
HEY KAMU... IYA KAMU YANG LAGI BACA CERITA INI, JANGAN LUPA LIKE & COMEN
JADILAH PEMBACA YANG BAIK
...~β’.πΏπ·πΏ.β’~...
Lihat lah sekarang seoarang suami sedang membujuk istrinya agar mau menemani nya ke mall untuk membeli beberapa keperluan yang di butuhkan oleh anggota OSIS.
"Sayang ayo lah temenin yah plis," bujuk Satya.
"Kan Lo belanja nya sama anak OSIS yang lain si kak, kenapa harus sama gw!"
"Karena aku mau nya berangkat bereng kamu sayang, ayo yah plis temenin, kamu mau aku di deketin sama adek kelas?"
Fauza pun menatap tajam Satya! Apa apaan ini! Dia mengancamnya?
"Terus kamu nya juga mau kalo di deketin hah?! Udah ayo cepetan berangkat," ucap Fauza yang langsung berjalan keluar.
Satya pun tersenyum melihat Fauza, istri posesif nya tidak akan tahan jika ada wanita lain yang mendekatinya maka dari itu ia menggunakan cara itu untuk membujuk Fauza pergi bersama nya.
"Ayo kak!!!"
"Iya sayang bentar," ucap Satya yang segera turun ke lantai bawah.
"Perasaan yang ngajak gk semangat banget tapi istri gw kenapa semangat banget dah," gumam Satya yang turun dari tangga.
Satya dan Fauza pun berangkat menuju mall, mereka langsung berkumpul dengan anggota OSIS yang lain.
Tentu saja semua adik-adik kelas Satya yang mencintai nya secara diam-diam menjadi sakit hati karena melihat Satya yang menggenggam erat tangan Fauza.
"Lepas kali itu tangan," ucap Galang.
"Diam Lo Lang!" Sengut Satya.
"Yaudah ayo langsung belanja aja, bagi tugas masing-masing biar cepet cari barang nya," perintah Satya dan semua nya pun mulai mencari apa yang benar-benar dibutuhkan.
"Kak kita cari apa?"
"Cari hadiah sayang," ucap Satya
Mereka pun sibuk mencari hadiah-hadiah yang harus di beli.
"Kak capek," keluh Fauza
"Yaudah ayo sini naik di troli aja biar aku yang dorong," tawar Satya dan Fauza pun menatap nya tak percaya.
"Kak yang bener aja, malu tau banyak orang, lagi pula aku kan bukan anak kecil lagi," ucap Fauza.
"Gapapa sayang, udah cepetan naik, cepet atau aku yang naikin kamu ke sini,"
Fauza sangat binggung apa yang harus ia lakukan sekarang, duduk di troli itu atau tidak, tapi kaki nya juga sangat lah pegal karena berkeliling Mall.
"Sayang," ucap Satya yang menatap Fauza yang masih diam.
"Iya iya,"
Akhirnya gadis itu pun naik ke dalam troli, menggemaskan sekali bukan istrinya itu, bagaimana bisa Satya mendapatkan istri yang sangat menggemaskan seperti Fauza?
Dengan senang hati Satya mendorong troli itu, ia senang bisa melakukan ini untuk Fauza.
Dan setelah semua nya sudah membeli barang masing-masing mereka pun berkumpul.
"Udah selesai semua kan belanja? Okee biar besok kita kerjain di sekolah, sepulang sekolah biar jam pelajaran kita juga gk keganggu," ucap Satya.
Semua anggota OSIS pun mengangguk mengerti, mereka harus mempersiapkan semua hal saat agustusan nanti.
"Yaudah kalian bisa pulang, kita udah selesai dan kita lanjut besok,"
"Baik kak,"
"Okee Sat,"
"Iya kak,"
Semua anggota OSIS pun kembali kerumahnya masing-masing tugas mereka sekarang sudah selesai.
Dan Satya menyuruh Fauza untuk menunggu nya di dalam mobil, dan tetep berada di sana sampai Satya kembali.
"Taraa sayang, nih aku punya banyak makanan untuk kamu," ucap Satya yang membawakan Fauza begitu banyak jenis jajanan.
"Aaaa ya ampun makasih banyak sayang," ucap Fauza yang refleks memeluk Satya.
Dan di saat itu lah Satya begitu merasakan senang, lihat istrinya kembali kepada nya. Tapi Fauza justru merasa ada yang aneh tapi apa? Oh astaga tidak bisa! Ia masih marah! Apa Satya pikir ia akan memaafkannya jika dia memberikannya begitu banyak makanan seperti ini?
"Lo mau nyogok gw ya kak?" Tuduh Fauza.
"Enggak," Sahut Satya.
"Masa?"
"Iya sayang ya ampun,"
Satya merasa gemas dengan Fauza dan mencubit kedua pipi gadis itu.
"Udah yah ini di makan dulu, jangan mikir macem-macem," sahut Satya dan mulai menyetir mobilnya.
Bodo amat soal semua masalah di antara nya dan Satya Fauza hanya ingin memakan semua jajan itu, lihat bukan kah mereka sangat menggiurkan.
"Sayang mau dong,"
"Ambil sendiri kak, kan ada di samping Lo juga si," jawab Fauza.
"Kamu gk liat aku lagi nyetir? Gimana mau ngambil sendiri coba? Suapin," punya nya.
"Ihh gk mau!" Tolak Fauza.
"Tega banget jadi istri, suami nya padahal pingin banget tapi istrinya gk mau nyuapin," ucap Satya yang sedih.
Fauza menjadi tak tega melihat Satya, biar bagaimana pun ia adalah suaminnya bukan, akan sangat berdosa jika Fauza membuat nya merasa sedih.
Dan andai saja Satya memiliki pikiran yang sama seperti Fauza, tapi sangat di sayangkan ia tak memikirkan semua hal itu.
"Nih,"
Fauza pun menyuapi Satya dengan tangan nya, tentu saja Satya tidak akan melewatkan kesempatan ini. Ia langsung melahap semua makanan di tangan Fauza itu.
Perjalanan yang tidak jauh untuk sampai kerumah, dan sekarang mereka pun sudah berada dirumah.
Fauza langsung berjalan ke atas dengan mata yang sangat mengantuk, astaga matanya ini benar-benar sangat berat untuk di buka.
Satya pun heran melihat Fauza yang seperti nya menuju arah yang salah.
"Sayang hey, kenapa?"
Satya menatap Fauza yang masih memejamkan matanya. Pantas saja dia salah arah karena mata nya tertutup. Satya pun tertawa melihat hal itu.
"Ngantuk kak, kamar nya di mana kok gk sampe-sampe?" Tanya Fauza.
"Iya iya ini kita ke kamar, ayo," ajak Satya yang merangkul dan menggenggam tangan Fauza.
Gadis itu hanya ingin tidur sudah itu saja, dia tidak memperdulikan hal yang lain nya tidak tidak kantuk sudah menyerangnya.
Fauza pun merebahkan badan nya setelah sampai di kasur. "Aduh ya Allah,"
Lagi-lagi Satya tertawa melihat tingkah istrinya itu. Ada ada saja dan kenapa dia selalu menggemaskan di mana tempat.
"Selamat malam sayang," ucap Satya yang mengecup kening Fauza.
"Hmm malam," sahut Fauza.
Berhubung sudah malam Satya pun segera tidur di samping Fauza, akhirnya batas itu menghilang karena Fauza lupa membuat nya karena keburu mengantuk.
"Alhamdulillah ya Allah," ucap Satya dengan rasa syukur.
Satya bener-bener merindukan Fauza, ia ingin sekali memeluk Fauza tapi sangat di sayangkan gadis itu selalu saja menjauhinya.
Dan sekarang ia bisa memeluk Fauza, tentu saja kenapa tidak, Fauza adalah istrinya bukan.
"Ihh kak pala nya awas!" Ucap Fauza yang menjauhkan kepala satua dari leher nya.
"Gk mau, udah sayang bobo aja udah malam," ujar Satya.
"Ihh,"
Fauza sadar betul Satya mengambil kesempatan dalam kesempitan, cerdik sekali suaminnya itu, tapi kantuknya ini juga tidak mengizinkan Fauza untuk melakukan apa pun selain tidur.
Terserah Satya akan melakukan apa, karena gadis itu hanya ingin tidur.
Satya tersenyum melihat Fauza yang sepertinya sudah tertidur, ia pasti kelelahan hari ini.
Oh ia Satya sampai lupa memberitahu Fauza sesuatu, astaga kenapa ia menjadi sangat pelupa sekarang, menjengkelkan padahal umur nya masih 17 tidak juga sebenernya otw 18.
"Sayang kemarin mama chat aku, katanya minta cucu," ucap Satya mencoba membangunkan Fauza.
"Eunghhhh... Yaudah beli aja kak cucu nya," gumam Fauza.
"Mana bisa cucu nya beli sayang, kamu pikir mereka di jual,"
"Yaudah buat aja,"
"Yuk? Sama kamu kan?" Tanya Satya.
"Gk mau, kamu buat sama sapi aja biar sekalian nanti dapet susu gratis ya kan," ucap Fauza.
Satya menghela nafasnya yang benar saja sapi? Benar-benar istri nya ini yah.
Sangat salah jika Satya mengajak Fauza berbicara ketika dia sudah sangat mengantuk, karena Fauza pasti akan menjawab semua pertanyaan dengan ngawur.
"Gk jadi sayang, udah tidur lagi," ucap Satya yang mengelus lembut rambut Fauza.
"Hmm,"
...~β’.ππ€π.β’~...
HEY TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA
TAPI TOLONG LIKE AND COMEN NYA YAH
THANKS
SEE YOU