
#MY_HUSBAND
#PART_33
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Hay Gaeyss ....
Vote+komen ya😁
___________________
🌻Happy reading🌻
Zhafran menatap istrinya sebelum keluar dari mobil.
"Langsung panggil Mas kalo Adek kenapa-napa iya," pesan Zhafran sembari menatap istrinya.
"Aza udah gak apa-apa ko, Mas."
"Mas khawatir, Sayang." Zhafran melepaskan safety belt di tubuh Aza setelah melepaskan safety belt miliknya.
"Iya-iya, Aza akan langsung panggil Mas Zhafran,"
"Pintar." Zhafran mengelus pipi sang istri dengan lembut.
" ... Sebelum mengerjakan soal jangan lupa berdoa agar Allah melancarkan segalanya, oke!"
"Oke ...! Pak Zhafran."
Aza menyalami tangan Zhafran dan dibalas Zhafran dengan kecupan manis di kening gadis itu.
Setelah beberapa menit Aza dan Zhafran pun keluar dari mobil dan masuk kedalam sebelum bel berbunyi.
"Mereka punya hubungan apa sih? Gue gak percaya kalo pak Zhafran itu om-nya Aza," ujar Dewi saat melihat Aza menggandeng tangan Zhafran.
Selama sebulan ini Dewi selalu memperhatikan interaksi mereka, kadang Dia melihat Aza masuk kedalam ruangan Zhafran sembunyi-sembunyi dan itu membuatnya semakin curiga.
"Ini gak wajar kalo cuman sekedar om dan ponakan," lanjut Dewi. "Atau, jangan-jangan mereka punya hubungan lebih dari om dan ponakan."
" ... Gue harus cari tau,"
Dewi tersenyum lebar saat sebuah ide singgah di kepalanya.
"Kali ini Lu gak bisa lolos lagi, Aza, udah lama Gue pengen liat Lo malu dan hancur,"
***
Raja menghisap rokoknya dengan santai.
Pikiran saat ini di penuh dengan Aza yang kini semakin sulit dia gapai.
"Lu kenapa?" tanya Zean pada Raja yang sedari tadi hanya melamun.
"Pusing, Gue."
"Aza?" tanya Zean.
Jujur saja Zean ingin jujur pada Raja kalo gadis yang dia cintai sudah menikah dengan pria yang pernah mereka selamatkan.
Namun, dia tidak ingin rahasia Aza tersebar dimana-mana karena ulahnya, bukannya dia tidak percaya sama Raja, sahabatnya, tapi dia tidak ingin Raja sakit hati dan mabuk-mabukan di club' cukup Azka saja.
Ngomong-ngomong Azka sudah jarang kumpul dengan mereka, Zean tidak tau apa sebabnya hingga sahabatnya yang satu itu mulai berubah.
"Hmmm," jawab Raja terlihat berpikir.
"Gue kasih saran, Lu gak usah terlalu berharap pada Aza," tutur Zean.
"Kenapa?"
"Aza terlalu sulit untuk digapai,"
"Apa karna dia sudah menikah?" tanya Raja tiba-tiba membuat Zean membulatkan matanya terkejut.
Untungnya saat ini mereka hanya berdua.
"Lu sudah tau?" tanya Zean.
"Gue gak sebodoh itu, Zean."
"Lu gak ada niatan jadi peminor 'kan?" tanya Zean dengan nada bercanda.
"Gak,"
"Bagus,"
Secinta-cintanya Raja pada Aza dia tidak akan mau jadi perebut istri orang.
"Ayo masuk, bentar lagi masuk," ajak Zean.
"Hmmm."
***
Ali menatap Ayah dan ibunya yang sedang duduk di depannya.
"bukannya mereka datang minggu depan, kenapa hari ini?" batin Ali heran.
Beberapa menit yang lalu pasutri itu datang menemuinya, dan ini kali pertamanya Ali bertemu langsung dengan ayah dan ibunya, karena selama ini pria itu selalu menghindar saat orang tuannya datang menemuinya.
Namun, kali ini dia berbesar hati untuk menemui kedua orang tuannya yang sudah tega membuangnya selama ini.
Dengan mata berkaca-kaca, Rena menatap putra sulungnya.
"Al," lirih Rena ingin memeluk putranya.
"Kalian ngobrol saja, kami akan keluar," ujar Kiai Rasyid memberikan waktu luang pada orang tua dan anak tersebut.
"Abi gak usah keluar," ucap Ali menahan Kiai Rasyid dan Umi Halimah.
"Ali, mereka orang tua kamu, Nak," ujar Umi Halimah mengelus pundak Ali.
" ... Dengarkan penjelasan mereka," Lanjutnya membuat Ali hanya mengangguk mengiyakan perkataan Umi Halimah.
"Pak Riyan, Ibu Rena, kami tinggal dulu, mari," pamit Kiai Rasyid.
"Terima kasih, Pak Kiai," ujar Riyan berterima kasih.
"Sama-sama."
•••
Jam 10:00 pagi.
"Za, Lu jangan keseringan ke ruangannya pak Zhafran," ujar Shafa mengingat Aza agar sahabatnya itu tidak ketahuan.
"Gak bisa, Shaf,"
"Apanya gak bisa sih, cuman beberapa jam doang ko, kalian bisa ketemu di rumah lagi,"
Aza tidak perduli, gadis itu tetap ke ruangan Zhafran.
Kalo hubungannya dengan Zhafran ketahuan tidak jadi masalah, kan bentar lagi lulus.
"Terserah Lu, aja lah, Gue pusing," Shafa sudah pasrah dengan kelakuan Aza yang seenaknya keluar masuk ke ruangan Zhafran.
Meskipun mereka suami-istri, tapi ini lingkungan sekolah, apa kata siswa-siswi jika mengetahui hubungan mereka.
"Dah ... Shafa cantek." Aza berlari kecil meninggalkan Shafa yang sudah merasa kesal.
Tanpa mereka sadari percakapannya didengar oleh Dewi yang sedari tadi mengikuti mereka sedari tadi.
"Kecurigaan Gue benar, mereka bukan hanya om dan ponakan," lirih Dewi sembari memasang senyuman devil nya.
Tanpa membuang waktu, Dewi membuntuti Aza saat Shafa sudah pergi yang sudah bodoh amat dengan kelakuan Aza.
Dewi menyalakan kamera ponselnya saat melihat gerak gerik Aza sebelum masuk ke ruangan Zhafran.
Sedangkan Aza membuka ruangan suaminya saat sudah merasa aman.
KREK ....
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Mas Zhafran." Aza langsung berlari kecil kearah Zhafran dan duduk diatas pangkuannya.
Seharusnya dia tidak heran lagi, karena ini bukan pertama kalinya sang istri masuk tanpa permisi, tapi namanya manusia biasa pasti ada keterkejutan.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, kebiasaan." Zhafran menahan tubuh istrinya agar tidak terjatuh.
"Hehehehe, maaf."
"Bagaimana ujiannya?" tanya Zhafran.
"Alhamdulillah, lancar."
"Alhamdulillah."
"Mas, Aza lapar." Gadis itu melingkarkan tangannya ke leher suaminya dengan wajah malasnya.
"Kita pulang sekarang?" tanya Zhafran.
"Hmmm." Aza mengangguk senang.
Cup ....
Dengan gemes Zhafran mengecup sekilas bibir sang istri.
"Ayo."
Hari ini Aza pulang cepat karena mata pelajaran cuman satu.
Dewi yang melihat dengan mata kepalanya sendiri tersenyum puas.
"Cih ... dasar jal4ng." Dewi mematikan kamera ponselnya yang merekam semuanya.
Dewi pindah dari tempatnya saat Aza dan Zhafran keluar.
Tidak mau ketinggalan jejak, Dewi mengikuti kemana mereka akan pergi.
"Silahkan masuk, princess." Zhafran membukakan pintu mobil untuk Aza, untungnya sekolah sepi karena ada ujian, jadi hanya orang-orang yang akan ujian yang datang.
"Syukron katsiron, Gus," sahut Aza dengan tersenyum sebelum masuk kedalam mobil.
"Afwan, Ning Aza," balas Zhafran terkekeh kecil kemudian menutup pintu mobil setelah Aza sudah masuk kedalam, kemudian pria itu memutari mobilnya dan masuk kedalam.
"Siap berangkat?"
"Bismillah, siap."
Zhafran tersenyum dan menyalakan mobilnya setelah membaca doa sebelum berkendara.
Sedangkan disisi lain Dewi menyalakan mobilnya untuk mengikuti mobil mereka.
Setelah beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di depan sebuah apartemen.
Zhafran memarkiran mobilnya lalu turun dan membuka pintu untuk sang istri.
"Inikah bukan rumah Aza," lirih Dewi saat melihat pasutri itu masuk kedalam bergandengan tangan.
Tanpa membuang waktu Dewi kembali memotret Aza dan Zhafran.
"Akan jadi gosip besar,"
***
"Untuk apa kalian kemari?" tanya Ali tidak bersahabat.
Walaupun terlihat tidak menyukai kedatangan orang tuannya, tapi hati kecilnya sangat bahagia.
"Al," panggil Rena.
Wanita paruh baya itu berdiri dan berjalan kearah Putranya yang sudah berpisah selama 25 tahun.
Wajar jika sang putra mereka membencinya.
"Mama bisa jelaskan, Nak." Rena duduk di samping sang Putra dengan mata berkaca-kaca karena terharu melihat putra secara langsung, karena selama ini Ali tidak pernah menemui mereka saat mereka datang untuk menemui sang putra.
Ali hanya diam menahan rasa rindunya yang ingin di peluk oleh seorang ibu.
"Al, hiks ... hiks ... hiks ...." Tangisan Rena pecah sembari memeluk sang putra..
Sedangkan Riyan hanya menyimak antara ibu dan anak tersebut.
"Maafin Ibu, Nak, maafin ibu yang sudah meninggal mu begitu saja, hiks ... hiks ...."
Air mata Ali meneteskan tak terbendung lagi.
"Ali mau mendengar alasan Kalian," ujar Ali tiba-tiba.
"Ceritanya panjang, Nak," sahut Riyan.
"Ali siap mendengarkan,"
Riyan menarik nafasnya sebelum memulai ceritanya. "Waktu itu kami dalam keadaan terpaksa, nyawa mu dalam bahaya, mereka mengincar nyawamu karena kamu adalah putra Ayah dan cucu pertama dari keluarga Ayah yang akan mewarisi perusahaan kakekmu, jadi Kami meninggalkanmu di tempat yang aman."
Air mata Ali semakin mengalir, ternyata selama ini dia salah faham dengan kedua orang tuannya, dia pikir orang tuannya membuang dirinya karena malu memiliki anak seperti dirinya.
Namun, itu semua salah.
"Ibu," lirih Ali.
Pria tampan itu menarik Rena kedalam pelukannya.
25 tahun dia hidup tanpa kasih sayang seorang ibu, walaupun dia tidak pernah kekurangan kasih sayang itu, tapi rasanya berbeda jika itu ibu kandung sendiri.
"Kita akan pulang kerumah," ujar Rena bahagia.
Mendengar perkataan Ibunya, Ali langsung melepaskan pelukannya dan menggeleng.
"Ali tidak bisa pergi, Mah, tanggungjawab Ali di sini masih banyak," tolak Ali.
"Baiklah, kapan Ali bisa pulang, Mamah akan menjemput mu," ujar Rena menghapus sisa-sisa air matanya.
"Ali akan menghubungi Mama kalo Ali udah siap,"
"Baiklah,"
***
Dewi menjatuhkan dirinya diatas tempat tidur miliknya sambil tersenyum.
"Ngapain Lu senyum-senyum gitu?" tanya seseorang yang baru saja masuk kedalam kamar Dewi tanpa permisi.
"Kapan Lu datang? ko Gue gak dengar?" bukannya menjawab Dewi malam bertanya balik.
"Gue udah ketuk pintu kamar Lu, tapi Lu nya aja yang gak dengar,"
Dewi tidak mempedulikan jawaban dari sepupunya itu dia melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda..
"Besok, hidup Lu akan berakhir, Aza," lirih Dewi yang masih bisa di dengar oleh sepupunya.
"Aza?" tanya gadis itu tanpa sengaja mendengar nama Aza.
"Lu kenal?" tanya Dewi.
"Aza shakila bukan?"
"Iya, teman kelas, Gue," jawab Dewi. "Besok hidupnya akan berakhir dengan tragis."
Dewi tersenyum puas setelah mengunggah video dan beberapa foto di akun lambe turah sekolahnya.
Gadis itu meraih ponsel Dewi secara paksa.
Betapa terkejutnya saat melihat video dan foto apa yang sepupunya itu update.
Belum sempat dia hapus Dewi langsung mengambil ponsel tersebut secara paksa.
"Gila lu, Wi, hapus gak!"
"Gue gak mau, siapa Lu nyuruh-nyuruh Gue,"
"Wi, mending Lu hapus daripada jadi masalah besar,"
" ... Dewi, hapus!"
"Gue gak mau, Rani!"
TBC.