My Husband

My Husband
Bab 27



#MY_HUSBAND


#PART_27


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Hay Gaeyss ....


Vote+komen ya😁


___________________


🌻Happy reading🌻


Gugup, itu yang di rasakan Zhafran saat ini. Pria dengan kemeja warna hitam itu sudah berdiri diambang pintu salah satu kelas yang ada di sekolah tempatnya mengajar untuk sementara.


Pria tampan itu gugup bukan karena ini hari pertamanya mengajar. Namun, dia gugup karena ini kali pertamanya dia berhadapan langsung dengan istrinya sebagai guru dan murid.


Entah apa yang akan di pikirkan oleh istrinya saat melihat dirinya.


"Pak, silahkan masuk," ujar guru yang mengantar dirinya sampai ke kelas dan memperkenalkannya sebagai guru baru untuk sementara.


Zhafran membuang nafasnya sedikit kasar lalu membaca do'a agar Allah memudahkan urusannya.


"Bismillahirrahmanirrahim, Allahumma innii as’aluka min fadhlika wa athaa’ika rizkan thayyiban mubaarakan. Allahumma innaka amarta bid du’aa’i wa qadhaita alayya nafsaka bil istijabah wa anta laa tukhliful wa’dah wa laa tukadzibu ahdaka. Allahumma ma ahbabta min khairin fa habbibhu ilaina wa yassir lanaa wa maa karahta min syai’in fa karihu ilaina, wa jannibnaahu wa laa tunzi’ annal islaam ba’da iz a’thaitanaa," do'a Zhafran sebelum masuk kedalam.


Pandangan mata Zhafran langsung kearah istrinya yang terlihat sangat terkejut.


"Mas ...!"


Zhafran tersenyum manis saat melihat bibir istrinya menyebut Mas tanpa di dengar siapapun.


"Baiklah anak-anak, perkenalkan Dia adalah Abidzar Zhafran Al-Ghifari, kalian boleh memanggil dengan sebutan pak Zhafran, selebihnya kalian boleh bertanya langsung pada Pak Zhafran, saya permisi," jelas sang guru. "Mari pak Zhafran."


Zhafran mengangguk. "Terima kasih, Pak."


Setelah guru itu sudah keluar Zhafran pun mengucapkan salam pada murid-muridnya.


Pria 25 tahun itu tidak mengalami kegugupan sama sekali jika mengajar. Namun, kali ini rasa itu cukup membuatnya tidak nyaman, mungkin karena sang istri ada didepannya sebagai seorang murid.


"Khhmm, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Zhafran.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Pak," sahut mereka dengan semangat terutama dari cewek-cewek yang membuat Aza kepanasan karena cemburu.


"Maa Syaa Allah, calon imam Guee ...!" pekik Dewi.


"Gue gak suka bahasa arab, tapi kalo gurunya pak Zhafran gak apa-apa deh gue belajar bahasa arab," ujar gadis diantara mereka.


"Pak Zhafran udah punya pacar belom?"


"Pak Zhafran udah punya istri belum?"


"Pak Zhafran minta nomor WhatsApp dong,"


BRAK ...!


Aza memukul meja tanpa sadar. Gadis itu sudah geram dengan teriakan dan pertanyaan dari teman kelasnya untuk Zhafran, suaminya.


"STOP ...! Kalian bisa diam gak si?"


Gadis itu sudah berdiri dan menatap satu persatu temannya yang sudah kelewatan ributnya.


"Lu kenapa sih, Za," ujar Dewi heran melihat Aza yang tiba-tiba memukul meja.


"Kalian terlalu berisik, Gue pusing," ucapnya berbohong.


Zhafran terkekeh kecil mendengar kebohongan kecil dari istrinya.


"Saya sudah menikah," ujar Zhafran dengan tiba-tiba membuat para siswi mengeluh karena kecewa.


Sedangkan Aza tersenyum tipis dan kembali duduk ke tempatnya


"Iya, gagal deh jadi istrinya pak Zhafran, tapi pak, jadi istri kedua juga gak apa-apa ko," ujar Demi.


"Gak boleh ...!" teriak Aza tanpa sadar. "Ehh ... maksud Gue, Lu gak boleh jadi pelakor, Wi, Lu itu cantik, masa jadi pelakor."


"Baiklah, sesi perkenalan sudah tutup, saatnya kita belajar, jangan ada yang ribut, saya tidak suka jika ada yang ribut dikelas saya," jelas Zhafran yang tiba-tiba beranda dingin.


***


Krik ....


Krik ....


Krik ....


Suara bel istirahat berbunyi.


"Seindah-indahnya suara Bts lebih indah bel istirahat," ujar Dewi merasa senang.


"Baiklah, pertemuan kita sampai disini, Aza tugas dari pak Pardi tolong di kumpul dan bawah ke ruangan saya," ujar Zhafran pada Aza.


"Baiklah, Pak," jawab Aza.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," sahut mereka yang ada dalam kelas.


Zhafran pun keluar dari kelas tersebut.


"Woi ... kumpul tugas kalian, cepat!" pinta Aza pada teman-temannya.


"Sabar, Za, napa sih buru-buru gitu, ruangan pak Zhafran juga gak bakalan lari ko," ujar salah satu teman kelasnya.


"Lu gak tau aja, gue mau ketemu ama Mas Zhafran," batin Aza sembari tersenyum lebar.


"Gak usah bacot, cepat ...!"


***


Aza mempercepat langkahnya saat melihat Raja berjalan kearahnya bersama sahabatnya.


"Gawat, ngapain Raja kemari," lirih Aza semakin mempercepat langkahnya menuju ruangan Zhafran.


Namun, dia sudah terlambat karena raja sudah ada di sampingnya mengimbangi langkahnya.


Bibir cowok itu melengkung membentuk bulan sabit.


"Kamu mau kemana?" tanyanya pada Aza.


"Za." Raja ingin merangkul Aza, tapi Aza menghindar dengan cepat.


"Ja, sorry, kita bukan mahram," tutur Aza.


"Om Lu ngajar di sini iya?" tanya Raja basa-basi, padahal dia sudah tau kalo om-nya Aza, mengejar di sekolah mereka.


"Om?" tanya Aza kebingungan, pasalnya dia tidak memiliki om yang sedang mengajar di sekolahnya.


"Iya, om yang waktu itu," ujar Raja membuat Aza terdiam berpikir sejenak dan dia langsung mengutuk dirinya karena lupa akan hal itu.


"Bodoh Lu, Za," batin Aza.


"Udah ingat?" tanya Raja.


"Oh, iya," sahut Aza.


"Lu mau ke ruangannya?" tanya Raja setelah melihat beberapa buku catatan yang dibawah oleh Aza.


"I-iya,"


"Sini, Gue temenin." Raja mengambil beberapa buku yang ada di tangan Aza.


"Gak usah, Ja, Gue bisa sendiri," tolak Aza sembari mengambil kembali buku yang ada ditangan Raja.


"Kenapa si, Za, Lu slalu nolak Gue. Gue kurang apa coba?" tanya Raja.


"Sorry, Ja, Lu bukan tipe Gue,"


"Tipe Lu kaya gimana?"


"Mending Lu cari cewek lain, Ja, karena Gue gak bisa sama Lu,"


"Kenapa?"


"G–gue, pokoknya Gue gak bisa, jadi plis, Lo jangan dekat-dekat Gue, gue gak nyaman," tutur Aza membuat Raja terdiam seperti robot.


"Jadi, selama ini Lu gak nyaman sama Gue, Za. Lu merasa terganggu?"


"Iya."


"Sorry." Setelah mengatakan itu Raja pergi entah kemana.


"Semoga Lu bisa menemukan gadis yang lebih baik dari aku, Ja, maaf." Aza menatap punggung raja yang semakin mengecil.


"Lagi liatin apa?"


Aza terkejut saat mendengar suara yang begitu dia kenali dengan spontan Dia membalikkan badannya dan langsung disambut suaminya tampannya.


"Mas Zhafran," ujar Aza dengan tersenyum. "Mas utang penjelasan ama Aku."


"Ayo masuk, Mas akan jelasin, tapi kamu gak boleh marah-marah, oke?"


"Oke."


****


"Astaghfirullah aladzim, capek banget iya Allah." Gadis itu duduk di sebuah kursi yang ada di taman.


Sudah 2 jam gadis 15 tahun itu berkeliling mencari pekerjaan yang pas untuknya, tapi sampai sekarang dia belum menemukan pekerjaan yang cocok.


"Ana haru cari kemana lagi," lirihnya.


"Semangat Uswa, ingat ...! Allah tidak akan membebani hamba-Nya diluar kemampuannya," ucapnya menyemangati dirinya.


Setelah beberapa menit istirahat, Uswa menarik sepedanya dan mencari pekerjaan lagi.


Saat gadis itu akan menaiki sepedanya tanpa sengaja pandangan jatuh pada seorang wanita paru baya yang sedang berdiri di pinggir jalan sambil menelpon tanpa memperhatikan sekitarnya.


"Tante, AWAS ...!" teriak Uswa saat melihat sebuah motor dengan kecepatan tinggi akan menyambar wanita tersebut.


Tanpa membuang waktu Uswa berlari dan menarik wanita paruh baya tersebut agar terhindar dari sambaran motor, untung jarangnya dengan wanita tersebut tidak jauh, bisa dibilang sangat dekat, jadi Uswa tidak terlambat menyelamatkan wanita tersebut.


"Awww ...." rintih Uswa kesakitan karena luka kecil yang ada di telapak tangannya.


"Astaga, Kamu tidak apa-apa, Nak?" tanya wanita tersebut sembari berdiri dan membantu Uswa.


"Tidak apa-apa, Tan."


"Syukurlah,"


"Nyonya, Nyonya tidak apa-apa, maaf karena kesalahan kami, nyonya hampir saja celaka," ujar pria yang baru saja datang dengan setelan jas hitamnya serta kaca mata hitam layaknya seorang bodyguard.


"Saya tidak apa-apa, jangan sampai suami saya tau masala ini," ujar Wanita itu.


" ... Nama kamu siapa, Sayang?" tanya wanita paru baya tersebut.


"Uswa, Tante."


"Nama yang cantik. Kenalin, nama Tante Rena,"


"Uswa, ini untuk kamu, sebagai tanda terima kasih Tante, karena kamu sudah nolongin Tante." Rena menyodorkan amplop berwarna coklat pada Uswa yang bersisi uang.


"Tidak usah, Tan, Uswa ikhlas bantuin Tante," tolak Uswa.


"Rezeki gak boleh di tolak, Sayang, terima lah,"


Dengan berat hati Uswa menerima uang tersebut.


" ... Oh iya, Kamu tinggal dimana, biar Tante antar sekalian," lanjut wanita paruh baya itu bernama Rena.


"Eh ..., gak usah Tan, Uswa bisa pulang sendiri ko," tolak Uswa dengan lembut. Namun, wajahnya tidak dapat berbohong kalo dirinya sangat sedih, karena tidak menemukan pekerjaan yang cocok.


"Uswa, jangan menolak, Nak, Tante iklhas ko,"


"Ndk usah, Tan, soalnya Uswa lagi cari kerjaan."


"Kerjaan?" tanya Rena.


"Iya, Tan."


"Sudah dapat pekerjaannya, Nak?" tanya Rena.


"Belum, Tan."


"Bagaimana, kalo kamu ikut kerumah Tante, kamu bisa kerja disana," tawar Rena.


Wanita paruh baya itu yakin kalo gadis yang sedang berdiri di hadapannya ini adalah gadis yang baik-baik, bukan tanpa sebab dia menawarkan Uswa pekerjaan begitu saja, dia sering melihat gadis itu saat berkunjung ke sebuah pesantren tempat putranya.


TBC