My Husband

My Husband
Bab 36



#MY_HUSBAND


#PART_36


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Hay Gaeyss ....


Vote+komen ya😁


___________________


🌻Happy reading🌻


Ting tong ....


Zhafran langsung menghentikan kegiatannya saat mendengar bel berbunyi.


"Alhamdulillah, akhirnya dia sampai juga," ujar Zhafran sembari berjalan darah pintu.


KREK ....


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Gus Zhafran," salam Ali saat pintu sudah terbuka.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Al," jawab Zhafran langsung berpelukan ala pria dengan Ali, sahabatnya.


" ... Ayo masuk," lanjut Zhafran mengajak Ali untuk masuk.


"Ning Aza mana, Gus?" tanya Ali sembari menjatuhkan bokongnya ke sofa.


"Belum pulang, Ente mau minum apa?" tanya Zhafran setelah menjawab pertanyaan Ali.


"Gak usah repot-repot, Gus, Ane gak haus ko," jawab Ali.


"Bagaimana kabar Abi ama Umi, Al?" tanya Zhafran ikut duduk di sofa.


"Alhamdulillah mereka baik-baik aja, Gus,"


"Alhamdulillah,"


Rasanya tidak enak jika berbincang-bincang tanpa ada hidangan berupa cemilan.


Tanpa bicara Zhafran berdiri dari duduknya dan berjalan kearah dapur untuk membuat teh.


Sedangkan Ali sudah berbaring diatas sofa dengan tidak sopan nya.


Setelah beberapa menit, Zhafran kembali dengan dua cangkir teh dan beberapa cemilan Aza yang terpaksa Zhafran ambil.


"Al, di minum." Zhafran meletakkan secangkir teh dihadapan Ali.


Ali kembali duduk sembari memainkan ponselnya. "Gus, Ente tau Uswa tinggal dimana?"


"Gak tau," jawan Zhafran.


"Oh ...."


"Kenapa?' tanya Zhafran.


"Gak apa-apa,"


Zhafran melirik jam tangannya yang sudah menunjuk pukul 10:30.


"Gus," panggil Ali setelah menyeruput tehnya.


"Hmm."


"Mereka datang lalu menjelaskan semuanya," ujar Ali lasa Zhafran.


" ... Ternyata selama ini Ane salah faham sama mereka."


Zhafran tersenyum setelah mendengar ucapan Ali. "Alhamdulillah, akhirnya kesalahpahaman ini berakhir juga."


"Ane bingung,"


"Bingung kenapa?" tanya Zhafran.


"Mereka mengajakku untuk tinggal bersama, tapi Ane merasa canggung, Gus," jujur Ali. Walaupun kesalahpahaman itu sudah tidak ada lagi, tapi Ali masih merasa canggung.


"Itu wajar, karena ini pertemuan pertama kalian," tutur Zhafran.


"Jadi menurut mu bagaimana, Gus?" tanya Ali.


"Sebagai sahabat Ana sarangkan Ente coba dulu untuk tinggal bersama mereka, lagian mereka kan orang tua kamu, Ana yakin dengan beriringan dengan waktu rasa canggung itu pasti hilang."


Ali terdiam sejenak memikirkan perkataan Zhafran yang ada benarnya.


Bagaimanapun mereka adalah orang tuanya, jadi dia harus tinggal bersama mereka walaupun masih ada rasa canggung.


"Baiklah, Ane akan tinggal bersama mereka kalo Ente sudah balik ke pesantren, Ane kasihan dengan Abi yang mengurus segalanya, walaupun ada ustad yang membantunya, tapi Ane tetap kasihan," ujar Ali yang sudah memutuskan untuk tinggal bersama orang tuanya saat Zhafran kembali ke pesantren bersama Aza.


"Syukron, Ustad Ali," canda Zhafran.


Zhafran sangat bersyukur karena memiliki sahabat sekaligus saudara angkat seperti Ali.


"Gus, kalo Ning aza usah lulus mau lanjut dimana?" tanya Ali kepo.


"Masalah ini belum Kami bicarakan," jawab Zhafran seadanya.


DRET ....


DRET ....


DRET ....


Zhafran langsung meraih ponselnya yang ada diatas meja saat berdering.


"Kepala sekolah," ujarnya saat melihat siapa yang sedang menghubunginya.


"Hmm, Al, Ana angkat telepon dulu ia," ijin Zhafran pada Ali.


"Iya, Gus, silahkan."


Zhafran berdiri beranjak dari tempatnya menuju ke arah jendela.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, halo, Pak," salam Zhafran setelah mengangkat panggilan tersebut.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, maaf Pak Zhafran telah mengganggu waktu bapak," sahut sang kepala sekolah diseberang sana.


"Tidak masalah, Pak, apa ada masalah, Pak?" tanya Zhafran.


"Begini pak, ada sedikit masalah di sekolah," jawab sang kepala sekolah.


"Masalah apa iya, pak?" tanya Zhafran bingung sekaligus cemas.


"Ya ... Allah, semoga Aza baik-baik aja," batin Zhafran mencemaskan istrinya.


"In syaa Allah bisa, pak."


"Kami tunggu, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,"


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,"


Tut ....


Tut ....


Tut ....


Sambungan terputus.


Tanpa membuang waktu, Zhafran langsung meriah kunci mobilnya dengan tergesa-gesa karena khawatir.


"Al, aku tinggal bentar iya," ujar Zhafran pada Ali yang sudah kebingungan melihat Zhafran terburu-buru.


"Gus, Ente mau kemana?" tanya Ali, tapi tidak mendapatkan jawaban karena Zhafran sudah menjalankan mobilnya.


"Iya, Ane ditinggal, nasib-nasib."


***


Zhafran menarik nafasnya agar tidak terlalu panik sebelum keluar dari mobilnya.


Pria itu menenangkan dirinya dengan berzikir.


Setelah sudah merasa sedikit tenang, Diapun keluar dari mobilnya.


Sekolah sudah terlihat sepi karena sebagian dari murid sudah pulang setelah melakukan ujian.


Sedangkan mereka yang masih tinggal menatap kearah Zhafran dengan berbagai macam tatapan, ada yang jijik, ada yang tak menyangka ada juga yang masih tetap sama, kagum.


Setelah berjalan kearah ruangan kepala sekolah, Zhafran berpapasan dengan Shafa, sahabat Aza.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Shafa," salam Zhafran.


"Pak Zhafran ...!" kaget Shafa. "Wa'alaikumussalam, Pak."


"Aza dimana?" tanya Zhafran.


"Ada diruang kepala sekolah, Pak," jawab Shafa.


Zhafran langsung berlari kecil kearah ruangan kepala sekolah.


KREK ....


Zhafran membuka pintu ruangan kepala sekolah membuat orang yang ada didalam langsung terkejut dan menoleh padanya.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, maaf saya telat," ujar Zhafran.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab sang kepala sekolah.


Tanpa membuang waktu Zhafran langsung berjalan kearah istrinya.


"Adek gak apa-apa?" tanyanya setelah berdiri di samping Aza yang masih duduk.


"Gak apa-apa, Mas," jawab Aza.


Zhafran menarik Aza dengan lembut agar gadis itu berdiri dari duduknya dan membawanya kedalam pelukannya. "Syukurlah, Mas sangat khawatir Adek kenapa-napa."


"Khm ..., maaf, Pak Zhafran, lakukan itu di rumah kalian, karena ini ruangan saya," ujar sang kepala sekolah bercanda.


Mendengar candaan itu Zhafran langsung melepaskan pelukannya. "Astaghfirullah aladzim, maaf, Pak."


"Tidak masalah, Saya mengerti, Pak Zhafran silahkan duduk."


Dewi yang tak dianggap diruangan itu semakin mengepalkan tangannya karena marah, apalagi saat melihat perilaku Zhafran yang begitu perhatian dengan Aza semakin membuatnya marah.


"Dewi," panggil sang kepala sekolah.


"Iya, Pak."


"Hubungan mereka suami-istri, jadi Bapak harap kamu tidak melakukan kesalahan lagi seperti ini yang bisa merusak nama baik sekolah,"


"Merekalah yang sudah merusak nama baik sekolah," ujar Dewi merasa geram karena sang kepala sekolah membela Aza dan Zhafran.


"Bapak tau, kelakuan mereka tidak dapat di benarkan, tapi sebelum kamu melakukan sesuatu yang bisa merugikan, sebaiknya selidik dulu sebelum melakukannya."


"Apa Aza hamil diluar nika?" tanya Dewi dengan wajah sombongnya.


"Jangan omongan Lu!" pekik Aza tidak terima dengan ucapan Dewi.


"Sabar, Sayang!" bisik Zhafran pada Aza.


"Marah? emang benar kan Lu hamil di luar nikah,"


"Istri saya tidak hamil diluar nika seperti yang kamu katakan," ujar Zhafran dengan suara dinginnya.


"Munafik Lu." Dewi menatap kearah Zhafran dengan tatapan merendahkan.


"Siapa yang sudah berani memfitnah putri saya hamil di luar nikah?" tanya Zaid yang sudah berdiri diambang pintu.


"Pak Zaid," ujar sang kepala sekolah sembari berdiri.


"Ayah ...!" lirih Aza saat melihat Ayahnya berjalan kearah mereka.


Zaid langsung berdiri di depan Dewi dengan tatapan tajam, Ayah siapa yang rela bila putri semata wayangnya di fitnah tanpa ada bukti.


Untungnya Shafa menghubungi dirinya dan mengatakan semua kejadian di sekolah, kalo tidak dia tidak akan tau masala ini.


"Putriku tidak hamil di luar nikah, saya menikahkan mereka karena saya tidak ingin putriku terjerumus dalam dosa yang sering anak mudah lakukan di zaman sekarang," tutur Zaid penuh penekanan pada Dewi yang sudah ketakutan.


Siapa yang tidak kenal dengan ayahnya Aza, seorang pengusaha terkaya di kota mereka, dan salah satu donatur terbesar sekolah ini.


"Pak, kita bisa bicarakan ini dengan baik-baik," ujar Kepala sekolah pada Zaid.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan, pastikan saja kalo Aza tetap akan melakukan ujian sampai selesai dan nama baik menantu saya kembali bersih, kalo tidak sekolah ini akan saya hancurkan termasuk Kamu." Zaid menatap kearah Dewi.


"Baik, pak, masalah ini sudah kami tangani."


"Bagus."


Zaid memasang kaca mata hitamnya dan berjalan keluar dari ruang kepala sekolah tanpa pamit


Zhafran menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah sang mertua, ternyata sifat Istrinya yang berani turunan dari sang Ayah.


Sebenarnya dia mampu menyelesaikan masalah ini, tapi Zaid terlanjur datang dan menyelesaikan masalah ini dengan caranya sendiri.


"Ayah keren 'kan," bisik Aza pada Zhafran.


"Besok masalah ini akan tidak dibicarakan lagi sampai selesai ujian," ujar sang kepala sekolah.


TBC