
#MY_HUSBAND
#PART_43
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Hay Gaeyss ....
Vote+komen ya😁
___________________
🌻Happy reading🌻
"Mas Zhafran ...!" panggil Aza saat melihat Zhafran baru saja pulang dari mengajar.
Gadis itu berlari kecil kearah suaminya sembari tersenyum.
Sedangkan Zhafran sudah merasa senam jantung saat melihat istrinya berlari kearahnya.
"Humaira, jangan lari-lari, Sayang," tutur Zhafran cemas.
Dengan langkah lebarnya Zhafran berjalan kearah istrinya. Dia langsung menahan tubuh Aza saat perempuan hamil itu hampir terjatuh karena tersandung batu kecil yang menghalangi langkahnya dan membuat Zhafran hampir jantungan untungnya dia bergerak lebih cepat.
"Mas udah bilang, jangan lari-lari," ucap Zhafran setelah berhasil menahan tubuh istrinya. "Masih aja ngeyel."
"Hehehehe, maafin Aza, mas Zhafran." Aza nyengir memamerkan gigi putihnya yang tersusun rapi.
"Lain kali jangan lari-lari, oke!"
"In syaa Allah."
"Kalo istri Abi kenapa-napa kalian harus bertanggungjawab." Zhafran mensejajarkan wajahnya diperut sang istri.
"Ihh ... gak boleh gitu, pada anak kita," ujar Aza sembari memukul punggung suaminya.
"Ayo masuk," ajak Zhafran merangkul istrinya.
"Mas, Aza mau makan mangga yang ada dihalaman belakang rumah," tutur Aza menguraikan keinginan pada sang suami.
"Mangganya masih mentah, Sayang,"
"Aza mau yang belum matang, Mas."
"Ini udah sore, Dek, bagaimana kalo besok pagi aja," tolak Zhafran tidak berbohong, ini memang sudah jam 17:00 sore.
Aza berpikir sejak kemudian mengangguk mengiyakan perkataan suaminya, lagipula dia masih bisa tahan karena dia tidak terlalu menginginkan mangga tersebut.
***
Setelah makan malam tanpa Suaminya, Aza pamit pada Mertuanya untuk istirahat dikamar, semenjak hamil, Aza mudah lela, capek.
Perempuan dengan piyama berwarna hitam bermotif bunga-bunga lengan panjang itu menjatuhkan dirinya diatas ranjang yang sangat empuk.
Suaminya belum pulang saat dia pamit solat magrib sekaligus solat Isya di mushola.
Aza mengelus perutnya dan membayangkan bagaimana nanti jika perut nya semakin membesar dan bayinya bergerak, menendang, pasti sangat menyenangkan.
Membayangkannya hal tersebut membuat bibir Aza melengkung membentuk sebuah senyuman.
KREK ....
Aza langsung menoleh kearah pintu yang baru saja terbuka membuat senyumnya semakin lebar saat melihat suaminya berjalan kearahnya dengan menampilkan senyuman manisnya membuat Aza sesak nafas karena itu.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Humaira nya Mas Zhafran," salam Zhafran setelah duduk di pinggir ranjang.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Mas Zhafran." Aza langsung memperbaiki posisinya menjadi duduk dan bersandar pada kepala ranjang dibantu Zhafran.
Perempuan itu menyalami tangan Zhafran dan membawanya ke permukaan bibirnya untuk di cium. Dan langsung di balas Zhafran dengan kecupan ringan di keningnya.
"Apa Dedeknya rewel?" tanya Zhafran sembari mengelus perut sang istri.
"Alhamdulillah, tidak, Mas."
"Alhamdulillah."
"Udah makan, Mas?" tanya Aza.
"Alhamdulillah udah," jawab Zhafran.
"Gak mengajar, Mas?" tanya Aza.
Meskipun Zhafran pemilik pesantren dia tidak pernah melepaskan tanggungjawab untuk mengajar santri yang membutuhkan ilmunya.
Namun, semenjak Aza hamil, Zhafran mengurangi aktivitas di luar dan lebih banyak menghabiskan di rumah bersama Aza.
"Tidak, sayang," jawab Zhafran lembut.
"Hmmm." Aza mengangguk-anggukkan.
Zhafran mengelus langsung perut Aza tanpa penghalang dan melantunkan ayat-ayat Allah yang begitu merdu. Qur'an surah Maryam ayat 16 sampai 28 jadi pilihan Zhafran.
وَٱذْكُرْ فِى ٱلْكِتَٰبِ مَرْيَمَ إِذِ ٱنتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِهَا مَكَانًا شَرْقِيًّا
Ważkur fil-kitābi maryam, iżintabażat min ahlihā makānan
syarqiyyā.
فَٱتَّخَذَتْ مِن دُونِهِمْ حِجَابًا فَأَرْسَلْنَآ إِلَيْهَا
رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا
fattakhażat min dụnihim ḥijābā, fa arsalnā ilaihā rụḥanā fa tamaṡṡala lahā basyaran sawiyyā.
قَالَتْ إِنِّىٓ أَعُوذُ بِٱلرَّحْمَٰنِ مِنكَ إِن كُنتَ تَقِيًّا
qālat innī a'ụżu bir-raḥmāni mingka ing kunta taqiyyā.
قَالَ إِنَّمَآ أَنَا۠ رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَٰمًا زَكِيًّا
قَالَتْ أَنَّىٰ يَكُونُ لِى غُلَٰمٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِى بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا
qālat annā yakụnu lī gulāmuw wa lam yamsasnī basyaruw wa lam aku bagiyyā.
قَالَ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَىَّ هَيِّنٌ ۖ وَلِنَجْعَلَهُۥٓ ءَايَةً لِّلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِّنَّا ۚ وَكَانَ أَمْرًا مَّقْضِيًّا
qāla każālik, qāla rabbuki huwa 'alayya hayyin, wa linaj'alahū āyatal lin-nāsi wa raḥmatam minnā, wa kāna amram maqḍiyyā.
فَحَمَلَتْهُ فَٱنتَبَذَتْ بِهِۦ مَكَانًا قَصِيًّا
fa ḥamalat-hu fantabażat bihī makānang qaṣiyyā.
فَأَجَآءَهَا ٱلْمَخَاضُ إِلَىٰ جِذْعِ ٱلنَّخْلَةِ قَالَتْ يَٰلَيْتَنِى مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنتُ نَسْيًا مَّنسِيًّا
fa ajā'ahal-makhāḍu ilā jiż'in-nakhlah, qālat yā laitanī mittu qabla hāżā wa kuntu nas-yam mansiyyā.
فَنَادَىٰهَا مِن تَحْتِهَآ أَلَّا تَحْزَنِى قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا
fa nādāhā min taḥtihā allā taḥzanī qad ja'ala rabbuki taḥtaki sariyyā.
وَهُزِّىٓ إِلَيْكِ بِجِذْعِ ٱلنَّخْلَةِ تُسَٰقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا
wa huzzī ilaiki bijiż'in-nakhlati tusāqiṭ 'alaiki ruṭaban janiyyā.
فَكُلِى وَٱشْرَبِى وَقَرِّى عَيْنًا ۖ فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ ٱلْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِىٓ إِنِّى نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ ٱلْيَوْمَ إِنسِيًّا
fa kulī wasyrabī wa qarrī 'ainā, fa immā tarayinna minal-basyari aḥadan fa qụlī innī nażartu lir-raḥmāni ṣauman fa lan ukallimal-yauma insiyyā.
فَأَتَتْ بِهِۦ قَوْمَهَا تَحْمِلُهُۥ ۖ قَالُوا۟ يَٰمَرْيَمُ لَقَدْ جِئْتِ شَيْـًٔا فَرِيًّا
fa atat bihī qaumahā taḥmiluh, qālụ yā maryamu laqad ji'ti syai'an fariyyā.
يَٰٓأُخْتَ هَٰرُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ ٱمْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا
yā ukhta hārụna mā kāna abụkimra'a sau'iw wa mā kānat ummuki bagiyyā.
Aza membuka matanya saat Suaminya menghentikan bacaannya. Dia tersenyum manis kearah sang Suami, sungguh rasanya sangat nyaman saat tangan besar milik suaminya mengelus perutnya.
"Belum mengantuk?" tanya Zhafran dengan lembut dan dijawab sang istri dengan menggeleng.
"Mas Zhafran tadi baca surah apa?" tanya Aza penasaran. Meskipun dia sudah menjadi istri seorang Gus, bukan berarti dia sudah faham surah-surah yang ada di dalam Al-Qur'an.
Aza baru pemula, jadi hanya menghafal sebagian. Ar-rahman, Al-mulk, Al-kahfi ayat 1 sampai 10 dan surah-surah pendek lainnya.
Zhafran tersenyum dan menyingkirkan anak rambut Istrinya yang melindungi wajah sang istri sebelum menjawab.
"Surah Maryam ayat 16 sampai 28, Sayang.
"Oh," respon Aza dengan tersenyum.
"Mas sengaja memilih surah Maryam, agar istri Mas yang cantik ini bisa mendapatkan ketenangan dan menstabilkan emosi, Adek juga bisa mengingat bagaimana perjuangan Maryam saat mengandung nabi Isa sendirian yang begitu banyak cobaan," tutur Zhafran.
"Tapi mas tadi gak baca artinya, jadi Aza gak ngerti."
"In Syaa Allah, besok selesai solat subuh, mas bacakan artinya,"
Aza mengangguk.
"Mas berdoa, jika anak kita perempuan, semoga dia cantik dan soleha seperti Maryam, Ibunda nabi Isa."
"Aamiin,"
"Jika dia laki-laki, Mas berdoa agar seperti nabi Yusuf, tampan dan sole-"
"No ... no ... no." Aza menggoyang-goyangkan jari telunjuknya memotong perkataan suaminya. "Kalo anak kita cowok, Aza pengen dia kaya Abi-nya, Soleh, taat pada Allah dan rasul-Nya, pintar, menghormati wanita, dan tampan.
Zhafran terkekeh kecil. "Aamiin."
"Kalo mereka sepasang." Aza mengelus perutnya. "Yang cewek seperti Siti Maryam, dan yang cowok seperti Abi-nya."
"Mas kurang setuju, Sayang," tolak Zhafran.
"Kok gak setuju?"
"Bukan gak setuju, tapi kurang setuju. Kalo mereka sepasang, yang cewek mirip Uminya dan yang cowok mirip Abi-nya," ujar Zhafran membuat Aza tertawa kecil.
"Aza bukan perempuan yang soleha, Mas!" lirih Aza menghentikan tawa kecilnya.
"Kata siapa?" hmmm." Zhafran mengelus pipi sang istri.
"Kata orang-orang yang kenal dengan Aza. Aza juga merasakan kalo diri Aza memang gak baik dan tidak soleha."
"Istri Mas ini sangat baik dan soleha, Mas sangat bersyukur karena Allah mengirim bidadari yang sangat cantik untuk Mas."
"Kenapa Mas Zhafran menerima perjodohan ini?" tanya Aza saat mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.
"Karena Aza shakila mampu menggetarkan hati Abidzar Zhafran Al-Ghifari hanya dengan nama yang tertulis di atas kertas," tutur Zhafran membuat Aza terkejut dan heran.
"Kok nama Aza ada di atas kertas?"
"Adek gak tau iya, kalo cv Adek di kirim kerumah mas?"
Bukannya menjawab Zhafran mala bertanya balik pada sang Istri dan mendapatkan gelengan sebagai jawaban.
"Maa Syaa Allah." Zhafran tertawa geli. Ternyata istrinya tidak tau tentang itu.
"Aza tau nya ada tamu yang akan datang, dan bunda memaksa Aza paket baju gamis, sungguh, pada saat Mas udah datang bersama keluarga, Aza baru tau kalo ini perjodohan, saat itu Aza benar-benar gak suka. Aza cari cara agar perjodohan konyol itu di batalkan, tapi saat Aza tau mas orangnya, Aza gak bisa nolak, hehehe."
Zhafran ikut terkekeh saat ingatan berada di mana dirinya dan keluarga datang ke rumah Aza untuk melamar dan lucunya saat itu Aza mengira dirinya adalah Ali.
"Ayo tidur," pinta Zhafran saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 09:00 malam.
"Hah ...! udah jam 9 aja," ujar Aza.
"Bumil gak boleh begadang,"
TBC
MAAF TYPO BERTEBARAN.