
#MY_HUSBAND
#PART_47
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Hay Gaeyss ....
___________________
🌻Happy reading🌻
Dengan wajah cemberutnya Aza menatap dirinya lewat pantulan cermin, pipinya semakin tembem dan tubuhnya semakin berisi ditambah dengan perutnya yang semakin buncit karena sudah memasuki bulan ke 8.
Yaps ..., kehamilan Aza sudah memasuki bulan ke 8 sebentar lagi penantiannya akan segera berakhir.
Krek ....
Suara pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan sosok Zhafran yang menggunakan baju kaos berwarna putih serta handuk yang melilit di pinggangnya.
Jangan lupa, rambutnya yang basah menambah kadar ketampanan seorang Zhafran di mata Aza.
Dengan wajah tersenyum Zhafran menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang.
Tangannya sudah tidak muat lagi, tapi tidak mengurungkan niatnya untuk memeluk sang istri.
"Maa Syaa Allah, calon Umi makin cantik," puji Zhafran jujur.
Tiba-tiba senyuman Aza pudar saat mendengar pujian Zhafran yang terdengar seperti sebuah kebohongan.
"Mas Zhafran bohong!" lirih Aza.
Zhafran menaikan satu alisnya sembari menatap pantulan dirinya dan Aza di dalam cermin yang ada di depan.
"Mas gak bohong, Sayang." Zhafran melepaskan pelukannya dan memutar tubuh Aza agar mengidap kearahnya. "Adek itu sangat cantik."
"Aza gak cantik, Mas. Aza udah jelek, gendut, pipi Aza juga tembem, perut Aza juga buncit," ujar Aza insecure.
"Sayang, dengerin Mas." Zhafran meletakkan telapak tangannya di kedua sisi pipi Aza dengan lembut. "Adek itu tidak jelek, Adek itu sangat cantik, Adek gak gendut cuman berisi karena mengandung dua bayi. Asal Adek tau, mas lebih suka Adek chubby seperti ini, lucu dan bikin gemes," tutur Zhafran dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Mas ndk bohong kan, kalo Aza cantik?" tanya Aza dengan mata berbinar bahagia setelah mendengar kata-kata Suaminya itu.
Siapa yang tidak bahagia saat dirinya di puji cantik apa lagi sama suami sendiri.
"Wallahi, Mas gak bohong, Adek sangat cantik di mata Mas,"
Aza memanyunkan bibirnya kembali kesal saat mendengar kejujuran suaminya. Bumil cantik ini tidak ingin cuman terlihat cantik di mata suaminya, dia ingin cantik di mata orang setiap yang menatapnya.
"Aza maunya cantik di mata orang-orang, bukan di mata mas." Dengan kesal Aza beranjak dari tempatnya dan duduk di pinggir ranjang.
Dengan sabar Zhafran ikut duduk di pinggir ranjang dengan dengan istrinya.
"Adek." Zhafran meraih dagu Aza agar menghadap ke arahnya. "Adek gak perlu cantik di mata manusia, cukup cantik di mata Allah dan di mata Mas."
Aza menatap Zhafran dengan terharu. Semenjak hamil dia banyak berubah, mudah baper.
"Jangan nangis," ujar Zhafran saat melihat mata Istrinya sudah berair.
"Mas Zhafran baik, Aza gak bisa tahan air mata pengen nangis."
Zhafran benar-benar tidak percaya dengan istrinya ini.
"Mau keluar?" tanya Zhafran.
"Kemana, Mas?"
"Ke teras rumah, keliling pesantren?"
"Mau ...!"
"Ayo, mas pake baju dulu, Adek juga pake jilbabnya."
Aza tersenyum lalu mengangguk, sudah lama dia tidak jalan-jalan keliling pesantren, terakhir dia keluar dari rumah waktu kejadian dirinya tertidur di atas pohon mangga, sejak itulah Zhafran tidak membiarkan Aza keluar dari rumah, gadis itu hanya jalan-jalan didalam rumah saja, entah itu ke dapur, kamar, ruang tamu, ruang keluarga dan teras rumah, tapi tidak boleh ke luar dari zona tersebut, hingga Aza kadang bosan. Namun, Zhafran selalu menghiburnya berbagai cara dan tentunya sangat bermanfaat untuk si janin dan calon ibu.
"Wah, Aza sudah lama tidak jalan-jalan seperti ini, Mas." Aza menghirup udara segar saat sudah berada di luar rumah.
"Maaf, Sayang, Mas sudah mengurung Adek terlalu lama."
"Tidak masalah, Mas Zhafran." Aza tersenyum, dirinya tidak menyesal ataupun marah karena suaminya mengurungnya seperti penjahat.
"Sekarang mau kemana?" tanya Zhafran.
"Aza mau beli es krim didepan." Aza menunjuk kedai es krim di sebrang sana yang tak jauh dari pesantren.
"Biar mas yang beli, Adek tunggu sini aja," ujar Zhafran membuat Aza kembali cemberut.
"Mas Zhafran ini bagaimana sih, kan Mas yang nanya mau kemana, Aza jawab mau ke depan beli es krim, kok Mas Zhafran yang beliin."
"Iya udah, ayo mas temani." Zhafran meraih tangan Istrinya.
"Kalian mau kemana?" tanya Umi Halimah yang baru saja datang dan melihat pasutri tersebut.
"Mau ke depan, Umi," jawab Aza sopan.
Bumil dengan gamis longgar berwarna hitam itu tersenyum pada Ibu mertuanya setelah menjawab pertanyaannya.
"Nak Aza gak usah ikut iya, biar Zhafran aja," tutur Umi Halimah.
"Zhafran udah bilang, Umi, biar Zhafran aja, tapi dia gak mau," ngadu Zhafran terkekeh kecil.
"Umi, kata dokter Aza harus sering jalan-jalan, agar persalinannya lancar," sahut Aza tak mau kalah.
"Jalan-jalannya di dalam rumah aja, Nak,"
"Hmmm ...." Aza menatap suaminya untuk meminta alasan agar mereka bisa ke depan untuk beli es krim, tapi Zhafran mengalihkan pandangan kearah lain seolah-olah tidak peka dengan tatapan istrinya.
Dengan kesal Aza menginjak kaki Suaminya, hingga membuat Zhafran meringis kesakitan.
Dengan wajah menahan rasa sakit dia menatap istrinya. "Kok mas di injak?"
"Ngeselin," bisik Aza.
Sedangkan Umi Halima menutup mulutnya agar tawanya tidak pecah setelah melihat putranya dan menantunya itu.
"Bilang ama Umi, cepat!" lanjut Aza kembali berbisik.
"Umi tenang aja, Zhafran akan jagain Aza, jadi aman," ujar Zhafran.
"Baiklah, awas kalo Menantu dan calon cucu Umi kenapa-napa!"
"Aman." Zhafran mengarahkan jari jempolnya kearah Umi Halimah.
"Ya udah, sana, kalian jangan lama-lama," pesan Umi Halimah.
"In syaa Allah." Zhafran dan Aza menyalami tangan Umi Halima sebelum ke depan untuk beli es krim yang Aza inginkan.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Aza dan Zhafran bersamaan.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Umi Halimah.
***
"Sayang, jangan beli banyak-banyak, nanti mubazir," ujar Zhafran saat melihat Aza memasukkan es krim dengan berbagai rasa ke dalam plastik.
"Ini gak mubazir, Mas, kan ada kulkas,"
"Adek gak boleh makan es krim terlalu banyak,"
Aza menatap Zhafran. "Mas cerewet banget. Aza kan gak makan sekaligus."
"Ya udah," ujar Zhafran mengalah.
Setelah beberapa saat akhirnya Aza selesai juga, mereka pun membawanya ke kasir untuk di bayar.
Sambil menghitung belanjaan, kasir perempuan tersebut sekali-kali menatap Zhafran dengan kagum, Aza dapat melihatnya dari sorot matanya.
"Adiknya hamil iya, Mas?" tanya kasir tersebut saat melihat kearah Aza yang sedang berada di samping Zhafran.
"Dia bu-" perkataan Zhafran belum selesai kasir tersebut kembali bertanya.
"Boleh minta nomornya, Mas?"
"Minta sama Isteri saya," ujar Zhafran dengan dingin sambil merangkul pinggang Aza.
"I-istri?" tanya sang kasir dengan terbata-bata.
"Iya, Mbak, saya istrinya, Mbak mau nomor suami saya?" tanya Aza.
"Gak jadi, Mbak," jawab sang kasir.
"Berapa, Mbak?" tanya Zhafran saat melihat kasir tersebut selesai menghitung.
"70.0000, Mas," ujar kasir tersebut dengan tersebut kearah Zhafran.
Zhafran mengeluarkan uang 100.0000 dalam dompetnya dan menyerahkan pada kasir.
"Kembaliannya buat Mbak aja," ujar Aza sebelum meninggalkan tempat tersebut.
"Kasirnya naksir sama Mas," ujar Aza tidak dapat menahan rasa cemburunya.
"Tapi mas naksir nya ama bidadari yang ada di samping mas sekarang, bagaimana dong?"
"Gembel ...!" lirih Aza terkekeh geli.
Saat akan menyebarkan tiba-tiba ponsel Zhafran berdering di saku baju kokohnya.
"Bentar, Sayang, jangan nyebrang dulu." Zhafran menahan tangan Aza agar tidak jadi menyebrang.
"Kenapa, Mas?" tanya Aza bingung.
"Mas angkat telpon dulu."
Zhafran meraih ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya.
"Siapa?" tanya Aza.
"Bunda!" lirih Aza.
"Bunda?"
"Hmmm."
"Angkat, siapa tau penting."
Zhafran pun mengangkat panggilan dari ibu mertuanya tersebut.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bunda," salam Zhafran.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Nak Zhafran."
"Bagaimana kabar Bunda dan Ayah?" tanya Zhafran.
"Alhamdulillah, baik, nak, kabar kalian bagaimana? Aza baik-baik aja kan?" tanya Haliza terdengar cemas.
"Alhamdulillah, Istri Zhafran baik-baik aja, B-" perkataan Zhafran terhenti saat mendengar suara benturan keras tak jauh darinya.
BRUK ....
Seketika tubuh Zhafran membeku saat melihat kecelakaan yang terjadi didepannya.
"A-aza ...!" lirihnya.
Tbc.