
#MY_HUSBAND
#PART_30
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Hay Gaeyss ....
Vote+komen ya😁
___________________
🌻Happy reading🌻
Aza membuka matanya saat merasakan cahaya matahari mengenai wajahnya.
Tanpa pikir panjang gadis itu langsung bangun dan menatap sekelilingnya mencari sang Suami yang selama tidur di sampingnya.
Namun, dia tidak menemukan keberadaan sang suami didalam ruangan tersebut, hanya ada kesunyian.
"Mas," panggilan berharap suaminya menyahut, tapi nihil, dia tidak mendapatkan sahutan yang dia harapkan.
Dengan wajah cemaskan dia turun dari ranjang dan berjalan ke arah kamar mandi yang tertutup rapat.
"Mas, kamu di dalam?" panggil tak ada jawaban.
"Isss, Mas Zhafran kemana sih,"
Gadis itu menatap kearah jam weker yang ada diatas nakas yang sudah menunjukkan pukul 06:30 membuat mata indah itu membulat sempurna.
"Astaghfirullah aladzim, Gue telat." Gadis itu langsung membuka pintu kamar mandi dan masuk kedalam.
Setelah beberapa saat kemudian gadis itu keluar dari kamar mandi.
Gadis itu menaikan alisnya sebelah saat melihat pakainya diatas tempat tidur. Bibirnya langsung melengkung membentuk sebuah senyuman saat tau siapa pelakunya.
"Mas Zhafran manis banget si," ujarnya.
Dengan cepat Aza memakai seragamnya, dia tidak mau membuang-buang waktu.
Sedangkan diluar kamar, tepatnya di dapur Zhafran sedang menyajikan nasi goreng buatan dan segelas susu hangat dan teh.
Rupanya pria tampan itu menyiapkan sarapan untuknya dan Aza setelah mandi dan bersiap-siap.
Memasak bukanlah hal sulit baginya. Dia sering membantu Uminya di dapur maka dari itu dia bisa memasak walaupun hanya nasi goreng.
"Alhamdulillah selesai," ujarnya setelah melihat hasil karyanya diatas piring.
Saat dirinya akan memanggil istrinya Dia langsung dikejutkan dengan sebuah tangan kecil melingkar di pinggangnya.
"Udah bangun?" tanyanya setelah tau itu tangan milik siapa.
"Kenapa Mas Zhafran gak bangunin Aza?" bukannya menjawab gadis itu malam bertanya dengan kesal.
"Mas gak tega. " Zhafran memutar badannya menghadap pada sang Istri.
"Lain kali, Mas harus bangunin Aza."
"Iya, Sayang."
" ... Ayo sarapan sebelum dingin."
"Mas yang buat?" tanya Aza saat melihat nasi goreng ada didepannya.
"Alhamdulillah, semoga Adek suka iya,"
"Kelihatannya sangat enak," ujar Aza.
Zhafran terkekeh kecil. "Semoga aja."
***
"Ini rumahnya, Nak?" tanya Ayahnya Uswa saat melihat bangunan mewah di depannya.
"Iya, Yah, mewah kan," jawab Uswa.
"Sangat mewah."
Saat ini Uswa dan Ayah sudah berdiri di depan rumah Rena, beberapa jam yang lalu supir Rena menjemputnya dan mengantar mereka sesuai perintah rena.
"Assalamu'alaikum," salam Rena yang baru saja datang dengan tersenyum.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Tante Rena," jawab Uswa dengan sopan.
"Alhamdulillah, kalian sudah sampai, kenalkan ini bi Lilis yang akan mengantarmu ke rumah belakang," ujar Rena sambil memperkenalkan Lilis, salah satu pembantu. "Lilis, ini Uswa dan Ayahnya, mereka akan tinggal di rumah belakang bersama kalian, Uswa akan membantumu di bagian dapur."
"Iya Nyonya," ujar Lilis. "Mari Uswa."
Belum sempat Uswa dan Ayahnya beranjak dari tempatnya tiba-tiba di kejutkan dengan sebuah motor yang sedang berhenti secara mendadak di depannya.
"Ma, Azka berangkat dulu," pamitan pada sang mama tanpa membuka helmnya.
"Azka, sekolah yang benar, kamu jangan bolos lagi," pesan Rena pada putranya.
"Hmmm."
Saat cowok itu akan menjalankan motornya tiba-tiba terdiam seperti patung saat pandangan tanpa sengaja bertemu dengan tatapan yang begitu dia rindukan beberapa hari ini.
Tiba-tiba jantung Azka berdegup dengan kencang seolah-olah akan keluar dari tempatnya.
"Ngapain dia ada disini?" Batin Azka.
"Azka," panggil Rena.
"Ma, dia siapa?" tanya Azka pura-pura tidak mengenal Uswa.
Azka kembali terdiam saat mendengar perkataan Mamanya.
"Rumah belakang, apa dia bekerja sebagai seorang pembantu?" batin Azka bertanya-tanya.
***
"Bukannya dia om-nya Aza?" tanya Bima saat melihat Zhafran keluar dari mobilnya.
"Iya, dia guru disini," jawab Raja.
"Tuh sama Aza, ujar Devan saat melihat Aza ikut keluar dari mobil tersebut.
Sedangkan Zean merasa janggal dengan kedekatan Aza dan Zhafran yang mengaku sebagai ponakan dan om itu.
"Kok ada yang aneh iya," ujar Zean tiba-tiba.
"Aneh apanya?" tanya Raja santai.
"Gue kurang yakin kalo Aza dan pak Zhafran itu om dan ponakan," ujar Zean.
"Maksud Lu, Aza berbohong?" tanya Devan.
"Ja, waktu Aza ngomong ke Lu tentang pak Zhafran dia ngomong apa?" tanya Zean.
"Dia bilang pak Zhafran Om nya, sepupu dari Bundanya," jawab Raja.
"Yang gue tau, kalo seorang Gus yang faham agama, dia tidak akan menyentuh atau berdua-duaan dengan gadis yang bukan mahramnya," jelas Zean.
"Gus, apa itu Gus?" tanya Devan.
"Gus itu sebutan untuk putra Kiai di pesantren," jelas Zean.
"Jadi pak Zhafran itu Gus, putranya seorang kiai?" tanya Devan.
"Iya, makanya aneh, pak Zhafran itu bukan orang sembarangan, dia faham agama, masa dia berdua-duaan dengan Aza di dalam mobil," jelas Zean merasa heran.
"Waktu kita antar si Rahma-rahma itu ke rumah pak Zhafran Gue liat Aza langsung memeluk pak Zhafran dan menangis, Lu liat juga kan Zean?" tanya Devan saat mengingat sesuatu.
"Jangan-jangan ...." Zean dan Devan saling memandang satu sama lain.
"Jangan bilang, Aza dan pak Zhafran suami-istri," ujar Bima membuat mereka terkejut termasuk Raja yang sedari tadi terdiam dan menyimak.
"Ja," panggil Zean.
"Hmm."
"Lu gak tau sesuatu gitu?" tanya Zean.
"Gak." Raja beranjak dari tempatnya dan pergi entah kemana.
"Iya, cabut dia," ujar Bima saat melihat Raja pergi entah kemana.
"Udahlah, biarin," sahut Zean.
***
Semua mata menatap kearah Aza dan Zhafran yang sedang berjalan bersama.
Ada yang menatap tidak suka ada juga yang menatap heran dan bertanya-tanya, pasalnya pasutri itu sedang bergandengan tangan.
"Adek gak malu?" tanya Zhafran sembari berbisik.
"Untuk apa malu, Aza 'kan gak melakukan sesuatu yang memalukan," ujar Aza.
"Adek gak takut kalo mereka tau kita suami-istri?"
"Aza lebih takut kalo ada yang naksir ama Mas,"
Zhafran hanya terkekeh kecil mendengar jawaban istri kecilnya.
"Hay, Za, pak Zhafran," sapa Zean pada pasutri tersebut.
"Hay, Zean," balas Aza seadanya.
"Gue boleh tanya sesuatu gak ama, Lu?" tanya Zean.
"Boleh, Lu mau tanya apa?" tanya Aza.
Zean menatap sekelilingnya untuk memastikan aman atau tidak, pasalnya cowok itu ingin menanyakan hal pribadi yang sedari tadi menyangkal otaknya.
"Sebenarnya, Lu ama pak Zhafran punya hubungan apa?" tanya Zean setelah sudah merasa aman.
"Dia om Gue," jawab Aza berbohong.
"Gue gak percaya,"
"Ya udah kalo Lu gak percaya." Aza menarik tangan Zhafran dan ingin melanjutkan langkahnya, tapi di tahan oleh Zean.
"Pak Zhafran seorang Gus 'kan?" tanya Zean menghentikan langkah Aza dan Zhafran.
"Semoga Zean gak curiga," batin Aza.
Zean berjalan kearah Aza dan Zhafran. "Lu gak bisa bohong ama Gue, Za."
Aza tersenyum dan meraih tangan Zhafran untuk diperlihatkan kearah Zean.
"Apa yang Lu pikir itu benar," jujur Aza membuat Zhafran terkejut sedangkan Zean terlihat santai.
"Udah Gue duga,"
"Gue harap, Lu gak bocor sampai selesai ujian,"
"Liat aja nanti."
TBC.