My Husband

My Husband
Bab 31



#MY_HUSBAND


#PART_31


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Hay Gaeyss ....


Vote+komen ya😁


___________________


🌻Happy reading🌻


Satu bulan telah berlalu, tanpa terasa hubungan Aza dan Zhafran sebagai suami-istri sudah lebih satu bulan.


Mereka lalui dengan berbagai kebahagiaan dan sedikit cekcok, tapi Zhafran sebagai suami dia selalu mengalah selama itu tidak melanggar ajar islam, seperti saat ini.


"Massss ...!" teriakan Aza memenuhi kamar mereka untungnya kamar itu kedap suara jadi suara gadis itu tidak bergema keluar.


"Apa, Sayang," sahut Zhafran yang baru saja keluar dari kamar sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


"Aza pusing," ujarnya sembari memegang kepalanya yang terasa pening.


"Mas kan udah bilang jangan main hujan-hujanan, nanti kamu sakit, besok ujian loh," ujar Zhafran.


Pria itu berjalan kearah ranjang dimana Istrinya sedang berbaring lemas karena sakit kepala.


Zhafran menyentuh kening Istrinya yang terasa panas.


"Astaghfirullah aladzim, kamu panas, Dek,"


"Hiks ..., hiks ..., hiks ..., kepala Aza sakit." Tangisan Aza pecah membuat Zhafran semakin cemas tidak tau berbuat apa, ini kali pertamanya Aza sakit setelah mereka menikah.


"Mas telpon bunda dulu." Zhafran meraih ponselnya dan menghubungi nomor Haliza.


Setelah beberapa menit sambungan pun terhubung membuat Zhafran merasa lega.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, bunda," salam Zhafran setelah sambungan terhubung.


"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh, iya nak Zhafran kenapa?"


"Bunda, Aza demam, Zhafran gak tau harus apa,"


"Apa Dia main hujan-hujanan?" tanya Haliza di sebrang sana.


"Iya, Bun, Zhafran harus apa sekarang?" tanya Zhafran bingung sembari mengelus kepala sang Istri.


"Apa kamu bisa buat wedang jahe? biasanya Aza minum itu untuk menurunkan panasnya," ujar Haliza.


"Alhamdulillah Zhafran bisa, Bun."


"Alhamdulillah,"


"Zhafran buat dulu wedang jahenya, Bun, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Zhafran sebelah mematikan sambungannya.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Haliza sembari terkekeh.


Tut ....


Tut ....


Tut ....


Sambungan terputus.


Tanpa membuang waktu, Zhafran memakai pakaiannya sebelum ke dapur membuat wedang jahe untuk istrinya.


"Mas mau kemana?" tanya Aza saat melihat Zhafran akan keluar dari kamar mereka.


"Mas buat wedang jahe dulu, Sayang,"


"Hiks, hiks, jangan tinggalin Aza." Gadis itu berusaha untuk bangun, tapi terasa sulit karena kepalanya sangat sakit dan tubuhnya terasa lemes.


Dengan cepat Zhafran berlari kearah Istrinya. "Jangan banyak gerak, Sayang."


"Jangan pergi." Aza memeluk pinggang suaminya.


"Mas cuman ke dapur bentar, Sayang."


"Gak mau," tolak Aza.


"Baiklah, Adek tidur aja." Zhafran memperbaiki posisi istrinya agar gadis itu nyaman.


"Jangan pergi,"


"In syaa Allah."


Zhafran mengelus kepala Aza dengan lembut hingga gadis itu merasa nyaman dan tidak lama kemudian gadis itu tertidur.


Dengan pelan-pelan Zhafran keluar dari kamarnya dan berjalan kearah dapur untuk membuat wedang jahe buat Aza.


Setelah beberapa menit kemudian wedang jahe ala Zhafran sudah jadi.


***


"Mas, semenjak Uswa kerja di sini, Azka sering pulang, Aku juga sering melihat putra kita menatap Uswa dengan tatapan sulit diartikan," tutur Rena pada suaminya, Riyan.


"Papa juga berpikir seperti itu, apa kita menjodohkan mereka saja, kelihatannya Uswa membawa kebaikan untuk putra kita," sahut Riyan, suami Rena.


"Assalamu'alaikum, Azka pulang ...! teriak Azka yang baru masuk kedalam rumahnya.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Rena dan Riyan bersamaan.


" ... Kamu sudah pulang, Sayang," lanjut Rena.


"Hmmm, minta Uswa untuk membawakan makanan ke kamar, Gue lapar," ujar Azka sebelum menaiki anak tangga.


Sudah satu bulan pria itu sering pulang dan menghabiskan waktunya di rumah dengan memerintah Uswa berbagai pekerjaan, mulai dari menyiapkan makanan, membersihkan tempat tidur, melipat pakainya dan masih banyak lagi.


Pria itu menggunakan kekuasaan sebagai anak majikan mendekati Uswa, tapi dengan cara yang salah.


"Liat 'kan, Yah, putra kita menyukai Uswa, tapi caranya berbeda."


"Kasihan, Uswa."


"Mama gak mau tau, mereka harus cepat di nikahkan takut jadi fitnah."


"Secepatnya, pah."


"Iya, nanti malam Papa akan bicara dengan pak Rahmat."


"Nyonya memanggil saya?" tanya Lilis yang baru saja datang.


"Siapkan makanan untuk Azka dan minta Uswa yang mengantarnya," ujar Rena.


"Iya Nyonya."


***


Uswa berdiri di ambang pintu kamar Azka dengan wajah tertunduk dan pucat.


"Ya Allah, lindungi hamba," doa Uswa sebelum mengetuk pintu kamar Azka.


Dia sudah tau apa yang akan terjadi jika dirinya masuk kedalam.


KREK ....


Uswa terkejut saat pintu tersebut terbuka dan menampilkan Azka tanpa atas memperlihatkan roti sobek nya membuat Uswa semakin menunduk dan berdzikir memohon perlindungan pada Allah agar imannya semakin di kuatkan.


"Ngapain Lu masih berdiri disana, ayo masuk," ucap Azka meminta Uswa masuk.


"I-iya, iya tuan."


"Berapa kali Gue bilang, Lu jangan panggil Gue tuan, panggil Gue Azka!" geram Azka tidak mau dipanggil tuan oleh Uswa.


"Ini makanan, A-azka, silahkan di makan." Uswa melekatkan nampak diatas meja yang ada di kamar Azka.


Setelah meletakkan nampak tersebut Uswa berjalan keluar dari kamar.


Namun, langsung di halangi oleh Azka.


"Siapa yang nyuruh Lu keluar?"


Uswa hanya menunduk tidak tau harus menjawab apa.


"Temani Gue makan."


"Tidak baik seorang wanita dan pria berdua-duaan di tempat yang sepi, Azka," tutur Uswa.


"Gue gak peduli, sekarang Lu duduk."


Mau gak mau Uswa duduk di sofa dan berhadapan dengan Azka.


Kejadian seperti ini sudah terjadi selama sebulan, untungnya Azka tidak melewati batas kecuali di hari pertama Uswa kerja, pria itu tanpa berpikir panjang menarik Uswa kedalam pelukannya membuat Uswa waktu itu syok ketakutan dia sudah tidak ingin menginjakkan kakinya ke kamar Azka.


Namun, pria itu berjanji tidak akan mengulanginya lagi, dan dia menepati janjinya tidak menyentuh Uswa sejak saat itu sempai sekarang.


***


Zhafran kembali ke dalam kamar setelah membuat wedang jahe untuk istrinya.


KREK ...!


Dengan wajah cemasnya Zhafran mendekati Istrinya yang masih tertidur diatas ranjang mereka.


Pria itu meletakkan gelas yang berisi wedang jahe buatannya diatas nakas lalu membangunkan sang istri.


"Adek," panggil Zhafran setelah duduk di pinggir ranjang sembari mengelus kepala sang istri dengan lembut.


"Bangun yuk, Mas udah buatin wedang jahe, kata bunda Adek akan merasa mendingan kalo minumannya."


"Aza ghak shuka," gumamnya tidak jelas. Namun, Zhafran masih bisa mengerti.


"Adek harus sembuh, besok ujian loh," tutur Zhafran.


Dengan berat Aza membuka matanya dan menatap kearah suaminya.


"Mas," panggilnya dengan manja.


"Iya, Sayang."


"Kepala Aza sakit," lirihnya.


"Sini Mas bantu." Zhafran membantu Aza untuk duduk dan bersandar pada kepala ranjang.


"Buka mulutnya, Sayang," pinta Zhafran setelah segelas wedang jahe ada ditangannya.


"Aza gak suka." Gadis itu menggeleng tidak mau.


"Kalo Adek tidak mau, nanti Adek gak sembuh, kalo gak sembuh gak ikut ujian dong,"


Aza hanya diam.


"Adek gak mau cepat balik ke pesantren?" tanya Zhafran.


"Mau,"


"Ya udah, obatnya harus di minum,"


Aza meraih gelas yang ada ditangan Suaminya dan meneguknya setelah membaca bismillah.


"Alhamdulillah," ucap Zhafran setelah Aza meminumnya.


" ... Istirahat lah, Mas ke dapur dulu."


"Jangan lama,"


"Iya,"


Zhafran pun keluar dari kamar dan menuju kearah dapur untuk mencuci gelas tempat sisa wedang jahe.


Setelah selesai pria itu kembali kedalam kamar dan langsung duduk di pinggir ranjang.


Sedangkan Aza langsung memindahkan kepalanya keatas paha Suaminya.


Dengan lembut Zhafran mengelus kepala sang istri.


"Mana yang sakit, Dek?" tanya Zhafran.


Aza menyentuh bagian kepalanya yang terasa sakit. "Ini, Mas."


Zhafran mengelus kepala istrinya yang terasa sakit dan membaca surah Al-fatihah beberapa kali.


TBC