
#MY_HUSBAND
#PART_37
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Hay Gaeyss ....
Vote+komen ya😁
___________________
🌻Happy reading🌻
Setelah urusannya selesai Zhafran dan Aza pulang ke apartemen dengan menggunakan kendaraannya masing-masing.
"Mas, ustad Ali jadi datang ga?" tanya Aza pada Zhafran saat didalam lift.
"Iya, tadi Mas tinggal karena panik saat kepala sekolah menelpon," tutur Zhafran sembari mengecup punggung tangan istrinya yang sedari tadi dia genggam.
"Jadi Ustad Ali ada di apartemen?"
"Hmm."
Setelah beberapa saat merekapun sampai ke apartemen dan melihat Ali sedang bersantai di sofa sambil memainkan ponsel miliknya.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Zhafran dan Aza bersamaan.
Ali langsung menoleh kearah suara. "Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
" ... Kalian udah pulang." Ali mengubah posisinya menjadi duduk.
"Hmm." Zhafran langsung duduk di sofa dan Aza berjalan kearah kamarnya.
"Ada masalah apa, Gus?" tanya Ali.
"Ada murid yang menyebarkan video dan foto-foto Ana dan Aza," tutur Zhafran.
"Udah selesai masalahnya?" tanya Ali.
"Alhamdulillah udah, Ayahnya Aza yang menyelesaikan."
"Wah, Ente kagak bertanggungjawab banget jadi Suami," ejek Ali pada Zhafran karena masala seperti ini harus ayahnya Aza yang menyelesaikannya.
Zhafran tidak menghiraukan perkataan Ali. Lagipula dia bisa menyelesaikan masala itu jika ayah mertuanya tidak datang dengan tiba-tiba, tapi Zhafran bersyukur karena ayah mertuanya datang, kalo tidak gadis yang bernama Dewi itu tidak akan diam semudah itu.
"Ustad Ali udah lama?" tanya Aza yang baru saja datang dari kamarnya dan duduk di samping Zhafran.
"Udah dari tadi," ujar Ali malas.
"Kok malas gitu, Ustad ada masalah iya?" tanya Aza kepo saat melihat Ali kurang bersemangat.
"Adek, makan geh," ujar Zhafran meminta Aza untuk makan.
"Aza belum lapar, Mas," jawab Aza sambil tersenyum kearah Suaminya.
"Ning," panggil Ali pada Aza.
"Iya, Al," sahut Aza.
"Ning tau, Uswa sekarang tinggal dimana?" tanya Ali dengan serius.
"Hmmm, gak tau, emangnya kenapa, Al?"
"Gak apa-apa."
"Al, kamu nginep iya, besok baru balik ke pesantren," pinta Zhafran.
"In syaa Allah, Ane juga capek."
***
Uswa menangis di pinggir ranjang dimana sang ayah ada di atas ranjang terbaring lemah.
"A–ayah, hiks ... hiks ...." Uswa meraih tangan sang Ayah untuk di genggamnya.
"U–uswa, d–dengerin Ayah, Nak,"
"Uswa, hiks ... hiks ..., Uswa gak mau, Yah," tutur Uswa menolak permintaan Ayahnya yang meminta untuk menerima perjodohannya dengan Azka beberapa menit yang lalu.
"A–ayah t–tidak a–akan selalu b–berada d–di sampingmu, Nak."
"Hiks ..., Ayah jangan banyak bicara, dokter akan segera datang." Uswa menghapus air matanya.
"U–usw—" perkataan Ayahnya Uswa terpotong saat pintu terbuka.
Krek ....
Terlihat Ibu Rena dan pak Riyan masuk kedalam ruangan pak Rahmat saat pintu terbuka.
"Apa dokter sudah datang?" tanya Pak Riyan pada Uswa.
"Tadi dokternya sudah datang, tapi pergi lagi, Om, karena ada pasien lain," tutur Uswa.
"Ini juga pasien!" geram Riyan.
Dengan sedikit emosi Riyan memencet tombol yang ada di tembok untuk memanggil dokter dan perawat.
Setelah beberapa menit seorang perawat pun datang.
"Mana dokter?" tanya Riyan.
"Dokter Andre sedang melakukan operasi sekarang," ujar sang perawat.
"Apa rumah sakit sebesar ini hanya mempunyai satu dokter saja?" tanya Riyan dengan tatapan tajam.
"T–tidak, pak."
"KALO TIDAK, MANA YANG LAIN?" tanya Riyan dengan berteriak.
" ... Jangan karena mereka orang tidak mampu kalian tidak melayani mereka dengan baik," lanjut Riyan.
"Maaf, pak, kami tidak bisa melakukan operasi jika administrasi belum di lunasi."
"Apa uang lebih penting dari nyawa seseorang?" tanya Riyan.
"P–pak Riyan," panggil Rahmat sembari mengangkat tangannya sebagai isyarat ingin berbicara dengan Riyan, ayahnya Azka.
"Iya, pak." Riyan berjalan kearah samping Rahmat.
"S–saya menerima p–perjodohan i–ini, S–saya t–titip Uswa," ujar Rahmat terbata-bata.
Pak Rahmat —ayahnya Uswa— menggeleng lalu melafazkan dua kalimat syahadat dengan terbata-bata membuat Uswa menangis tanpa suara.
"A–asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna m–muhammadar rasulullah," setelah mengatakan itu, Rahmat menghembuskan nafas terakhirnya.
"Pak, pak Rahmat." Riyan langsung memeriksa nadi dipergelangan tangan Rahmat dengan panik.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un," ujar Riyan setelah memeriksa nadi pak Rahmat yang tidak berdegup lagi.
"A–ayah!" lirih Uswa dengan air mata semakin berderai.
Rena langsung memeluk Uswa agar gadis itu tidak terjatuh.
"Sabar, Nak." Rena mengelus kepala Uswa.
Uswa ingin menangis sekencang-kencangnya, tapi dia sadar kalo kita tidak bisa terlalu meratapi kepergian seseorang.
Namun, air mata gadis itu menetes tanpa henti. Dia mencoba menerima kenyataan yang sangat sulit untuk diterima.
"Mah," panggil Riyan pada Istrinya yang masih memeluk Uswa agar gadis itu tidak terjatuh.
"Iya, Mas."
"Papa akan urus jenazah pak Rahmat dulu, Mama pulang bersama Uswa, biar papa yang urus semuanya."
Rena mengangguk mengiyakan perkataan suami. "Ayo, Nak."
"A–ayah!" lirih Uswa sembari mengikuti arahan Rena untuk keluar dari ruangan tersebut.
"Ikhlas, Sayang!" bisik Rena.
***
Jam 09:00 malam
"Adek, kalo udah lulus mau lanjut dimana?" tanya Zhafran pada Aza yang sedang belajar untuk persiapan ujian besok.
"Hmm, belum kepikiran," jawab Aza jujur.
Sampai sekarang dia belum memikirkan dia akan lanjut dimana setelah lulus.
"Adek mau lanjut kuliah?" tanya Zhafran.
"Mau, tapi ... entahlah Aza bingung." Gadis itu menutup bukunya dan berjalan kearah ranjang dimana Zhafran sedang menyadarkan tubuhnya ke kepala ranjang sembari memainkan ponselnya.
Melihat istrinya berjalan kearahnya Zhafran langsung menyimpan ponselnya keatas nakas.
"Kenapa bingung?" tanya Zhafran.
"Aza maunya kuliah, tapi gak mau pusing." Aza duduk di samping Zhafran. "Aza gak mau belajar lagi, bikin kepala puyeng."
Zhafran tersenyum setelah mendengar curahan hati seorang istri tentang pendidikan.
"Pendidikan itu penting, Sayang." Zhafran menarik Aza agar istrinya itu menyender ke dadanya.
Aza terdiam sejenak memikirkan perkataan Suaminya. Pendidikan memang penting, tapi menjadi istri yang baik untuk suami itu harus, jadi Aza sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya.
"Aza sudah memutuskan untuk menjadi istri yang soleha untuk mas Zhafran," jawab Aza dengan percaya diri.
"Menjadi istri yang soleha tidak harus memutuskan pendidikan."
"Pokoknya Aza gak mau kuliah, titik!"
"Adek pintar loh, sayang kalo ndk kuliah." Zhafran mengelus kepala Istrinya.
"Masss, Aza gak mau kuliah." Aza menatap suaminya dengan tatapan tajam membuat Zhafran terkekeh kecil dan mencubit pipi istrinya dengan gemes.
"Baik, mungkin saat ini Adek gak mau kuliah, tapi suatu saat nanti Adek ingin kuliah jangan sungkan ngomong sama Mas, oke."
"In Syaa Allah."
"Gak mau belajar lagi?" tanya Zhafran.
"Ngantuk," jujurnya.
"Ngantuk?" ulang Zhafran tidak percaya sebab istrinya saat ini tidak ada tanda-tanda mengangguk sama sekali.
"Iya, Mas."
"Gak bohong 'kan?"
"Astaghfirullah aladzim, mana mungkin Aza boong, Mas,"
"Tapi kok Mas liat gak mengantuk sama sekali." Zhafran menatap istrinya dengan tatapan curiga.
"Ihh ... Mas, Aza benarkan mengantuk tadi saat belajar, tapi entah kenapa tiba-tiba gak ngantuk lagi."
"Iya udah, karena Adek gak ngantuk lagi, sekarang setor hafalannya,"
Mata Aza langsung membulat sempurna saat mendengar ucapan suaminya.
"Adu, Mas, Aza belum hafal, kan mas tau sendiri Aza ujian mana sempat menghafal."
Zhafran menggeleng mendengar alasan istrinya ini.
"Baiklah tuan putri, kalo begitu baca surah Al-mulk, Mas mau dengar," tutur Zhafran tidak melepaskan Aza begitu saja.
"Hoaam." Aza menguap sembari menutup mulutnya dan membaringkan tubuhnya mencari posisi yang nyaman lalu menarik selimut untuk menutup seluruh badannya.
" ... Ngantuk," lanjutnya membuat Zhafran terkekeh kecil melihat tingkah istrinya yang banyak alasan.
"Adek," panggil Zhafran, tapi tidak ada jawaban dari Aza.
"Mas tau, Adek belum tidur." Zhafran menarik selimut yang menutupi wajah istrinya dan langsung menemukan wajah sang istri dengan mata yang pura-pura terpejam.
Tanpa segan Zhafran melayangkan satu kecupan di bibir Istrinya hingga membuat sang istri langsung membuka matanya.
"Adek serius gak mau kuliah?" tanya Zhafran lebih memastikan keputusan Istrinya.
"Iya," jawab Aza dengan tersenyum.
"Ujiannya tinggal besok kan?" tanya Zhafran langsung mendapatkan anggukkan kepala dari sang istri sebagai jawaban.
Zhafran langsung tersenyum lebar dengan tatapan berbinar. "Jadi ...."
Melihat tatapan suaminya Aza langsung menarik satu alisnya keatas. "Jadi?"
"Boleh dong buat Zhafran junior?"
"Hah ...!"
TBC