
#MY_HUSBAND
#PART_34
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Hay Gaeyss ....
Vote+komen ya😁
___________________
🌻Happy reading🌻
Setelah solat subuh Aza bertempur dengan dapur untuk membuat sarapan untuknya dan untuk suaminya.
Gadis itu sudah mengenakan seragam putih abu-abunya, sedangkan Zhafran masih didalam kamar untuk bersiap-siap sebelum berangkat.
"SAYANG ...!" teriak Zhafran dalam kamar memanggil Aza yang ada di dapur.
"IYA, MAS ...!" sahut Aza dengan berteriak juga.
"SAYANG, KOS KAKI MAS DIMANA?" tanya Zhafran.
"DITEMPAT BIASA, MAS." Aza menyajikan nasi goreng kedalam piring dan membawanya ke meja makan.
"GAK ADA, SAYANG."
"MASA SIH." Aza berjalan kearah kamar dan melihat Zhafran sedang duduk di pinggir ranjang dengan baju belum terkancing tapi.
Gadis itu menaikan satu alisnya heran melihat Suaminya yang belum siap sama sekali.
Matanya melotot saat melihat benda yang suaminya cari-cari berada di tangan sang suami.
"Mas Zhafran boong iya?" tanya Aza dengan tatapan memicing.
Zhafran hanya tersenyum tanpa dosa memperlihatkan gigi rapinya.
"Ih, malah senyum-senyum, Kenapa bajunya belum di kancing?" tanyanya sembari berjalan kearah sang Suaminya.
"Hehehe."
Aza menggeleng melihat wajah polos suaminya seperti bayi. Beginilah kalo pak Zhafran manja padanya.
"Kebiasaan." Aza merapikan kerah baju suaminya setelah mengancingkan.
Dret ...
Dret ...
Dret ...
Zhafran langsung menoleh keatas nakas saat mendengar ponselnya berdering.
Pria itu meraih benda pipi tersebut.
Bibirnya langsung melengkung saat melihat siapa yang menghubunginya lewat video call.
"Siapa yang nelpon, Mas?" tanya Aza setelah melihat suaminya tersenyum.
"Ali," jawab Zhafran.
"Tumben," ujar Aza.
Tanpa buang-buang waktu Zhafran mengangkat panggilan dari Ali.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Akhi," salam Zhafran setelah sambungan terhubung dan layar ponselnya terpampang wajah kusut Ali.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Ali tidak bersemangat.
"Al, kamu kenapa, kok kusut gitu?" tanya Zhafran saat menyadari wajah Ali yang kusut belum disetrika.
"Kapan Ente pulang?" tanya Ali.
"Ana kan dua bilang bentar lagi, tunggu Aza selesai ujian," jawab Zhafran.
"Gus," panggil Ali dengan serius.
"Iya, Al, kenapa?"
"Orang tua Ane datang," curhat Ali.
"Ente tidak menghindar lagi 'kan?" tanya Zhafran.
"Alhamdulillah, tidak, Gus."
"Alhamdulillah,"
Zhafran merasa senang karena Sahabatnya itu tidak menghindar lagi disaat orang tuannya datang untuk menemuinya.
"Mas, ayo sarapan, nanti kita telat," ajak Aza.
"Iya, Sayang." Zhafran menengok kearah Istrinya sembari tersenyum.
"Assalamu'alaikum, Ning Aza," salam Ali saat mendengar suara Aza.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Ustad Ali," jawab Aza tersenyum.
"Ning, bagaimana kabarnya Milo?" tanya Ali. Kedengarannya pria itu merindukan kucingnya yang sudah menjadi milik Aza.
"Kitti lagi di rumah bunda, Al," sahut Aza.
"Ning Aza tidak merawat Milo dengan baik iya?" tanya Ali.
"Dirawat ko, cuman Aza titip di bunda karena Aza ujian," sahut Aza tidak terima dengan perkataan Ali tentang kitti.
"Ohh ...."
"Al, udah dulu iya, Ana mau sarapan," ujar Zhafran pamit pada Ali.
"Iya, nanti Ane telpon lagi,"
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Zhafran sebelum mematikan sambungannya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Ali.
Tut ....
Tut ....
Tut ....
Zhafran memutuskan sambungannya dan berjalan kearah meja makan yang suda tersedia menu sarapan yang di buat istri kecilnya.
****
Ali menyalakan mobilnya, pria itu ingin berkunjung ke rumah Zhafran, sahabatnya.
Dia ingin curhat, tapi tidak enak kalo dia curhat lewat telepon, jadi dia memutuskan untuk berkunjung ke rumah Zhafran, lagi pula selama Zhafran menikah dia tidak pernah mengunjungi sahabat itu.
Pria tampa bernama Zayyan Al-Alif itu tersenyum kemudian meraih ponselnya kembali.
Dia akan mengirim pesan lewat WhatsApp pada Zhafran kalo dia akan datang.
ME✉️:
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Gus, Ente jangan kemana-mana, Ane otw sekarang,"
Ali tersenyum setelah mengirim pesan pada Zhafran.
Tidak menunggu waktu lama, pesan pun terbalas.
Gus Zhafran ✉️:
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Al, nanti sore aja datangnya soalnya Ana ke sekolah bersama Aza." balas Zhafran.
Setelah membaca balasan pesan sari Zhafran Ali tersenyum tipis kemudian membalasnya.
ME✉️:
Setelah membaca balasan dari pesan Zhafran, Ali kembali meletakkan ponselnya dan memperhatikan jalan yang ada di depannya.
Sedangkan disisi lain Aza sudah memanaskan motornya karena Zhafran tidak bisa mengantarnya ke sekolah sebab Ali akan datang.
"Adek, jangan ngebut bawah motor iya," pesan Zhafran pada sang Istri.
"In Syaa Allah, Mas."
"Mas antar aja iya, lagipula Ali masih lama datangnya."
"Gak usah, Mas, dekat ko," tolak Aza.
"Tapi, Sayang, Kamu masih sakit."
"Aza udah gak sakit lagi, Mas,"
" ... Mas tenang aja,"
Zhafran memijat pelipisnya pusing dengan istrinya yang keras kepala ini ditambah Ali yang tiba-tiba ingin datang.
"Kalo terjadi apa-apa, langsung hubungi Mas," tutur Zhafran.
"In syaa Allah,"
" ... Aza berangkat, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Aza menyalami tangan Zhafran sebelum berangkat
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Zhafran.
Cup ....
Pria itu mengecup kening istrinya sekilas.
Entah kenapa perasaannya tidak enak mengenai Istrinya.
"Ya Allah, lindungi istriku dimanapun dia berada," batin Zhafran setelah istrinya sudah tak terlihat.
***
Setelah menyelesaikan tugasnya di rumah ibu rena, Uswa keluar untuk menghirup udara segar di sebuah taman yang terbilang cukup jauh dari kediaman ibu rena.
Gadis itu menggunakan sepeda yang sudah di siapkan khusus para maid bila ingin keluar jalan-jalan.
Bukan hanya sepeda, ibu rena juga menyiapkan motor dan mobil bila sewaktu-waktu para maid membutuhkan kendaraan tersebut, tentunya ada supir.
Uswa menarik nafasnya dalam-dalam setelah duduk di kursi yang ada di taman.
Dirinya benar-benar bingung saat ini, dia tidak tau harus berbuat apa dan menjawab apa.
Satu minggu yang lalu, pak Riyan, suami ibu rena menemui ayahnya dan mengatakan niatnya ingin menjodohkan dirinya dengan Azka.
Namun, Uswa menolak dengan halus perjodohan itu dengan halus tanpa menyakiti perasaan Ibu Rena dan Pak Riyan dengan alasan ingin sekolah dulu.
Dan tentunya Rena dan suaminya setuju, karena menurutnya pendidikan itu lebih penting.
Namun, Rena tetap bersikukuh ingin menjodohkan Uswa dan Azka dan akhirnya mereka memutuskan untuk Uswa dan Azka bertunangan.
Mengingat hal itu membuat Uswa meneteskan air matanya. Dirinya benar-benar tidak bisa menolak mengingat kebaikan ibu rena padanya.
Uswa menghapus air matanya. "Ya Allah, apa yang harus aku lakukan."
***
Aza menyelusuri lorong-lorong sekolahnya dengan bingung, pasalnya semua orang menatapnya dengan tatapan sinis dan jijik.
"Jadi dia orangnya?" bisik salah satu siswi pada temannya sembari menatap Aza dengan tatapan jijik, seolah-olah Aza adalah kotoran.
"Dia tidak dapat kak raja, makanya dia jual diri ama pak Zhafran,"
"Jilbab besar elit, harga diri sulit,"
"Jal4ng ...."
Aza tetap melanjutkan langkahnya walaupun masih banyak kata-kata yang menyinggung dirinya.
"AZA ...!" teriak Shafa.
Dia berlari kearah Aza dengan wajah paniknya.
"Ada apa, Shaf, kenapa Lu teriak-teriak?" tanya Aza setelah Shafa sudah berdiri dihadapannya dengan nafas ngos-ngosan.
"Za, mading ...." Shafa tidak meneruskan ucapnya karena masih ngos-ngosan.
"Lu tarik nafas dulu, baru cerita."
Shafa menetralkan nafasnya kemudian menceritakan pada Aza.
"Za, video Lu ama pak Zhafran tersebar di lambe turah, bukan hanya itu foto-foto Lu juga ada di mading, Za."
"Video apa sih?" tanya Aza bingung pasalnya dia tidak pernah membuat video dengan Suami itu.
"Lu liat sendiri." Shafa menyodorkan ponsel miliknya kearah Aza yang sedang memutar video.
Aza terkejut saat melihat video yang ada di ponsel Shafa.
Namun, raut wajah seketika berubah menjadi tersenyum membuat Shafa heran dengan respon Aza.
"Gue harus berterima kasih pada orang yang sudah membuat video ini," ujar Aza sembari menonton videonya.
"Shaf, kirim," pintanya.
"Gila Lu, Za."
"Temenin Gue ke mading." Aza menarik tangan Shafa.
Namun, langkahnya terhenti saat Bima, temannya raja dengan sengaja menabrak dirinya dan membuat Aza terjatuh ke lantai.
BRUK ...!
"OUPSSS ..., sorry sengaja," ujar Bima dengan nada mengejeknya.
Sedangkan Aza menatap kearah Bima dengan tatapan marah.
"Butuh bantuan?" tanya Bima sembari mengulurkan tangannya pada Aza yang masih terduduk di lantai.
"Gue gak butuh bantuan, Lu." Aza beranjak dari tempatnya.
"Gak usah sok jual malah kalo nyatanya murah4n," ledek Bima.
"Siapa yang Lu bilang murah4n?" tanya Aza dengan tatapan tajam.
"Dibayar berapa Lu ama pak Zhafran untuk memenuhi n4fsunya?' tanya Bima membuat Aza semakin marah.
Telapak tangan Aza sudah terkepal erat siap untuk menonjol muka Bisa yang pas-pasan itu.
"Jangan omongan Lu sebe-"
"Marah? kenapa harus marah, memang fakta kan, kalo Lu itu jal4ng sekaligus P-E-L-A-K-O-R."
" ... Mending Lu gak usah pake jilbab, bikin malu aja."
Dengan tidak sopan nya Bima menarik jilbab Aza hingga terlepas, untuknya gadis itu masih menggunakan ciput ninja yang menutupi kepalanya.
Aza yang tidak menerima perlakuan Bima padanya langsung melayangkan tamparannya di wajah Bima.
PLAK ....
"Kalo Lu gak tau apa-apa, mending Lu diam ...!" geram Aza setelah melayangkan tamparannya.
"Anj1ng, Lu." Bima mengangkat tangannya untuk membalas tamparan Aza, tapi ditahan seseorang.
"Dia cewek, Bim, Lu gak malu?" tanya Raja sembari menahan tangan Bima.
Aza menatap Zean yang baru saja datang bersama Raja dengan tatapan benci.
TBC