My Husband

My Husband
Bab 32



#MY_HUSBAND


#PART_32


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Hay Gaeyss ....


Vote+komen ya😁


___________________


🌻Happy reading🌻


Jam 05:30 pagi.


Zhafran sudah berkutat dengan dapur setelah menyelesaikan solat subuh nya.


Pria itu ingin membuat bubur untuk sang istri yang masih tertidur setelah solat subuh bersama.


Namun, dia tidak tau cara membuat bubur, jadi dengan terpaksa dia menghubungi Uminya melalui video call.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Umi," salam Zhafran setelah sambungan terhubung.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, iya, nak, apa ada masalah, kenapa menelepon sepagi ini?" tanya Umi Halimah bertubi-tubi saat mendapatkan telpon dari putranya sepagi ini.


"Umi, Zhafran mau buat bubur, tapi ndk tau caranya," ujar Zhafran terdengar sedih.


"Kan bisa diliat di YouTube resepnya sekalian cara membuatnya , Nak," sahut Umi Halimah sembari terkekeh.


"Astaghfirullah aladzim, kenapa Zhafran gak liat di YouTube aja, syukron, Umi."


"Afwan, Sayang, semangat."


"Iya, Umi, kalo gitu Zhafran matiin dulu, mau buat bubur, hehehe, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Zhafran sebelum memutuskan sambungan.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Umi Halimah.


Tut ....


Tut ....


Tut ....


Sambungan terputus.


Zhafran langsung membuka aplikasi YouTube dan mencari tutorial membuat bubur ayam untuk orang sakit, setelah menemukan tutorial yang menurutnya gampang dan simpel Zhafran pun langsung mengikuti langkah-langkah yang sudah di jelaskan dalam YouTube.


Sedangkan didalam kamar.


Aza membuka matanya dan menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam kamarnya melalui sela-sela jendela.


Setelah melakukan solat subuh bersama suaminya dia kembali tertidur.


Aza melakukan solat subuh dengan berbaring karena sakit, Zhafran sudah mengajarinya serta tayamum.


Gadis itu menyentuh keningnya dan mendapatkan sebuah handuk kecil berwarna putih menempel pada keningnya.


Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman yang sangat manis ternyata Zhafran kembali mengompresnya setelah tertidur.


Lagi dan lagi dirinya sangat bersyukur karena Allah mengirimkan sosok suami seperti Zhafran.


Satu bulan lebih hidup bersama Zhafran sebagai suami-istri membuat Aza semakin jatuh cinta pada sosok pria tersebut. Bukan jatuh cinta sekali, tapi Aza dibuat jatuh cinta berkali-kali, setiap saat setiap detik, menit, dan jam.


Siapa yang tidak jatuh kedalam pesona seorang Abidzar Zhafran Al-Ghifari? selain tampan fisik dia juga tampan iman dan akhlak.


Aza berharap hubungannya dengan Zhafran tidak pernah berubah.


KREK ...!


Lamunan Aza buyar ketika saat pintu terbuka dari luar.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, bidadari nya Mas Zhafran," salam Zhafran ketika pintu terbuka.


Pria itu membawa nampan berisi semangkuk bubur, segelas susu hangat dan beberapa potongan buah segar lalu berjalan kearah Aza sembari memamerkan senyuman manis yang membuat Aza meleleh seperti es krim.


Inilah yang membuat Aza semakin jatuh cinta pada Suaminya, selain tampan, suaminya juga perhatian dan penyayang.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Mas Zhafran," balas Aza tak kalah lembut.


"Kepalanya masih sakit?" tanya Zhafran setelah meletakkan nampan diatas nakas kemudian meletakkan punggung tangan ke-kening Aza untuk memeriksa apa istrinya masih panas.


"Alhamdulillah, kepala Aza udah gak sakit lagi, Mas," jawab Aza.


"Alhamdulillah, Adek juga udah gak panas lagi." Zhafran duduk di pinggir ranjang lalu meraih semangkuk bubur diatas nakas.


"Karena Mas Zhafran merawat Aza dengan baik,"


Zhafran terkekeh kecil. "Baiklah saatnya sarapan setelah itu mandi."


"Aza gak mau sekolah," ujar Aza dengan malas.


"Hari ini Adek ujian, jadi harus sekolah."


Benar, hari ini Aza akan ujian nasional.


"Aza gak belajar,"


Zhafran meraih buku catatan bahasa Indonesia milik Aza diatas nakas.


"Mas udah tandai yang penting, Adek tinggal baca dan fahami,"


Sebagai seorang guru, Zhafran tau mana yang penting dan cocok di jadikan soal dan mana yang tidak.


Walaupun terkadang apa yang dipelajari tidak masuk jadi soalnya, tapi setidaknya ada kaitannya.


Aza mengangguk dan meraih buku yang ada ditangan Zhafran.


Aza membaca dalam hati serta memahami apa yang suaminya tandai sembari menerima suapan dari sang suami.


Setelah beberapa menit kemudian bubur yang ada di mangkuk habis.


"Sekarang minum susunya."


Lagi-lagi Aza hanya menurut saat Zhafran memberinya susu rasa coklat.


"Pintar." Zhafran mengacak-acak kepala istrinya dengan lembut setelah meletakkan gelas kelas diatas nampan.


Cup ....


Zhafran mengecup sekilas bibir Istrinya saat sang istri kelihatan serius.


Sedangkan Aza langsung menatap suaminya.


"Ihh, Mas Zhafran."


"Apa, Sayang? hmmm." Zhafran mengelus pipi Aza dengan lembut.


" ... Belajarnya udah dulu, sekarang mandi, udah jam tujuh," ujar Zhafran.


"Dingin," ujar Aza.


"Pake air hangat, Mas siapkan dulu." Zhafran beranjak dari tempatnya dan masuk kedalam kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk Aza.


Setelah beberapa menit pria itupun keluar dari kamar mandi.


"Airnya sudah siapa, Sayang." Zhafran berjalan kearah Aza.


"Mas gedong?" tanya Zhafran saat melihat Aza akan turun dari ranjang.


"Gak usah, Mas, Aza masih bisa jalan kok, Aza kan udah sehat," tolak Aza, tapi Zhafran tidak mengiyakan perkataan istrinya.


Dengan cepat Zhafran mengangkat tubuh Aza dan membawanya kedalam kamar mandi.


***


"Uswa, saya punya sesuatu untuk kamu," ujar Rena.


"Apa Nyonya?"


"Jangan panggil Nyonya, panggil Tante aja," ujar Rena.


"I-iya, Tante."


"Tante sudah mendaftarkan kamu ke sekolah Azka dan minggu depan kamu sudah bisa masuk," ujar Rena membuat Uswa terkejut bukan main.


Tempat sekolah Azka bukan SMA sembarangan, hanya kalangannya orang-orang kaya lah yang bisa masuk dan orang-orang yang mempunyai prestasi.


"Uswa?" panggil Rena.


"U-uswa tidak bisa, Ten."


"Terima aja kali, gak usah sok-sok menolak," ujar Azka yang tiba-tiba datang.


"Uswa, Tante tau kamu masih pengen sekolah, jadi jangan menolak iya, Nak."


"Uswa tidak mampu, Tan," tolak Uswa lagi.


"Udahlah, Mah, orang kaya dia gak pantas di kasihani, sok-sok jual maha," ujar Azka tanpa memikirkan perasaan Uswa.


"Kamu tidak usah memikirkan biaya, Nak, biar Tante yang membayarnya, kamu tinggal masuk aja,"


"Tap-"


"Tante gak mau mendengar penolakan," potong Rena membuat Azka tersenyum tipis.


***


Ali berlari kecil masuk kedalam rumah Kiai Rasyid sembari tersenyum manis.


Pria itu baru saja mendapatkan telpon dari Zhafran beberapa menit yang lalu, sahabatnya itu mengatakan akan segera pula karena Aza akan menyelesaikan ujian sekolahnya.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Umi, Abi," salam Ali bahagia.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Ali," jawab Umi Halimah dan Kiai Rasyid bersamaan.


Ali langsung menyalami tangan Kiai Rasyid dan Umi Halimah.


"Ada apa?" tanya Umi Halimah melihat Ali tidak bisa menyembunyikan senyumannya.


"Gus Zhafran akan segera pulang," ujar Ali bahagia tidak sabar menunggu kepulangan Zhafran dan Aza.


"Ali, Abi mau bicara sesuatu yang penting," ujar Kiai Rasyid menepuk pundak Ali.


"Abi mau ngomong apa?" tanya Ali tidak sabar.


"Minggu depan orang tuamu akan datang untuk menjemput mu," tutur Kiai Rasyid membuat Ali merasa terkejut.


"M-minggu depan?"


"Iya, Abi harap kamu tidak menghindari mereka lagi, sudah waktunya kamu berkumpul dengan keluarga kamu, Nak."


Seketika raut wajah Ali berubah tidak senang mendengar kenyataan kalo ayah dan ibunya akan datang menjemputnya minggu depan.


"Ali gak mau," tolak Ali mengalihkan tatapannya kearah lain.


"Ali, dengerin Umi, Nak,"


"Ali gak mau, Umi."


"Ali, bagaimanapun mereka adalah orang tuamu, mereka berhak atas dirimu, tanpa Umi jelaskan kamu pasti sudah tau hubungan antara anak dan orang tua," ucap Umi Halimah.


"Ali akan pikirkan,"


TBC.