
#MY_HUSBAND
#PART_55
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Hay Gaeyss ... UTAMAKAN Ibadah sebelum membaca
Vote+komen ya😁
___________________
Happy reading.
SATU MINGGU TELAH BERLALU.
"Semangat, Humaira ...!" teriak Zhafran menyemangati Istrinyasaat ini sedang latihan berjalan setelah koma selama dua tahun membuat kaki sang istri terasa kaku.
"Umiiii ...!" teriak Azzam kegirangan sembari bertepuk tangan di samping Abi-nya.
Sedangkan Azzima, jangan di tanya lagi, gadis kecil itu sudah di jemput Raja beberapa menit yang lalu untuk di bawahnya ke acara ulang tahun perusahaannya.
Sebenarnya Aza tidak mengizinkan Azzima di bawah oleh Raja, tapi pria 20 tahun itu mengeluarkan segala jurus rayuan nya agar Azzima bisa ikut bersamanya dan akhirnya Aza mengizinkan Putri kecilnya di bawah Raja saat pria itu mengatakan jika Azzima sudah gede dirinya tidak akan bisa bersama Azzima lagi, makanya dia ingin menghabiskan waktunya bersama Azzima kecil.
Mendengar alasan itu membuat hati Aza lulu.
"Ayo, Sayang, semangat ...!" teriak Zhafran.
Sudah satu minggu Aza melati kakinya kembali berjalan agar tidak terasa kaku lagi seperti di waktu dia sadar dari koma.
Dan seperti biasa usaha tidak perna mengkhianati hasilnya, tepat satu minggu Aza sudah bisa kembali berjalan dengan normal.
"Huft ..., capek." Wanita dua anak itu menjatuhkan bokongnya ke samping Suaminya dan putranya.
"Umi, mimmi," ujar Azza menyodorkan botol air mineral kearah Aza.
Aza yang mengerti perkataan putranya langsung tersenyum dan meraih pemberian sang putra. "Maa syaa Allah, putra Umi sangat pintar."
"Siapa dulu dong, Abi-nya," ujar Zhafran menyombongkan dirinya.
"Gak boleh sombong, Mas, ingat Allah tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri."
"Astaghfirullah aladzim, Sayang, mas cuman bercanda," ujar Zhafran membuat Aza terkekeh kecil.
Saat pasutri itu saling melempar tawa satu sama lain, Azzam putra mereka mala menggombal santriwati yang baru saja lewat.
"Calammulaikum, uti atik," ujar Azzam pada santriwati dengan tawa renyahnya membuat siapapun melihat gemes dan ingin membawa Zhafran mini itu pulang bersamanya dan dijadikan pajangan.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Gus Azzam," sahut santriwati membalas salam Azzam.
Walaupun salam Azzam tidak terlalu jelas. Namun, mereka sudah faham, karena ini bukan pertama kalinya Gus kecil itu melakukan hal ini.
Syok, itulah yang Aza rasakan saat ini. Dia menoleh kearah Zhafran dengan tatapan tajam setajam silet.
"Bukan mas yang ajarin, Humaira," tutur Zhafran saat melihat tatapan Istrinya yang begitu menusuk sampai ke jantungnya.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Gus, Ning," salam Santriwati itu dnegan sopan pada Aza dan Zhafran.
Aza dan Zhafran langsung menoleh kearah santriwati tersebut sembari memamerkan senyuman manisnya. "Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
"Permisi, Gus Zhafran, Ning Aza," ijin santriwati ingin lewat di depan Gus nya dan Ning-nya.
Zhafran maupun Aza mengangguk sebagai jawaba dan santriwati itupun berlalu dari sana membuat raut wajah Azzam seketika sedih.
"Itut ...!" teriak Azzam membuat Aza hampir jantungan.
"Astaghfirullah aladzim." Dengan mata membulat karena terkejut Aza mengelus dadanya.
Zhafran mini itu berdiri dari tempatnya untuk berlari mengikuti kemana santriwati itu pergi.
Namun, pergerakannya terhenti saat Zhafran meraih tangan mungilnya agar tidak bisa berlari.
"Mau kemana?" tanya Zhafran setelah berhasil membuat Putranya kembali duduk di sampingnya.
"Ndk mauuuuu ...!" teriak Azzam menolak untuk kembali duduk, tapi kekuatannya kalah dengan kekuatan Abi-nya.
"Siapa yang ajarin?" tanya Aza kembali menatap tajam kearah Azzam dan Zhafran secara bergantian.
"Si Ali, Humaira!" lirih Zhafran.
"APA ...!" pekik Aza tidak menyangka Ali akan mengajari putranya berperilaku seperti playboy.
Jangan sampai putranya menjadi playboy dan memacari satu bersatu santriwati yang ada di pesantren ini.
Aza menggidik ngeri saat memikirkan hal tersebut.
"Mulai sekarang, Azzam gak boleh dekat dengan Ali, titik gak pake koma."
"Tapi, Humaira, Azzam sudah menganggap Ali sebagai panutannya, dan mas setuju karena Ali itu sangat baik dan ilmu agamanya tidak di ragukan lagi," tutur Zhafran.
"Kenapa harus Ali si, Mas? kan ada Mas Zhafran, ada kakeknya," ujar Aza tidak habis pikir.
" ... emang mas Zhafran mau anaknya lebih mirip ama Ali?" lanjut Aza bertanya.
"Apa salahnya sih, Ning, kalo Azzam mirip Ane?" tanya Ali yang tiba-tiba datang memamerkan senyuman yang tidak bisa Aza baca.
"Tas Li!" pekik Azzam bahagia melihat Ali datang.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Gus Azzam yang ganteng incaran ukhti-ukhti cantek." Ali merentangkan tangannya untuk menyambut Azzam datang padanya.
Dan benar saja, anak kecil itu benar-benar berlari kearah Ali dengan bahagia.
Sedangkan Aza dan Zhafran menggelengkan kepalanya setelah menjawab salam Ali.
"Gimana, ada perkembangan, Ning?" tanya Ali ke Aza.
"Al—"
"Alhamdulillah, udah bisa lari, manjat dan lain-lain."
Spontan Aza menoleh kearah Suaminya saat mendengar jawaban dari mulut manis milik Zhafran, bukannya marah, Aza malah tersenyum dan langsung memeluk lengan suaminya sembari tersenyum.
"Ning, jangan mulai lagi deh romantisnya, ingat ...! disini masih ada dua pria tampa yang jomblo, iyakan Gus Azzam?" Ali mencubit pipi berisi Azzam dengan gemes.
" ... Eh, tapi Ane kan bentar lagi kawin," lanjut Ali setelah menyadari sesuatu.
"Hah ...! Ustadz beneran mau kawin?" tanya Aza memastikan pendengarnya masih berfungsi dengan baik.
"Emangnya kenapa sih, Ning, kalo Ane kawin? Ning Aza kaya dengar berita innailaihi wainnailaihi Raji'un aja," ujar Ali.
Memang sulit di percaya kalo pria tampan bergelar sebagai Ustad masih jomblo tak memiliki pacar ataupun Istri.
Namun, Aza lebih gak percaya setelah Ali akan segera menikah. Aza jadi penasaran, siapa gadis yang sudah membuat Ali melepas masa lajangnya. Apakah lebih cantik dari Aisha, atau lebih imut dari Uswa?
"Serius Lu mau kawin?" keluar sudah asli si Ning Aza.
"Nikah, Humaira, bukan kawin," larat Zhafran membenarkan perkataan istrinya.
"Bentar deh, Mas, ini Aza lagi kepo ni."
"Tanya laki, Lu. Ane pamit dulu, assalamu'alaikum warahmatullahi." Tanpa menunggu jawaban salam dari Aza dan Zhafran pria itu pergi begitu saja dengan Azzam yang masih berada di gendongan nya.
"Al, anak Gue ...!" teriak Aza.
"Minjam bentar, Ning. Ning ama Gus puas-puas-in pacaran, kalo perlu cetak Adeknya Azzam yang banyak ...!" teriak Ali setelah membalikkan badannya kearah Zhafran dan Aza.
Aza memanyunkan bibirnya kesal mendengar teriakkan Ali yang tidak malu.
"Bibirnya jangan di gitu, Humaira!" lirih Zhafran masih bisa di dengar oleh Aza.
"Ali beneran mau kawin, Mas?" tanya Aza setelah menoleh kearah Suaminya.
"Nikah, Humaira, bukan kawin." Dengan gemes Zhafran melayangkan tangannya untuk mencubit pipi istrinya.
"Emang apa bedanya?" tanya Aza.
"Ayo kita masuk dulu, ini udah sore," ajak Zhafran.
"Jawab dulu pertanyaan Aza, mas,"
"Iya, nanti Mas jawab, tapi dalam rumah,"
"Hmm."
Zhafran berdiri dari duduknya kemudian membantu Aza berdiri, walaupun Istrinya itu bisa berdiri sendiri.
Setelah Aza berdiri, Zhafran malah merendah sedikit punggungnya meminta Aza untuk naik.
"Ayo naik," pinta Zhafran.
"Gak mau!"
"Humaira, ayo naik!"
"Aza berat, Mas!"
Zhafran menatap wajah Istrinya yang sudah memerah karena malu, bagaimana tidak malu, banyak anak santri yang sedang menatap kearah mereka saat ini.
"Gak berat kok. Ayo naik," paksa Zhafran.
Namun, Aza tidak bergerak juga di tempatnya membuat Zhafran kembali gemes dan mengangkat tubuhnya Aza sengan ala bridal style.
"Mas ...!" pekik Aza kaget saat merasa tubuhnya melayang ke udara. Dengan spontan Aza mengalungkan tangannya ke leher Zhafran.
"Apa, Sayang? hmmm." Zhafran menatap wajah Aza yang sedang berada didepan dadanya sembari menatap kearahnya.
"Malu ...." Aza langsung menyembunyikan wajahnya, sedangkan Zhafran tersenyum tipis. Dia tidak mempedulikan orang-orang yang sedang menatap kearahnya.
***
"Maa syaa Allah, cantiknya cucu grandma," puji Mommy-nya Raja saat melihat Azzima kecil sudah di dandanin sedemikian rupa.
Wanita paruh baya itu langsung mengambil alih Azzima dari gendongan Raja.
Gadis kecil itu benar-benar sangat imut menggemaskan dengan gaun berwarna pink nya dan bando bunga berwana senada.
"Kode tuh," bisik Rendi Daddy-nya Raja—
"Ded, jangan mulai lagi." Raja menatap Deddy-nya dengan tatap penuh harap, agar masalah ini tidak di bicarakan.
"Sorry."
"Acaranya mulai jam berapa?" tanya Rinda—mommy-nya Raja—
"Jam 8 malam, Mom," jawab Raja.
"Azzima nginep kan?" tanya Rinda.
"Nginap."
"Azzima sayang, tidur bareng grandma iya." Rinda tersenyum lebar saat melihat respon Azzima yang menggemaskan.
Raja yang melihat Mommy-nya sangat bahagia tiba-tiba merasa bersalah karena belum bisa memenuhi keinginan sang Mommy untuk segera menikah.
"Maaf, Mom!" batin Raja.
"Ayo berangkat," ajak Rendi.
"Bismillah ...."
***
Jam 20:00 malam di kediaman Zhafran.
"Mas, kok Raja gak balikin Azzima sih?" tanya Aza cemas.
Ibu mana yang tidak cemas saat anaknya di bawah orang lain sampai malam gini, cobanya Azzima udah gede, udah pasti Aza melarang keras Raja untuk membawanya.
"Humaira jangan khawatir, putri kita aman sama Raja," ujar Zhafran tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel miliknya.
"Mas, kok santai banget sih, ini putri kita loh, putri kita dibawah sama cowok." Aza berjalan kearah ranjang dimana saat ini Zhafran sedang duduk bersandar denagn santai.
Huft ....
Zhafran membuang nafas panjangnya mendengar ocehan Istrinya mengenai putri kecilnya yang kini entah dimana bersama raja.
"Azzam juga belum pulang, kenapa sih mereka gak nikah terus punya anak, kenapa harus anak Aza? masih banyak tuh anak diluar sana," kesal Aza setelah duduk di samping Zhafran dengan bibir yang sudah maju kedepan beberapa senti.
Aza menatap Zhafran yang hanya terdiam sembari menatap dirinya dengan tatapan membuat hati Aza meleleh seperti es kirim.
"Mas Zhafran kok senyum-senyum gitu?" tanya Aza dengan jantung yang sudah tidak aman lagi.
Zhafran menarik Aza kedalam pelukannya sembari. "Ana uhibbuki fillah, Humaira."
Kata-kata yang terdengar sederhana. Namun, mampu membuat hati seorang wanita berdegup kencang dan merasa sangat istimewa, termasuk Aza shakila.
Ibu dua anak itu tersenyum lebar saat mendengar perkataan Suaminya. Sungguh bibir suaminya ini di memiliki madu yang sangat manis, saking manisnya bisa membuat dirinya diabetes.
Tidak mau kalah, Aza mendongak menatap suaminya dengan tatapan berbinar. "Semoga Allah mencintaimu, karena engkau telah mencintaiku karena-Nya."
Zhafran tersenyum lebar mendengar jawaban istrinya. "Adek gak usah mikirin Azzima maupun Azzam karena saat ini mereka sedang berada di orang yang tepat."
Benar, anak-anak mereka berada ditangan orang yang tepat. Zhafran sudah mempercayai Raja dan Ali mengenai anak-anaknya.
"Mas?" panggil Aza melepaskan pelukannya.
"Apa, Sayang? hmmm."
"Nikah ama kawin bedanya apa?"
Dengan tersenyum Zhafran menyingkirkan anak rambut istrinya ke belakang telinga wanita itu.
"Nikah adalah hubungan ikatan sakral antara suami dan istri yang sah Dimata agama, negara dan adat," jelas Zhafran.
"Kawin?"
"Kalo kawin yang biasa di lakukan oleh suami-istri agar mendapatkan seorang anak."
TBC