
HEY KALIAN IYA KALIAN YANG LAGI BACA CERITA INI JANGAN LUPA LIKE AND COMEN YAH
JADI LAH PEMBACA YANG BAIK
...~•.🌻🌻🌻.•~...
Hari ini adalah hari yang paling Fauza sukai, karena di jam 1-3 adalah mata pelajaran agama Islam.
Akan jauh lebih menyenangkan bukan, karena jika yang di bahas MTK kepalanya akan bisa meledak.
"Assalamualaikum,"
"Lah itu kan bapak yang kemarin," ucap Fauza
"Guru baru ya ampun ganteng banget bapak," ucap Aprilia.
"Jadikan aku istri mu pak," ucap Nandia.
"Yuk kalo mau langsung ke KUA saya siap pak," ucap Nur.
Semua murid perempuan langsung heboh ketika melihat guru agama mereka yang baru, tampan, wangi, rapih dan yang terpenting adalah paham agama.
"Assalamualaikum semua,"
"Wa'alaikumussalam bapak,"
"Wa'alaikumussalam calon imam,"
"Wa'alaikumussalam paksu,"
Lelaki itu tertawa ada ada saja muridnya ini, lihat bahkan mereka tidak bisa serius di awal pertemuan mereka.
"Okee kita perkenalan yah sekarang, nama bapak Raka Edzard Abinaya," ucap pak Raka.
"Ada yang mau di tanyakan lagi?"
"Pak punya pacar gk?" Tanya Salsa.
"Enggak boleh pacaran, saya ijo tomat, ikatan jomblo terhormat," ucap pak Raka dan semua siswi pun bersorak senang.
"Umur bapak berapa yah?" Tanya Nandia.
"Umur saya 26,"
"Maa syaa Allah, ini yang saya cari dari dulu, bapak kemana aja pak selama ini?" Tanya Nandia.
"Saya di sini," sahut pak Raka.
"Oh iya pak 08 berapa yah?" Tanya Aprilia.
"Itu nanti yah, kita nanti akan buat grup okee,"
"Di tunggu loh pak," ucap Nur dan pak Raka pun terkekeh.
"Udah kan? Kalo gitu sekarang yang bapak tunjuk perkenalan yah ke bapak, soal nya kan bapak gk tau nama kalian," ucap pak Raka.
"Ayo kamu, perkenalkan diri kamu," ucap pak Raka yang menunjuk Fauza.
"Lah kok gw,"
"Cepetan za!" Ucap Aprilia yang menyenggol lengan Fauza.
"Nama saya Fauza pak, tapi kalo bapak susah manggil nya ganti aja pake sayang boleh kok," ucap Fauza dan tertawa.
"Si monyet bisa aja lu," sorak Nandia.
"Lah nih bocah diam-diam aja dari tadi, sekali bergerak membuat hati iri," ucap Nur.
"Netizen di larang comen!" Ucap Fauza yang meledek semua temen sekelasnya.
"Oke sayang ehh Fauza, apa hobi kamu," tanya pak Raka.
"HUUUUUUUU!!!!"
Lihat Fauza yang di panggil sayang dan temen satu sekelasnya yang menjadi heboh.
"Pak saya gk terima loh pak," sahut Aprilia.
Fauza pun melotot ke arah pak Raka, sayang? Padahal ia hanya bercanda astaghfirullah bapak.
"Hobi saya yah ngeliatin bapak lah apa lagi," jawab Fauza.
Pak Raka tak habis pikir dengan murid nya yang satu ini, ada saja ulah nya, dan entah kenapa ia juga bisa memanggil nya sayang seperti tadi.
"Permisi pak, mau ada yang di omongin bentar tentang lomba, minta waktu nya yah pak," ucap Satya yang tiba-tiba masuk kelas Fauza.
Astaga Fauza langsung kaku di tempat nya, Satya? Apa dia mendengar semua ucapan nya tadi? Tamat lah riwayat Fauza.
"Iya silahkan,"
"Mampos Lo ada suami Lo za, Lo geh aneh-aneh tuh kan hayo loh," ledek Nandia.
"Nah loh bestie bagaimana coba," ucap Nur.
Fauza benar-benar takut jika sudah seperti ini, dan tatapan Satya juga begitu mengerikan.
Satya berjalan ke meja Fauza, dan menyuruh gadis itu duduk.
"Udah pinter yah, aku akan hukum kamu nanti," bisik Satya.
"Kak gw,"
"Nanti kita bahas,"
Satya pun kembali berdiri di tempat sebelum nya. Mereka mulai menyampaikan tentang 17 san Agustus.
"Jadi siapa aja yang mau ikut lomba untuk perwakilan kelas?" Tanya anggota OSIS.
"Saya kak, saya mau ikut lomba kaligrafi," ucap Fauza.
"Wahh ngebet amat Lu za, saya juga kak mau ikutan lomba nyanyi," ucap Aprilia.
"Saya juga mau kak lomba tangkep belut," ucap Nandia.
"Saya juga kak mau lomba lompat karung," ucap Nur.
Satu satu dari mereka mulai mendaftarkan diri mereka masing-masing. Dan anggota OSIS pun menyatat nya.
"Baiklah semua nya terimakasih atas partisipasinya, makasih yah pak," ucap Satya.
"Sama-sama," ucap pak Raka.
"Pak saya mau ngomong sama Fauza bentar boleh kan?" Tanya Satya.
"Boleh tapi di sini aja,"
"Oke pak makasih,"
Satya langsung berjalan ke meja Fauza, "Jangan macem-macem kalo gk mau dihukum! Ngerti sayang?" Tanya Satya yang mengelus lembut rambut Fauza.
Fauza pun hanya bisa mengangguk, ancaman nya begitu mengerikan. Jadi lebih baik Fauza menurut dari pada harus menerima hukuman.
"Pinter,"
Satya pun pergi dari kelas Fauza dan semua orang kembali fokus kepada pak Raka.
"Oke selanjutkan kamu, perkenalkan diri kamu," ucap pak Raka yang menunjuk siswa lain.
Perkenalan pun di mulai, dan akhirnya selama 3 jam itu tidak ada pembelajaran dahulu karena perkenalan.
Istirahat di mulai. Dan Satya sudah sibuk membuat persiapan tentang lapangan yang di pisah-pisah agar bisa di jadikan tempat beberapa lomba.
"Masih inget punya suami? Ngapain tadi kayak gitu?" Tanya Satya yang menatap tajam Fauza.
"Ya kan tadi bercanda doang kak, jangan marah yah,"
"Gimana gk marah, aku gk suka kamu kayak gitu, sama aku aja kamu gk pernah gitu terus ngapain kayak gitu ke pak Raka?! Aku gk suka!"
"Iyaa iyaa maaf aku tau aku salah, udah yuk makan dulu," ucap Fauza yang menarik tangan Satya.
"Suapin,"
"Hah? Kak kan rame tuh, nanti di liatin,"
"Biarin aja, aku gk mau makan kalo gk di suapin," ucap Satya yang sangat keras kepala.
"Iya nih aku suapin, baca doa dulu,"
Satya pun membaca doa makan dan Fauza langsung menyuapi nya, "Enak gk kak?"
"Kapan masakan kamu gk enak, masakan kamu selalu enak sayang,"
Fauza pun menahan senyuman nya, Satya selalu saja bisa membuat nay berbunga-bunga.
"Nih minum nya,"
Fauza memberikan minuman ke Satya, dan pria itu pun meminumnya.
Suami nya itu sangat tampan bukan?
Gadis itu terus menatap Satya dengan tatapan kagum, bagaimana bisa suami nya itu sangat tampan?
"Kenapa hmm?" Tanya Satya.
"Gk"
"Bilang aja kalo suami kamu ini ganteng," ucap Satya dengan pede nya.
"Ihh pede banget," cibir Fauza.
"Iya lah,"
"Oh iya aku semalam mau ngomong sesuatu sama kamu, tapi kamu udah keburu bobo,"
"Ngomong apa kak?"
"Mamah kemarin bilang ke aku katanya minta cucu," ucap Satya.
Cucu? Di umur Fauza yang sekarang? Yang benar saja mamah nya itu, tidak tidak Fauza tidak ingin hamil apa lagi di umur nya yang sekarang.
"Gk mau! Di pikir nya buat cucu gampang apa," tolak Fauza.
"Ya kan tinggal buat apa susah nya?" Goda Satya.
"Ihh gk mau kak! Gw gk mau hamil sekarang, gw masih terlalu muda tau gk, bilangin mamah tunggu 5 tahun lagi,"
"Sayang itu lama banget,"
"Ya terus? Kakak yang hamil mau? Aku gk mau!"
"Aku mana bisa hamil sayang, yaudah nanti aku bilang ke mama, semua nya pada minta cucu aku capek," ucap Satya.
"Beliin aja boneka di pasar kak biar diam, enak aja minta cucu sekarang, gk! Aku gk mau,"
"Iya sayang iya, kalo aku sih terserah kamu aja, siap nya kapan,"
"Kapan-kapan," sengut Fauza.
Dan Satya pun tertawa, "Nanti kita ngomong sama mereka yah,"
"Harus dong kak," cibir Fauza.
"Udah jangan marah-marah gitu ihh, makin gemesin kamu nya," puji Satya.
"Menyee menyee,"
Di saat Satya dan Fauza asik mengobrol, ada seseorang yang menyamperi mereka.
"Permisi, Fauza boleh bapak minta tolong," ucap pak Raka yang ada di belakang Satya dan Fauza.
Mereka pun berbalik dan menatap pak Raka. Berbeda dengan Fauza, Satya Justru emosi melihat guru barunya itu.
"Ada perlu apa yah pak?" Tanya Satya.
"Saya ada perlu sama Fauza, boleh bapak pinjem buku catatan kamu? Biar bapak tau kelas kamu udah sampe mana catetan nya,"
"Oh boleh pak bentar yah saya ambilin,"
"Iya makasih yah,"
"Sama-sama," sahut Satya.
"Kamu ketua OSIS di sini yah?" Tanya pak Raka pada Satya.
"Iya pak,"
"Terus Fauza itu siapa kamu? Adek kamu?" Tanya pak Raka.
Sialan rasanya Satya ingin menghajar gurunya ini sekarang juga, apa maksud pertanyaan nya?
"Bukan pak dia pacar saya, iya ka?" Tanya Satya yang langsung merangkul Fauza.
"Ehh iya, ini pak buku catetan nya,"
Pak Raka pun menerima nya, "Makasih yah, kalo gitu bapak pinjem dulu yah besok ambil di meja bapak bisa kan?" Tanya nya
"Bis-"
"Enggak! Biar besok saya yang ngambil pak, besok Fauza mau ada urusan," ucap Satya.
Pak Raka pun tersenyum kecil.
"Oh oke kalo gitu bapak permisi dulu yah,"
"Akhiry pergi juga tuh orang," ucap Satya.
"Kamu kenapa si?"
"Gk! Udah ayo bantuin aku buat tempat untuk lomba," ajak Satya.
"Lah kan aku bukan OSIS," cengoh Fauza.
"Tapi kamu istri aku bantuin kek suami kamu ini," cibir Satya dan memanyunkan bibirnya.
Fauza pun tertawa, suaminnya itu terlihat sangat mengemaskan.
"Iya iya ini aku bantuin mas suami,"
"Terimakasih mbak istri,"
...~•.🍑🍑🍑.•~...
HEY YOU JANGAN LUPA LIKE AND COMEN YAH
LIKE & COMEN
THANKS
SEE YOU GUYS