My Husband

My Husband
Bab 56



#MY_HUSBAND


#PART_56


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Hay Gaeyss ... utamakan Ibadah sebelum membaca, oke!


___________________


Happy reading.


"Cepat ...! sayang, nanti kita telat," teriak Zhafran didalam mobil bersama Azzam dan Azzima yang sedang duduk di kursi belakang.


Sedangkan Aza masih di dalam kamar memasang jilbabnya dengan buruh-buruh karena suami tercintanya sudah memanggil dirinya sejak tadi.


"Mas Zhafran gak sabaran," kesal Aza setelah memasang jilbabnya.


Dengan cepat Aza meraih tasnya dan berjalan keluar.


"Humai-" Zhafran menghentikan teriaknya saat melihat istrinya sudah menutup pintu utama.


Dengan sedikit kesal Aza membuka pintu mobil yang ada didepan.


"Kok mukanya kaya gitu?" tanya Zhafran.


"Lagi kesal!"


"Ummi," panggil Azzima yang sedang duduk di belakang dengan Azzam dan beberapa mainan.


Gadis kecil itu sangat cantik dengan gamis berwarna senada dengan baju kedua orangtuanya.


"Azzima, duduk yang tenang iya, Nak," ujar Aza setelah menoleh kearah anak-anaknya.


"Siap berangkat ke pernikahan Ayah Ali?" tanya Zhafran setelah menoleh kearah belakang dimana anak sedang duduk.


"Bismillah, in syaa Allah siap ...!" sahut Aza tersenyum lebar.


"Aza gak sabar, siapa gadis yang tidak beruntung mendapatkan suami seperti Ali," lanjut Aza tertawa kecil.


Mendengar hal itu Zhafran hanya tersenyum.


Kiai Rasyid dan Umi Halimah sudah berangkat sejak kemarin ke rumah Ali, paling tepatnya di rumah Rena dan Riyan, orang tua Ali dan Azka.


***


"Lu gugup?"


"Astaghfirullah aladzim, bisa gak kalo Ente ke kamar ane izin dulu, minimal salam, Ente gak diajarin ama Uswa, bini ente?" kesal Ali saat Azka masuk ke kamarnya dengan seenaknya.


"Alhamdulillah, bidadariku sudah mengajariku banyak hal, termasuk mengucapkan salam saat masuk kerumah atau bertemu saudara seiman," tutur Azka sengaja menekankan kata bidadariku agar sang kakak merasa kepanasan karena cemburu.


"Idih ... affaan tuh, bidadari, emangnya dia udah cinta ama Ente?" tanya Ali tidak bermaksud menyinggung Azka.


Namun, kelihatannya Azka sudah terlalu tersinggung karena dia hanya terdiam saat Ali mengatakan hal tersebut.


"Belum!" jawab Azka lirih.


Ali yang sedang memperbaiki dasinya tiba-tiba berhenti dan menoleh kearah Azka yang terlihat sangat menyedihkan.


"Apa Lu masih memiliki perasaan untuknya?" lanjut Azka.


"Gak, Ane udah mau nikah, ngapain masih suka sama Istri orang," jujur Ali.


"Apa yang Lu miliki yang gue tidak miliki?" tanya Azka terdengar sangat serius.


"Tanya pada Istrimu, jangan tanya ama ane,"


"Kenapa Lu nerima perjodohan ini?" tanya Azka.


Iya, Ali telah di jodohkan dengan seorang gadis pilihan papa dan mamanya. Gadis itu putri tunggal dari salah satu pengusaha terkaya. Pernikahan mereka hanya karena bisnis dan Ali menerimanya dengan senang hati.


"Ane suka, dia lucu, gemesin dan cantik."


"Aneh banget Lu, dia kan bukan tipe istri idaman Lu,"


"Emang bukan,"


"Terus, napa lu mau nikah ama dia?"


"Suka-suka ane dong, dari pada suka ama istrimu, bisa berabe urusannya."


Azka tersenyum tipis. "Akhirnya Lu Nika juga, Gue gak khawatir lagi."


"Dia gadis yang baik, Azka, jangan kamu sia-siakan gadis seperti Uswa. Suatu saat hatinya akan terbuka untukmu saat melihat cintamu selama dua tahun ini, percayalah."


Sedangkan diluar kamar tersebut, tepatnya di balik pintu kamar tersebut Uswa sedang berdiri dan mendengar semuanya.


Air mata gadis itu menetes dari pelupuk matanya.


***


Setelah beberapa saat kemudian Zhafran dan Aza telah tiba di kediaman Ali yang sudah di hias sedemikian rupa.


"Azzima, sini sayang, Abi gendong," ujar Zhafran setelah memarkirkan mobilnya dan membuka pintu bagian belakang dimana Azzima dan Azzam duduk enteng.


Dengan senang hati Azzima menyambut tangan Abi-nya. Sedangkan Azzam, Zhafran mini itu ikut keluar saat pintu di samping di buka oleh Uminya.


"Mas, cara ijab kabul di mana?" tanya Aza.


"Di kediaman mempelai perempuan, Sayang,"


"Tapi kok kita kesini?"


"Kita pihak laki-laki, jadi kita sini dulu baru kesana bersama rombongan pihak laki-lakinya."


"Oh ...."


Keluarga kecil itu pun masuk dan langsung di sambut hangat oleh orang tua Ali dan Azka.


"Om, kamar Ali ada dimana?" tanya Zhafran pada Riyan, papanya Ali.


"Ada dilantai dua, Nak. pintunya warna hitam, bagian kanan," jelas Riyan pada Zhafran.


Zhafran tersenyum. "Makasih, Om, Zhafran permisi bentar."


Zhafran kembali tersenyum lalu mengangguk.


"Sayang, Mas ke Ali dulu iya," izin Zhafran pada Aza yang sedang duduk bersama mama Ali dan Umi Halimah.


"Azzima?" tanya Aza saat melihat Azzima masih di gendongan Abi-nya.


"Biar sama aku aja," ujar Raja yang tiba-tiba datang. "Sini, anak Ayah."


Seperti biasa, gadis kecil itu tertawa riang saat bertemu dengan Raja, entah apa yang sudah raja lakukan ada gadis kecil itu hingga membuatnya senang seperti mendapatkan sebuah mainan yang sangat banyak.


"Kamu gak mau ke kamar Ali?" tanya Aza pada Raja.


"Udah," jawaban tanpa mengalihkan pandangan dari Azzima.


" ... Gus, Ning, aku bawah Azzima ke sana iya?" izin Raja sembari menunjuk kearah dimana sahabatnya waktu SMA.


"Iya, tapi inga ...."


"Jangan terlalu di manjakan," potong Raja. "Aku ingat kok, ya udah aku ke sana dulu."


Dengan tersenyum lebar sembari menggendong Azzima, Raja pun berjalan kearah sahabatnya meninggalkan yang Aza, Zhafran dan yang lain.


"Azzam, mau ikut Abi ke kamar Ayah Ali?" tanya Zhafran pada putranya dan langsung dijawab dengan mengangguk oleh Azzam.


"Astaghfirullah aladzim ...!" pekik Aza terkejut saat Azzam turun dari pangkuannya dengan tiba-tiba. "Kebiasaan."


"Sayang, Mas ke Ali dulu iya,"


"Iya, Mas."


"Umi, Tante, Zhafran permisi dulu."


"Iya, nak Zhafran, sekalian tenangkan Ali, pasti sekarang dia sangat gugup," sahut Rena.


"In syaa Allah, Tan."


***


KREK ....


"Maa syaa Allah tabarakallah, Akhi."


Ali langsung menoleh kearah pintu di mana Zhafran dan Azzam yang ada di gendongannya berjalan kearahnya.


"Barakallah fii," sahut Ali.


"Akhirnya kamu nikah juga, Li," ujar Zhafran setelah menjatuhkan bokongnya ke sofa yang ada dikamar Ali.


Ali kembali menatap dirinya kedalam cermin. "Sumpah, Gus, ane gugup."


"Udah biasa itu, mah," kata Zhafran tersenyum kearah Ali lewat pantulan cermin.


"Untung Ente datang." Ali berjalan kearah sofa dimana Zhafran duduk.


"Kenapa?"


"Ane belum hafal ijab kabul nya,"


"Astaghfirullah aladzim!"


"Gak ada yang mau bantuin jadi pak penghulu nya."


"Kan ada Om, Azka, Raja juga bisa bantuin."


"Papa sama Raja sibuk, kalo Azka, Ente kan tau sendiri Ane ama tuh bocah kagak akur, bukan kagak akur cuman dianya aja ngeselin, bikin dara tinggi," curhat Ali.


Zhafran mengangguk, tanpa bercerita panjang Dia sudah tau apa masalahnya kakak-adik itu.


"Kalo gak hafal tulisan aja di kertas lalu baca di depan penghulu," canda Zhafran membuat Ali merasa kesal.


"Gus, ingat waktu ente mau ijab kabul, siapa yang nemenin ente waktu latihan, siapa?"


"Gak ikhlas?"


"Astaghfirullah aladzim." Ali mengusap wajahnya sedikit frustasi. "Minimal pengertiannya, Gus."


Ali menatap kearah Azzam yang sedang tertawa riang membuat Ali semakin kesal. Entah kenapa rasanya Abi dan anak yang sedang duduk di depannya seperti mengejeknya.


"Al," panggil Zhafran serius.


"Hmm."


"Kamu bersungguh-sungguh kan melakukan pernikahan ini?" tanya Zhafran.


"Hmmm." Ali mengalihkan tatapannya kearah lain, dia tidak ingin Sahabatnya itu mengetahui kebohongannya.


"Ana gak percaya, Al."


"Beberapa jam lagi ijab kabul, Gus, masa iya ana bercanda."


"Jujur, Al ...!"


"Ane di jodoh-in,"


"Alasan lainnya?"


"Biar hubungan mereka semakin erat, biar dia tidak berharap lebih lagi, biar Ana tidak merasa bersalah dan semuanya bahagia."


" ... Sudah dua tahun pernikahan mereka, tapi tidak ada kemajuan sedikit pun itu karena Ana." Ali menarik nafasnya dalam lalu dihembuskan lewat mulutnya.


Zhafran dapat melihat dan mendengar bertapa sulitnya menjadi Ali.


" ... Aku tidak mau usaha Azka sia-sia, Gus. Seharusnya apa yang aku lakukan saat ini sudah aku lakukan dua tahun yang lalu." Mata Ali berkaca-kaca.


"Aku dapat melihat wajah Azka begitu sangat bahagia saat aku memilih untuk menerima perjodohan ini."


"Tadi dia datang, dan itu pertama kalinya kami berbicara dengan santai layaknya Kakak-adik." Ali tersenyum lebar pada Zhafran.


Zhafran menepuk-nepuk pundak Ali. "Lakukan pernikahan ini karena Allah ta'ala, bukan hal yang lain, walaupun kalian di jodohkan karena bisnis."


Ali mengangguk. "In Syaa Allah."


TBC