
#MY_HUSBAND
#PART_45
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Hay Gaeyss ....
Vote+komen ya😁
___________________
🌻Happy reading🌻
"GUS ZHAFRAN ...!" teriak salam satu santri putri tidak memperdulikan sekitanya karena sudah sangat panik dan takut.
Mendengar teriakkan itu menyebut namanya Zhafran langsung menoleh pada sumber suara tersebut dan dia menemukan sosok santri putri yang tadi dia tanyai di dapur.
"Ada apa?" tanya Zhafran masih terlihat panik.
"Ning Aza ...." Gadis itu menyentuh dadanya untuk menetralkan nafasnya yang masih ngos-ngosan karena berlari mencari keberadaan Gus-nya.
"Kamu melihatnya, dimana?" tanya Zhafran tidak sabaran.
"Ada, ada diatas pohon," jawab Gadis itu membuat Zhafran terkejut dan cemas, semua pikiran buruk menyerang otaknya dan pikirannya saat ini.
"Pohon mana?" tanya Zhafran.
"Disana." Gadis itu menunjuk kearah yang Zhafran tidak mengerti.
"Disana mana ...!" teriak Zhafran tanpa sadar membentak gadis yang berada di depannya sekarang.
"Gus, jangan berteriak seperti itu," tegur Ali yang sedari tadi melihat interaksi mereka.
"Ning, ada di atas pohon mangga yang ada di belakang Ndalem, dia sepertinya akan tertidur diatas pohon, tadi ana melihatnya saat akan membuat sampa—"
Zhafran langsung berlari kencang seperti kerasukan saat mendengar perkataan santrinya tentang Aza yang ada diatas pohon mangga tertidur.
"Ya Allah, hamba mohon lindungi istri hamba!" lirih Zhafran tidak menghentikan kakinya yang kini berlari.
Begitupun dengan yang lain, mereka berlari kecil ke arah belakang rumah Ndalem termasuk Halimah dan Rasyid yang tak kalah panik.
"Astaghfirullah aladzim, semoga Aza tidak kenapa-napa," harap Umi Halimah.
Sedangkan Zhafran membulatkan matanya saat melihat istrinya berada diatas pohon dengan mata terpejam, itu artinya gadis itu sudah tertidur. Mangga yang ada di tangannya aja sudah jatuh ke tanah, untungnya tautan tangan Aza masih saling mengaitkan dengan kuat.
"Astaghfirullah aladzim ...!" lirih Zhafran panik.
Jantungnya kali ini berdegup lebih kencang, bukan karena jatuh cinta atau kesetrum listrik, tapi ketakutannya melihat sang istri diatas pohon.
"Gus, ini tangganya." Ali menyodorkan tangga pada Zhafran agar lebih mudah untuk meraih Aza.
Dengan cepat Zhafran memperbaiki posisi tangga dan menaiki anak tangga tersebut setelah sudah merasa aman.
Angkasa dan Ali sudah berada di sisi tangga untuk memegangi agar tangga tersebut tidak goyang.
"Dasar, bikin panik aja!" lirih Angkasa.
"Huusst ...." Ali menatap Angkasa memintanya untuk diam.
Sedangkan Zhafran meraih tubuh Aza dengan pelan-pelan, agar gadis itu tidak terbangun.
Untungnya Zhafran mampu menjaga ke seimbangnya hingga selamat sampai kebawah.
"Alhamdulillaah ...!" lirih Zhafran.
Zhafran membawa Aza menuju ke rumah Ndalem dengan bibir tak henti-hentinya bersyukur karena sang istri baik-baik saja.
Semoga santri maupun Ustad dan Ustadzah kembali ke tempatnya masing-masing setelah kegaduhan ini selesai.
"Menantu kita bikin jantungan aja, untuk mas gak memiliki riwayat penyakit jantung," ujar Kiai Rasyid terkekeh.
"Mas, kita hubungi dokter Dita untuk memeriksa kandungan Aza, Umi takut terjadi apa-apa dengan kandungannya saat melihat posisi tidurnya diatas pohon."
Kiai Rasyid mengangguk. "Iya, sebaiknya kita hubungi dokter Dita."
Umi Halimah meraih ponselnya dan menghubungi nomor Dita dan memintanya datang saat sambungan terhubung.
Sedangkan di kediaman Kiai Rasyid, Zhafran meletakkan Istrinya diatas ranjang dengan pelan-pelan.
Air matanya menetes karena sudah lalai menjaga Istrinya dengan baik.
"Maafin Mas, Humaira." Zhafran mengecup kening Aza dengan lembut. "Mas bukan Suami yang baik."
"Maafin Abi." Zhafran mengelus perut Aza.
Zhafran tidak mau beranjak dari tempatnya. Tatapannya terpaku pada sang istri yang masih terlelap.
"Kenapa kamu tidak minta bantuan sama mas, Dek?" tanyanya walaupun dia tau tidak akan mendapatkan jawaban karena istrinya sedang tidur.
"Astaghfirullah aladzim, maaf dek, Mas lupa." Zhafran meraih tangan mungil Aza dan mengecupnya beberapa kali.
Dia menyesal karena tidak langsung memenuhi permintaan Istrinya kemarin saat meminta mangga yang ada di belakang rumah.
"Sungguh, Dek, Mas sangat cemas saat mas tidak menemukanmu di kamar kita, Mas terasa akan gila, mas baru sadar, kalo mas tidak bisa kehilangan mu, Mas takut, jika Allah, pemilik-mu yang sesungguhnya mengambil mu dari Mas."
Air mata Zhafran menetes tanpa sadar.
Pria itu menghapus air matanya saat tanpa sengaja melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 10 pagi menjelang siang.
"Astaghfirullah aladzim!" lirih Zhafran. Pria itu berdiri setelah meletakkan tangan Aza dengan lembut kemudian mendaratkan bibirnya ke kening Istrinya.
"Mimpi indah, Sayang. Mas solat duha dulu."
***
Aza membuka matanya berlaha-lahan dan menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam kamarnya.
Gadis itu merasa heran saat mendapatkan dirinya diatas tempat tidurnya.
"Kok aku ada disini?" tanyanya dengan lirih.
Krek ....
Aza mengalihkan pandangannya kearah pintu yang dibuka dari luar.
"Adek sudah bangun?" tanya Zhafran dengan tersenyum.
Pria itu berjalan kearah Aza dengan membawa sebuah nampan sembari memamerkan senyuman manisnya yang membuat Aza meleleh seperti es krim.
"Mas, kok Aza ada di sini? bukannya Aza ta ... d—" perkataan Aza terhenti saat mengingat apa yang sudah terjadi. "Astaghfirullah aladzim."
Zhafran tersenyum dan duduk di pinggir ranjang. Pria itu masih mengenakan pakaian solat. "Ayo, makan dulu."
"Mas ...!" lirih Aza dengan mata berkaca-kaca sudah menyadari kesalahannya.
"Apa, Sayang? hmmm." Zhafran menatap Aza dengan tatapan yang sangat lembut dan menenangkan hingga Aza tidak mampu mengeluarkan sepatah kata apapun karena terhanyut dalam tatapan lembut suaminya.
"Apa mereka baik-baik saja?" tanya Aza mengalihkan pandangan kearah perutnya.
"Alhamdulillah, mereka baik-baik saja." Zhafran kembali tersenyum lembut. "Meskipun mereka baik-baik saja, Adek jangan mengulangi hal ini lagi, karena cukup berbahaya bagi mereka termasuk Adek."
Aza menunduk merasa bersalah.
"Untungnya kami menemukan Adek dengan cepat, jadi semuanya baik-baik, aja," lanjut Zhafran.
"Maaf, Mas, pasti Mas sangat cemas dan panik gara-gara Aza."
"Ini yang terkahir, oke?"
"In Syaa Allah, Mas."
"Kalo butuh sesuatu, minta sama mas, in syaa Allah mas usahakan jika mas sanggup."
Aza mengangguk.
"Sekarang, Adek makan dulu." Zhafran menyodorkan sendok makan ke arah mulut Aza.
"Aaa ...." Zhafran membuka mulutnya sebagai isyarat agar Aza membuka mulutnya.
***
"Kamu tidak nginap, Li?" tanya Umi Halimah pada Ali yang udah mau berangkat.
"Maaf, Umi, pekerjaan Ali menumpuk, Ali pengen banget menginap," tutur Ali sedikit berbohong.
Nyatanya pria itu tidak ingin menginap dan melihat kenangan bersama Uswa di pesantren ini, itu membuat dada Ali terasa sesak.
"Al." Kiai Rasyid menepuk pundak Ali. "Semuanya baik-baik saja, Nak?"
"Alhamdulillah, baik, Bi." Ali tersenyum.
"Jangan bohong sama Abi, Nak," ucap Kiai Rasyid. "Abi tau, kamu sedang memiliki masalah."
"Bi, apa Ali tidak pantas bahagia?" tanya Ali menatap Kiai Rasyid dengan tatapan sedih, tapi bibirnya masih menampilkan senyuman.
"Siapapun pantas bahagia, termasuk Kamu," jawab Kiai Rasyid. "Allah sangat mencintai mu begitu besar dengan melalui ujian-ujian yang Dia berikan untukmu. Allah tau, kamu pantas dan mampu menghadapi ujian ini."
Ali hanya terdiam.
"Al, jangat terlalu memikirkan sesuatu yang membuat hatimu bersedih," sambung Umi Halimah.
Ali mengangguk mengiyakan perkataan Umi Halimah.
"Li, kamu nginap?" tanya Zhafran yang baru saja datang bersama Aza.
"Tidak, Gus."
"Kenapa?"
"Kalo ana nginep, Milo alias Kitty sendirian dong di apartemen," ucap Ali tersenyum lebar.
Semenjak Aza hamil, Kitty alias Milo kembali pada sang pemiliknya, karena Aza tiba-tiba tidak menyukai kucing dan ingin muntah saat melihat kucing.
Ali yakin, kalo anak Aza kelak tidak akan menyukai kucing.
TBC.