirin cewek, atau Habibi udah mau nikah?" tanya Aza.


"Idih ..., Umi berperan banget sih. Habibi kan cuman bercanda,"


"Habibi, dengerin Umi, Habibi gak boleh mainin hati seorang wanita, ingat ...! Umi Habibi seorang wanita, Adik Habibi juga seorang wanita, jika Habibi menyakiti hati seseorang wanita, berarti Habibi sudah menyakiti hati Umi dan Azzima," tutur Aza pada putranya.


" ... Habibi akan meninggalkan pesantren untuk belajar, tapi Habibi tidak akan meninggalkan apa yang Abi dan Umi ajarkan, oke!"


"In syaa Allah, Umi." Azzam mengangguk.


"Abi kamu dimana iya, kok belum balik?" tanya Aza setelah melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 08:00 pagi dan sebentar lagi putranya akan berangkat, mereka harus mengantarkan ke bandara.


"Habibi juga gak tau, Umi."


"Azzima dimana?" tanya Aza lagi.


"Gak tau, Umi."


"Reyhan dimana?" tanya Aza saat mengingat putra bungsunya itu.


Iya, Azzima dan Azzam masih memiliki adik laki-laki yang usianya lebih mudah dua tahun dari mereka.


"Pasti si kulkas 12 pintu itu masih tertidur, Umi kan tau sendiri, kalo dia suka tidur setelah solat subuh."


"Astaghfirullah aladzim." Aza langsung berjalan keluar dari kamar anak pertamanya dan masuk ke dalam kamar putra Bungsunya.


Dan benar saja, Arsyad Reyhan Al-ghifahri sedang tertidur diatas ranjang masih menggunakan baju kokoh dan sarung serta kopiah hitam diatas kepalanya yang tak terbentuk lagi pada posisinya.


"Astaghfirullah aladzim, Reyhan." Aza mengguncang tubuh putranya agar bangun.


"Gus Reyhan, bangun ...!"


"Reyhan ...!"


Tidak ada jawaban. Aza benar-benar pusing semenjak menjadi seorang ibu dan menghadapi anak-anak yang berbeda-beda karakter.


"Hmmm ...!" gumam Reyhan tanpa membuka matanya.


"Bangun, cepat! Umi hitung sampai tiga, kalo Reyhan belum bangun, Umi siram pake air. Satu ... dua ... tig—"


Belum selesai Aza menghitung putra bungsunya itu sudah duduk tanpa membuka matanya.


"Buka matanya,"


Reyhan membuka matanya dengan paksa.


"Mandi, kita akan mengantar Abang ke bandara."


Tanpa mengeluarkan suara apapun, Reyhan turun dari ranjangnya dan berjalan kearah kamar mandi.


***


"Astaghfirullah aladzim, Azzima ...!" teriak seorang pria paru baya setelah melihat putrinya berada di atas pohon mangga.


Jantung pria 40 tahun itu berdegup kencang saat ini karena ulah putri semata wayangnya.


"Uhuuuyyy ... Abi ganteng!" teriak Azzima pada Abi-nya yang ada di bawah pohon mangga.


"Azzima, Abi bilang turung ...!"


"Apa, Bi? Abi mau mangga juga? tunggu bentar Azzima ambilin dulu." Gadis 17 tahun itu mengeluarkan ketapel yang ada di lehernya membuat Zhafran semakin berdegup kencang.


Zhafran menyesal karena Azzima terlalu dekat dengan Raja, hingga pria itu memberinya senjata-senjata semacam ini.


Inilah hasilnya Azzima bergaul dengan Raja, gadis itu pintar menggunakan senjata yang tidak seharusnya dia gunakan.


Raja benar-benar membuat putrinya menjadi macam mafia.


"AZZIMA JANG—"


DOR ....


Zhafran belum menyelesaikan ucapannya tiba-tiba satu suara tembakan membuatnya terkejut dan satu buah mangga jatuh di depannya.


Dia tidak tau, Raja menemukan dimana ketapel moderen yang bisa mengeluarkan suara seperti tembakan.


Bagi anak santriwati maupun santri putra sudah terbiasa jika mendengar suara tempatkan, itu berarti Azzima sedang latihan.


Iya, gadis itu memiliki tempat latihan menembak, memanah belah diri dan berkuda, semua dia dapatnya dari Raja.


Pria itu memberikan fasilitas seperti itu pada Azzima dengan alasan, wanita perlu jaga-jaga.


"Azzima, kamu gak mau antar Abang Azzam ke bandara?" tanya Zhafran pada putrinya yang masih diatas pohon mangga.


Sedangkan Zhafran menghembus nafas leganya.


"Sayang, ininya jangan sembarang di gunakan, oke." Zhafran meraih ketapel moderen dari tangan Putrinya.


"Abi, ini gak asli kok, cuman mainan," ujar Azzima. "Yang asli kan ada di kamar."


Memang tidak asli, tapi bisa menghilangkan nyawa seseorang.


"Azzima, ini bahaya, Nak. Kamu seorang wanita gak perlu main gini, ini mainan anak cowok, bukan mainan Azzima."


"Kata papi Raja, ini tidak bahaya untuk Azzima, tapi bahaya untuk orang penjahat dan ini memang mainan anak. Cowok, tapi ndk ada salahnya jika anak cewek juga memainkannya."


"Jangan dekat-dekat sama Raja, dia bukan mahram kamu."


"Ck ... Azzima tau, Bi. Lagian papi Raja gak dekat-dekat kok, kan yang ajarin Azzima anak buah papi yang cewek."


"Udah, ayo kita ke rumah, umi sama Abang pasti udah nungguin kita."


"Hmmm."


***


Azzam memeluk Uminya sangat erat. "Habibi pasti merindukan Umi."


"Umi juga pasti akan merindukan mu, Nak." Aza mengelus kepala putranya. "Belajar yang benar, ingat pesan Umi."


"In Syaa Allah, Umi." Azzam melepaskan pelukannya dengan tersenyum lalu menoleh pada Abi-nya.


"Titip Umi iya, Bi, jangan buat dia nangis, awas aja!" lanjutnya setelah berdiri didepan Abi-nya.


Zhafran tidak menghiraukan perkataan putranya, dia malah menarik Azzam kedalam dekapannya.


Walaupun putra sudah beranjak dewasa, tapi bagi Zhafran, Azzam tetap bayi 2 tahun yang masih di jaga agar tidak terluka sedikitpun.


"Niat karena Allah, Nak!" bisik Zhafran. "Jangan tinggalkan solat, tetap ingat Allah, dimanapun Azzam berada." lanjut Zhafran.


"In Syaa Allah, Bi."


Zhafran melepaskan pelukannya dan menepuk-nepuk pipi putra sulungnya yang kini beranjak semakin dewasa.


"Azzima, jangan buat Umi teriak-teriak sana sini karena ulah mu." Azzam menatap tajam kearah saudari kembarnya itu.


"In syaa Allah, Bang."


"Jilbabnya di perbaiki, jangan ngundang malaikat Izrail,"


"Malaikat Izrail tidak akan datang kecuali dengan izin Allah," balas Azzima.


Azzam hanya menggeleng-gelengkan mendengar jawab adik perempuannya.


"Lu." Azzam menatap kearah Adik bungsunya.


"Hmm."


"Jangan cuek amat, nanti cewek kagak ada yang mau ama Lu," ejek Azzam pada adiknya. Namun, sang adik tidak peduli dengan ejekan sang kakak.


"Ya udah, Azzam berangkat dulu, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Azzam menyalami tangan kedua orang tuannya lalu memeluk adik-adik.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," balas mereka.


Azzam pun menyeret kopernya dan meninggalkan Umi, Abi dan adik-adiknya.


Azzam pergi untuk kembali.


***


Jam 09:00 malam


Zhafran tersenyum lebar saat melihat istrinya sedang berdiri di dekat jendela kamarnya.


Dengan langka pelan-pelan Zhafran mendekati istrinya berniat mengejutkan wanita itu. Namun, aksinya terhenti saat mendengar perkataan Aza.


"Mas Zhafran," ujar Aza tanpa mengalihkan pandangan dari arah luar.


"Bagaimana Adek tau kalo ini mas?" tanya Zhafran sembari melingkarkan tangannya di pinggang sang Istri.


"Aza selalu tau kehadiran mas Zhafran," ujar Aza membuat Zhafran tertawa kecil.


Hidup bersama Zhafran selama bertahun-tahun hingga memiliki 3 anak membuat Aza mengenali setiap langkah kaki Zhafran dan aroma yang di miliki pria itu.


"Lagi mikirin apa? hmmm." Zhafran meletakkan dagunya di bahu Aza.


"Mas Zhafran tau, Aza sangat bahagia!" lirih Aza dengan mata mulai berkaca-kaca. Entah kenapa dia tidak mampu menahan air matanya jika bercerita tentang keluarga kecilnya.


"Jangan menangis, Humaira!" bisik Zhafran saat menyadari istrinya itu akan menangis lagi. "Mas gak suka Adek sedih."


"Aza gak sedih, Mas,"


Zhafran melepaskan pelukannya dan memutar tubuh Aza agar menghadap padanya. Tangannya terangkat menghapus air mata Istrinya "Kalo tidak sedih, kenapa air mata ini mengalir? hmmm."


"Air mata kebahagiaan. Aza menangis karena bahagia." Aza langsung memeluk tubuh suaminya dengan erat. "Aza tidak tau seperti apa kehidupan Aza jika Allah tidak menjodohkan Aza dengan Mas Zhafran."


Zhafran terkekeh. Pria itu mengelus rambut istrinya dengan lembut. "Mau nonton?"


"Nonton apa?" tanya Aza mendongak menatap Zhafran yang lebih tinggi darinya.


Cup ...!


Zhafran melayangkan satu kecupan nya tepat di bibir sang istri. Meskipun sudah terbilang tidak muda lagi, bukan berarti mereka tidak romantis.


"Kenangan di masa lalu." Bibir Zhafran tertarik keatas membentuk sebuah senyuman.


Sedangkan Aza, perempuan itu sudah terlihat sangat malu, padahal ini bukan pertama kalian mendapatkan perlakuan seperti itu dari sang suami.


"Ayo ...! Aza juga udah rindu dengan masa-masa mereka waktu masih kecil," ujar Aza.


Pasutri tersebut berjalan kearah ranjang dan duduk diatasnya sembari bersandar di kepala ranjang.


Didepannya sudah ada laptop yang sedang menayangkan video anak-anak semasa kecil.


Aza tersenyum bahagia saat melihat anak-anak masih berusaha 2 tahun. Wanita itu bersandar pada dada suaminya, sedangkan Zhafran merangkul Istrinya dan sekali-kali mengelus rambut sang istri.


Satu bersatu impian Aza terkabul semenjak menikah dengan Abidzar Zhafran Al-Ghifari, hidup Aza benar-benar nyaris sempurna.


Aza dan Zhafran selalu berdoa agar Allah tidak menjodohkan mereka di dunia saja, tapi diakhirat juga.


Perjalanan mereka tidak berhenti sampai disini, karena perjalanan yang sesungguhnya akan baru mereka jalani.


Tempat yang paling indah adalah surga, maka carilah nahkoda terbaik agar bisa membimbing mu sampai kesana.


🌻the end🌻


Akhirnya sampai ke titik akhir juga.


Saya kira tidak akan mampu menyelesaikan cerita ini karena mood kadang baik kadang buruk.


Terimakasih buat kalian yang udah baca tinggalin jejak biar aku bisa makin termotivasi dan support cerita ini.


I love you All❤️


Walaupun ini bulan puasa aku tetep ngetik dan walaupun ga ada yang baca untuk Mangatoon makasih udah bikin aku bisa nge update cerita ku di sini


untuk kalian yang baca sampe akhir makasih banyak❗❗💗