
#MY_HUSBAND
#PART_57
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Hay Gaeyss ... utamakan Ibadah sebelum membaca, oke!
Happy reading.
"Saya terima nika dan kawinya Shaqueena Khairunnisa Fatima Az-Zahra Binti Ahmad Abdul Malik dengan maskawin seperangkat alat sholat dibayar tunai!"
"Bagaimana para saksi, Sah?"
"SAH ...!"
"SAH ...!"
"SAH ...!"
"Alhamdulillah."
Semua tamu yang hadir mengucapkan Alhamdulillah dan mendoakan kedua mempelai agar sakinah mawadah warahmah.
"Mas, istri Ali mana sih? Kok gak datang-datang?" tanya Aza menengok sana-sini mencari milik nama yang sangat panjang itu.
"Tuh ...." Zhafran menunjuk kearah tanggah dengan dagunya, karena kedua tangannya menahan tubuh Azzam, agar Putranya itu bisa tenang.
Aza berdecak kagum melihat seorang gadis dengan pakaian pengantin berjalan menuruni anak tangga sangat anggun dan cantik.
"Maa syaa Allah, Ali sangat beruntung," ujar Aza.
"Mas lebih beruntung, Humaira!" bisik Zhafran.
"Kenapa?"
"Karena Allah mengirim bidadari yang sangat cantik untuk Mas!"
"Gembel."
Mendengar respon Istrinya Zhafran hanya terkekeh kecil.
"Tapi suka kan?"
"Gak!"
"Wajahnya merah, Sayang!"
Rasanya Aza ingin menendang Zhafran ke sungai amazon biar dijadikan santapan binatang buas yang ada disana.
"Mas Zhafran, diam!"
"Iya, Humaira."
Sedangkan di sisi lain, seorang gadis sedang mengusap air matanya saat kata sah bergema memenuhi ruangan.
"Apa saya harus menjadi seperti dia?" tanya seseorang membuat gadis itu langsung menunduk.
"Saya akan berusaha!" lanjut Azka.
"Kamu tidak perlu menjadi orang lain untuk menarik perhatian seorang," sahut Uswa.
"Hanya ini satu-satunya cara agar kamu bisa melihat ku sebagai seorang Suami." Azka melipatkan tangannya di dada sembari menatap kearah Ali yang sedang mendaratkan bibirnya ke kening sang istri.
"Kamu sudah menjadi suamiku," sahut Uswa tanpa menatap kearah depan.
"Suami tak dianggap!" lirih Azka. "Apa perjuanganku selama dua tahun belum cukup menggantikan posisi Abang Ali di hati kamu?"
" ... Jujur, aku sudah kehabisan cara untuk merebut hatimu darinya," lanjut Azka.
" ... Jika menjadi Ali bisa membuatmu bahagia, aku bisa melakukannya."
"Maaf Kak Azka ...!"
Dari sekian banyaknya kata-kata hanya kalimat maaf yang bisa Uswa katakan.
"Tidak usah minta maaf, kamu gak salah, aku yang salah karena tidak sadar diri, sejak awal kita memang sangat berbeda."
Azka maupun Uswa sama-sama terdiam tidak mengeluarkan suara sedikitpun sampai acara tersebut selesai.
***
Setelah beberapa saat kemudian cara ijab kabul pun usai dan tinggal hitungan jam, resepsinya akan di mulai di sebuah hotel terkenal milik Raja.
Umi Halimah dan Kiai Rasyid sudah balik ke pesantren setelah acara selesai sedangkan Zhafran dan keluarganya memiliki untuk menginap di rumah Bundanya Aza, Haliza.
Ting-tong ....
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Aza setelah membunyikan bel rumah Bundanya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab seseorang dari dalam lalu di susul pintu yang terbuka.
Krek ....
"Maa syaa Allah, Neng Aza!" ujar Bi Mina setelah pintu terbuka dan melihat siapa yang datang.
"Halo, Bi, apa kabar?" tanya Aza dan menyalami tangan Bi Mina. "Ayo sayang, salim ama bini Mina."
Dua bocil milik Zhafran dan Aza menyalami tangan Bi Mina sebagai yang sudah di ajarkan Abi dan Uminya.
"Alhamdulillah, baik. Maa syaa Allah, makin pintar aja." Bi Mina menyambut tangan mungil Azzima dan Azzam. "Ayo masuk, Non, Deng."
"Bunda mana, Bi?" tanya Aza sembari berjalan masuk kedalam rumah.
Sudah dua tahun dia tidak menginjakkan kakinya kerumah Bundanya dan ini kali pertanyaan semenjak dia sadar dari koma.
"Ada di belakang, Non. Bibi panggilin dulu."
"Gak usah, Bi, biar kami yang ke sana," ujar Zhafran. "Ayo, sayang, kita ketemu Oma."
Aza mengangguk dan memegang tangan Azzam sedangkan Azzima berada di gendongan sang Ayah.
Mata Aza berkaca-kaca saat melihat Bundanya sedang memberikan makan pada ikan peliharaan ayahnya.
Dulu ayahnya sering menghabiskan waktu di belakang rumah ketika dia tidak masuk kerja dan sekarang, pria paruh baya itu sudah tiada di antar mereka.
"Assalamu'alaikum, Bunda," salam Zhafran mengejutkan Haliza yang terlihat sedang melamun.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, maa syaa Allah, Zhafran, Aza." Haliza langsung berdiri dari duduknya dan berjalan kearah Puteri dan menantunya. "Cucu, Oma."
Dengan tersenyum lebar Haliza langsung mengangkat tubuh Azzam kedalam gendongannya. "Kenapa baru datang sekarang? hmmm, kalian tidak merindukan Oma?"
"Maaf, Bunda, kami baru datang hari ini," ujar Aza langsung memeluk tubuh Bundanya yang masih menggendong Azzam.
"Hiks ... hiks ..., Maafin Aza, Bunda." Seketika tangisan perempuan itu pecah juga di pelukan Bundanya.
"Huusst ...! gak usah minta maaf, Bunda ngerti kok, sayang."
Haliza tau mengapa putri dan menantunya tidak datang mengunjungi dirinya setelah Putrinya sadar dari koma.
"Istirahatlah, pasti kalian capek dari acaranya Ali."
****
Ali menarik satu alisnya saat melihat sebuah map berwarna biru ada didepannya dan pelakunya tentu saja Istri barunya itu.
Dengan tidak sopan nya, gadis itu menyodorkan kerta dan pulpen padanya.
"Baca dan tandatangani ...!"
"Ini apa?" tanya Ali sembari meraih kerta tersebut.
"Surat perjanjian."
"Surat perjanjian? untuk apa?"
"Lu gak usah bacot deh, cukup tandatangan aja, cepat ...!"
Ali benar-benar kesal dengan gadis yang ada didepannya saat ini. Kalo bukan istrinya Ali jamin dia tidak akan membiarkan gadis ini berada di depannya sekarang.
Sedikit kesal Ali membuka map tersebut lalu membaca. Mata pria itu langsung melotot setelah membaca setiap kata yang ada di kerta tersebut.
Ali menatap Istrinya dengan tatapan menyipit. "Surat perjanjian?"
"Iya, surat perjanjian, kenapa? Lu gak mau?"
Ali meletakkan map tersebut dan kembali memainkan ponselnya. "Ane gak mau."
"Lu harus mau, Gue gak mau tau, pokoknya Lu harus mau!" ujar Gadis itu dengan emosi.
Sedangkan Ali terlihat sangat santai tidak mempedulikan istrinya yang sedang mengoceh di sampingnya.
"Woi ... Cowok sialan, Lu tandatangan cepetan ...!"
Gadis yang bernama lengkap shaqueena Khairunnisa Fatima Az-Zahra itu mengambil ponsel Ali dan melemparkannya ke lantai membuat Ali hampir jantungan.
Bruk ....
"Astaghfirullah aladzim ...." Ali membulat kan matanya saat melihat ponsel miliknya tidak terbentuk lagi.
Istrinya ini benar-benar gila. Ali merasa akan gila jika setiap hari seperti ini. Untungnya kamar milik gadis ini kedap suara, jadi bebas mau ngapain aja tidak akan kedengaran.
"Itu akibatnya karna Lu gak dengerin Gue ngomong."
Ali membuang nafasnya sedikit kasar lalu menatap kearah sang Istri. "Mau ngomong apa sih, Sayang? hmm."
"Mau gue tonjok tuh mulut?" tanya Gadis itu dengan tatapan menyala dan tajam.
"Ane salah mulu. Sabar Ali, sabar, istri kurang ajar mu ini memang rada-rada gila ...!" batin Ali.
Ali benar-benar harus memiliki stok kesabaran untuk menghadapi istrinya.
***
Jam 20:00 malam
Sesuai jadwal acara, malam ini acara resepsi Ali dan istrinya yang di kelar sebuah hotel ternama.
"Ini gaun apaan si?" bisik gadis cantik dengan gaun pengantin syar'inya berwarna navi.
"Diam ...!" bukannya menjawab, Ali malam meminta istrinya itu diam. Bukan apa-apa, saat ini mereka sudah ada di pelaminan, dan tamu undangan semua sudah berdatangan serta kamera sudah merekam di depan.
Kalo boleh jujur sebenarnya Ali sudah bosan mendengar ocehan istrinya ini. Sejak tadi gadis itu selalu mengoceh tanpa jedah.
"Kenapa harus ada resesi segala, ini juga." Gadis itu menginjak-injak ujung gaung pengantinnya yang panjangnya kelewatan. "Panjang banget, anjrit."
"Fatimah, diam!" bisik Ali.
Mendengar nama yang keluar dari mulut Ali membuat gadis itu semakin kesal. "Lu panggil apa Gue barusan, Fatimah?"
"Emang nama Fatimah kan?" tanya Ali menarik satu alisnya merasa heran.
"Panggil Gue Queen, bukan Fatima!" tekan Gadis itu.
"Ane gak mau, pokonya nama Lu fatima— Arrrhhgg ...."
Ali mengangkat kakinya yang terasa nyut-nyut karena di injak istrinya.
Ali tidak bisa menahan keseimbangan lalu terjatuh, semua yang ada di sana langsung panik dan berlari kearah Ali.
"Maaf gaesss ...! pernikahan selesai karena mempelai prianya pingsan!" teriak Queen, istrinya Ali.
Zhafran dan Aza yang baru tiba terkejut mendengar teriakkan Gadis yang sedang berdiri di atas pelaminan sembari memegang mic.
"Ini beneran acaranya udah selesai?"
****
Jam 08:00 pagi.
Drama semalam di acara resepsi pernikahan Ali dan Fatimah masih berlanjut karena kenyataannya Ali tidak pingsan dia hanya terjadi karena ulah istrinya. Jadi semua tamu undangan tidak jadi pulang, begitupun Zhafran dan Aza.
Zhafran, Aza dan Haliza sudah berangkat untuk berziarah ke makam Ziad, ayahnya Aza yang tiada dua tahun yang lalu, sedangkan Azzima dan Azzam senagaja Aza titipkan pada Bi Mina, dia tidak ingin membawa mereka berdua karena masih terlalu kecil.
Setelah beberapa saat kemudian mereka telah sampai di tempat tujuan mereka.
"Alhamdulillah, kita udah sampai," ujar Zhafran setelah memarkirkan mobilnya.
"Alhamdulillah."
Merekapun turun dan berjalan kearah pemakaman.
Air mata Aza tidak terbendung lagi saat melihat makan ayahnya ada didepan matanya.
"Assalamu'alaikum, Ayah," salam Zhafran.
"Assalamu'alaikum, Mas!" lirih Haliza.
Sedangkan Aza hanya terdiam tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Zhafran dapat melihat istrinya menahan tangisnya agar tidak pecah.
"A–assalamu'alaikum, Yah," salam Aza.
Zhafran mengelus pundak istrinya dengan lembut, agar sang istri merasa lebih tenang.
Merekapun membacakan Al-Qur'an dan berdo'a sesuai ajaran Islam.
Aza benar-benar tidak bisa menahan air mata agar tidak terjadi dari pelupuk matanya. Momen-momen bersama ayahnya di masa masih tersimpan rapi di memorinya.
"Ayah, terimakasih banyak karena menjodohkan Aza dengan mas Zhafran. Aza sangat bahagia, Yah," curhat Aza.
"Aza akan selalu mendoakan Ayah." Aza menghapus air matanya yang tak henti-hentinya mengalir dari pelupuk matanya.
"Semoga Allah mempertemukan kita kembali di dalam surga-Nya, Aamiin."
"Aamiin ...!" lirih Haliza.
Dengan lembut Zhafran merangkul istrinya. "Mari kita pulang, Sayang, bentar lagi hujan turun."
Aza mengangguk mengiyakan perkataan suaminya.
"Ayah, Aza pulang dulu, in syaa Allah, Aza akan sering datang kesini bersama cucu Ayah." Aza menghapus air matanya.
TBC.