
#MY_HUSBAND
#PART_52
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
🌻Happy reading🌻
Dengan langkah lebarnya Zhafran masuk kedalam rumahnya setelah memarkir mobil miliknya.
Wajah pria itu terlihat campur aduk antara bahagia dan khawatir, bahagia karena istrinya yang selama 2 tahun koma setelah melakukan operasi kini mengalami perkembangan, tapi dia khawatir jika Istrinya membuka matanya bukan dirinya yang pertama kali di lihat mata indah milik sang istri.
"Assalamu'alaikum," salam Zhafran sedikit meninggikan suaranya agar orang yang ada di dalam rumah mendengar salamnya.
Dan benar saja, belum cukup beberapa menit salamnya sudah dibalas oleh Uminya yang berjalan kearahnya dengan Azzam di gendongannya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi, Nak," jawab Umi Halimah dengan tersenyum menyambut putranya.
"A-apa, apa Istri Zhafran sudah sadar, Umi?" tanya Zhafran setelah menyalami tangan Uminya.
"Dokter baru saja masuk, Nak,"
Tanpa sadar Zhafran tersenyum lebar dan wajah berbinar-binar tidak bisa menutupi betapa bahagianya seorang Zhafran saat ini membuat Umi Halimah terharu karena ini pertama kalinya Zhafran seperti hidup kembali selama dua tahun belakangan.
Zhafran kembali melangkahkan kakinya kearah kamarnya dan di depan kamar tersebut sudah ada Raja yang sedang bermain dengan putrinya dan Abi-nya yang sedang duduk di sebuah kursi.
"Abi?" panggil Zhafran.
"Nak, kamu sudah datang," sahut Kiai Rasyid saat melihat putranya berjalan kearahnya dengan tersenyum bahagia.
Pria paruh baya itu berdiri dari duduknya sembari membalas senyuman Zhafran.
Begitupun dengan Raja. Pria itu ikut berdiri setelah meraih tubuh mungil Azzima kedalam gendongannya.
"Bagaimana keadaan Aza, Bi?" tanya Zhafran dengan raut wajah tidak sabar pada ayahnya setelah berdiri di depan sang abi. "Apa kata dokter, Aza akan segera sadar kan?"
"Dokter sedang memeriksanya, Nak, sabarlah, kita tunggu dokternya dulu," jawab Kiai Rasyid.
Zhafran berjalan kearah pintu kamarnya dengan tidak sabarnya, Abi dua anak itu membuka duan pintu berwarna coklat tersebut sedikit keras hingga menimbulkan suara. Dia benar-benar tidak sabar jadi dia tidak bisa menunggu sang Dokter untuk keluar.
KREK ....
Dokter yang sedang menangani Aza tersenyum kearah pintu saat tau siapa yang berdiri diambang sana.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Zhafran sembari berjalan ke sisi kiri Aza.
Ibu dua anak itu masih setia menutup matanya membuat Zhafran merasa kecewa karena tidak sesuai dengan harapannya saat dia mendapatkan kabar kalo sang istri menggerakkan tangannya.
"Alhamdulillah, atas kekuasaan Allah serta do'a kalian, Istri pak Zhafran sudah melewati masa komanya," jelas sang dokter.
"Kenapa Istri saya belum membuka matanya, Dok?" tanya Zhafran tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik milik sang istri.
Semua alat medis yang menempel pada tubuh Aza sudah dokter singkirkan karena istri dari Abidzar Zhafran Al-Ghifari ini sudah dalam keadaan stabil, tapi hanya saja belum membuka matanya.
Zhafran duduk di samping Aza lalu meraih tangan mungil itu. "Ayo sayang, buka matanya, Mas sudah tidak sabar melihat matamu indah mu, Humaira."
Mendengar perkataan Zhafran membuat sang dokter menangani Aza selama dua tahun ini tersenyum mendengar dan melihat betapa sayangnya seorang Zhafran pada istrinya.
"Saya izin pamit, pak Zhafran," ujar sang dokter pamit pada Zhafran.
"Terimakasih banyak dokter," ujar Zhafran sebelum dokter yang itu beranjak dari tempatnya.
"Sama-sama, Pak, assalamu'alaikum," salam sang dokter.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Zhafran.
Setelah dokter itu sudah keluar Zhafran langsung menatap kembali wajah istrinya. "Syukron katsiron, Humaira."
Tangan milik Zhafran mengelus pipi Aza yang kini terlihat tirus selama dia koma. "Mas sangat merindukanmu. Mas tau, kamu tidak akan pergi meninggalkan kami."
Zhafran menggenggam tangan mungil Aza dengan kedua telapak tangannya dengan lembut. "Hiks ... hiks ... hiks ..., Kamu berhasil membuat Mas hampir gila, Sayang."
"Sekarang bangunlah, dan liat mereka yang sudah menunggu kehadiran mu!" bisik Zhafran.
"Dia akan segera sadar," ujar Kiai Rasyid yang baru saja masuk dan berdiri di samping Zhafran bersama dengan yang lainnya termasuk Raja yang masih menggendong Azzima. Gadis kecil itu seketika melupakan Abi-nya jika sudah bersama Raja, ayahnya angkatnya.
"Aamiin," ujar Zhafran mengaminkan perkataan Abi-nya lalu menoleh kearah Uminya. "Umi, bagaimana Aza bisa menggerakkan tangannya?"
"Umi gak tau kejadiannya seperti apa, tapi pas Umi masuk ke kamar kamu, Umi kaget saat melihat Azzima dan Azzam berada di atas tempat tidur dan duduk di samping Aza sambil menangis kencang," kelas Umi Halimah.
"Aku juga tidak tau, Gus, ku keluar sebentar untuk ke mobil ambil mainan untuk mereka, pada saat aku kembali, mereka sudah tidak ada di tempat," lanjut Raja. "Setelah itu aku mendengar tangisan mereka ada di kamar."
Zhafran hanya mengangguk setelah mendengar penjelasan Raja dan Uminya. Dia akan memeriksa cctv yang sudah di pasang di kamarnya nanti.
Dua tahun yang lalu, Zhafran memasang cctv di kamarnya untuk mengawasi perkembangan Aza melalui ponselnya saat dia tidak dirumah atau berada di kamarnya.
"Apa kata dokter, Nak?" tanya Umi Halimah.
"Aza akan segera membuka matanya, Umi," jawab Zhafran kembali menatap wajah sang istri dengan tersenyum manis tidak sabar.
Penantiannya selama dua tahun ini akan terbalas dengan kesadaran Aza.
Zhafran memiliki banyak mimpi yang harus dia wujudkan saat sang istri terbangun nanti.
"Zhafran, apa kamu mampir ke ibu mertuamu?" tanya Kiai Rasyid.
"Belum sempat, Bi."
Bagaimana dia sempat mengunjungi ibu mertuanya, saat dia sedang masih di makam ayah mertuanya sang umi sudah menelepon dan memberikan berita yang sangat membahagiakan.
Iya, dua tahun yang lalu ayahnya Aza mengalami kecelakaan bersama sang istri saat akan kembali pulang kerumah mereka. Zaid dinyatakan meninggal ditempat, sedangkan Haliza dilarikan kerumah sakit dan masih bisa di selamatkan oleh tim medis.
Setiap bulan Zhafran menyempatkan dirinya untuk berziarah ke makam ayahnya mertuanya selama dua tahun ini. Dan tepatnya hari ini Zhafran kembali berziarah ke makam tersebut dan saat di pemakaman sang Umi menelpon dan mengatakan tentang Istrinya. Jadi dia belum sempat untuk menemui Ibu mertuanya.
"Hubungi ibu mertuamu, Nak, dan minta dia datang," pinta Umi Halimah.
"In syaa Allah, Umi."
"Hmm ..., Gus, boleh aku bawah Azzima jalan-jalan?" izin Raja pada Zhafran.
Niatnya datang ke rumah Zhafran memang ingin membawa gadis mungil itu jalan-jalan seperti biasa.
"Boleh, tapi jangan terlalu manja kan dia dengan makanan atau mainan," ujar Zhafran saat mengingat dimana Raja membawa Putri kecilnya untuk jalan-jalan dan datang dengan berbagai cemilan, mainan dan barang-barang lainnya yang menurut Zhafran sangat tidak bermanfaat untuk anak sekecil Azzima.
"Akan ku usahakan, tapi aku gak janji." Raja tertawa kecil. "Kalo buka sekarang, kapang lagi? mumpung Azzima belum jadi gadis cantik, kalo udah jadi gadis cantik, ayah tidak akan bisa dekat-dekat Azzima nya ayah lagi."
Pria itu menghujani wajah gemes Azzima dengan kecupannya.
"Nikah, Raja, biar kamu juga punya anak," canda Kiai Rasyid.
"Kalo gitu carikan satu santri putri Abi yang cantik kaya Azzima," balas Raja.
"Ane dulu baru Ente," ujar Ali yang tiba-tiba datang tanpa mengucapkan salam.
Mendengar suara Ali, Azzam langsung memaksa turun dari gendongan neneknya dan berlari kearah Ali.
Jika Azzima dekat dengan Raja, maka Azzam dekat dengan Ali. Entah kenapa Zhafran mini itu suka berada di gendongan Ali.
"Kaifa haaluka ya Habibi Azzam?" tanya Ali pada Zhafran dengan bahasa aran setelah Azzam sudah berada di gendongan.
Azzam hanya tertawa kecil memperlihatkan giginya yang sudah tumbuh.
"Sebaiknya, kita keluar, biarkan Aza istirahat agar segera sadar," ujar Kiai Rasyid.
"Apa Ning Aza akan segera sadar?" tanya Ali.
"Kita tunggu aja," jawab Umi Halimah.
Merekapun keluar dari kamar Zhafran.
Sedangkan Raja dan Azzima sudah masuk kedalam mobil siap untuk berang jalan-jalan.
Sudah beberapa kali Raja membawa Azzima jalan-jalan keliling kota, mereka akan pulang jika gadis kecil itu sudah tertidur.
Sedangkan Raja membawa Azzima ke rumah orang tuannya dan membawanya ke kantornya untuk di pamerkan pada karyawan kalo dirinya sudah memiliki anak.
***
Setelah melakukan solat zhuhur Zhafran kembali duduk di kursi yang ada di samping ranjang miliknya dimana Aza masih menutup matanya. Walaupun Dokter bilang istrinya akan segera sadar. Namun, sampai saat ini wanita itu masih enteng menutup matanya.
Dengan pelan-pelan, Zhafran meraih tangan Aza untuk di genggamnya sembari membaca Al-Qur'an surah Ar-rahman.
Semenjak Aza koma, Zhafran tak pernah lupa selalu membacakan ayat-ayat suci untuk Aza sebagai obat sesuai firman Allah yang artinya:
"Dan kami turunkan Alquran yang ia adalah 'syifa', dan rahmat bagi kaum mukmin; dan tiadalah (yang didapat) bagi orang-orang zalim kecuali kerugian." (QS Al-Isra ayat:82)
Sebelum memulai bacaannya Zhafran mengecup kening Aza dengan lembut.
Ini kesekian kalinya Zhafran membacakan ayat suci Al-Qur'an untuk Aza. Semenjak Aza koma Zhafran selalu melantunkan ayat-ayat Allah di samping istrinya.
"A'udzu billahi minas-syaitanir-rajimi.
Bismillahirrahmannirrahiim.
Ar-raḥmaan ....
allamal qur'aan ....
khalaqal insaan ....
'allamahul bayaan ....
asy-syamsu wal-qamaru biḥusbaan ....
Wan-najmu wasy-syajaru yasjudaan ....
Was-samaa'a Rafa'aha wa wada'al mizaan ....
Allaa tatgau fil-miizaan ....
Wa aqiimul wazna bil-qisti wa laa tukhsirul miizaan ....
Wal-arda wada'ahaa lil-anaam ....
Fiihaa faakihatuw wa-nakhlu zaatul akmaam ....
Wal-habbun zul-'asfi war-raihaan ....
Fabi'ayyi 'alaa'i rabbikumaa tukazzibaan ....
Khalaqal insaan-"
"Mas ...!"
TBC.
Author hatersnya sad ending.