My Husband

My Husband
Bab 51



#MY_HUSBAND


#PART_51


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Hay Gaeyss .... Utamakan Ibadah sebelum membaca.


Vote+komen ya😁


___________________


🌻Happy reading🌻


2 tahun terlalu berlalu.


Seorang pria berusia 28 tahun sedang mengawasi putra dan putrinya yang sedang bermain di halaman rumahnya sambil menikmati secangkir teh dan ditangannya ada sebuah buku diary berwarna biru langit. Dia menemukan buku diary itu dua tahun yang lalu dibawah tempat tidurnya, tepatnya tempat tidur Istrinya.


Dia baru mengetahui kalau sang istri selama ini sering menulis tentang dirinya dalam buku tersebut, buktinya halaman pertama ada namanya 'GUS ZHAFRAN MY HUSBAND' dan selama dua tahun ini Dirinya yang menulis tentang hidupnya dan kedua anak-anak.


Habibi Azzam Al-ghifahri dan Habibah Azzima Shahira.


Itu nama anak kembar mereka, ini bukan memberikannya, tapi memberikan istrinya, Dia menemukan nama itu di dalam buku diary tersebut.


"Abi ...?" panggil Gadis kecil berwajah cantik mirip dengan Uminya. Setiap kali dia melihat putrinya dia selalu merindukan Istrinya.


Gadis kecil 2 tahun itu berlari kearahnya dengan tersenyum riang. Dia sangat menyayangi putrinya, bukan berarti dia tidak menyayangi putranya, tapi gadis kecilnya memiliki kelemahan yang tak di miliki sang putra.


Melihat Putrinya berlari kearahnya Zhafran langsung berdiri dan berjalan dengan cepat kearah sang putri, agar gadis itu tidak terlalu capek karena berlari kearahnya.


"Azzima, gak boleh lari-lari seperti itu, oke!" ujar Zhafran setelah mengangkat tubuh mungil putrinya kedalam gendongannya.


Gadis kecil bernama Azzima itu hanya tertawa riang dan menjulurkan lidahnya pada sang kakak yang sedang menatapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Abi ...!" lirih Azzam menarik-narik sarung Abi-nya.


Zhafran yang melihat itu hanya terkekeh kecil. Ternyata sang kakak cemburu melihat sang Adik.


Zhafran sudah memiliki rumah sendiri di samping rumah Abi-nya, tidak terlalu luas, tapi cukup buat mereka.


Zhafran meraih tubuh mungil Azzam kedalam gendongannya bagian tangan kiri, karena si cantik Azzima sudah ada di kanan.


"Saatnya kalian sarapan," ujar Zhafran sembari berjalan kedalam rumah mereka.


Ternyata Zhafran bukan cuman Suami idaman, tapi ayah idaman bagi anak-anaknya.


Keseharian Zhafran semakin sibuk, setelah solat subuh dan membaca ayat suci Al-Qur'an, Zhafran menyiapkan sarapan khusus untuk bayi dua tahun untuk anak-anaknya, menyiapkan susu untuk mereka, memandikan mereka, memakainya baju, pampers dan masih banyak lagi.


Zhafran mengurangi jadwalnya. Pria itu tidak menerima jadwal kajian di luar kota, dan mengajar pun Zhafran cuma masuk satu kali. Dia tidak mau melewatkan perkembangan anak-anaknya sedetikpun. Jadi, dia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah bersama dua malaikat kecilnya.


Dengan tersenyum lebar Zhafran meletakkan putranya ke kursi makan khusus Azzam yang sudah dia pesan, begitupun dengan Azzima, tapi gadis kecil itu tidak suka duduk sendiri, dia lebih nyaman duduk di pangkuan Abi-nya.


"Ayo baca doa dulu," ujar Zhafran, walaupun Azzam dan Azzima belum terlalu mengerti mereka tetap menuruti perkataan Abi-nya dengan mengangkat kedua tangannya untuk berdiri.


"Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar," tutur Zhafran.


Zhafran tersenyum bangga saat melihat Azzam dan Azzima melihat perkembangan anak-anaknya selama ini.


Zhafran meraih ponselnya dan memotret momen tersebut. Ini bukan kali pertamanya Zhafran mengabadikan momen bersama anak-anaknya, ini kesekian kalian.


Setiap jam, setiap menit setiap detik Zhafran mengabadikan momen anak-anaknya lewat foto.


Foto-foto itu akan Zhafran letakkan di setiap lembar buku diary nya dan menceritakan kejadian bagaimana foto tersebut bisa di ambil.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Cucu Umi," salam Umi Halimah yang baru saja datang.


Zhafran sudah tau, karena ini kebiasaan Uminya datang setiap hari, bahkan wanita paruh baya itu lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah Putranya daripada dirumahnya sendiri.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Umi," balas Zhafran.


Umi Halimah tersenyum dan duduk di samping Azzam yang sudah siap menyantap makanannya sendiri. Azzam anak yang pintar, dia mudah memahami apa yang diajarkan Padanya, termasuk makan sendiri, sedangkan Azzima, gadis itu juga pintar, tapi Zhafran tidak membiarkan putri kecilnya mandiri seperti Azzam, putranya.


"Cucu Umi lagi sarapan iya?" tanya Umi Halimah sembari mengelus kepala Azzam dengan lembut.


Sedangkan Azza mengangguk sebagai jawaban.


"Jam berapa kamu berangkat, Nak?" tanya Halima pada putranya.


"Jam sepuluh, Umi," jawab Zhafran. "Maaf, Umi, Zhafran selalu merepotkan Umi."


"Umi tidak merasa di repot kan, Nak. Umi malahan senang karena ada mereka."


Meskipun Uminya berkata seperti itu, Zhafran tidak percaya, karena dia sudah merasakannya bagaimana menjaga dua anak sekaligus, sangat-sangat melelahkan.


***


"Azzima, jangan nakal iya, nurut apa kata Nenek," pesan Zhafran pada putri kecil. "Dan Azzam, tidak boleh ajak Adek Zima bermain terlalu lama, nanti Adek Zima sakit."


Meskipun tidak terlalu mengerti Azzam hanya mengangguk seolah-olah di faham apa yang di katakan Abi-nya.


"Kamu tidak usah khawatir, Nak, Umi akan menjaga mereka."


"Syukron katsiron, Umi," tutur Zhafran dengan tulus. "Kalo Umi lelah, panggil santriwati yang bisa menjaga mereka."


"In Syaa Allah, kamu hati-hati bawah mobilnya, kalo udah sampai hubungi Umi."


"In syaa Allah, Umi. Oh iya, Abi mana?"


"Itu." Umi Halimah menunjuk suaminya yang baru datang dengan dagunya.


"Kamu udah mau berangkat?" tanya Kiai Rasyid.


"Iya, Bi."


"Hati-hati, jangan ngebut bawah mobilnya," pesan Kiai Rasyid.


"In Syaa Allah, Bi. Kalo gitu Zhafran berangkat."


Pria 28 tahun itu menyalami Umi dan Abi-nya berganti.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,"


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."


Sebelum masuk kedalam mobilnya, Zhafran mengecup pipi Azzima dan Azzam.


"Dadah ...!"


***


Seorang pria menghentikan mobil di depan rumah Zhafran. Dengan wajah berseri-seri serta bibir tersenyum manis dia keluar dari mobilnya dan berjalan ke belakang untuk mengambil sesuatu.


Ini bukan kali pertamanya dia datang kini, semenjak si kembar hadir kedua, dia selalu datang setiap bulan dengan alasan tidak ingin melewatkan perkembangan si kembar.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Assalamu'alaikum," salamnya sembari berteriak tidak sabar untuk masuk kedalam rumah dan bertemu dengan Azzam dan Azzima.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Umi Halimah sembari berjalan kearah depan ingin tau siapa yang datang. "Maa syaa Allah, Nak Raja."


Dengan tersenyum lebar Raja masuk kedalam rumah Zhafran setelah melepas sepatunya.


Mengetahui siapa yang datang Azzima langsung merengek minta di turunkan dari gendongan neneknya.


Iya, putri Zhafran dan Aza itu sangat dekat dengan Raja, karena Raja sangat memanjakan nya setiap dia datang.


Dengan kaki mungilnya Azzima berlari kearah Raja sembari merentangkan kedua tangannya seperti biasa. Sedangkan Raja dengan senang hati menyambut gadis kecil kesayangannya itu.


"Azzi, putri, Ayah," ujar Raja.


Raja sengaja memanggil Azzima dengan sebutan Azzi. Katanya itu panggilan sayang untuk Azzima darinya.


Seolah-olah faham apa yang di katakan Raja, gadis mungil itu tertawa riang di gendongannya sang Ayah angkat.


"Ayo duduk dulu, Nak Raja," ujar Umi Halimah mempersilahkan Raja untuk duduk di sofa ruang tamu.


Dengan senang hati Raja duduk di sofa dengan Azzima berada di pangkuannya.


"Azzam mana, Umi?" tanya Raja saat tidak menemukan kembaran Azzima itu.


"Lagi di belakang sama Kakeknya," jawab Umi Halimah. "Tunggu bentar iya, Nak, Umi buatin air minum dulu."


"Gak perlu, Umi." tolak Raja dengan sopan. "Raja tidak haus kok."


" ... Gus Zhafran berziarah ke makam?" tanya Raja.


"Iya, Nak, dia baru aja berangkat."


"Kenapa si kembar gak ikut, Umi?" tanya Raja.


"Kata Zhafran, kalo mereka sudah mengerti dengan keadaan, baru dia membawa si kembar untuk berziarah."


Raja hanya mengangguk kemudian meraih sesuatu yang tadi dia beli di jalan sebelum datang kesini dan memberikannya pada Umi Halimah.


"Umi, ini ada buah untuk Umi dan Abi."


"Maa syaa Allah, Nak, ndk usah repot-repot seperti ini kalo datang kemari."


"Tidak repot ko, Umi."


"Siapa yang datang, Mi?" tanya Kiai Rasyid sembari berjalan kearah ruang tamu bersama cucunya, Azzam.


"Nak Raja, Mas," jawab Umi Halimah.


Raja langsung berdiri tanpa menurunkan Azzima dan menyalami tangan Kiai Rasyid.


"Assalamu'alaikum, Abi."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Maa syaa Allah, Nak, kapan sampainya?" tanya Kiai Rasyid setelah menjawab salam Raja dan duduk di samping Istrinya, begitupun dengan Raja sudah duduk ke posisinya semula.


"Alhamdulillah, baru aja, Bi."


***


Setelah beberapa saat kemudian Zhafran telah tiba di sebuah pemakaman.


Pria itu berjalan kearah sebuah makam yang sudah dua tahun lamanya.


Zhafran duduk di samping makam tersebut dan membersihkan sekitar makan kemudian membacakan doa seperti biasa di saat dia datang ke sini.


Zhafran mengangkat tangannya dan mengelus papan nisan sembari tersenyum.


"Kamu terlalu cepat pergi meninggalkan kami!" lirih Zhafran.


Zhafran meneteskan air matanya. "Mereka tumbuh selama dua tahun tanpa kehadiran mu."


Tidak ada yang lebih menyakitkan selain orang yang ada di dekatmu pergi meninggalkanmu untuk selama-lamanya.


Namun, Zhafran percaya, suatu saat nanti dia akan bertemu dengan orang yang dia cintai.


Ini bukan akhir maupun perpisahan yang sebenarnya. Jika Allah berkehendak, mereka akan di pertemukan kembali dengan orang-orang yang mereka cintai.


Dreeeet ....


Zhafran meraih ponselnya yang ada di saku baju nya. Keningnya mengerut saat melihat nama Uminya tertera dilayar ponselnya.


Karena cemas terjadi sesuatu pada anak-anaknya Zhafran langsung menjawab panggilan tersebut.


"Assalamu'alaikum, Umi, ada apa? mereka baik-baik aja kan?" tanya Zhafran setelah panggilan tersambung.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, mereka baik-baik saja, Nak, tap-"


"Tapi kenapa, Umi?" potong Zhafran dengan cemas.


"D-dia, dia mengherankan tangannya, Nak."


Kening Zhafran mengerut bingung mendengar perkataan Uminya.


"Dia siapa, Umi?" tanyanya.


"A-aza, Istrimu."


Zhafran dapat mendengar dengan jelas tangisan Uminya yang ada di sebrang sana. Tanpa mengucapkan salam Zhafran langsung memutuskan panggilan tersebut.


"A-ayah!" lirih Zhafran sembari mengelus papan nisan yang tertera nama ayah Mertuanya, Muhammad Zaid yang telah meninggal dia tahun yang lalu karena sebuah kecelakaan.


"Humaira ku kembali!" lirih Zhafran dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Zhafran pulang dulu, Yah, in Syaa Allah, Zhafran akan datang lain, assalamu'alaikum."


TBC.


Kurang greget iya? Maaf, masih belajar soalnya.