
#MY_HUSBAND
#PART_35
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Hay Gaeyss ....
Vote+komen ya😁
___________________
🌻Happy reading🌻
Aza meraih jilbabnya sebelum pergi meninggalkan Raja, Bima dan Zean dengan sedikit marah karena nama baik Zhafran sudah rusak karena video dan foto mereka sudah tersebar.
"ZA, TUNGGUIN, GUE!" teriak Shafa pada Aza yang sudah jauh darinya.
Aza tidak mendengarkan teriakan Shafa, tujuannya saat ini adalah mading.
Setelah beberapa menit, dia sudah berdiri di depan mading yang sudah terpasang beberapa fotonya bersama Zhafran.
“Bukannya dia guru agama, kenapa kelakuan kaya gitu, tidak mencerminkan seorang guru agama, bukannya dia sudah punya istri? kenapa masih main perempuan," tutur seseorang membuat Aza geram dan ingin menonjok muka gadis itu.
"Ck ... dasar pelakor,"
"Kalo di sodorkan hidangan pasti dimakankan, bagaimanapun pak Zhafran itu seorang manusia dan dia laki-laki, jadi muda tergoda," tutur yang satunya.
"Lagian, cowok mana yang akan menolak gadis seperti Aza? tidak ada!" sambung seorang cowok yang ikut menatap foto tersebut.
Aza berjalan kearah mading dan meraih beberapa foto dengan tersenyum walaupun hatinya sedikit marah sebab nama baik suaminya tercemar karena ulahnya.
"Kalo Lu gak tau apa-apa gak usah komen," decak Aza setelah meraih foto tersebut dan menatap orang-orang yang sudah berdiri dihadapannya dengan berbagai tatapan.
Tangannya terasa gatal ingin memukul wajah mereka semua, tapi dia harus menahan diri karena ini masih wilayah sekolah.
"Dibayar berapa Lu ama pak Zhafran?" tanya siswa laki-laki dengan pakaian tidak rapi.
Aza heran kenapa sekolah yang terbilang elit ini mempunyai siswa yang berpenampilan kaya preman seperti ini.
"Lu nanyeee, Lo bertanye-tanye Gue dibayar berape? ya udah Gue kasih tau iyee, Gue di banyer pake mahar, PUAS LU!" teriak Aza marah diakhir kalimatnya.
Shafa yang mendengar jawaban sahabatnya langsung ngakak sembari memegang perutnya.
"Hahahaha, astaghfirullah aladzim, Lu lucu banget si, Za."
Krik ....
Krik ....
Krik ....
Aza langsung beranjak dari tempatnya meninggal Shafa yang masih tertawa.
"Zean, awas Lu!" batin Aza merasa marah pada Zean.
Aza masuk kedalam kelasnya dengan marah.
BRUK ...!
Tampa segan-segan Aza menendang pintu kelasnya membuat semua orang terkejut dan menatap kearah Aza kecuali Dewi yang masih terlihat santai memainkan ponselnya.
"Dewi," panggil Aza setelah berdiri dihadapan Dewi.
Mendengar namanya di panggil, Dewi langsung menengok kearah Aza.
"Kenapa, Za?" tanya Dewi pura-pura tidak tau apa-apa.
"Lu admin grup lambe 'kan?" tanya Aza.
"Iya,"
"Lu tau siapa yang update video Gue sama pak Zhafran?" tanya Aza.
"Gue gak tau, Za. sudah beberapa hari ini Gue gak aktif di grup," jawab Dewi berbohong.
"Adminnya siapa aja?" tanya Aza.
Namun, dia tidak mendapatkan jawaban karena guru telah masuk.
***
Dret ....
Dret ....
Dret ....
Uswa meraih ponselnya saat berdering didalam saku gamisnya.
"Ini nomor siapa iya?" tanyanya setelah melihat nomor baru yang sedang melakukan panggilan di ponselnya.
Uswa tidak menjawabnya, gadis itu membiarkan ponselnya berdering diatas meja sampai berhenti.
Namun, ponsel itu terus berdering mengganggu konsentrasi Uswa yang sedang membaca buku.
"Ya Allah ini siapa sih?" tanya kembali menatap layar ponselnya.
Sedangkan disisi lain, Ali merasa kesal karena Uswa tidak mengangkat panggilannya.
"Ini bocah kemana? ko gak diangkat," lirih Ali gemes campur kesal.
"Dia tidak tau apa, kalo Ane dapat ni nomor susahnya minta ampun, harus nahan malu setengah mati," Lanjutnya kembali menghubungi nomor Uswa.
Sebelum berangkat dari pesantren, Ali meminta nomor ponsel Uswa dan alamat rumah gadis itu dari Umi Halimah.
Ternyata alamat rumah Uswa tidak terlalu jauh dari rumah Aza.
Ali berpikir kalo dia akan berkunjung ke rumah Uswa setelah bertemu dengan Zhafran.
Setelah beberapa kali menghubungi Uswa, akhirnya gadis itu menjawab panggilannya.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Uswa membuat Ali langsung tersenyum lebar.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, bagaimana kabarnya, Adek Uswa?" jawab Ali tidak sabaran langsung menanyakan kabar gadis itu.
"Maaf, ini siapa iya?" tanya Uswa dengan sopan.
Mendengar pertanyaan Uswa, Ali langsung memukul-mukul stir mobil.
"Halo?" sapa Uswa saat tidak mendapatkan jawaban.
"Iya, halo," sahut Ali.
"Kalo boleh tau ini dengan siapa iya?" tanya Uswa.
"Zayyan Al-Alif," balas Ali sambil terkekeh kecil.
"Astaghfirullah aladzim, ustad Ali?" tanya Uswa saat mendengar nama lengkap tersebut.
"Benar, apa boleh bicara dengan Uswa?" tanya Ali sembari bercanda.
"Afwan, Ustad, Ana tidak tau kalo ini nomor Ustad," ujar Uswa merasa bersalah karena tidak langsung menjawab panggilan tersebut.
"Tidak masalah, Dek," ujar Ali tanpa mengalihkan perhatiannya yang sedang menyetir mobil.
"Ada apa iya, Ustad?" tanya Uswa.
"Ana mau ke rumah kamu, boleh?" tanya Ali.
"Afwan, Ustad, Ana tidak tinggal disana lagi," jawab Uswa jujur.
"Sekarang kamu tinggal dimana?" tanya Ali.
Uswa tidak langsung menjawab pertanyaan Ali karena mendengar namanya panggil seseorang dari luar.
Sambungan pun terputus membuat Ali heran.
"Kok dimatiin?" tanya Ali saat sambungan sudah terputus.
Sedangkan di sisi lain, tepatnya di kediaman Rena tempat Uswa bekerja terjadi kepanikan karena pak Rahmat, Ayah Uswa mengalami kecelakaan dan dilarikan ke rumah sakit.
***
Krik ... krik ... krik ....
Bel sekolah berbunyi berarti waktu ujian telah selesai.
"Baiklah, karena waktu habis, kalian boleh keluar," ujar Pak guru yang sedang mengawasi mereka.
Peraturan selama ujian ketika bel sudah berbunyi semua peserta yang sedang melakukan ujian harus berhenti dan bersiap-siap untuk keluar, selebihnya para guru yang mengerjakannya.
Aza meraih tasnya dan keluar dari kelas.
Namun, langkahnya terhenti saat guru memanggilnya dan memintanya keruangan kepala sekolah.
"Aza, Kamu tidak boleh langsung pulang, karena kepala sekolah memanggilmu," tutur seorang guru membuat Aza mengangguk mengiyakan perkataan guru tersebut.
"Iya, Pak," jawab Aza.
Setelah mengatakan itu Aza keluar dari kelasnya dan berjalan kearah ruangan kepala sekolah.
Aza menarik nafasnya untuk merilekskan dirinya sebelum masuk kedalam ruangan kepala sekolah.
"Bismillah," ucapnya sebelum mengetuk daun pintu tersebut.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Aza setelah mengetuk pintu tersebut.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi," jawab Seorang pria paruh bayah yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
"Nak Aza, Ayo masuk," lanjutnya saat melihat Aza berdiri diambang pintu ruangannya.
Aza yang sudah mendapatkan izin dari kepala sekolah langsung berjalan kearah meja kepala sekolah dan duduk di sebuah kursi.
"Bapak memanggil saya?" tanya Aza walaupun dia sudah tau apa menyebabkan kepala sekolah memanggilnya.
"Saya tau, hubungan kamu dengan pak Zhafran adalah hubungan suami-istri, tapi bukan berarti kalian bebas melakukan apapun di kawasan sekolah," tutur kepala sekolah langsung pada intinya.
Aza mengangguk mengiyakan perkataan Kapala sekolah, dia sadar kalo kelakuannya terlalu berlebihan, tapi buka berati Aza akan membiarkan pelaku yang sudah menyebarkan video dan fotonya bersama Zhafran bebas gitu aja.
"Bersyukurlah karena pihak sekolah langsung bertindak, walaupun udah banyak yang melihatnya," lanjut sang kepala sekolah.
Sejak tadi malam pihak sekolah sudah meminta salah satu admin grup lambe turah menghapus video tersebut, tapi diantara siswa sudah ada yang mempunyai video tersebut.
Pihak sekolah sudah menghimbau agar video tersebut tidak tersebar dan merusak nama baik sekolah.
"Maaf, Pak, saya ceroboh," ujar Aza merasa bersalah.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Aza menoleh kearah pintu yang baru saja diketuk dan ternyata pelakunya adalah Dewi, teman kelasnya.
"Masuk," ujar kepala sekolah pada Dewi yang masih berdiri diambang pintu.
Dengan sedikit takut Dewi masuk kedalam dan duduk di kursi yang ada disamping Aza.
"Ada apa iya, Pak?" tanya Dewi setelah duduk.
"Apa alasan kamu melakukan ini semua?" tanya Kepala sekolah tanpa basa-basi.
"M–maksud Bapak apa iya?" tanya Dewi masih pura-pura tidak tau, sedangkan Aza sudah mengepalkan tangannya marah.
"Dewi, jangan buat masalah ini semakin rumit dengan ketidak jujuranmu, lebih baik sekarang kamu jujur," pinta kepala sekolah.
Dewi tersenyum sini. "Iya benar, saya yang melakukannya, Pak, karena saya tidak suka Aza, dia sok-sokan disekolah ini dan saya tidak suka."
"Astaghfirullah, Dewi, apa kamu tidak tau apa dampaknya bagi sekolah ini jika video tersebut menyebar tanpa mereka ketahui fakta sebenarnya?" tanya Kepala sekolah.
"Sayat tidak mau tau, Pak, kalo Aza tidak di keluarkan dari sekolah ini, saya akan menyebarkan video itu, agar semua tau kalo Aza adalah seorang jal4ng."
KREK ....
Suara pintu terbuka dari luar membuat sang kepala sekolah, Dewi dan Aza terkejut.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, maaf, saya telat," ujar Zhafran yang datang dengan tiba-tiba.
TBC.