My Husband

My Husband
Bab 48



#MY_HUSBAND


#PART_48


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Hay Gaeyss ....


___________________


🌻Happy reading🌻


Tubuh Zhafran bergetar hebat saat melihat tubuh istrinya terbaring diatas aspal dengan genangan darah yang mengalir dari kepala sang Istri.


"S-sayang!" lirihnya tak bisa bergerak.


Kakinya terasa terkunci tidak bisa bergerak sama sekali. Matanya sudah basah karena air matanya sudah mengalir tanpa izin.


Sedangkan Aza menatap suaminya yang hanya terdiam seperti robot tidak bisa bergerak sama sekali.


"M-mas Zhafran ...!" lirih Aza dengan suara yang sangat lemah karena rasa sakit yang dia rasakan sangat luar biasa sakitnya.


PLAK ....


"GUS, SADAR!" teriak Angkasa.


Entah dari pada cowok itu bisa ada di samping Zhafran sambil memukul pundak pria itu dengan keras agar sadar.


Zhafran langsung tersadar dan berlari kearah Aza yang sudah sangat lemah.


"S-sayang." Zhafran mengangkat kepalan Aza untuk di letakkan ke atas pangkuannya.


"Telpon ambulans, CEPAT!" teriaknya tak sadar.


"M-mas," panggil Aza.


"Mas disini, Sayang." Zhafran meneteskan air matanya.


"S-sakit ...! A-aza gak k-kuat," ujar Aza terbata-bata karena menahan rasa sakitnya.


"Cepat, panggil ambulans." Zhafran menatap orang yang yang ada di sekelilingnya.


"Gus, mereka akan datang," ujar Angkasa.


"Panggil, Umi sama Abi," pinta Zhafran pada Angkasa.


Angkasa mengangguk dan berlari kearah pesantren.


"Bertahan lah, Sayang." Zhafran menggenggam tangan Aza dengan lembut. "Demi mas."


Air mata Zhafran semakin mengalir.


"M-mas," panggil Aza dengan lirih.


"Mas di sini, Sayang. Mas mohon bertahanlah!"


"A-apa m-mereka baik-b-baik saja?" tanya Aza membuat Zhafran semakin berderai air mata.


"In Syaa Allah, mereka kuat, Sayang."


Setelah beberapa saat kemudian ambulans pun datang.


Dengan cepat Zhafran mengangkat tubuh istrinya kedalam mobil ambulans dan mendudukkan dirinya di samping sang Istri dengan menggenggam tangan yang mungil itu.


"Sayang!" bisik Zhafran pada telinga Aza saat gadis itu akan menutup matanya.


Aza membuka matanya walaupun tidak sempurna gadis itu berusaha untuk tetap sadar.


"Ya ... Allah, ya, Rabb, hilangkanlah kesusahan dan berilah dia kesembuhan. Engkau zat yang maha menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain," doa Zhafran dalam hatinya.


Pria itu mendekatkan bibirnya kearah telinga Istrinya untuk membisikkan kata-kata penenang dan beberapa dzikir serta beberapa doa agar Aza selalu di lindungi oleh Allah.


"M-mas?" panggil Aza dengan lirih.


"Iya, Sayang?"


"S-sakit!"


Air mata Zhafran kembali mengalir saat melihat istrinya kesakitan.


"P-perut Aza sakit,. Mas!" lirih Aza dengan air mata mengalir.


Zhafran mengangkat tangannya dan di letakan diatas perut istrinya dengan sedikit gemetar.


"Ya Allah, hamba mohon, jagalah istri dan anak-anakku," batin Zhafran sembari mengelus perut istrinya dan membaca beberapa doa, sholawat dan dzikir.


Setelah beberapa menit Zhafran telah sampai di sebuah rumah sakit. Untungnya rumah sakit dan tempat tinggalnya tidak terlalu jauh, makanya tidak membutuhkan waktu lama untuk mereka sampai.


"Maaf, Pak. Bapak tidak boleh masuk kedalam," ujar salah satu perawatan pada Zhafran yang ingin ikut kedalam ruangan bersama Aza.


"Dokter, dia Istri saya, saya mau menemaninya," tutur Zhafran.


"Maaf, Pak, sebaiknya bapak tunggu di luar, biar dokter menangani istri bapak." Perawatan itupun masuk dan menutup pintu.


"Arrrhhgg ...!" pekik Zhafran frustasi setelah menjatuhkan dirinya diatas kursi rumah sakit.


Pria itu menyalahkan dirinya sendiri karena sudah lalai menjaga istri dan anaknya dengan baik.


"Zhafran?" panggil Umi Halima yabg baru saja datang bersama Kiai Rasyid.


Zhafran tidak merespon panggilan Uminya dia hanya terdiam di kursi rumah sakit sambil menunduk mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.


"Ini semua salahku, seharusnya aku tidak menerima telepon, seharusnya aku menjaga Aza, seharusnya aku tidak meninggalkannya," gumamnya mengalah dirinya sendiri.


"Bagaimana jika mereka pergi meninggalkan Aku?" tanya Zhafran entah pada siapa.


"Zhafran." Kiai Rasyid menyentuh pundak Putranya.


Zhafran langsung menoleh saat merasakan tangan seseorang ada di pundaknya. "A-abi."


Zhafran langsung memeluk Kiai Rasyid dengan erat. "Z-zhafran takut, Bi."


Melihat putranya tidak berdaya, Kiai Rasyid hanya mampu memberikan nasehat-nasehat yang bisa menenangkan hati putranya saat ini.


"Jangan takut, Nak, Allah bersama hamba-hamba-Nya."


"Bagaimana, bagaimana kalo mereka pergi meninggalkan Zhafran, Bi?" tanya Zhafran setelah melepaskan pelukannya dan menatap kearah Kiai Rasyid dengan tatap sedih.


"Zhafran, jangan ngomong seperti itu, Nak," sahut Umi Halimah mengelus pundak Putranya.


KREK ....


Suara pintu tempat Aza di rawat terbuka dan menampilkan sosok wanita dengan seragam ala dokternya berjalan kearah Zhafran dan orang tuannya.


"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Zhafran setelah berdiri di hadapan sang dokter yang menangani Istrinya.


"Pasien harus di operasi untuk menyelamatkan bayinya," tutur sang Dokter.


"Lakukan apapun dokter, yang penting anak-anak saya selamat bersama istri saya!" tekan Zhafran pada sang Dokter dengan sedikit emosi.


"Kami butuh tandatangan mu untuk melakukan operasi," ujar Dokter. "Ikut keruangan saya."


Zhafran mengangguk dan mengikuti Dokter keruangan.


"Tandatangan disini, pak," ujar Dokter pada Zhafran setelah mereka sudah berada di suatu ruangan milik sang Dokter.


Tanpa berpikir panjang Zhafran menandatanganinya.


"Selamat kan Mereka dokter, saya mohon," tutur Zhafran.


"In Syaa Allah kami akan berusaha sebaik mungkin, pak, tapi Allah lah yang penentu, kami hanyalah perantara."


***


KREK ....


Suster keluar bersama dokter dan suster lainnya mendorong Aza yang ada diatas ranjang rumah sakit.


"Sayang." Zhafran berlari kearah Aza dan berdiri di samping sang istri.


Pria itu langsung meraih tangan Aza dan di genggamnya. "Bertahanlah, Mas mohon!"


Aza tersenyum tipis saat melihat wajah suaminya. "M-mas."


"Mas di sini, sayang, di samping kamu." Zhafran melangkahkan kakinya mengikuti dimana Aza akan di bawah tanpa menghentikan genggamannya hingga sampai di depan ruang operasi.


"Maaf, pak, anda tidak boleh masuk," ujar sang suster.


"Izin kan saya untuk menemani istri saya, Sus."


"Maaf, Pak, ini sudah peraturan rumah sakit."


"Saya ingin menemui istri saya di dalam, suster!" teriak Zhafran geram dengan peraturan yang ada.


"Maaf, pak, biarkan dokter yang menangani istri Bapak."


"D-dokter, aku ingin, Mas Zhafran b-bersama ku!" lirih Aza.


"Baiklah, tapi bapak tidak boleh mengganggu pekerjaan Dokter saat di dalam,"


"In Syaa Allah, Dokter."


Zhafran memakai baju khusus yang di berikan salah satu perawatan padanya sebelum masuk.


***


"Si4lan, dia gak ada kapok-kapoknya jadi orang!" geram Angkasa saat melihat siapa pelakunya lewat cctv bersama Ali dan raja.


Angkasa langsung menghubungi Ali dan memberitahunya tentang kejadian ini, sedangkan Raja, pria itu berniat akan berkunjung ke pesantren, tapi dia berhenti saat berpapasan dengan angkasa dan Ali yang terlihat sangat terburu-buru.


Rahang Raja mengeras karena marah saat melihat sebuah motor dengan sengaja menabrak Aza yang sedang berdiri di pinggir jalan.


Pria itu langsung meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. Agar menangkap siapa di balik helm tersebut.


"Tanpa cctv, Gue bisa jadi saksi ko," ujar Angkasa.


"Lu liat kejadiannya?" tanya raja dibalas Angkasa dengan mengangguk.


Plak ....


Raja memukul kepala Angkasa cdi bagian belakang, tidak terlalu sakit, cuman Angkasa tidak suka di pukul seperti itu.


"Apa-apaan sih lu, mukul pala gue, kali gue geger otak, gimana, anj1ng."


"Bego, Lu, kenapa Lu gak nolongin Aza, hah?"


"Iya mana gue tau kalo tuh motor akan menabrak Aza,"


"Udah-udah, kalian jangan bertengkar, bikin pusing aja, lebih baik kita lapor polisi," lerai Ali.


"Oke,"


Tiga mahluk tampan ciptaan Allah itu pun masuk kedalam mobil milik Ali untuk pergi ke kantor polisi membuat laporan atas kejadian ini.


"Apa kita gak ngomong dulu ama keluarga Kiai?" tanya Raja.


"Gak usah! kelamaan kalo ngomong dulu ama keluarga Kiai, keburu tuh pelaku kabur," tutur Angkasa.


"Ana setuju dengan Akhi Angkasa."


Mendengar perkataan Ali membuat Angkasa ingin muntah sekarang juga, jujur dia tidak suka di panggil dengan sebutan Akhi dan sejenisnya.


****


Zhafran duduk di sisi kanan Istrinya. Sekali-kali pria itu mengecup tangan sang istri dan melantunkan ayat-ayat suci dan doa di telinga Aza.


Setelah beberapa saat kemudian suara tangisannya bayi pertama terdengar ditelinga Zhafran.


"Jagoan kita sudah lahir, Humaira!" bisik Zhafran di telinga Aza.


Mendengar bisikan itu Aza tersenyum tipis dengan mata yang akan tertutup sambil melafazkan dua kalimat syahadat.


"Humaira!" bisik Zhafran agar Aza tidak menutup matanya dengan rapat.


Namun, mata Aza semakin tertutup dan tangannya terjatuh dari tangan Zhafran.


Zhafran yang panik langsung berteriak pada Dokter.


"DOKTER ...!"


TBC