My Husband

My Husband
Bab 23



#MY_HUSBAND


#PART_23


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Hay Gaeyss ....


Vote+komen ya😁


___________________


🌻Happy reading🌻


Mata indah itu terbuka secara berlahan saat telinga mendengar bunyi alarm yang begitu nyaring di pendengarannya, tapi anehnya pria tampan yang ada disampingnya tidak terganggu sama sedikitpun, padahal biasanya pria itu yang selalu terbangun saat mendengar alarm tersebut. Namun, kali ini bukan dia yang bangun.


"Hoaaammm ...." Spontan tangan gadis itu menutup mulutnya saat menguap karena masih mengantuk.


Sekuat tenaga gadis itu melawan rasa ngantuk nya, karena pagi ini dia dan suaminya akan berangkat ke rumahnya, bukan rumahnya, tapi rumah Ayahnya.


Sesuai perkataan Suaminya kalo pagi ini mereka akan berangkat, Ibu mertua dan Ayah mertuanya sudah mengetahuinya semalam setelah selesai makan malam.


"Mas." Gadis itu menggoyangkan tangan Suaminya saat dirinya sudah duduk, tapi belum turun dari tempat tidurnya. "Bangun Mas udh jam tiga lho."


Bukannya bangun, pria tanpa atasan itu menarik tangan istrinya dan membuat sang istri terkejut dan terjatuh di atas dadanya.


"Aaakkkhh ...!" pekik Gadis itu dengan terkejut. "Masss."


"Hmmm." Bukannya bangun, Pria itu malah menarik kepala istrinya agar mudah menenggelamkan wajahnya ke leher Istirnya untuk mencari kenyamanan.


"Geli Mas," ujarnya, tapi Zhafran tidak perduli yang penting dia nyaman.


Aza hanya bisa pasrah saat merasakan suaminya mengunci pergerakannya.


1 sampai 5 menit berlalu, tapi suaminya itu tidak ada tanda-tanda untuk bangun dari posisinya. Posisi yang membuat Aza berdegup kencang tak karuan.


"Maassss ...!" bisik Aza tepat di telinga Suaminya dengan nada suara menggoda. "Aza hitung sampai tiga, kalo Mas gak bangun, Aza akan melakukan sesuatu."


"Satu, dua, tiga," Aza menyelesaikan menghitung sampai tiga, tapi suaminya itu belum bergerak juga. "Baiklah, jangan salahkan Aza iya."


Dengan tersenyum lebar, Gadis itu mencubit dada telanj4ng suaminya membuat sang suami berteriak karena kesakitan dan langsung melepaskan dekapannya.


Aza yang melihat ada peluang untuk lepas langsung pindah.


"Aaarrrghh ...!" teriak Zhafran. Matanya langsung terbuka lebar saat merasakan jari-jari mungil istrinya mencubit dadanya. Sebenarnya ini tidak sakit baginya, tapi dia sengaja, agar istrinya itu merasa bersalah dan benar saja, istrinya itu langsung merasa bersalah.


"Astaghfirullah aladzim, Mas." Aza langsung mengelus dada suaminya. "Maaf sengaja, hehehehe."


"Sengaja, Hmmm." Zhafran meraih tangan istrinya yang ada di dadanya dan mengecupnya. "Tangannya nakal."


"Salah Mas sendiri, kenapa belum bangun." Aza menarik tangannya dari tangan suaminya.


"Karena Mas masih pengen begini." Zhafran menarik Aza hingga gadis itu kembali ke posisi awal, diatasnya dada milik suaminya.


Aza yang mendapatkan perlakuan seperti itu secara mendadak hanya bisa terdiam dan menatap kearah mata Suaminya.


"Kok diam, biasa cerewet," ledek Zhafran pada istrinya.


"M-mas, lepasin." Aza menggerak-gerakkan badannya agar lepas dari dekapan suaminya.


"Jangan gerak-gerak," bisik Zhafran.


"Kenapa?" tanya Aza mengehentikan aksinya.


"Kalo Adek gerak-gerak, Zhafran junior akan hadir."


"Zhafran junior?" tanya Aza dengan wajah polosnya.


Cup ....


Zhafran mengecup biblr istrinya sekilas.


"Ayo kita mandi," ajak Zhafran. Pria itu bangun dari tidurnya tanpa menurunkan istrinya dari dekapannya dan otomatis Aza ikut terbangun juga.


"Ihh, Aza gak mau mandi, dingin," tolak Aza.


Ini bukan kali pertamanya Zhafran mengajaknya mandi di jam 3 subuh.


"Biasakan, Sayang." Zhafran mengubah posisinya Aza jadi seperti koala.


"Aza mau mandi, tapi jawab dulu pertanyaan Aza," ujar gadis itu.


"Pertanyaan apa?"


"Tentang Zhafran junior,"


"Hmmm, nanti kita bahas kalo Adek udah lulus."


"Kenapa tidak sekarang?"


"Untuk saat ini, pendidikan Adek lebih penting."


"Apa hubungannya Zhafran junior ama pendidikan?"


Tanpa Aza sadari mereka sudah ada didalam kamar mandi untuk melakukan ritualnya sebelum solat.


••••


"Milo, Ente benar-benar mau pergi ninggalin Ane?" tanya Ali sambil mendekap erat hewan berbulu halus itu.


"Lebay," sindir Aza saat melihat Ali dan Kitti berada diruang tamu saling berpelukan, larat bukan saling peluk, tapi Ali yang memeluk kucing tersebut.


"Ning, apa Milo harus ikut?" tanya Ali pada Aza dengan sedih.


"Kitti harus ikut dong, itukah kucing Aza," ucap Aza pada Ali. Sebenarnya Aza merasa iba pada Ali saat melihat kasih sayang pria itu pada Kitti, kucingnya.


"Ning kan banyak duit, kenapa gak beli kucing yang lebih cantik, imut dan seksi selain Milo?" tanya Ali.


Pria itu kembali mengelus bulu halus Milo, kucing yang dia dapatkan dari jalan sejak kecil lalu merawatnya sampai selucu ini kini menjadi milik orang lain.


Definisi menjaga milik orang lain, kayanya Ali tercipta untuk itu, menjaga milik orang lain.


Dirinya benar-benar ditakdirkan sad boy.


"Akunya suka Kitti bukan yang lain." Aza mengambil Kitti secara paksa dari tangan Ali, tapi Ali tidak melepaskan Milo segampang itu.


Pria tinggi itu sengaja' mengangkat Milo tinggi-tinggi dengan tangannya agar Aza tidak bisa meraihnya.


"Ambil kalo bisa," tantang Ali pada Aza.


"Ck ... Ustad Aliiiiiiii, turunin gak kitti nya, kalo gak Aza bakalan ngomong sama Uswa kalo ustad suka sama dia ...!" ancam Aza pada Ali.


"Ane gak peduli, malahan bagus buat Ane kalo Ning ngomong pada Uswa, biar Ane gak perlu ngomong lagi," ujar Ali.


Mereka tidak hanya berdua, tapi berlima dengan Zhafran dan Umi Halimah dan Kiai Rasyid, mereka hanya diam dan melihat kelakuan Ali dan Aza.


"MASSS ...!" teriak Aza pada Suaminya dengan wajah sedihnya.


"Ali," tegur Zhafran.


"Ente selalu pilih kasih, mentang-mentang Ning Aza Istri Ente, padahal Ente kan tau sendiri nihh Milo kucing Ane."


"Ustad Ali ndk ikhlas iya?" tanya Aza.


"Hmmmm, ikhlas sih."


"Kalo ikhlas, kenapa selalu ustad ungkit?"


Dengan wajah masamnya, Ali melepaskan Milo keatas meja. "Nii, ambil."


"Syukron ustad Ali, in syaa Allah Kitti akan aman bersama Ning Aza," tutur Aza penuh dengan dramatis setelah meraih kucing tersebut.


"Hmmm." Pria itu menyeruput tehnya.


"Al, kita gak boleh bermuka masam kaya gitu, apalagi pada sesama muslim," tegur Kiai Rasyid.


"Tidak, Abi." Ali langsung tersenyum lebar kearah Kiai Rasyid.


"Hmmm, Abi, Umi, Kami berangkat dulu," pamit Zhafran.


Pria itu berdiri dari duduknya dan menyalami tangan Abi dan Uminya disusul istrinya.


"Aza, sampaikan salam Umi pada Bundamu iya,"


"In syaa Allah, Umi," jawab Aza.


"Nak, pelan-pelan bawah mobilnya iya." Kiai Rasyid menepuk pundak putranya.


"In syaa Allah, Abi," jawab Zhafran pada Abi-nya, kemudian beralih pada sahabatnya, Ali.


"Li, Ana titip Umi sama Abi iya, kalo ada apa-apa, telpon Ana," pesan Zhafran pada Ali.


"In syaa Allah, Gus. Ente jangan khawatir, Abi ama Umi aman," ujar Ali. "Gus gak bakalan lama 'kan?"


"In syaa Allah, tidak," sahut Zhafran.


"Semoga aja," ujar Ali. "Ane gak sanggup menanggung bebanmu, Gus," lanjut Ali dalam hatinya.


Memang benar, selama Zhafran tidak ada di pesantren semua tugasnya diambil alih olehnya, iya meskipun ada ustad-ustad lainnya, tapi tugasnya lebih banyak, bisa dibilang dua kali lipat semenjak Zhafran menikah.


••••


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Umi, Abi, Al," salam Zhafran sebelum menjalankan mobilnya.


"Dah ..., Umi, Abi." Aza melambaikan tangannya pada mertuanya.


"Dah, Sayang," sahut Umi Halimah dengan mata berkaca-kaca.


Air mata Umi Halimah menetes saat mobil putranya sudah menghilang dari pandangannya.


"Udah, Sayang, jangan sedih, mereka akan balik lagi," hibur Kiai Rasyid pada istrinya.


"Hiks ... hiks ..., Um-"


"Abi, Umi, Ali pamit dulu, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Ali memotong perkataan Umi Halimah.


"Anak tidak sopan, Umi lagi sedih, seharusnya kamu gak pergi kaya Zhafran." Umi Halima menghapus sisa-sisa air matanya.


"Umi, Ali cuman ke sekolah, bukan pergi jauh," ungkap Ali.


"Sana," usir Umi Halimah. Sedangkan kiai Rasyid hanya terkekeh.


Pria paruh baya itu jadi teringat saat menemukan Ali yang masih bayi di gerbang pesantrennya dan untungnya Istrinya saat itu baru saja melahirkan putranya jadi bisa menyusui Ali kecil saat itu. Itulah sebabnya kenapa Ali sangat dekat dengan keluarga ini, karena Ali putra angkat mereka.


Saat Kiai Rasyid menemukan Ali kecil, pria paruh baya itu juga menemukan sebuah surat tentang orang tua Ali dan alasannya meningkatkan bayi malang itu. Mereka berjanji saat keadaannya sudah aman, mereka akan menjemput Ali.


"Astaghfirullah aladzim, Umi." Ali memijat pelipisnya pusing. "Nikah lebih enak kali."


"Kamu mau nikah juga?" tanya Umi Halimah.


"Iya, Umi, kayanya enak tuh, kaya Zhafran." ujar Ali. "Tapi Ali gak mau istri kaya Aza, tuh anak masih bocil, seharusnya bermain boneka di kamarnya, eh ... mala main suami-suamian."


Plak ....


"Aww ...!" pekik Ali saat merasakan tangan Umi Halimah memukul punggungnya. "Umi."


"Kamu gak boleh menikah dulu,"


"Kenapa ...? tanya Ali. "Umur Ali kan udah matang untuk menikah."


Kiai Rasyid yang sedari tadi hanya menyimak kini tersenyum lebar. "Ali kan tau sendiri, kalo Kami hanya orang tua angkat mu."


Ali langsung menunduk. "Kenapa mereka belum datang, Bi?"


Kiai Rasyid pindah ke samping Ali. "Mereka akan datang menjemputmu, percaya sama Abi."


"Walaupun mereka datang, Ali gak mau ikut, orang tua Ali ada disini." Ali langsung memeluk Kiai Rasyid. "Mereka tidak membesarkan Ali dan merawat Ali, mereka sudah membuang Ali."


"Tapi mereka selalu mengirimkan Ali uang lho," ujar Umi Halimah.


Benar, selama ini orang tuannya selalu mengirim uang pada rekening pesantren. Mungkin mereka dapat rekening itu dari akun media sosial pesantren.


"Ali gak butuh uang, Umi," lontar Ali dengan mata berkaca-kaca.


"Udah-udah, jangan nangis." Kiai Rasyid menepuk pundak Ali. "Abi akan mencarikan calon istri untukmu, kalo mereka belum datang menjemputmu."


"Ali gak mau nikah,"


"Lha, ko gak mau?" tanya Umi Halimah pada putra angkatnya itu.


"Ali berubah pikiran," ujar Ali. "Hmmm, Ali ke sekolah dulu, Abi, Umi." Ali mengalami tangan Umi Halima dan Kiai Rasyid. "Assalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakatuh."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."


••••


"Mas," panggil Aza.


"Iya, Sayang," sahut Zhafran tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalanan.


"Aza kasian ama Uswa," tutur Aza pada suaminya dengan raut wajah sedih.


"Kenapa dengan Uswa?" tanya Zhafran.


"Ternyata Uswa punya ibu tiri, dan Mas tau?" tanya Aza.


"Hmmm, apa?"


"Ibu tirinya itu jahat, Aza jadi kesal dan ingin menonjok mukanya sampai mat-"


"Aza ...!" potong Zhafran. "Gak boleh ngomong gitu."


"Hehehehe, maaf, Mas." Aza menutup mulutnya. "Tapi ibunya bikin kesal banget tau."


"Kita tidak boleh mencampuri urusan keluarga mereka, karena kita tidak tau apa yang sebenarnya terjadi di keluarga tersebut," tutur Zhafran.


Aza memasang wajah cemberutnya. "Iya-iya."


Melihat wajah istrinya yang cemberut membuat Zhafran terkekeh kecil dan meraih tangan istrinya. "Jangan cemberut sama Suami, nanti kualat Loh."


"Aza gak cemberut."


"Coba senyum." Zhafran mengalihkan pandangan kearah Aza.


"Mas, fokus kejalan,"


"Senyum dulu."


Dengan terpaksa Aza menampilkan senyumannya. "Udah kan?"


"Gemes, untung masih sekolah, kalo tidak ...."


"Kalo tidak apa?" tanya Aza.


"Udah Mas hukum."


"Di hukum?" tanya Aza heran.


"Buat Zhafran junior."


••••


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Kiai, Umi," salam Uswa setelah mengetuk pintu rumah Kiai Rasyid.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Kiai Rasyid dan Umi Halimah bersamaan.


"Ada apa, Nak?" tanya Umi Halimah.


Uswa tidak menjawab, Gadis itu mengaitkan jari-jarinya karena takut untuk bicara. Umi Halimah yang menyadarinya langsung berdiri dan berjalan kearah Uswa.


"Ayo duduk." Umi Halima menuntun Uswa untuk duduk. "Ada apa, Nak?"


"Umi, Abi, Uswa pamit mau keluar dari pesantren."


"Kenapa?" tanya Umi Halimah. "Apa ada seseorang yang mengganggumu lagi?"


"T-tidak, Umi."


"Terus kenapa kamu mau keluar tiba-tiba seperti ini?" tanya Umi Halimah. "Kamu baru kelas 10, dua tahun lagi kamu akan lulus."


"Maaf, Umi, Uswa gak bisa cerita."


Umi Halimah hanya terdiam. Dia tau kalo gadis 15 tahun ini memiliki keluarga yang terbilang tidak harmonis. Dia dapat melihatnya saat gadis itu masuk ke pesantren pertama kali, gadis itu datang sendiri dengan persiapan yang pas-pasan.


"Baiklah, kalo itu sudah keputusan kamu, Nak." Umi Halima mengelus pundak Uswa.


"Terimakasih, Umi."


"Sama-sama, Sayang."


"Abah, syukron atas ilmunya selama ini, Uswa tidak mampu membalas kebaikan Abah sama Umi," tutur Uswa dengan mata berkaca-kaca. "In syaa Allah, Uswa akan sering datang kesini."


Kiai Rasyid tersenyum. Dia tidak dapat menahan santriwatinya itu untuk tetap tinggal, masuk pesantren sebuah pilihan, dan keluar pesantren juga sebuah pilihan. Dia berharap gadis ini menemukan jalannya diluar sana.


"Kalo begitu, Uswa pamit dulu, Abah, Umi." Uswa menyalami tangan Umi Halima dan menyatukan telapak tangannya didepan dadanya kearah Kiai Rasyid. "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."


Saat gadis itu sudah keluar dari rumah tersebut tanpa sengaja berpapasan dengan Ali.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustad Ali," salam Uswa saat berhadapan dengan Ali.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Ali. "Kamu mau kemana bawah barang gitu?"


"Ana mau pulang, ustad."


"Kemana?" tanya Ali dengan tatapan bertanya-tanya.


"Ana mau pulang ke rumah," jawab Uswa sambil menunduk.


"Kamu sakit? sudah izin pada Kiai? kapan baliknya?" tanya Ali bertubi-tubi.


Uswa mengeratkan pegangannya ke tali tasnya. "A-ana tidak akan kembali, Ustad."


"Maksudnya?"


"Ana tidak mondok lagi."


Ali langsung terdiam seperti robot saat mendengar tuturan dari Uswa. Tenggorokannya seperti tercekik dan dadanya seperti tertindih batu besar yang membuatnya sulit bernafas. Seketika dia lupa kalo dia tidak mau istri yang bocil, tapi hatinya sudah kepincut ama bocil, walaupun belum menyadari sepenuhnya.


Pria itu bertanya-tanya dalam hatinya tentang kisah cintanya yang selalu gagal.


"Ustad, Ana pamit dulu, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Uswa. Gadis itu pergi meninggalkan Ali yang masin terdiam.


TBC ....