
#MY_HUSBAND
#PART_54
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
UTAMAKAN IBADAH SEBELUM MEMBACA.
___________________
🌻Happy reading🌻
Haliza memarkirkan mobilnya asal setelah sampai di depan rumah menantunya.
Wanita paruh baya itu keluar dari mobilnya dengan tergesa-gesa dan masuk kedalam rumah menantunya tanpa mengucapkan salam.
Di pikirannya saat ini cuman Aza, putrinya. Betapa bahagianya saat mendapatkan telpon dari menantunya yang mengatakan kalo putrinya menggerakkan tangannya dan sebentar lagi akan sadar.
"Aza ...!" Haliza sedikit meninggikan suaranya saat membuka pintu kamar dimana selama ini sang putri terbaring selama dua tahun.
"B-bunda!" lirih Aza saat melihat Bundanya sudah berdiri di ambang pintu dengan air mata yang tak terbendung lagi.
"P-putri, Bunda!" lirih Haliza sembari berjalan kearah putrinya.
Zhafran yang peka memberikan akses untuk ibu mertuanya dan Istrinya agar bisa saling melepaskan rindu.
"Hiks ... hiks ... hiks ..., Bunda sangat merindukanmu, Sayang. Kenapa tidurnya lama sekali? hmm. Kamu tidak merindukan kami?" tanya Haliza setelah melepaskan pelukannya. Sungguh wanita paruh baya itu tidak bisa menahan dirinya agar tidak menangis di hadapan Anaknya yang baru saja sadar dari komanya.
"Bunda, Ayah mana?" tanya Aza. Gadis itu mengalihkan pandangannya kearah pintu yang masih terbuka lebar menunggu seseorang.
Mendengar pertanyaan putrinya membuat Haliza semakin menangis, dia tidak tau harus mengatakan apa pada Aza. Sedangkan Zhafran hanya terdiam.
"Apa ayah sibuk, Bun?" Aza kembali bertanya pada Bundanya saat tidak melihat tanda-tanda ayahnya akan datang.
"Bunda." Aza menatap Bundanya menyadari sesuatu. "Kok diam? Ayah sibuk iya, sampai-sampai gak datang nengok Aza?"
Nihil, semua pertanyaannya Aza tidak terjawab, baik dari Bundanya maupun suaminya. Menyadari akan hal itu Aza mengalihkan pandangan kearah Zhafran yang terdiam membisu.
"Mas, ayah mana? kok gak datang?" tanya Aza dengan perasaan yang sudah cemas dan khawatir.
"Humaira, sebaiknya kamu istirahat aja iya, kamu baru bangun dari koma, sayang,'" tutur Zhafran dengan lembut berharap Aza menurut.
Namun, nyatanya gadis itu menurut sama sekali sebelum mendapatkan apa yang dia ingin saat ini.
"Mas, jawab pertanyaan Aza, Ayah mana? kenapa tidak datang saat Aza udah sadar?" tanya Aza dengan tatapan bertanya-tanya pada Suaminya.
Sedangkan Haliza sudah tidak tahan lagi. Dia beranjak dari tempatnya dan keluar dari kamar tanpa menghiraukan pertanyaan putrinya yang menuntun sebuah jawaban yang tak sanggup dia ceritakan walaupun sudah dua tahun lamanya.
"Mas ...!" lirih Aza setelah melihat Bundanya keluar tanpa suara hanya air mata yang semakin mengalir.
Dengan pelan-pelan Zhafran duduk di samping Aza yang masih berdasar pada ranjang. "Mas akan ceritakan semuanya, tapi kamu harus sembuh total, sayang."
"Aza udah sembuh, Mas," sahut Aza dengan cepat. Dirinya benar-benar penasaran apa yang terjadi, kenapa ayahnya tidak datang bersama bundanya? masih banyak pertanyaan di dalam kepala Aza tentang Ayahnya.
"Adek baru sadar lho ini," ujar Zhafran.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi selama Aza koma, Mas?" tanya Aza dengan tatapan memicing kearah Zhafran. "Ceritakan semuanya, jangan ada yang di tutupi."
Zhafran menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengangguk mengiyakan perkataan Istrinya yang begitu ingin mengetahui kejadian selama dia koma.
"Tapi janji sama Mas, kalo adek tidak akan sakit atau yang lainnya jika mendengar cerita ini." Zhafran mengajukan jari kelingkingnya pada Aza dan disambut dengan jari kelingking Aza.
"Janji."
"Humaira, Ayah sudah meninggal dua tahun yang lalu," ujar Zhafran sembari menatap kearah mata Aza yang mulai berkaca-kaca dan Zhafran yakin sebentar lagi butiran kristal itu akan jatuh ke pipinya dan benar saja belum cukup satu menit kritis bening itu akhirnya menetes juga.
"M-mas Zhafran b-bohong kan?" Aza mencoba menepis apa yang baru saja suaminya katakan.
"Mas tidak berbohong, Humaira." Zhafran menghapus sudut matanya Istrinya yang sudah berair. "Ayah meninggal dua tahun yang lalu saat pulang dari rumah sakit tempat kamu di rawat."
Aza menggeleng tidak percaya. "M-mas Zhafran, stop! bercanda nya, Aza gak suka."
"Mas tidak bercanda, Sayang!" bisik Zhafran setelah menarik Aza kedalam pelukannya dengan lembut mengingat istrinya itu baru sadar dari koma.
Zhafran semakin mengeratkan pelukannya saat merasakan tubuh istrinya bergetar karena menangis.
"Setelah sehari Adek di nyatakan koma, ayah dan bunda mengalami kecelakaan yang membuat Ayah meninggal di tempat, sedangkan Bunda masih bisa di selamatkan," jelas Zhafran membuat Aza semakin tersedu-sedu tidak bisa menahan air matanya agar berhenti untuk keluar.
"Hiks ... hiks ... hiks ..., Ayah ...!" lirih Aza di dalam dekapan Zhafran.
"Allah mengambil Ayah begitu cepat," ujar Zhafran.
Padahal Pria paruh baya itu sangat bahagia saat melihat cucunya dan memiliki banyak impian untuk cucu perempuan dan cucu laki-lakinya. Namun, takdir berkata lain.
"Aza mau ketemu ayah, Aza rindu sama ayah, hiks ... hiks ... hiks ...."
"Saat ini ayah tidak membutuhkan air mata kita, Dek, tapi Ayah membutuhkan do'a kita." Zhafran melepaskan pelukannya dan meletakkan tangannya di pipi kanan dan kiri Aza dengan lembut.
"Hari ini tepat dua tahun kepergian Ayah, tadi mas berziarah ke makamnya dan mengirimkan doa untuknya," ujar Zhafran.
" ... kalo Adek udah sembuh total, kita akan berziarah ke makam ayah dengan si kembar."
Aza mengangguk. Benar apa yang dikatakan suaminya, saat ini Ayahnya tidak membutuhkan air mata, hanya membutuhkan do'a saja.
"Pasti Bunda sangat terpukul dengan kepergian Ayah," ujar Aza setelah menghapus air matanya.
"Bunda mengalami depresi selama satu tahun dan dia dirawat rumah sakit Raja dengan dokter terbaik," jelas Zhafran.
"Mas?" panggil Aza saat menyadari sesuatu.
"Iya, Sayang, apa? hmmm." Zhafran mengelus pipi Aza dengan lembut.
"R-rahm-"
"Dia sudah mendapatkan hukuman yang setimpal dari Raja," potong Zhafran dengan cepat.
Aza mengangguk. "In Syaa Allah."
"Umi, Umi ...!"
Aza langsung menoleh ke sumber suara yang terdengar begitu imut di pendengarannya.
Bibirnya langsung melengkung keatas membentuk bulan sabit saat melihat siapa yang datang.
"Azzi!" teriak Raja saat melihat gadis mungil kesayangan berlari. "Jangan buat ayah jantungan."
"Lebay," sindir Ali sudah tidak heran lain melihat betapa posesif nya Raja pada Azzima.
Raja tidak menghiraukan perkataan Ali, dia tidak peduli Ali mau ngomong apa, terserah. Yang penting putri kecilnya tidak terjatuh saat berlari.
Aza melirik kearah suaminya lalu menoleh kearah Azzima dan Azzam yang baru saja berlari kearah mereka di susul Raja, Ali, Umi Halimah dan Kiai Rasyid.
"Dia anak-anak kita, Humaira," ujar Zhafran saat menyadari tatapan istrinya.
Zhafran meraih tubuh mungil Azzima dan Azzam kemudian meletakkan di samping Aza.
Azzam mengangkat tangan mungilnya dan mengelus wajah Aza. "Umi."
Mendengar panggilan itu membuat Aza meneteskan air matanya karena terharu. "D-dia, dia sudah bisa bicara, Mas?"
"Cuman beberapa kata saja, Sayang," jawab Zhafran tersenyum.
"Bagaimana mereka tau kalo aku Uminya, Mas?" tanya Aza bingung.
"Selama Adek koma, mereka selalu berada di samping Adek bersama Mas, dan mas mengajari memanggil Adek dengan sambutan Umi, dan mereka tidak kesulitan sedikit pun," jelas Zhafran.
"Maa syaa Allah!" lirih Aza sembari mengelus kepala Azzima dan Azzam.
Ali dan Raja terharu melihat Aza dan anak-anaknya. Dua pria tampan, tapi jomblo itu tanpa sadar meneteskan air matanya.
"Enteh nangis? dasar cengeng, gitu aja nangis," ejek Ali saat tersadar kalo Raja meneteskan air matanya tanpa menyadari dirinya sendiri
"Lu juga, kali ...!" ucap Raja tanpa menoleh pada Ali.
Ali langsung tersadar dengan perkataan Raja barusan. Dia langsung mengucek matanya. "Ane kelilipan."
Raja hanya terkekeh geli mendengar alasan Ali barusan.
Sedangkan Umi Halima tersenyum melihat Menantu dan putranya bahagia seperti saat ini. Begitupun dengan Kiai Rasyid.
"Semoga pernikahan mereka di meridhoi Allah Subḥānahu wataʿālā, Aamiin," ujar Umi Halimah.
"Aamiin."
"Apa Haliza masih pingsan?" tanya Kiai Rasyid pada istrinya.
"Masih, Mas," sahut Umi Halimah.
Setelah Haliza keluar dari kamar putrinya dalam keadaan menangis, dia langsung pingsan dan di masukkan ke kamar tamu oleh Raja.
"Nama mereka siapa, Mas?" tanya Aza belum tau nama anak-anaknya.
"Yang ini." Zhafran mencubit pipi tembem Azzima dengan gemes membuat Gadis kecil itu meringis karena merasa sakit.
"Gus, Azzi nya jangan di gituin dong," sewot Raja tidak terima saat melihat Zhafran mencubit pipi Azzima.
Mendengar itu Zhafran hanya terkekeh kecil dan kembali menatap kearah Aza. "Gadis cantik dan imut ini namanya Habiba Azzima shahira dan yang tampan ini namanya Habibi Azzam Al-ghifahri."
Aza menatap suaminya tidak percaya dengan bibir tersenyum lebar. Sungguh dia tidak bisa menahan senyumnya saat mendengar nama itu, nama yang sudah dia siapkan untuk anak-anaknya kelak.
Melihat respon Istrinya Zhafran tersenyum tipis dan membuka laci meja yang dekat dengan ranjangnya dan meraih sesuatu yang ada didalam laci tersebut.
"Itukan punya Aza, kok ada di Mas Zhafran?" tanya Aza bingung.
"Mas menemukannya," ujar Zhafran.
Pipi Aza memerah karena malu saat menyadari apa saja yang dia sudah tulis di dalam diary itu.
"M-mas udah membacanya?" tanya Aza malu-malu membuat Zhafran gemes dan tidak tahan kalo tidak mengecup pipi istrinya, tapi dia harus tahan dan sabar karena di ruangan ini bukan dia dan Aza saja masih ada yang lain.
"Udah."
Zhafran kembali mengelus buku yang cukup tebal dan sedikit besar membuat Aza menaikan alisnya bingung.
"Ini apa, Mas?" tanya Aza.
"Ini tentang kehidupan si kembar slwama dua tahun. Mas sengaja mengabadikan di sini agar Adek bisa melihat suatu saat nanti," ujar Zhafran.
"Kenapa gak lewat video aja, Mas? biar Aza bisa mendengar tangisan mereka, tawa mereka dan lainnya."
"Ini." Zhafran menyodorkan flashdisk pada istrinya. "Kita akan menontonnya setelah Adek benar-benar sudah pulih, oke?"
Aza mengangguk. "Oke."
"Saatnya istirahat," ujar Zhafran.
"Biarkan mereka di sini, Mas," ujar Aza saat melihat Zhafran akan menurunkan Azzima dan Azzam.
"Nanti mereka mengganggu istirahat Adek,"
"Biarkan mereka ada di samping Aza, Mas."
"Oke, tapi kalo mereka mengganggu mu, mas akan membuang mereka ke laut," canda Zhafran.
Mana mungkin dia membuang anak-anaknya begitu saja, emang gampang buatnya apa.
TBC.
tinggal beberapa part lagi.