My Husband

My Husband
Bab 29



#MY_HUSBAND


#PART_29


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Hay Gaeyss ....


Vote+komen ya😁


___________________


🌻Happy reading🌻


Setelah semuanya sudah beres Aza dan Zhafran tinggal pamitan sama Zaid dan Haliza untuk tinggal di apartemen.


"Kenapa kalian tidak tinggal di sini aja, sih," ujar Haliza sedih soalnya putri dan menantunya akan pindah ke apartemen.


"Sudahlah Bun, biarkan mereka hidup mandiri." Zaid mencoba menghibur Istrinya agar tidak bersedih lagi.


"Bunda boleh datang ko, lagian rumah Bunda ama apartemen Aza gak jauh, cuman beberapa menit doang sampai," ujar Aza.


Benar, jarak apartemen dan rumah mereka tidak jauh, hanya beberapa menit saat jika naik motor.


"Ayah, Bun, kami pamit dulu, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," pamit Aza pasak dua orang tuanya.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Zhafran titip Aza iya," tutur Haliza.


"In Syaa Allah, Bun."


***


Setelah beberapa menit kemudian merekapun sampai di apartemen.


"Mas apartemennya lantai berapa?" tanya Aza sembari keluar dari mobil bersama dengan Zhafran.


"Lantai 5, Dek," jawab Zhafran.


"Oh,"


"Ayo masuk," ajak Zhafran.


Merekapun masuk.


KREK ....


Bibir Aza tersenyum lebar setelah sampai di apartemen yang terbilang sangat luas.


Gadis itu berlari kearah kamar dan langsung menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur yang sangat nyaman.


Sedangkan Zhafran membereskan barang-barangnya mereka kedalam lemari serta buku dan lainnya.


Dia tidak ingin Aza, istirnya kecapean.


"Mas, mari Aza bantu," tawar Aza saat melihat pria itu menyusun beberapa buku diatas meja.


Sejak tadi dia menawarkan diri. Namun, sang suami tidak memberikan peluan sedikitpun.


"Adek." Zhafran meraih lengan istrinya dengan lembut.


"Mas gak mau Ade capek, tadi kan dirumah udah, jadi giliran Mas,"


"Tapi Mas, inikah tugas Aza sebagai seorang istri,"


"Kata siapa? hmmm." Zhafran mengelus pipi istrinya.


"Tugas istri 'kan beres-beres rumah, memasak, mencuci, menyapu, ngepel, apa lagi iya?"


"Salah." Zhafran memencet hidung Istrinya.


"Kok salah? memang itu 'kan tugas istri," ujar Aza kesal.


"Tugas istri itu wajib menghormati suami dan taat pada suami. Menaati suami merupakan perintah Allah Subḥānahu wataʿālā, sebab dalam rumah tangga, seorang suami adalah kepala rumah tangga yang harus didengar dan ditaati selama dalam batas kebaikan dan sesuai dengan ajaran islam," jelas Zhafran.


"Kalo suaminya jahat meminta istrinya untuk berbuat kejahatan, apa istri harus menaatinya juga?" tanya Aza.


"Seperti yang Mas bilang, selama dalam batas kebaikan dan seusai dengan ajaran islam harus di taati, tapi jika sudah melanggar dan keluar dari ajaran Islam istri tidak harus menaati."


"Tugas Istri yang lainnya adalah memelihara dan menjaga kehormatan diri dan keluarga serta harta benda suami. Hal ini sebagaimana Allah berfirman dalam surah an-nisa 34, 'Wanita salehah adalah yang taat kepada Allah dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada oleh karena Allah telah memelihara mereka."


"Apa lagi Mas?" tanya Aza antusias mendengarkan penjelasan suaminya tentang tugas istri.


"Mengurus dan mengatur rumah tangga dengan baik sesuai dengan fungsinya, memelihara dan mendidik anak terutama pendidikan agama, berhias untuk suami, berhias bagi seorang istri untuk suaminya termasuk perbuatan yang bernilai ibadah, bersikap rida dan syukur pada suami dan menciptakan suasana rumah tangga menyenangkan dan penuh ketenteraman. Itu tugas utama seorang istri,"


"Jadi memasak, mencuci, ngepel dan lain-lainnya bukan kewajiban seorang istri iya, Mas?" tanya Aza.


Zhafran menatap istrinya sebelum melingkarkan tangannya ke pinggang sang istri.


"Itu bukan kewajiban seorang istri, tapi karena naluri seorang Istri lah yang mengerjakan itu semua, seharusnya seorang laki-laki yang sudah berstatus sebagai seorang Suami tidak boleh memarahi dan membentak Istrinya apalagi mengangkat tangan untuk memukul istri karena hal tersebut, seharusnya seorang suami harus bersyukur karena tanpa di minta istri mengerjakan itu semua, padahal itu tugas bersama, bukan hanya tugas seorang istri," jelas Zhafran panjang kali lebar.


"Adek adalah rekan hidup Mas, baik di dunia maupun diakhirat, sebagai seorang rekan hidup harus saling membantu dalam hal apapun,"


Mendengar perkataan Suaminya membuat Aza terharu dan langsung memeluk erat tubuh suaminya, dia tidak menyesal sedikitpun memilih untuk nikah muda.


"Aza sangat bersyukur memiliki suami seperti Mas Zhafran."


"Mas lebih beruntung karena Allah sudah memberi Mas istri seperti Adek." Setelah mengatakan itu Zhafran mengecup kepala sang istri dengan lembut.


Aza adalah bidadari surganya yang sudah Allah kirimkan untuk dia jaga dan bimbing kejalan yang benar.


****


Uswa mengetuk pintu rumahnya dengan wajah sumringah. Beberapa menit yang lalu dia diantar pulang oleh supir pribadi ibu rena, dia sudah menolak, tapi seperti biasa ibu rena tidak menerima penolakan.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Uswa setelah mengetuk pintu.


Setelah beberapa menit terdengar suara ayahnya dari dalam menjawab salamnya bersamaan dengan pintu yang terbuka.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Ayahnya Uswa sembari membuka pintu.


KREK ....


Uswa langsung menyalami tangan Ayahnya setelah pintu terbuka.


"Kamu sudah pulang, Nak."


"Iya, Yah."


Merekapun masuk kedalam.


"Bagaimana, sudah dapat pekerjaan, Nak?" tanya Ayahnya Uswa setelah melihat sang putri selesai meneguk segelas air.


"Alhamdulillah, udah dapat, Yah, tapi ...." Uswa sengaja tidak melanjutkan perkataannya.


"Tapi kenapa, Nak?" tanya Ayahnya.


"Uswa harus tinggal disana, Uswa menolak karena Uswa tidak bisa meninggalkan Ayah sendirian di rumah, tapi ibu rena memaksa, Yah, dia tidak masalah jika kita tinggal disana," jelas Uswa.


Iya, beberapa jam yang lalu ibu rena menwarkan sebuah pekerjaan rumah tangga atau pembantu pada Uswa dengan syarat gadis itu tinggal di rumahnya, paling tepatnya di rumah khusus untuk membantu, Uswa menolak karena masih ada ayahnya.


Namun, Ibu rena memaksa dan memberikan izin untuk gadis itu datang bersama Ayahnya, jadi tidak ada alasan bagi Uswa untuk menolak.


"Alhamdulillah, Ayah senang karena kamu sudah mendapatkan pekerjaan, tapi Nak, Ayah tidak bisa ikut,"


"Kalo Ayah gak bisa, Uswa juga gak bisa Ayah, alasan Uswa untuk keluar dari pesantren itu karena Uswa pengen merawat ayah," tutur Uswa.


"Ayah akan pikirkan,"


Uswa mengangguk sebagai jawaban.


***


"2 bulan lagi kita akan menjemputnya," ujar pria paru baya yang baru saja duduk di samping Istrinya.


"Kalo dia tidak mau bagaimana, Mas?" tanya Wanita paruh baya itu dengan cemas, pasalnya ini bukan kali pertamanya mereka menjemput sang putra, ini kesekian kalinya. Namun, sang putra tidak mau bertemu dengan mereka.


"Kita akan memberikan penjelasan agar dia faham kalo kita tidak membuangnya seperti yang ada di pikirannya."


"Semoga aja dia faham dan mau pulang,"


"Semoga aja, Aamiin."


"Apa putra bungsu kita sudah pulang?" tanya sang suami.


"Tadi dia pulang sebentar, tapi pergi lagi."


"Aku benar-benar pusing di buatnya, Mas sudah kehabisan akal untuk mendidiknya, tapi dia sangat sulit diatur."


"Aku juga pusing, Mas, padahal 1 bulan lagi dia ujian,"


"Setelah dia lulus, Mas akan mengirimkannya ke luar negeri untuk kuliah."


"Lebih baik Mas ngomong dulu sama dia, takutnya dia menolak dan pergi dari rumah," ujar Wanita tersebut


" ... Oh iya, Mas, Mama ingin memperkejakan seseorang, dia seorang gadis dan kita sering melihatnya saat berkunjung ke pesantren, Mama yakin dia gadai yang baik-baik," Lanjutnya.


"Terserah Mama aja,"


"Dia akan tinggal di sini bersama Ayahnya, tidak apa-apa 'kan, Mas?"


"Tidak apa-apa, Sayang."


TBC.