My Husband

My Husband
Bab 25



#MY_HUSBAND


#PART_25


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Hay Gaeyss ....


Vote+komen ya😁


___________________


🌻Happy reading🌻


BRUK ...!


Zhafran langsung membuka matanya dengan lebar saat merasakan tubuhnya menyentuh lantai yang sangat dingin.


"Aww ...!" desisnya setelah merasakan punggungnya terasa perih.


"Astaghfirullah aladzim, apa yang terjadi." Pria itu melirik kearah tempat tidurnya bersama Aza, istrinya.


Betapa terkejutnya saat melihat posisi tidur istrinya, pantas saja dia bisa jatuh kelantai tentang Aza, istri mungilnya itu menendang dirinya tanpa sengaja.


Zhafran berdiri dari tempatnya dan duduk di pinggir ranjang untuk memperbaiki posisi Aza agar kembali seperti awal mereka tidur.


"Tumben dia tidur kaya gini, biasanya enteng, kok jadi bar-bar gini." Pria itu meraih selimut yang sudah terjatuh kelantai karena ulah Aza.


Setelah menyelimuti Aza, diapun melirik jam weker berwarna biru di atas nakas.


"Sudah jam 03:00 pagi, Aku solat tahajud, aja." Pria itu beranjak dari duduknya dan masuk kedalam kamar mandi untuk melakukan ritualnya sebelum solat tahajud.





Krek ....


Pintu kamar mandi terbuka dan Zhafran berjalan keluar dengan handuk kecil yang melilit pinggangnya, pria tampan itu baru saja melakukan ritual mandinya, dia sudah terbiasa mandi di jam tiga pagi sebelum solat.


Bibir pria itu melengkung membentuk sebuah senyuman saat melihat Istrinya masih tertidur nyenyak di tempat tidur mereka.


Dengan langkah pelan-pelan, Zhafran menghampiri istrinya.


"Maa Syaa Allah, bidadarinya Zhafran masih tidur," ujarnya setelah berdiri di samping Istrinya.


"Maaf, Sayang." Zhafran terkekeh kecil sebelum memulai aksinya.


Pria itu menempelkan telapak tangannya yang terasa dingin dikedua pipi Istrinya.


Zhafran menahan tawanya saat melihat ekspresi wajah istrinya yang terlihat sangat lucu.


"Lucu banget sih," ujarnya.


"Sayang." Zhafran menepuk-nepuk pipi Aza dengan pelan-pelan.


"Hmmm," gumam Aza.


"Bangun yuk, solat tahajud."


"Aza lagi halangan, Mas," jawab Aza tanpa membuka matanya.


"Halangan," ulang Zhafran.


"Hmm,"


"Berhalangan apa, sampai-sampai gak solat?" tanya Zhafran heran pada Aza.


"Datang bulan, Mas," jawab Aza sedikit kesal pada suaminya itu.


"Bulan apa?" canda Zhafran.


"Mas, diam deh, kalo gak Aza tabok nih ginjalnya!" sergah Aza sambil menarik selimutnya sampai ke melewati kepalanya.


"Mas cuman bercanda, Sayang." Zhafran mengelus kepala Istirnya yang sudah tertutupi kain yang halus dan tebal. "Tidurlah, nanti mas bangunin kalo udah jam enam,"


Zhafran beranjak dari tempatnya dan mencari baju yang akan dia gunakan untuk solat. Sedangkan Aza kembali melanjutkan tidurnya.





Aza membuka matanya saat mendengar suara samar-samar melantunkan ayat suci Al-Qur'an yang terdengar sangat merdu.


"Fiihinna khairaatun hisaan,


Fabi'ayyi aalaaa'i Rabbikumaa tukazzibaan,


Huurum maqsuuraatun fil khiyaam,


Fabi'ayyi aalaaa'i Rabbikumaa tukazzibaan,


Lam yatmis hunna insun qablahum wa laa jaaan,


Fabi'ayyi aalaaa'i Rabbikumaa tukazzibaan,


Muttaki'iina 'alaa rafratin khudrinw wa 'abqariyyin hisaan,


Fabi'ayyi aalaaa'i Rabbikumaa tukazzibaan,


Tabaarakasmu Rabbika Zil-Jalaali wal-Ikraam,


Shadaqallahul-'adzim'."


Aza tersenyum saat tau siapa yang melantunkan ayat suci Al-Qur'an yang begitu merdu hingga membuatnya terbangun dari tidurnya nyenyak nya.


"Maa Syaa Allah," ujar Aza. "Lain kali, ajak Aza, Mas."


Zhafran langsung menoleh kearah tempat tidur. "Adek udah bangun?"


"Belum," canda Aza.


Mendengar candaan istrinya, Zhafran hanya tersenyum, seharusnya dia tidak perlu menanyakan hal yang sudah pasti.





Uswa menatap rumahnya yang sudah lama dia tinggalkan, rumah yang menyimpan banyak kenangan bersama ibu dan ayahnya, dan kini kenangan itu hanya bisa dia simpan sendiri dalam hatinya.


Gadis 15 tahun itu berjalan kearah pintu tersebut lalu mengetuknya.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ayah," salam Uswa setelah mengetuk pintunya.


"Wa'alaikumussalam, uhuk ... uhuk ....," sahut seorang pria tua dari dalam.


Mata Uswa berkaca-kaca setelah mendengar suara yang tidak asing ditelinga, suara yang dulunya terdengar sangat kuat dan sekarang terdengar sangat rapuh dan lemah.


Krek ....


Pintu itu terbuka dan menampilkan sosok pria yang sudah tidak mudah lagi berdiri diambang pintu dengan tatapan berbinar.


"Uswa," lontarannya.


"Ayah." Uswa langsung meraih tangan ayahnya dan menyalaminya.


"Ayo masuk, Nak," ajak Firman, Ayahnya Uswa.


Anak dan ayah itupun duduk disebuah kursi sederhana yang terbuat dari kayu.


Rumah Uswa tidak semewah rumah Aza ataupun rumah Zhafran.


Rumah gadis itu sangat sederhana, hanya ada ruang tamu, ruang makan sekaligus dapur dan dua kamar kecil, salah satunya kamar Uswa, tidak ada kamar mandi maupun WC, jika mereka ingin mandi harus kebelakang dulu untuk menimba air dari sumur, jika inginkan buang air bes*r, maka dia harus ke WC umum.


"Kenapa kamu pulang, Nak?" tanya firman pada Putrinya.


"Hmmm, Uswa libur, Yah, jadi Uswa pulang, hehehehe," bohong Uswa. Dia tidak mau Ayahnya tau kalo dirinya sudah keluar dari pesantren.


"Uhuk ... uhuk ..., kenapa cepat, Nak, tidak seperti biasanya?" tanya Firman heran karena biasanya putrinya libur kalau memasuki bulan ramadhan.


Uswa tersenyum dan meraih tangan Ayahnya. "Jangan dipikirkan masalah itu, Yah. Yang penting sekarang Uswa di sini dan merawat Ayah sampai sembuh."


"Uswa," panggil Firman.


"I–iya, Yah," sahut Uswa menunduk tidak berani menatap kearah mata Ayahnya.


"Lihat Ayah dan katakanlah yang sejujurnya, jangan berbohong."


"U–uswa, Uswa tidak bohong, Yah."


"Lihat Ayah, dan katakan kalo kamu tidak bohong, uhuk ... uhuk ...." Pria tua itu menyentuh dadanya karena batuk.


Dengan ragu Uswa mengangkat kepalanya dan menatap kearah Ayahnya yang sudah menatapnya dengan berbagai pertanyaan.


"Uswa, Uswa udah keluar dari pesantren, Yah." Gadis itu kembali menunduk dan mengaitkan jari-jarinya karena takut pada Ayahnya.


"Kenapa?" tanya Firman dengan suara dinginnya. "Pendidikan agama itu penting, Nak."


"U–uswa tau, Yah, tapi Uswa gak mau meninggalkan Ayah sendirian di rumah,"


"Ayah masih kuat, Nak, kamu pokus aja sama pendidikanmu, jangan pikirkan Ayah, uhuk ... uhuk ...."


"Ayah itu lebih penting daripada pendidikan, Uswa masih bisa belajar, Yah, walaupun Uswa sudah tidak tinggal di pesantren."


"Uhuk ... uhuk ..., istirahatlah, kamu pasti Lela." Pria tua itu beranjak dari tempatnya dan masuk ke dalam kamar miliknya.





"Mas mau kemana rapi gitu?" tanya Aza pada suaminya yang sudah terlihat sangat rapi di depan cermin.


Pria 25 tahun sangat terlihat tampan dengan kemeja hitam lengan panjangnya dan dipadukan dengan celana berwarna senada.


"Tapi kok rapi gitu, kaya mau pergi kerja, mas mau kerja iya?" tanya Aza pada suaminya.


Gadis berseragam putih abu-abu itu menatap penuh curiga pada suaminya, bagaimana tidak curiga, pria itu sedari tadi sibuk memasang dan mencari baju yang cocok untuknya ditambah dasi yang membuat Aza semakin curiga kalo suaminya ini menyembunyikan sesuatu darinya.


Cup ....


Bukannya menjawab, Pria tampan itu malah mengecup biblr istrinya sekilas.


"Ihh ... kok di cium sih ...!" decak Aza kesal.


"Suka-suka, Mas dong," ujar Zhafran.


Pria itu Kembali menatap kearah cermin yang memantulkan bayangannya.


"Gak boleh gitu, ini tuh biblr Aza." Aza menatap Zhafran melalui cermin dengan cemberut.


"Itu haknya Mas, jadi kamu gak boleh nolak, nanti dapat dosa, mau dapat dosa?" tanya Zhafran.


"Emangnya Aza dosa gitu kalo gak mau?" tanya Aza balik


"Malaikat akan melaknat seorang istri jika menolak ajakan suami, apalagi ajakan ...." Zhafran tidak melanjutkan ucapkan saat melihat wajah istrinya yang terlihat sangat serius.


Lagipula masalah ini belum seharusnya mereka lakukan. Dirinya harus lebih kuat menahan diri agar tidak melakukannya dulu karena istrinya itu masih sekolah.


"Ajakan apa, Mas?" tanya Aza.


Zhafran membalikkan badannya dan tersenyum pada Aza. "Tidak ada."


"Bohong ...!" seru Aza.


"Mas gak bohong loh, Dek." Tanpa merasa bersalah karena membohongi istrinya, pria itu malah melingkarkan tangannya di pinggang Istrinya.


"Aza gak percaya,"


"Iya udah." Pria itu melepaskan tangannya dari pinggang Aza kemudian meraih jilbab yang ada di pinggir tempat tidur mereka.


Dengan telaten pria itu memasangkan jilbab istrinya dengan baik tanpa kesulitan. "Selesai, ayo kita turun."


"Ayooo ...,!" teriak Aza semangat. Ini hari pertamanya diantar ke sekolah dengan suaminya.





"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Umi, Abi," salam Ali pada Kiai Rasyid dan Umi Halimah.


"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Al," jawab Mereka.


"Wah, nasi goreng." Ali langsung duduk di kursi yang kosong berada di samping kiai Rasyid. "Enak ni."


"Biar umi ambilin, kamu duduk yang tenang, tidak ada yang akan merebutnya dari mu," ujar Umi Halimah dengan tertawa kecil.


"Hehehehe, gak ada Zhafran jadi sepi iya, Umi."


"Ada Zhafran ataupun gak ada sama aja, kan?" tanya Kiai Rasyid.


Ali dan Umi Halimah mengangguk menjawab pertanyaan Kiai Rasyid.


"Zhafran 'kan dingin, kaku, sulit diajak bercanda," jawab Ali.


Memang benar, ada atau tidak ada sama aja, tapi kalo Ali yang tidak ada mungkin sepi.


"Abi tau rumah Uswa ada di mana?" lanjut Ali bertanya pada Kiai Rasyid.


"Tau, emangnya kenapa?" tanya Kiai Rasyid.


"Hmmm, gak ada, tanya doang."


"Suka iya sama Uswa?" tanya Umi Halimah menggoda Putra angkatnya itu.


"Khmmmm." Ali memperbaiki posisi duduk karena gugup. "Ali gak suka sama Uswa, dia itu masih kecil Umi, lebih kecil dari pada Aza."


"Tapi dia cantik loh," ujar Kiai Rasyid ikut menggoda Ali. "Kalo Abi masih mudah, pasti sudah kepincut ama Uswa."


"Abi, ingat umur!" ujar Umi Halimah. "Lupakan masala Uswa, sekarang waktunya sarapan."


Umi Halimah menyajikan sarapan untuk Suaminya dan Ali, putra angkatnya.





"Selamat pagi, Bunda, Ayah," sapa Aza pada kedua orang tuannya yang sedang duduk dimeja makan.


"Selamat pagi, Sayang, selamat pagi Menantu Bunda," sahut Haliza pada putri dan menantunya.


"Pagi, ayo duduk kita sarapan dulu sebelum melakukan aktivitasnya," ajak Zaid.


Aza langsung duduk di samping Ayahnya, sedangkan Zhafran masih terlihat bingung mau duduk dimana, karena tidak ada kursi di samping Istrinya.


Melihat menantunya tidak duduk, membuat Haliza terkekeh dan meminta suaminya agar pindah ke kursi yang ada di sampingnya.


"Mas, duduk sini," ujar Haliza.


Zaid menaikan satu alisnya karena bingung dengan Istrinya yang tiba-tiba mengajaknya duduk berdampingan.


"Sini," panggil Haliza sambil melirik menantunya agar suaminya mengerti.


"Oh." Zaid berdiri dari tempat duduknya. "Nak Zhafran, duduklah, jangan sungkan, anggap aja rumah sendiri. Aza layani Suamimu."


"Astaghfirullah aladzim." Aza menepuk keningnya. "Maaf, Mas, Aza lupa, hehehehe."


"Bisa-bisanya dia lupa," lirih Zaid sebelum berjalan kearah Istrinya.


"Mas, duduk," ucap Aza dan Zhafran pun duduk. "Aza buatin teh dulu."


Gadis 17 tahun itu beranjak dari tempatnya menuju dapur membuat teh untuk suaminya.


"Emang dia bisa buat teh?" tanya Haliza pada Menantunya.


"Alhamdulillah, Aza bisa, Bun," jawab Zhafran seadanya.


Pria itu tersenyum karena gadis itu mulai ada perubahan, iya ... walaupun diawal sempat amnesia.


"Bunda kurang yakin." Wanita paruh baya itu berdiri dari duduknya dia berniat membantu Putrinya yang ada di dapur, tapi tangannya ditahan oleh Zaid, suaminya.


"Gak usah, Bun. Biarkan dia melakukannya," ujar Zaid menahan tangan Istrinya.


"Tapi, Y—"


"Udah-udah, Aza bukan gadis kecil lagi, sekarang dia udah jadi seorang istri, tugas kita cukup menasehati dalam pernikahan, bukan melarangnya melakukan kewajibannya, jika dia tidak bisa melayani suaminya diatas ranj4ng setidaknya dia bisa melakukan kewajibannya yang lain, iya 'kan, Nak Zhafran?"


"Hah?" Zhafran yang tadinya tersenyum karena istrinya, sekarang tiba-tiba menjadi bengong karena perkataan Ayah mertuanya.


Sedangkan Haliza tidak bedah jauh dengan menantunya yang hanya terbengong-bengong mendengar perkataan Suaminya.


"Kalo Nak Zhafran tidak tahan lagi, minta aja, kalo dia gak mau atau menolak keluarkan hadits-hadits rasulallah tentang hubung4n suami-istri, pasti dia mau,"


"MAS ...!" pekik Haliza tidak percaya mendengar semua perkataan Suaminya.


Sedangkan Zhafran hanya terdiam seperti robot tidak tau mau menjawab apa.


"Apa sih, Sayang," sahut Zaid. "Dulu waktu kita nikah juga gitu, Mas harus ngeluarin jurus-jurus dulu baru ada Aza, cobanya Mas gak ngeluarin jurus, pasti sih Aza gak jadi-jadi sampai seka—"


Perkataan Zaid terhenti saat tangan milik Haliza menutup mulutnya.


"Hmmmpp ...." Pria paruh baya itu tidak bisa mengeluarkan suaranya karena ulah istrinya sendiri.


"Mas terlalu banyak bicara," ujar Haliza kesal pada Suaminya. Siapa yang tidak kesal jika aib-aib masa lalunya dibongkar.


Zhafran yang melihat tingkah laku kedua mertuanya itu tertawa kecil. Sekarang dia tau kenapa Istrinya bedah dengan gadis lain.


"Mas, ini teh-nya." Aza meletakkan secangkir teh di depan Zhafran. "Maaf, Aza lupa."


"Tidak apa-apa, Sayang." Tangan pria itu menyentuh kepala Istrinya yang sudah tertutupi jilbab.


Bibir Aza melengkung membentuk sebuah senyuman. "In Syaa Allah, besok Aza gak akan lupa lagi."


"Aamiin."





Aza merasa heran setelah mereka sudah berada di gerbang sekolah miliknya. Bagaimana bisa Suaminya tau kalo ini adalah sekolahnya padahal Dia belum pernah cerita tentang ini pada suaminya.


"Ko Mas tau Aza sekolah disini?" tanya Aza penuh curiga.


"Apapun tentu kamu, Mas tau," jawab Zhafran.


"Termasuk kelas Aza?" tanya Aza.


"Iya,"


"Raja?"


"Tau juga, dia bocah ingusan yang berani menyukai istriku."


"Jangan ngomong gitu, Mas, kalo buka dia entah apa yang terjadi waktu itu."


"Ciee ... dibelain,"


"Dibalik kata ciee ada rasa cemburu. Mas Zhafran cemburu iya?"


"Gak!"


"Cemburu,"


"Gak, mana ada."


"Baiklah, kalo Mas Zhafran gak cemburu, jadi bebas dong Aza dekat-dekat ama raja."


"TIDAK BOLEH ...!" teriak Zhafran tidak terima dengan perkataan istrinya.


TBC ....